
“Lagi?” tanya kru film ketika Shadow tiba di lokasi syuting.
“Apa?” Shadow bertanya balik dengan kening berkerut, bukan hanya satu kru namun beberapa memerhatikan dirinya.
“Pakaianmu, Miss Shadow. Sejak syuting di Inggris kau hanya mengenakan pakaian serba hitam, apakah tempat ini telah berubah menjadi rumah duka?” celetuk Harold seraya terkikih dan memegang kemeja hitam Shadow. Tiga kru lainnya ikut tertawa dengan celetukan Harold.
Shadow mengedikkan bahu sambil menaruh tasnya di kursi bertuliskan Director pada punggung menjelaskan bahwa hanya ia yang berhak duduk di tempat itu.
“Sejak 12 hari yang lalu, hitam menjadi warna favoritku. So, buat diri kalian nyaman dengan penampilan terbaruku.” Sahutnya dengan tatapan datar ke arah para kru.
Harold, Elias, Carter dan Amelia mendadak kikuk karena Shadow menanggapi candaan dengan sikap yang tidak biasanya.
“Maaf, guys. Jangan tersinggung dengan perkataanku tadi. Saat ini aku sedang tergila-gila dengan warna hitam, terlihat misterius bukan berarti berduka. Hatiku sangat riang, apalagi syuting Revolution berjalan lancar.” Sanggah Shadow mencairkan suasana canggung dengan para krunya.
“Apalagi syuting ditemani dengan sang tunangan dan temannya.” Ujar Amelia memandang gerombolan kecil yang berada tak jauh dari
set.
Shadow hanya bisa mengulum senyum dan menganggukkan kepala.
“Ya.” Singkatnya dengan riang seraya menghampiri para pemeran film. London menyambut Shadow dengan senyuman semringah. Di belakang jauh di sana ada Kai mendengus kasar melihat sang aktor mendekati kekasihnya.
“Serangan berasal dari dua sisi, satunya adalah pria itu yang tidak pernah kapok untuk mendekati Shaw. Apakah benar dua pria Jepang itu tidak pernah menampakkan diri di kota ini?” tanya Kai dingin memandang ke arah Yoruban dan Heron.
“Sama sekali tidak ada, Boss. Anggota kita sudah menyisiri semua hotel dan penginapan di pusat kota terlebih di dekat lokasi syuting. Yah kecuali jika keduanya bersembunyi di pinggir kota, itu di luar kuasa kami, Boss.” Tutur
Yoruban yang kompak mengenakan pakaian cerah hari ini dengan keempat rekannya. Pun Kai memilih atasan berwarna putih dipadu dengan denim, mereka sengaja melakukan demi Shadow.
Sebenarnya Kai dan kelima pengawalnya sedang bertaruh akan lamanya Shadow betah mengenakan pakaian serba hitam. Masing-masing memiliki tebakan dan menyiapkan hadiah sejumlah uang yang tidak banyak, sekadar bercanda mengisi keseharian di kota itu.
Kai dan kelima pengawalnya sepakat akan kembali mengenakan seragamnya ketika Shadow menyerah dengan pakaian serba hitam. Pun mereka tampak lebih hidup dengan tampilan berwarna, kru film tidak segan menyapa Kai dan orang-orangnya.
“Boss, setelah ini kita akan kembali ke Berlin atau ke Hollywood?” tanya Akio sambil menyesap soda kalengan.
Kai mendengus seraya menyeringai “Bilang saja kalau kau sedang mengejar Marielle, sang artis.” Sindirnya.
William dan Conley tertawa kecil sambil menatap ke arah temannya. Gerombolan kecil itu saling berbalas tawa, dan meledek Akio. Pria bermata sipit itu melayangkan pandangan ke arah Shadow, ralat wanita di sebelahnya,
Marielle Ingram.
“Aku merasa kami ada kecocokan.” Gumam Akio tetap memandangi wanita cantik yang sedang berbincang dengan Shadow dan London.
“Tidak ada salahnya bermimpi, mate.” Kai menepuk punggung Akio.
“Tapi nyonya boss lebih cantik dari Marielle.” Ujar William memandang Shadow.
“Anggota wanita satu-satunya Black Panther.” Heron menambahi.
Kai mengangguk dengan senyuman bahagia terukir di bibirnya “Siapa sangka jika kita akan memiliki anggota wanita, walau sebelum ini banyak yang ingin bergabung dengan Black Panther.”
“Boss besar yang membuat peraturan tidak ada anggota wanita, tapi dia juga yang menerima kehadiran Nona Shaw dengan lapang dada.”
__ADS_1
Tatapan Kai tidak lepas kepada kekasih hatinya “Mama ingin mengikat Shadow seumur hidup, walau sebelum itu papa tidak setuju dengan ide ini.” Jawabnya dengan pelan. Perlahan Kai mengurai proses perekrutan Shadow
menjadi anggota Black Panther.
Kini kelima pria lainnya tampak antusias, Akio pun telah melupakan wanita incarannya. Kai memberi isyarat agar teman-temannya duduk di pagar beton. Tidak ada matahari muncul hari itu, sendu namun justru itulah yang dibutuhkan Shadow untuk filmnya.
Kai menarik napas panjang sebelum memulai ceritanya “Mama yang mengusulkan ini kepadaku, sampai sekarangpun mama tidak tahu jika Shadow sedang diincar oleh sebuah kelompok. Mama berkaca pada pengalaman hidupnya, bagaimana dia dengan papa sebelum kami lahir. Konon ceritanya ketika papa dan
mama berusia 20an, mereka sempat terpisah, namun ada Black Panther mengikat dan menyatukan mereka. Sindrom orang tua yang membuat mama sedikit ketakutan jika suatu hari Shadow melepaskan diriku.” Tuturnya dengan hangat.
“Nyonya boss tidak akan melakukan itu.” bela Conley yang merasa lebih dekat dengan tunangan bossnya.
“Ya, Nona Shaw sangat mencintaimu,” tambah William berkomentar memberikan dukungan.
Kai mendengus geli “Kalian adalah mafia bukan pengamat cinta.” Katanya lalu terkekeh ringan.
Kelima pria lainnya saling memandang dan melemparkan senyuman hambar.
“Mafia juga butuh cinta, Boss.” Timpal Akio yang seketika itu tidak setuju dengan perkataan Kai.
“Terus?” tanya Kai sambil melebarkan manik lautannya.
Akio mengangkat bahu lalu mendengus pendek “Seperti yang terjadi pada diriku, sebelum ini aku tidak percaya dengan hubungan percintaan seperti boss dan Nona Shaw jalani. Tapi melihat sendiri perubahan boss dari Kai
Navarro yang lama dan sekarang, membuatku sangat tertarik untuk memulai sebuah hubungan serius dengan seorang wanita.” Ujarnya serius.
“Dan Marielle orangnya?” celetuk Yoruban dengan nada meledek. Akio hanya bisa berdecih sesaat sebelum membalas temannya itu.
“Tidak ada yang tidak mungkin selama Bumi masih berputar, bukan? Bahkan seorang mafia boleh bermimpi tinggi tentang cinta.” Tambah Akio.
“Aku malah membayangkan bagaimana temanku Akio dengan Miss Marielle yang sangat jelas bahwa dia seorang artis terkenal. Dia tidak mungkin mengetahui Black Panther, bukan? Semua tertera jelas dalam surat perjanjian yang telah kita tanda tangani, bahwa kelak ketika menikah atau memiliki pasangan, mereka tidak boleh mengetahui organisasi ini.” ucap Conley mengingatkan temannya sambil menyipitkan mata.
“Tahan pembicaraan ini, khusus kalian berlima akan kuberikan jabatan di Alpheratz Hotel dan Resort.” Sergah Kai dengan cepat.
Kelima pria tersebut spontan bertepuk tangan dengan heboh, selayaknya merayakan jabatan semu yang baru saja terlontar dari bibir sang pemimpin.
“Kau terbaik, Boss!” seru Heron memandang Kai dengan penuh rasa terima kasih.
“Tentu saja aku yang terbaik, buktinya aku bisa memimpin Black Panther dan memiliki tunangan yang sangat cantik. Oh yah, kembali pada pembahasan sebelumnya.” Ujar Kai dengan bijak. Tawa bahagia pengawalnya mendadak berhenti dan kembali terpusat pada pria bersurai putih itu.
“Soal papa yang tidak setuju. Papa tidak ingin terjadi hal buruk kepada Shaw jika terjun di organisasi kita. Shaw bukan mama yang hebat di segala bidang bela diri, walau pikiran Shaw sangat berbeda dengan wanita kebanyakan. Shaw tangguh dalam pola pikir, tapi dia tidak dididik sejak kecil untuk menjadi seorang mafia. Tidak memiliki ketertarikan seperti diriku sejak kecil sudah bercita-cita sehebat papa dan mama serta beberapa anggota master Black Panther. Namun ketidaksetujuan papa luntur karena mama dan aku berhasil yang menyakinkannya, bahwa aku bisa mengajarkan Shaw dengan perlahan tentang bela diri. Shaw gadis yang cerdas dan dia sangat cepat belajar. Dan lihat dia sekarang, Shaw sangat bangga mengenakan pakaian serba hitam. Itu semacam pertanda jika dia mencintai Black Panther, dan merasa menjadi bagian dari organisasi kita. Sama halnya ketika mama memimpin Black Panther, ada papa yang mampu meredam emosi, pergerakan mama. Shaw disiapkan untuk itu oleh mama, walau ketenangan papa tidak bisa ditandingi. Namun Shaw memiliki isi kepala yang selalu berpikir logis dengan berbagai macam sudut pandang. Kelak aku membutuhkannya.”
“Demi Black Panther.” William dan Yoruban menimpali secara bersamaan.
“Ya, demi Black Panther.” Kai mengiyakan sambil menganggukkan kepala.
…
Sabtu sore Shadow sedang menikmati hari liburnya setelah rentetan syuting tanpa henti selama dua minggu berturut-turut di Hawes Yorkshire. Hari itu Kai mengajaknya berjalan di pusat kota, jangan meminta sebuah pusat pertokoan seperti halnya di Hollywood. Di Hawes luas jalanan hampir sama lebar dengan trotoarnya. Mobil tidak banyak berlalu lalang, dan penduduk setempat lebih suka berjalan kaki dari rumah menuju restoran atau kafe di kota itu.
Pasangan bertubuh tinggi namun sangat serasi berjalan menyusuri pedestrian diikuti oleh Heron, Conley dan Yoruban. William tidak ikut, entah apa yang diurusnya sementara Akio sedang menjalankan pekerjaan
sampingannya sebagai pengawal Marielle. Tentu saja hal itu dilakukan Akio secara cuma-cuma dan dia juga yang menawarkan jasanya kepada artis cantik tersebut.
__ADS_1
“Aku mengkhawatirkan Akio.” Gumam Kai seraya menoleh kepada kekasihnya.
Shadow membulatkan manik coklatnya “Please, Tuan Mafia. Harusnya yang dikhawatirkan itu Nona Marielle, dia sedang bersama dengan seorang mafia yang sangat mematikan.” Balasnya sambil tertawa ringan.
“Jangan lupa, Shaw. Kau juga seorang mafia.” Kai mengingatkan kekasihnya sambil menyeringai.
Shadow merenggut namun tetap cantik “Mafia amatir, kelas paling bawah yang hanya mempunyai kemampuan menembak sasaran tak bergerak.” Gerutunya seraya mengetatkan gamitan tangan pada lengan Kai.
Manik biru Kai melebar, Shadow pun tenggelam ke dalam pusaran laut tenang itu.
“Katakan kau ingin belajar apa, Shaw? Tapi nanti setelah syutingmu berakhir.” Kata Kai sekilas berhenti ketika membaca nama tempat yang ingin mereka datangi.
The Crown, Beer Garden. Sebuah bangunan dengan bata tua di cat coklat, bertingkat dua dengan jendela kaca berbingkai warna putih. Hampir semua kota memiliki ciri bangunan sama, beberapa telah di semen halus dan di cat putih, hal itu membuat nuansanya lebih modern namun kesan klasik lebih menarik mata.
“Hmmm.. Apa ya?” Shadow bergumam namun enggan melepaskan tangannya bahkan ketika melewati ambang pintu masuk ke dalam The Crown. Rupanya bangunan depan hanya memiliki beberapa meja dan bar tempat memesan makanan namun bagian samping The Crown tidak memiliki dinding, di biarkan terbuka menuju kebun yang tidak begitu luas namun dengan teris meja dan kursi di cat dengan warna yang lebih berani.
“Kau memiliki banyak guru, aku dan mereka. Tinggal pilih apa yang menjadi minatmu.” Sahut Kai mengikuti pelayan The Crown yang mengantarkan mereka ke bagian ruang terbuka di bagian samping. Sayup-sayup terdengar pada sound system mengalun sebuah lagu dari band asal Inggris membuat suasana lebih santai dan tenang.
“Aku tidak perlu menjawab sekarang, bukan?” tanya Shadow yang kini terpaku memandangi wajah kekasihnya. Kesibukan membuatnya tidak memiliki waktu banyak untuk itu, termasuk bermanja lebih lama dengan Kai. Syukurnya Shadow memiliki kekasih yang sangat pengertian, termasuk kesabaran Kai bersama dengan pasukannya bertahan di kota kecil yang sangat jauh berbeda dengan Berlin dan Hollywood. Bahkan sekalipun Shadow tidak mendengar keluhan Kai tentang Hawes yang menjadi pembahasan para kru, orang-orang yang bekerja dengannya sudah teramat rindu dengan kerlap kerlip lampu perkotaan. Sayang, mereka masih akan bertahan di kota itu selama tiga minggu ke depan.
“Aku akan selalu menunggu, Shaw. Mereka juga.” Jawab Kai sambil menunjuk kepada Yoruban, Heron dan Conley.
Kai, Shadow dan tiga pengawalnya memilih meja panjang dari kayu berwarna kuning dengan bangku yang juga panjang di cat biru laut.
“Aku ingin makan pizza dan yogurt kiwi.” Kata Shadow sambil membaca menu, sekilas ia menatap pelayan yang terlihat sibuk mencatat pesanan orang-orang di mejanya.
“Double espresso dan muffin.” Sahut Kai yang kemudian terganggu fokusnya pada ponsel yang berkelap-kelip. Melihat nama yang tertera di layar membuat Kai dengan cepat menerima panggilan suara tersebut.
“Ya, Will. Ada apa? Aku baru akan makan dengan yang lain.” Kai terlebih dahulu berbicara.
Tampak Yoruban, Heron, Conley dan Shadow tertarik dengan pembicaraan sang pemimpin mafia.
Kami menemukan pria Jepang itu. Keduanya kami amankan di sebuah gudang kosong lima kilometer dari tempat kita menginap, Boss. Mereka tidak mau bicara, walau berbagai macam telah kami lakukan. Sepertinya mereka hanya ingin mati, tapi entahlah mungkin mereka ingin bertemu dengan boss, baru akan berbicara.
Wajah Kai tegang, sorot mata semula teduh berubah menjadi sepasang elang yang hendak memburu mangsa. Para anak buah Kai perlahan berdiri tanpa suara, Heron tampan mengeluarkan dua lembar pecahan 50 Poundsterling dari dompetnya dan menaruhnya di atas meja berwarna bunga matahari itu.
“Ya, tunggu kami di sana.” Kata Kai seraya mematikan panggilan telepon.
###
alo kesayangan💕
apakah kalian sudah punya plan party untuk malam tahun baru?
adakah yang resolusi 2020 nya tercapai?
sepertinya tahun ini aku pakai untuk survive melewati corona..
semoga kita selalu sehat dan tetap menjaga kebersihan.
__ADS_1
love,
D😘