
"Kai sangat sibuk." ujar Ricchi yang sedang menemani Shadow makan malam.
"Biarkan saja." tukas Liam. Mata sipitnya mengerling ke arah Ricchi. "Itu lumrah bagi pengusaha sekelas menantu kita."
Shadow terdiam sembari memikirkan pesan terbarunya belum juga dibalas oleh pria yang menjadi topik utama pembicaraan kedua orang tuanya. Kai membalas pesan sekitar tiga jam yang lalu hanya mengingatkan Shadow untuk makan tepat waktu. Sesuatu yang tidak perlu Kai risaukan, mengingat Shadow berada di rumah orang tuanya.
"Apakah suamimu ingin membuka sebuah hotel baru di sini?" tanya Ricchi yang tidak memiliki bahan pembicaraan selain Kai dan Kai. Entah mengapa sang papa selalu menanyakan segala hal yang berkaitan dengan Kai Navarro.
Shadow menatap lurus ke depan, Ricchi menaikkan alisnya. "Belum tahu, Pa."
"Terus apa yang membuatnya sibuk selama di sini." gumam Ricchi. Mendengar perkataan Ricchi. Liam hanya menggelengkan kepala.
Tepukan halus dari Dee, sang ibu membuat Shadow mendongak. Wanita cantik paruh baya itu membawa mangkuk berisi sup tambahan. "Sepertinya papamu rindu dengan Kai." ucapnya mendamaikan Shadow.
"Aku pun rindu dengannya." lirih Shadow.
"Bekerjalah, Sayang. Besok ikut dengan ayah ke kantor." tawar Liam dengan hati-hati.
Shadow berdeham sambil berpikir. "Tapi Shadow belum membicarakan hal itu dengan Kai, Yah."
"Bekerja bukan berarti mengambil satu proyek film. Tapi menampakkan dirimu di kantor, memperlihatkan jika kami masih memiliki penerus. Sunshine sepertinya sedang asyik menjadi ibu rumah tangga. Jangankan mengurus perusahaan untuk bermain film saja, dia tidak mau." Liam menyela dengan kalimat panjang dan terdengar lebih keluhan yang tersimpan lama di hatinya.
"Sunshine hamil, Yah. Dan dia memiliki suami yang kaya." jawab Shadow. Ya, adiknya sekarang sedang mengandung anak kedua, dan jujur Shadow tidak pernah menanyakan detail kehidupan Sunshine lebih dalam. Hanya sebatas tahu berapa bulan usia kandungan sang adik.
"Richard banyak membantu,tapi tidak sedikitpun keinginan papa dan ayah untuk menyerahkan perusahaan kita ke tangannya." cetus Ricchi dibalas anggukan setuju oleh Liam.
"Bukan berarti kau harus tinggal di Hollywood untuk mengatur perusahaan, setidaknya belajarlah untuk mengambil alih pekerjaan kami." desak Liam.
Manik coklat Shadow membelalak. "Kenapa ayah berbicara seperti ini?" serunya.
Ketiga orang selain Shadow saling berpandangan. "Richard meminta agar Farubun and Maheswara merger dengan perusahaannya. Ayah berpikir mungkin Richard melemahkan Sunshine dengan tugasnya menjadi seorang ibu. Sejak kelahiran anak pertama mereka, Sunshine sama sekali menghindar ketika kami membahas tentang masa depan perusahaan. Dan adikmu tidak pernah mengatakan serahkan kepada Shadow, melainkan ada Richard."
"Papa, apakah ini benar?" tanya Shadow sembari meletakkan sendok dan garpunya.
Liam dan Ricchi mengangguk. "Bukan sekali, namun beberapa kali Richard menyinggung hal itu di depan kami." jawab Ricchi.
"Papa dan ayah bisa mengatakan jika Shadow akan mengurusnya." elak Shadow. Ia tidak bernafsu melanjutkan makan malamnya, segelas air berhasil membasahi tenggorokan lalu fokusnya terpusat kepada pembicaraan Liam dan Ricchi.
"Papa ingin meminta Kai agar memberimu waktu lebih banyak untuk tinggal di Hollywood. Kami ingin menyerahkan Farubun and Maheswara kepadamu, Shaw." ujar Ricchi serius.
"Ini bukan berarti hak Sunshine diserahkan sepenuhnya kepadamu, Nak. Tapi setidaknya untuk sekarang kau harus mengambil alih agar Richard tidak tertarik untuk melakukan merger dua perusahaan." Liam bersuara dengan tegas.
Shadow menarik napasnya kemudian mengangguk. "Besok Shadow akan bertemu dengan Richard."
Liam mengulurkan tangan ke depan, Shadow membalas dengan sebuah jabat tangan yang formal, tanda sebuah kesepakatan baru saja dibuat dan disepakati secara bersama.
"Aku tidak akan membuat ini mudah, Yah, Pa." Shadow berdiri dari kursinya. Ia mengecup pipi wanita yang banyak diam, kemudian mengitari meja, bergantian Shadow mengecup pipi Liam dan Ricchi.
"Shadow akan naik ke kamar dan berusaha menghubungi Kai. Terima kasih makan malamnya, Bu." ucapnya sambil mengamati wajah-wajah orang terkasihnya. "Selamat malam."
...
Shadow sudah terlelap dalam mimpi ketika ia merasakan lengan kekar menelusup di tengkuknya. Shadow mengerang parau di antara sadar dan tidak.
__ADS_1
"Kau pulang, Tuan Mafia?" lirih Shadow, namun rasa nyaman itu hadir sesaat berada dalam rengkuhan sang suami.
"Maafkan aku baru pulang, Shaw. Aku merindukanmu." ciuman berulang kali di puncak kepala kemudian pipi dan hidung Shadow menjadi sasaran Kai.
Shadow menggeram lemah, pun ia semakin tenggelam dalam dekapan pimpinan Black Panther tersebut. "Aku juga. Aku berusaha untuk terbiasa hidup seperti ini. Suami yang tidak membalas pesan, suami yang tidak mengabarkan kapan dia pulang, suami yang pulang tengah malam."
Kai terkekeh pelan. "Bahkan dalam konsidi seperti ini istriku masih bisa menggerutu. Aku mencintaimu, Nyonya Boss."
"Aku juga mencintaimu, Tuan Mafia. Aku tahu kau dalam satu misi dan tidak ada satupun yang mau menceritakan misi itu kepadaku. Tapi biarlah, asal kau selalu mengingat akan keselamatanmu. Ada aku yang selalu menunggumu pulang. Jadi pastikan untuk selamat dan kembali memelukku seperti ini. Walau satu siang memisahkan kita, jangan sampai malam pun juga. Aku tidak bisa."
"Aku tahu, Shaw. Aku pasti pulang." Kai mengangkat wajah Shadow yang separuh terpejam, menurutnya 9 dari 10 waktu wajah seksi istrinya nampak.
Kai mengecup bibir Shadow, erangan pelan itu hadir. Kelopak Shadow terbuka sayu.
"Aku menginginkanmu, Shaw." Kai memperdalam ciumannya. Shadow merespon dan membiarkan dirinya di bawah kendali gairah seorang mafia yang rindu dan juga buas.
...
Shadow bersedekap dan terdiam. Itu telah ia lakukan selama 10 menit terakhir di dalam ruang kerja milik Richard Wirabrada, suami dari adiknya. Beberapa kali Richard mengajaknya berbincang namun dibalas Shadow dengan singkat dan datar.
"Kapan kau akan kembali ke Berlin?" tanya Richard seraya mendekati Shadow yang duduk di sofa. Siang itu kakak iparnya sangat cantik dalam balutan pakaian formal dan bermerek. Dan pula sangat cantik dengan surai ikal yang dibiarkan tergerai.
Shadow menatap tajam bak seorang singa. "Aku akan lama di sini, Rich. Kita akan banyak bertemu."
Richard menatap Shadow bingung. "Apakah aku ada salah?"
Shadow memperbaiki duduknya, ia menatap lurus-lurus selama satu menit. "Katanya kau ingin menggabungkan perusahaanmu dengan milik Farubun and Maheswara?" tanyanya dingin.
"Ayah dan papa." Shadow menggelengkan kepala, giginya saling mengatup. Bisa dikatakan ia benar-benar marah kepada lawan bicaranya.
"Oh Tuhan, tidak." Richard mengerang sambil memijat pelipisnya. "Aku bisa menjelaskannya, Shadow. Tolong biarkan aku menjelaskan secara detail."
"Tidak perlu.' tolak Shadow tegas. Richard semakin terlihat khawatir.
"Rich." Shadow menggeleng. "Apakah perusahaanmu bangkrut?"
"Tidak!" tampik Richard dengan cepat. "Kami baik-baik saja."
Alis Shadow menukik tajam ke atas, wajahnya sangat cocok seorang ibu tiri yang sedang murka kepada anaknya. "Farubun and Maheswara menjadi tugasku jika Sunshine tidak tertarik untuk meneruskan usaha ayah dan papa. Bukan dirimu, Rich. Sama sekali bukan."
"Aku.." Richard baru akan membela diri namun Shadow menaikkan telunjuknya dengan tegas. "Kau tidak perlu menjelaskan hal yang sudah kuketahui. Hari ini giliranku yang bicara biar kau paham, karena setelah ini kau tidak boleh memikirkan hal itu lagi."
Richard melipat bibirnya kemudian pasrah dalam anggukan kepala yang sangat pelan. Pria dengan rahang persegi mirip Brad Pitt itu nampak tidak berkutik di depan Shadow. Dulu mereka adalah teman yang sangat akrab semasa di bangku kuliah.
"Walau kau telah menjadi anggota keluarga kami, bukan berarti kau seenaknya meminta hal itu kepada ayah dan papa. Aku masih ada, Rich. Aku sangat sanggup mengurus perusahaan, jangan melangkahi apa yang menjadi hak-ku sebagai anak. Dan aku sangat tahu Sunshine sejak bersama denganmu. Adikku terlena dalam perasaan cinta yang tidak bisa dia kontrol sendiri. Jadi apapun kau katakan kepada Sunshine, dia akan mendengarmu." jelas Shadow dengan mata memicing.
"Shadow." Richard mengerang masih dengan gelengan kepala polosnya. Shadow tahu jika itu salah satu taktik Richard untuk melemahkannya. Shadow bergaul dengan para mafia, ia tidak semudah itu untuk ditaklukkan atau terperdaya.
"Rich, sudah jelas, bukan? Mulai hari ini kubur mimpi-mimpimu itu. Biarkan ayah dan papa menikmati masa pensiunnya dengan tenang. Buat Milan dan anak yang sedang dikandung Sunshine, bekerjalah dengan giat untuk mewariskannya banyak harta, bukan dari mertuamu."
"Padahal bukan itu maksudku, Shadow." Richard berusaha membela diri. Ia terpojok oleh penghakiman Shadow secara sepihak.
"Setidaknya itu inti dari masalah yang kita bahas sejak tadi. Dan ya, aku akan mencari tempat tinggal di sini walau rumah kami di Berlin memiliki segalanya. Ini tanggung jawabku sebagai anak, Rich. Aku lebih berhak atas segalanya." Shadow kembali menegaskan. Ia beranjak dari duduknya, menatap Richard yang tidak berkutik.
__ADS_1
"Kau hebat, Shadow. Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti ini. Siapa yang mengajarimu?" tanya Richard yang sepenuhnya telah bertekuk lutut di hadapan Shadow.
"Suamiku." singkatnya sambil membaca pesan singkat dari Kai.
Shaw, sekarang aku di Meksiko. Seperti biasa aku akan terlambat pulang malam ini.
...
Kai masih duduk di dalam mobil, ia belum dibiarkan keluar oleh para pengawalnya sebelum memastikan area tersebut aman sang pemimpin. Standar pengamanan untuk Kai selevel dengan para pemimpin negara-negara maju, sangat ketat.
"Bos, lima menit lagi." kata Conley mengingatkan.
Kai berdeham sambil melirik keluar. Pertemuan dengan Martina sengaja diatur di sebuah taman kecil di pinggiran kota. Tidak ada bangunan tinggi, hanya lahan terawat menjadi pemandangan di sekitar tempat itu.
Tanpa diingatkan kembali, Kai beringsut setelah merapikan suitnya. Ia berdiri, dari kejauhan ia melihat sesosok wanita muda ditemani oleh Antonio, pria yang menjadi tawanan Black Panther minggu lalu.
Kai mendengus sambil menyeringai ketika matanya bertemu dengan wanita muda itu.
Cantik, gumamnya lirih.
Kai terus berjalan mengikuti dua pengawalnya yang berada di depan, Conley dan William. Ketiga pria itu terdiam, dan waspada. Semakin mendekat, semakin jelas wajah Martina yang memerah dengan bola mata yang berkaca-kaca. Tangannya saling menangkup di dada, dengan tubuh gemetar hebat.
"Boss, kenapa kau selalu beruntung seperti ini? Andai saja dia menyukaiku." bisik Conley tanpa menoleh.
Kai kembali berdeham, ia tidak melepaskan sedikit pun pandangannya dari Martina. Mangsanya!
###
alo kesayangan๐,
novel yang gak ada feelnya update lagi..
yah bersabarlah, sebentar lagi akan tamat Kai-nya..
oh yah, baru-baru aku membuat akun instagram untuk readers ato mengunggah info novel ato nantinya perkembangan penulisanku.. hilih ๐
kalian boleh follow, mgkn jg bisa DM ๐
@summerrindu
dengan avatar Hugo Chan
kenapa @summerrindu? ya, karena aku suka nama itu.. kelak akan jadi sesuatu melebihi sekadar nama akun instagram..
difollow yah.
love,
D๐
__ADS_1