CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Jealousy


__ADS_3


Kai menatap tajam ke arah pria yang menjadi pemeran utama film yang di garap oleh Shadow, siapa lagi jika bukan London Rae. Aktor yang mendapatkan gelar pria tertampan dunia, memiliki pengikut sosial media hampir sebanyak pengikut maha bintang Cristiano Ronaldo.  Sementara Kai yang tidak begitu aktif di lini masa dunia maya hanya memiliki pengikut sekitar 40 ribu. Terlebih sejak mengenal Shadow, Kai berhenti menebar jala perhatian dari para gadis. Bukankah fungsi


sebuah sosial media adalah untuk mempromosikan diri kepada para pengikut, fans


tentu saja.


Ya, Kai berpikir seperti itu. Dulu, sebelum Shadow hadir di hidupnya. Sekarang Kai lebih sering mengunggah kebersamaannya dengan Shadow di dunia maya, bukan berarti tidak sedikit wanita yang tetap mengirimkan sebuah direct message. Beberapa ada yang berani mengungkapkan rasa kecewa karena Kai telah bertunangan. Dan hanya


sedikit yang memberikan ucapan selamat atas hubungan Kai dengan Shadow.


London Rae harusnya paham jika Shadow telah memiliki seorang tunangan, malah di depan mata Kai sendiri pria itu gencar melakukan pendekatan.


Andai saja London adalah seorang pemimpin kartel, tidak perlu waktu banyak Kai telah terbang ke tempat pria itu, bukan berada di depan sebuah bangunan pertokoan lama sembari menahan amarah yang membuncah hingga ke ubun-ubun.


“Ada asap di atas kepala boss.” Canda William seraya tergelak tawa.


Kai meringis sementara Aiko dan Conley terbahak tawa.


Mereka berada di Quedlinburg, Jerman utara. Salah satu kota tua yang menjadi lokasi syuting Revolution. Film garapan Shadow bertajuk


peperangan dan romantisme percintaan abad 17, yang mana bintang utama wanitanya adalah seorang artis pendatang baru yang tengah naik daun, Marielle Ingram. Wanita cantik itu


berpasangan dengan London di Revolution, tetapi tetap saja perhatian sang aktor terarah pada sang sutradara.


“Aku ingin membunuhnya setiap dia mendekati Shaw.” Geram Kai mengatupkan rahangnya.


Tiga pengawal khusus Kai tertawa geli melihat amarah pemimpin Black Panther tersebut.


“Nyonya boss bersikap profesional. Tidak menanggapi Tuan London dengan serius, coba lihat hanya menjelaskan dan sedikit tertawa. Kalau saja itu wanita lain yang berdampingan dengan pria tertampan dunia, mereka akan pingsan atau salah tingkah, boss.” Hibur Aiko


Kai mendengus seraya bersandar pada tembok dari bebatuan kasar, demi keperluan syuting kota tua tersebut sementara di tutup untuk umum. Kai


menggunakan hak istimewanya sebagai tunangan sang sutradara berhasil mendapatkan akses VIP, ia beserta dengan tiga pengawalnya menjadi orang-orang di belakang layar, menyaksikan proses film berdana ratusan juta Dollar tersebut.


“Itu mungkin karena aku masih di sini, coba tidak? Besok lusa kita akan kembali ke Berlin, dan sekarang aku sangat khawatir dengan pria itu.”


gumam Kai.


“Tidak cukup tiga jam waktu tempunya, boss. Berlin dan Quedlinburg.” Sahut Conley.


“Demi papa. Rapat pemegang saham Navarro Group.” Kai menggelengkan kepala seraya mengambil udara banyak untuk mengisi paru-parunya.


“Conley, kau akan tetap berada di sini. Menjaga tunanganku.” Sambung Kai memberikan perintah yang langsung disanggupi Conley lewat anggukan


kepala.


“Tentu saja, boss.”


Kai menegakkan tubuh ketika melihat Shadow berjalan tergesa-gesa menuju tempat para pria tinggi besar berada.


“Ada apa, Shaw?” Kai bergerak menyambut kekasihnya yang melebarkan manik coklatnya memerhatikan ketiga pengawal Kai.


Shadow menyambut jemari tangan Kai, pasangan itupun kemudian saling bergenggaman tangan. Sutradara cantik itu kemudian tersenyum indah penuh makna.


“Aku butuh mereka.” Todong Shadow kepada William, Conley dan Aiko.


Kai mengerutkan dahi, bibirnya terkulum bergantian menatap Shadow dan ketiga pengawalnya.


“Kami?” tanya Conley sama bingungnya dengan sang pemimpin.


Shadow mengangguk “Iya, kalian. Kebetulan pasukan tentaranya masih membutuhkan tambahan orang, aku menawarkan kepada kalian untuk ikut bermain film. Tenang, tidak ada adegan berbicara di depan kamera hanya berjalan atau duduk dan pengambilan gambarnya dari kejauhan.” Shadow menjelaskan dengan cepat.


“Aku mau!” seru Aiko tanpa bertanya lanjut. Wajah perpaduan Rusia dan Cina itu berseri-seri menengok dua teman seperjuangannya.


Conley tersenyum miring “Baiklah, aku juga mau.”


“Ya.” Singkat William merangkul bahu Conley. Kedua tertawa-tawa dengan wajah antusias.


Kai cemberut seraya memegang bahu Shadow.


“Bagaimana dengan aku? Shaw, kau hanya mengajak mereka? Serius?” pemimpin mafia itu merajuk.


Shadow tertawa sambil mengangguk. Tangannya menangkup kedua rahang Kai dengan penuh cinta.


“Sayang, wajahmu itu tidak bisa dijadikan sebagai pemeran figuran. Kau akan menonjol bahkan dari jarak jauh, lihat wajahmu yang tampan kemudian


tinggi badanmu. Kau bahkan lebih tinggi dari London. Pemeran utama kami hanya bertinggi 185 centimeter, sementara kekasihku ini 191. Mengerti?” Shadow membujuk Kai, ketiga pengawalnya terkekeh ringan.


“Kalau begitu jadikan aku pemeran utama.”


Conley, William dan Aiko tertawa keras. Mereka sama sekali tidak menjaga perasaan pimpinannya dengan gelak tawa yang serempak dengan suara


yang berbeda.


“Kalian sebenarnya tidak boleh ikut. Nanti wajah kalian ketahuan oleh para musuh kita.” Kai mengusik kebahagiaan para pengawalnya.


Shadow memeluk badan Kai dari samping “Maafkan aku, Tuan Mafia. Biarkan mereka bermain film.”


Spontan William, Aiko dan Conley menganggukkan kepala dengan kuat.


“Ya, boss. Biarkan kami menjadi bintang film. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini datang di hidup seorang mafia.” Kata Aiko sambil


memamerkan giginya. Sebuah senyuman dibuat-buat, semakin membuat Kai kesal.


“Shaw.” Rajuk Kai memasang manik birunya sendu dan teduh.

__ADS_1


Kembali Shadow menggeleng “Kau sudah bermain di film dokumenter papa, sayang. Bahkan peranmu banyak di situ. Di wawancarai sebagai


penerus papa, Tuan Mafia. Seorang pewaris Navarro Grup, pemilik Alpheratz Hotel and Resort tidak mungkin berperan sebagai figuran.


Bagaimana jika setelah ini aku buatkan film tentang Black Panther?”


Conley terpekik senang dan berlebihan. Ia melupakan dengan badan tinggi besar dengan kulit yang berwarna. William menyikut temannya untuk tidak larut dalam kebahagiaan yang belum disetujui oleh Kai.


“Hanya untuk kebutuhan internal organisasi.” Tambah Shadow.


Mendengar itu Kai mengukir senyuman lebar, manik lautannya mengerjap tanpa sendu kali ini.


“Yeah, aku setuju dengan itu.” Sahut Kai membalas pelukan Shadow dengan erat.


“Aku tidak bisa bernapas.” Protes Shadow menepuk punggung kekasihnya. Seketika itu pula Kai merenggangkan tangan pada tubuh Shadow.


Kai mencondongkan badan dan berbisik walau ketiga temannya mendengarkan dengan seksama “Aku tidak menyukai aktormu, Shaw. Sengaja aku


memeluk seperti tadi karena dia melihatmu. Bahkan jika kau mengijinkan, aku akan menciummu sekarang juga.”


Shadow sekilas memejamkan mata lalu menoleh ke belakang, tepat ketiga pengawal kekasihnya memerhatikan setiap gerak-gerik mereka.


“Berjalanlah ke sana, nanti akan ada kru yang mengatur


segalanya. Mulai dari kostum dan peran kalian.” Ujar Shadow sambil melebarkan


manik coklatnya.


“Oke, Nyonya Boss. Kau yang terbaik datang di kehidupan kami dan boss.” Teriak Conley yang mengerti akan perkataan Shadow sekaligus mengusir mereka.


Kai menghela napas ketika para pengganggu telah berjalan.menjauh.


“Sekarang cium aku, Tuan Mafia.” Shadow menarik turun kemeja berwarna biru milik Kai.


Sekilas Kai mengarahkan pandangannya pada pria yang mengenakan suit tebal khas aristokrat abad 17, London Rae masih memperhatikan mereka. Kai tersenyum meringai lalu mengecup bibir kekasihnya, sebuah tanda pemilikan utuh


yang bisa membuat aktor itu cemburu buta.



Shadow berjalan menuju mobil yang menunggunya, di belakang kemudi ia bisa melihat senyumam pria berkulit hitam akan kedatangannya. Tadi pagi ia berpisah dengan Kai yang kembali ke Berlin demi


menghadiri rapat pemegang saham Navarro Group. Sang pemimpin mafia tersebut menugaskan Conley untuk menemani Shadow, selama dua hari di Quedlinburg.


“Miss Farubun.” Panggil London yang sambil berlari kecil mengejar Shadow.


Sutradara jangkung itu menoleh tanpa menghentikan langkah kakinya.


“Ada apa?’ Shadow melirik pria tampan di sebelahnya. London telah berganti pakaian, mengenakan pakaian casual bukan sepasang pakaian prajurit berbahan tebal dan kaku.


London tersenyum manis “Aku ingin mengajakmu makan malam, Miss Farubun.” Ucapnya to the point.


berwarna gelap. Conley tidak tersenyum lagi, tampang datar memandang London Rae.


“Aku sudah di jemput, Mr. Rae. Hari ini sangat melelahkan, bukankah kau juga. Kita semua syuting sejak pagi buta, dan tidurku semalam


hanya selama dua jam empat puluh menit.” Tolak halus Shadow. Ia telah sangat jujur kepada aktor yang menurut Kai sedang mengejar perhatiannya.


“Hanya sebentar, Miss Farubun di restoran hotel. Ya?” pria bermanik biru muda itu menautkan alis penuh harap Shadow mengiyakan permintaannya.


Shadow melihat Conley berjalan memutari mobil.


“Tidak, maafkan aku.” Shadow dengan cepat bereaksi sebelum Conley menyeret aktor filmnya ke semak-semak atau mungkin memberikan peringatan sesuai perintah Kai Navarro.


London Rae melihat raut wajah memelas Shadow ketika menolak permintaannya, seakan menegaskan untuk berhenti berusaha. Mungkin belum untuk hari ini, hibur London dalam hati.


“Silahkan, Nyonya Boss.” Conley dengan sopan membuka pintu mobil.


Sejenak Shadow menatap London sebelum naik ke dalam mobil, pria itu memiliki pesona yang luar biasa. Aktingnya tanpa cacat, penjiwaannya sempurna, dan terang-terangan menyukai Shadow. Kini ia sangat percaya akan perkataan Kai,


bahwa London menyukainya.


Selama syuting hari ini, beberapa kali pulaLondon bertanya tentang skenario film. Shadow menebak jika London hanya mencari perhatian darinya.


Conley berdeham pelan, Shadow melihat pengawal Kai memandang lewat kaca spion tengah.


“Nyonya boss.”


Shadow mengulum bibir sambil mengangguk “Ada apa?”


Conley tertawa “Sebenarnya Tuan London sangat tampan, dia juga sangat terkenal tapi boss kami yang terbaik.”


Shadow menyenderkan kepala sambil memejamkan mata “Aku tahu itu, Conley. Kai Navarro yang terbaik, aku tidak akan mengkhianatinya, bahkan jika dia tidak setia kepadaku.”


Conley mengembuskan napas panjang “Boss tidak akan pernah melakukan itu. Dia begitu sangat mencintaimu, Nona Shaw. Percayalah kepadanya. Aku menyaksikan sendiri seperti apa boss kami dulu. Jujur, dia adalah seorang


playboy. Tapi ketika bertemu denganmu, dia berubah drastis.”


Shadow menganggukkan kepala mendengar perkataan Conley, kini lelahnya berkurang hanya dengan sebuah kata penghiburan.


“Sebenarnya kadang yang aku khawatirkan bukan wanita lain tapi bahya ketika berada dalam satu misi. Conley…"Shadow membuka mata dan


menatap ke depan.


“Ya, Nyonya Boss.”


Shadow menarik napas, memantapkan diri dengan pertanyaan yang hendak dikemukakan.

__ADS_1


“Kau tahu jika mama adalah pemimpin sebelum Kai naik, bukan?”


“Ya, boss besar.” Sahut Conley dengan semangat.


Shadow tersenyum mengingat mama kekasihnya. Wanita paruh baya yang sangat energik, berbeda dengan ibu yang sangat feminim. Tapi berita baik jika keduanya sangat cocok, Kila dan Dee. Mereka rutin berkabar lewat paggilan suara dan video. Shadow tentu saja tahu, karena Liam yang membocorkan kebiasaan baru ibunya.


“Apakah mama selalu turun dalam satu misi?” Shadow leluasabertanya karena Kai tidak bersama dengannya.


Conley tertawa ringan “Tidak semua misi boss besar turun tangan. Sepengetahuanku hanya misi besar dan ditemani dengan kakak pertama. Tuan


besar.”


Shadow semakin bingung dengan penjelasan Conley “Kenapa kalian menyebut papa dengan kakak pertama?”


Sekilas Conley menoleh kemudian kembali fokus kepada jalan di depan.


“Lebih baik tanyakan langsung kepada boss kami, Nona Shaw. Dalamsejarah Black Panther, peran pasangan harus bisa mengendalikan pemimpin kami. Seperti halnya boss besar yang tunduk kepada kakak pertama. Saranku, gunakan kelemahan boss kami yang sangat mencintaimu. Sampai di sini sudah mengerti, Nyonya Boss?”


Shadow tersenyum seraya menggigit bibir bawahnya.


“Ya. Aku mengerti. Terima kasih, Conley.”



Shadow berjalan menyusuri koridor hotel tempatnya menginap selama syuting di Jerman, sengaja ia memilih hotel berbintang tiga tersebut dan tidak bersama dengan para aktor dan kru film lainnya yang diberikan fasilitas lebih baik karena keberadaan Kai dan pengawalnya.


Kembali pagi ini Shadow akan meneruskan syuting Revolution, jika jadwal berjalan sesuai rencana lima hari ke depan mereka akan pindah ke.Lancaster, Inggris. Sangat padat, jadwal sutradara muda dan cantik tersebut. Hingga


Kai sebelum ini sudah memperingatkannya untuk tidak terlalu lelah bekerja.


Shadow mewarisi sifat ayahnya, yang gila bekerja hingga melupakan diri sendiri. Tanpa Kai di sampingnya, Shadow berjalan layaknya kereta express dalam bekerja. Melaju cepat dan hanya berhenti sesaat dan kembali pada pencapaian harian yang telah di susun rapi pada malam sebelumnya.


“Hai nona, bisakah anda membantu kami?” tanya seorang pria Asia menghampiri Shadow. Pria itu tidak sendiri, satu teman juga bermata sipit berjalan lambat tepat di belakang.


Shadow berhenti dan menatap pria terlihat seumuran para pengawal Kai.


“Ya?” sekilas Shadow memerhatikan ujung koridor yang sedikit lagi mencapai pintu lift hotel.


Pria yang bertanya mengukir senyum tipis seraya menunjukkan map dari kertas yang lebar.


“Kami ingin ke tempat ini, apakah benar ketika keluar dari hotel dan mengambil jalan ke kanan dan terus sekitar 300 meter kemudian berbelok..”


Shadow memerhatikan arah telunjuk si pria bermata sipit dengan seksama.


Tanpa Shadow sadari, pria satunya bergegas menghampiri. Tangannya membawa sapu tangan berwarna putih ketika berada di samping tubuh Shadow.


“Ya sudah benar, tuan. Dari sini lurus lagi sekitar 200 meter.”


Bersamaan dengan itu tangan pria satunya naik. Shadow sempat menoleh, pria itu menahan pergerakan tangannya.


“Nyonya boss!” teriak lantang Conley dari belakang.


Shadow menoleh dan tersenyum. Dua pria Asia di dekatnya tanpa suara spontan berjalan menjauh.


“Selamat pagi, Conley.” Sapa Shadow dengan ramah.


Conley cemberut dan menatap tajam ke arah dua orang Asia yang terlebih dahulu masuk ke dalam lift.


“Tolong, jangan tinggalkan kamar tanpa diriku. Boss akan marah besar jika tahu ini. Siapa mereka?” Conley terkesan sangat serius tanpa


sedikit senyuman di bibirnya.


Shadow menepuk bahu Conley.


“Mereka bertanya restoran Asia yang pernah kita tempati makan bersama beberapa hari lalu.” sahutnya seraya berjalan menuju pintu baja berwarna silver.


Conley terdiam kemudian meraih ponselnya. Perhatian pria bertubuh tinggi besar tersebut pada untaian kata yang di tekannya dengan cepat pada layar yang menyala.


Sepertinya ada yang aneh, boss. Para musuh mulai bergerak. Dua orang Jepang pura-pura bertanya lokasi kepada Nona Shaw. Ini sungguh tidak masuk akal.


Tidak lama kemudian ponsel Conley bergetar.


Saya akan kembali saat ini juga.


###





alo kesayangan💕,


happy weekend.. byk novel yang terkendala yah.


maaf 🙏🏻


ada feelnya gak?


aku UP jam 1 siang Sabtu


tapi lama review sampai Minggu belum lolos..


sepertinya MT sedang perbaikan or something.


sabar yah.

__ADS_1


love,


D😘


__ADS_2