CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Last Day


__ADS_3

"Akhhh." ringisan pelan keluar dari bibir pria yang tersungkur di lantai. Satu tangannya mengepal menahan sakit yang mendera, sementara tangan satunya menekan di bagian perut.


"Bersyukurlah boss kami datang, jika tidak kau akan sangat menderita." bisik sinis Akio usai memberikan satu pukulan di perut pria Meksiko itu. Akio melirik ke arah Kai yang sedang mendengarkan perkataan Heron. Di sampingnya ada William, Yoruban, Conley ikut menyimak.


Akio berdiri sengaja menatap tajam ketika pria itu menaikkan kepalanya. "Apa?" seringaian diikuti dengusan kasar keluar dari hidung Akio. "Tidak bicara pun kami sudah tahu dirimu, Tuan."


Perkataan Akio membuat pria berusia pertengahan dua puluh itu terhenyak. Alisnya bergerak ke atas, matanya sedikit membulat.


"Antonio Ayuso." Akio melapalkan nama pria yang kini terduduk dengan bola mata bergerak kiri kanan menyiratkan kegelisahan juga ketakutan.


"Akio." suara Kai memanggil membuat Akio tidak melanjutkan terornya.


"Boss." Akio menyapa ketika Kai mendekat.


Yoruban meletakkan kursi yang diambilnya di sisi kamar. Demi menyekap Antonio Ayuso mereka menyawa satu bangunan apartemen berlantai satu dengan parkiran mobil yang cukup luas. Orang-orang Black Panther berjumlah puluhan sedang menjaga di luar sana.


"Kalian mengikutiku sejak tiba di Hollywood atau di Berlin?" Kai mencondongkan badannya ke bawah, mensejajarkan kepala dengan Antonio.


Bola mata hitam itu melebar menyiratkan ketakutan. Ini adalah hari terakhirku, aku bahkan belum melakukan banyak hal di dunia.


"Di Berlin kami mempunyai mata-mata hingga kami yang di Meksiko tahu rencana kedatangan kalian ke Hollywood." sahut Antonio pelan.


Kai melipat bibir hingga tulang rahangnya menonjol. Ia marah. "Kau tahu jika di tempat itu ada orang tua istriku. Kalian sungguh berani mengintai kami."


"Aku tidak bermaksud mengintai, hanya ingin tahu." Antonio membela diri.


"Apa yang ingin kalian ketahui?" Ketika Kai marah ia tidak berteriak seperti orang kebanyakan. Justru suaranya berbisik tajam.


"Kegiatanmu." ungkap Antonio.


Kai mendengus kasar lalu tersenyum miring. "Kami tidak ada keinginan untuk mengganggu ketenangan Tijuana, sementara kalian sepertinya mencari-cari alasan untuk didekati? Bosan hidup dengan tenang?"


"Aku.." Antonio tertunduk, ingatannya melayang kepada sang adik bungsu yang mengelayutinya, merajuk meminta agar Antonio memperpanjang waktu bisnisnya di Amerika. Martina meminta Antonio melihat langsung seorang Kai Navarro, sungguh kekanakan permintaan adiknya.


"Kau diminta oleh adikmu?" terka Kai lalu tertawa.


Antonio tersentak kaget. "Kau tahu?"


Pemilik surai putih dengan manik biru seperti lautan itu mengangguk dengan pongahnya. "Aku sudah katakan tadi, antara Black Panther dan Tijuana tidak ada masalah, bahkan sebelum ini kami tidak tahu tentang kartel kalian. Ketika terjadi kegaduhan saat pesta pernikahan, kami mencari tahu informasi sedetil mungkin. Muncullah nama Kartel Tijuana, lengkap dengan semua anggota keluarga dan kelompok."


"Kamu.." seru Antonio dengan tenggorokan tercekat. Ketenangan Kai membuatnya gentar.


Kai tersenyum. "Ya aku." jawabnya tertawa. "Aku sedang menikmati hidup tenang, Anak Muda."

__ADS_1


Kai menegakkan tubuh kemudian menyilang tangan pada bagian dada. "Aku menghindari kegaduhan akhir-akhir ini, padahal kami bisa saja meruntuhkan kartel kalian begitu tahu siapa dalang penyerangan di pesta itu."


"Zhirkov, pria yang hendak menyerangmu itu memiliki utang yang cukup besar dengan Tijuana. Bahkan dengan nyawanya pun dia tidak bisa melunasinya."


Kai mendengus seraya menatap para pengawalnya yang terkekeh. "Klasik. Tidak menarik."


"Bagaimana dengan dia, Boss?" tanya Akio, satu-satunya pengawal Kai yang paling tidak sabaran untuk mengetahui nasib Antonio.


Kai berdeham pendek sambil memandang Antonio yang tersengal napas pendek-pendek. Pria malang yang berharap tidak menuruti permintaan Martina. Andai ia mengikuti rencana semula, Antonio pastinya telah duduk di halaman belakang villanya di perbukitan sambil menikmati tequila. Bukan membuat nyawanya berada di ujung tanduk.


"Katakan sejujurnya, apakah adikmu menyukaiku?" tanya Kai.


Antonio tertunduk ketika menganggukkan kepalanya pelan. "Martina tergila-gila tepatnya. Itu bermula ketika Martina berusia 17 tahun, sekarang dia 21 tahun. Cukup umur untuk menikah, namun tidak pernah sekalipun tertarik untuk berkencan. Ayah kami mengekang kebebasannya." tuturnya lugas.


Kai mendesah panjang. "Aku tidak mungkin membunuhmu." ujarnya sambil berdiri.


Terdengar helaan napas dari Ontonio. Ia mengangkat kepalanya menatap Kai dengan mata berkaca-kaca. Antonio tidak pernah bersyukur sebesar ini selama hidupnya, hingga mendengarkan pengampunan dari pemimpin mafia yang terkenal dengan kekejamannya menghancurkan kartel, organisasi hitam lainnya.


"Apakah kau bersungguh-sungguh?" tanya Antonio memastikan perkataan Kai sesaat lalu.


Sang pemimpin Black Panther hanya tersenyum separuh menyeringai. "Aku tidak pernah merubah perkataanku. Dengan satu syarat." Kai terdiam sejenak seraya menghela napas. "Pertemukan aku dengan Martina."


Mendengar perkataan Kai, kelima pengawalnya sambil berpandangan. Akio merenggut kemudian membuang muka, tangannya sungguh gatal ingin memberi pelajaran kepada Antonio.


"Lepaskan dia." perintah Kai. "Akio, pastikan orang ini selamat sampai di rumahnya."


...


BRAK! Pedro sekali lagi mengadu tinjunya di atas meja, tidak ada yang melayangkan protes kecuali tatapan membelalak ke arahnya terutama dari Luis. "Kamu!" teriaknya menatap Martina yang tersentak kaget, terdengar isakan tangisnya mengeras.


"Sudah!" balas Urbina, sang ayah menengahi.


"Pedro, sudahlah. Kau membuat suasana semakin kacau. Bisakah kita lebih tenang di ruangan ini?" kata Luis tegas.


"Karena Martina, aku bisa kehilangan adik." gerutu Pedro. Ia menatap Martina dengan sengit, sekalipun si bungsu tak berani membalas tatapannya.


"Martina juga adikmu, satu-satunya perempuan di keluarga kita." Urbina kembali bersuara pelan.


Pedro akhirnya bungkam, kini pria itu lebih memilih menghabiskan birnya ketimbang membalas perkataan Urbina.


"Kita bisa mengerahkan anak buah ke California, dan mencari di mana Antonio." saran Luis sambil menatap sang ayah.


Urbina menggeleng, raut wajahnya tegang. "Aku tidak ingin kehilangan anak yang lain. Kemungkinan Antonio selamat.."

__ADS_1


"Papa." Luis menegur sambil menepuk bahu Urbina. Akhirnya pria paruh baya itu mengeluarkan kesedihan yang sedari tadi dipendam sedemikian rupa.


Urbina tertunduk sembari menekan kedua kelopak matanya yang terpejam. Jemarinya basah akan air mata.


"Papa." Luis menyodorkan sapu tangan dan disambut buru-buru oleh Urbina.


"Ini semua salahku." Martina menjerit dan menangis histeris. Luis bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Martina. Dengan gagahnya ia menarik tangan Martina untuk berdiri seraya mendekap tubuh sang adik bungsu.


"Tenangkan dirimu, kita tidak bisa mencari jalan keluar jika ada yang bersikap seperti ini. Kau tahu jika pekerjaan keluarga kita tidak jauh dari marabahaya. Ini adalah takdir Keluarga Ayuso, semua yang terlibat di Kartel Tijuana. Cepat atau lambat kita akan menghadapi musibah seperti ini." ucap Luis berupaya menenangkan Martina.


Gadis berusia 21 tahun itu menggeleng lemah dalam dekapan, histerisnya mereda hanya menyisakan isak pelan dan tubuh yang tersengal.


"Duduklah, coba minum air putih." Luis melonggarkan dekapan dan memandang wajah Martina yang memerah. Adiknya cantik, bahkan sangat cantik. Wajah bak putri kecantikan ia dapatkan dari garis ibu mereka, bukan dari Urbina yang kaku dan berkulit coklat tua.


"Baiklah." Martina mengangguk kemudian kembali ke kursinya.


Kembali suasana tegang dan sepi sementara di ruangan tengah tersebut terdapat 15 orang termasuk anak buah kepercayaan Luis. Mereka hanya mendengarkan percakapan para pemimpin Tijuana beserta tangisan Martina.


"Hola." sapaan ringan dari arah pintu membuat semua orang berpaling ke asal suara.


"Antonio!" pekik serempak Urbina dan anak-anaknya. Pedro yang pertama kali melompat kemudian memeluk hingga mengangkat tubuh Antonio.


"Apakah benar ini adikku?" seru Pedro sambil memegang kedua pipi Antonio. Pemuda itu mengangguk keras, di saat yang sama Luis, Urbina, dan Martina memeluk tubuhnya kuat-kuat.


"Ada yang harus kita bicarakan." kata Antonio serius ketika pandangan matanya bertemu dengan sorot sendu milik Martina.


###



alo kesayangan💕,


mungkin ini chapter paling pendek aku bikin, hanya 1150 kata saja dan butuh 10 hari aku menulisnya.


benar-benar buntu aku menulis Kai. Gimana, apakah novel ini kita akhiri 1-2 chapter lagi? karena, butuh waktu lama mengumpulkan di kepalaku lalu menuangkannya dalam tulisan..


sebenarnya masih mau nambah cerita Shadow di chapter ini, tp lama lagi nanti ditunda aku nulisnya, sudah jam 10.39 pm aku mengantuk Ladies 😂


satu hal, aku gak tahan begadang.. karena pagi buta sudah berolahraga.. [blom kurevisi, maaf klo byk typo]


aku tunggu saran kalian tentang novel ini, END atau 1000an kata saja utk berapa chapter lagi namun tidak bisa rutin UP-nya.


love,

__ADS_1


D😘


__ADS_2