CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Girindrawardhana


__ADS_3


"Papa..Papa," panggil si kembar yang melihat kedatangan Kai. Bulan ini mereka memasuki usia satu tahun, semakin pintar dan tentu saja mengemaskan.


Hal itu pula yang membuat Bumi dan Auriga menjadi kesukaan Kila dan Hugo. Hampir setiap minggu mereka diboyong ke kediaman mereka di pusat kota. Kadang malah hanya Kai dan Shadow berdua di rumah danau, dan waktu-waktu seperti itu mereka gunakan untuk bermesraan juga bekerja.


"Halo," sapa Kai riang ketika masuk ke dalam rumah. Si kembar tergelak tawa yang menggemaskan. Mereka berebutan turun dari kursi, mengabaikan Shadow yang ingin putra-putranya berhati-hati.


Bumi dan Auriga berlari-lari dengan pantat montok bergoyang-goyang, Shadow terkekeh melihat tingkah si kembar.


"Ahhh, Papa!" Bumi dan Auriga terpekik senang ketika Kai meraih keduanya lalu menggendongnya. Bayi-bayi itu semakin heboh saat Kai mencium pipi gemuk keduanya.


"Papa sayang Bumi dan Auriga," seru Kai tak mau kalah riang dengan anak-anaknya. Melihat si kembar moodnya kembali membaik setelah seharian tegang di kantor. Walau ia tidak turun menjalankan misi namun tetap saja harus mengunakan kepalanya, mengolah taktik terbaik untuk anggota Black Panther yang bertugas menjalankan misi. Beberapa orang kepercayaan terbaru Kai-lah yang menjalankan tugas lapangan. Sementara kelima pengawalnya masih tetap setia menemaninya kemanapun Kai pergi.


"Mereka menunggumu makan bersama," kata Shadow berjalan menuju dapur. Kai mengikuti sementara putranya berceloteh dengan bahasa yang hanya mereka berdua mengerti.


Kai meletakkan si kembar di kursi makan khusus untuk bayi, satu persatu dengan perlahan. "Jadi mereka tidak makan," Kai memandang si kembar yang memukul meja plastik di depan mereka. "Sangar seperti harimau belum makan dua hari,"


Shadow tertawa meletakkan makanan si kembar. "Mereka minum susu, bukankah kebiasaan mereka makan malam bersama denganmu, Tuan Mafia,"


Kai mengusap kepala Bumi dan Auriga bergantian. Ia kemudian menghela napas pendek. "Kalau di rumah mama, mereka sudah makan dari tadi,"


"Iya, mereka tahu siapa yang menjaganya. Memang mereka anak-anakku, tapi sedikitpun gen dan isi kepalaku tidak ada yang menurun ke mereka. Semuanya dari dirimu, Tuan Mafia. Mama sendiri yang mengatakan jika si kembar persis Kai Navarro waktu kecil,"


Kai tersenyum mendengar gerutuan Shadow. "Berarti kau belum beruntung. Mungkin anak kita berikutnya," ucap Kai sambil membantu Shadow menyiapkan peralatan makan.


"Setahun lagi, jika boleh meminta. Aku tidak ingin memberi jarak usia yang jauh antara mereka berdua dengan adiknya kelak," Shadow terdengar serius. Ia memerhatikan gerak-gerik Kai hanya ingin tahu respon pemimpin Black Panther itu.


Sejenak Kai terdiam ketika mengatur piring. Ia menoleh menatap Shadow. "Semuanya aku serahkan kepadamu, Shaw,"


"Bumi dan Auriga sudah ditakdirkan sebagai penerus Black Panther. Aku memikirkan Farubun and Maheswara, Tuan Mafia. Itu yang membuatku merencanakan adik buat mereka setahun lagi, Farubun akan menjadi tanggung jawabku dan itu tidak bisa dijalankan jika aku sedang hamil. Aku ingin fokus bekerja," Shadow yang terkenal perfeksionis menunjukkan dirinya.


Kai sangat pengertian akan sifat istrinya. Ia mengelus punggung Shadow ketika wanita bersurai ikal itu meletakkan menu makan malam. "Anything you want, My Love," ucapnya dengan lembut.


Shadow mendongak menatap Kai yang sedang tersenyum. Ia berjinjit memberikan kecupan di pipi Kai. "Terima kasih, Suamiku. Kau adalah pria terbaik yang pernah aku temui setelah Ayah dan Papa,"


Kai mengerucutkan bibirnya sambil menarik kursi untuk Shadow. "Tentu saja aku tidak bisa mengalahkan Ayah dan Papa. Coba bandingkan aku dengan orang lain,"


Shadow tertawa, sembari mendudukkan tubuhnya ia memerhatikan si kembar sedang makan tanpa banyak bertingkah. Keduanya asyik menikmati makanannya. "Maafkan aku. Kau jauh lebih baik dibandingkan pria-pria kukenal. Itu mengapa aku memilihmu,"


Kai berdecih pelan, ia berpura-pura merajuk. "Kesal," gerundelnya sambil memasang muka masam.


Shadow melirik Kai, lalu tergelak keras. "Tolong berhentilah, Tuan Mafia," ia mencubit pipi Kai, kepala Shadow menggeleng berkali-kali. "Kau tidak cocok berekspresi seperti ini. Suamiku adalah Dewa Kematian, tidak pantas merajuk. Aku sering melihat wajahmu yang dingin dan kaku. Tapi mengapa itu tidak menakutkan bagiku. Malah justru sangat seksi,"


"Aku tampan, bukan?" raut wajah Kai kontan berubah menjadi jenaka. Seringaian khasnya muncul.

__ADS_1


"Mereka adalah buktinya. Anak-anakku yang tampan dan lucu," Shadow mengarahkan pandangan kepada Bumi dan Auriga. Si kembar bersurai sama dengan Kai, manik biru lautan yang masih bundar. Seiring waktu kelak akan tajam mengikuti struktur wajah.


"Terima kasih, Shaw. Aku tidak sabar melihat mereka berlarian di halaman rumah, berenang di danau, mengajarkan bela diri. Anak kita akan tumbuh dengan hebat," ujar Kai optimis.


Shadow mengangguk. "Ya, mereka lahir di keluarga kita. Keluarga tangguh,"


...


Kai mengamati Bumi dan Auriga di pinggiran sambil melipat tangan di dada, si kembar sedang berlatih aikido dengan Hugo. Usia putranya masih sangat belia, namun ketertarikan terhadap bela diri sangat tinggi. Walau gerakan masih seadanya, mengingat Bumi dan Auriga baru menginjak usia 4 tahun, namun semua orang berlomba untuk memberikan pelatihan secara cuma-cuma. Bahkan Akio mendapatkan jadwal melatih Bumi dan Auriga, hal itu membuat temannya yang lain sangat cemburu.


Kai pun akhirnya menjelaskan kepada para pengawalnya bahwa mereka semua nantinya akan mendapatkan kesempatan untuk menurunkan ilmu kepada putra-putranya. Alasan sesungguhnya ia memilih Akio mendampingi Bumi dan Auriga sejak dini karena hanya Akio yang memiliki kemampuan berbagai macam beladiri dan sifatnya yang tegas dan dingin. Kai paham jika kedua putranya mendapatkan cinta dan perhatian yang luar biasa banyaknya dari orang sekitar, namun ia juga ingin mereka memiliki ketegasan seperti Akio.


Bukan berarti Kai tidak bisa mengajarkan hal itu kepada Bumi dan Auriga melainkan ia sangat menyukai Akio. Beberapa misi yang membutuhkan spontanitas memutuskan sesuatu, di saat itu Akio-lah yang bergerak terlebih dahulu. Sering kali Akio terlihat gegabah dan tanpa perasaan, namun semua tindakannya telah dipikirkan secara cepat begitupun segala sebab akibatnya.


"Anakmu," teriak Shadow membuat Kai yang sedang berpikir tentang masa depan Bumi dan Auriga pun menoleh dari asal suara.


Wajah Kai semringah ketika melihat bayi perempuan di gendongan Shadow. "Cintaku," serunya berjalan menghampiri istrinya.


"Dia rewel ketika bangun. Dan papanya yang dicari," Shadow menyerahkan bayi berusia 11 bulan itu ke pelukan Kai.


"Cintanya Papa," Kai mengecup pipi montok putrinya.


Bayi perempuan itu mencebik sedih kemudian memeluk leher Kai. "Papa," suaranya terbata dan pelan.


"Ya, Kaluna adalah anakku. Dia akan menemaniku ketika kau sibuk bekerja, Shaw," pamer Kai sambil menggoyangkan tubuhnya hingga putrinya merasakan nyaman, seakan dibuai oleh semilir angin.


"Maafkan aku, Sayang," Shadow memeluk Kai. "Bukankah sejak awal kau memberiku kebebasan, bahkan aku boleh menjadi seorang mafia,"


Kai mengecup puncak kepala Shadow. "Sayangnya kau tidak berminat,"


"Iya, aku sudah berlatih keras namun ujung-ujungnya aku hanya bisa menjadi seorang ibu," dalih Shadow.


"Seorang ibu yang luar biasa sekaligus seorang sutradara dan penerus Farubun and Maheswara. Kau pintar membagi waktumu, Nyonya Navarro," sanjung Kai.


"Darah yang mengalir di tubuhku berbeda dengan darahmu, Tuan Mafia. Bahkan anak-anakku memiliki minat yang berbeda. Tentu saja Rose akan berbeda dengan kakak-kakaknya," ungkap Shadow. Ia memanggil Kaluna Rose dengan nama tengah anaknya. Alasan ia memberi nama Rose karena pada awal kehamilan anak ketiganya, Shadow selalu ingin menghias rumah dengan berbagai macam bunga mawar. Ia tergila-gila dengan wangi bunga mawar, dan itu pula menyakinkan dirinya bahwa bayi dikandungnya adalah seorang putri yang cantik.


"Black Panther sudah mendapatkan pemimpinnya. Penggantiku nanti. Cintaku yang ini akan tumbuh besar sesuai keinginannya. Kaluna bebas menentukan apa yang menjadi minatnya. Sama seperti Sky memilih untuk menjadi model dan Isla jadi istri orang terkaya dunia," kekeh Kai mengingat kedua saudarinya.


Shadow sepertinya paham alur pembicaraan suaminya. "Bulan depan kita bisa mengunjungi Kak Isla di Lyon. Kau merindukan mereka?"


Kai mengangguk. "Kita sibuk dengan kelahiran dan urusan pekerjaan hingga tidak memiliki waktu untuk berkumpul,"


"Aku ada proyek film, syuting di Perancis," ucapnya Shadow. "Bukan di Lyon, tapi kita bisa sekalian membawa anak-anak ke sana,"


"Lyon?" seru Kila yang ikut menimpali. Wanita paruh baya itu tiba-tiba saja datang tanpa ada suara.

__ADS_1


Kai menatap sang Mama. "Aku merindukan Kak Isla dan Sky, mungkin Mama bisa mengatur agar Sky ikut liburan ke Lyon.


"Kecil. Serahkan kepada Mama. Biar Mama yang mengatur semuanya. Oh ya, mana Matahari Kembar-ku?" celinguk Kila mencari sosok-sosok yang menggemaskan.


Kai menoleh dan ikut mencari. Di halaman rumah tadinya ketiga orang itu berlatih, tanpa mereka sadari orang-orang tersebut sudah tidak berada di tempatnya. "Loh?"


"Mungkin ke danau," sahut Shadow. Ia berjalan melewati rumput hijau yang empuk menuju danau.


Kila terpekik senang ketika melihat kedua cucunya sedang bermain di pinggiran danau bersama dengan Hugo. "Ya ampun," serunya ikut bergabung.


"Mereka sudah selesai berlatih dan ingin main air," jelas Hugo yang celana kain berwarna putih miliknya telah basah hingga di lutut.


Baik Shadow dan Kai mengangguk mendengarkan perkataan Papa mereka. "Bukannya Papa penyelam hebat," bisik Shadow.


Kai berdeham pendek. "Ya, Papa perenang dan penyelam bersertifikat Internasional,"


Shadow terdiam sesaat. Ia melihat pekikan riang kedua putranya yang sedang asyik bermain air bersama Kila. "Terima kasih, Tuan Mafia. Telah menghampiriku saat di Bali. Aku tidak pernah berpikir bahwa hari di mana aku harus menghadapi pernikahan Sunshine dengan Richard justru hari itulah aku akan bertemu dengan cinta sejatiku. Ayah dari anak-anakku dan pria yang mengenalkan kepadaku berbagai macam bentuk kebahagiaan," kata Shadow terharu sambil memeluk lengan kokoh suaminya.


"Kau bahagia, Shaw?" tanya Kai sambil mengusap punggung Kaluna yang kini kembali terlelap di pelukannya. Sayang sekali Kaluna Rose melewatkan bermain pasir di tepi danau bersama dengan kedua kakaknya.


"Ya, aku bahagia. Sangat bahagia, Tuan Mafia. Aku bahkan tidak bisa mengungkapkan rasa bahagiaku dengan kata-kata. Kau tidak hanya memberikan aku anak-anak yang lucu, juga sebuah keluarga besar yang penuh dengan kasih sayang. Semua orang di keluarga Girindrawardhana adalah orang-orang yang hebat. Aku sangat bahagia anak-anakku menyandang nama besar Girindrawardhana," Shadow pelan-pelan mengusap air matanya.


Kai tertawa dan memberikan kecupan di kening Shadow. "Semua ada alasannya, Shaw. Aku meminta Grandpa yang memberikan nama kepada anak-anak kita. Aku ingin legasi kembali berulang, nama keluarga. Dan suatu hari di masa depan, nama itu akan menjadi nama yang besar di dunia kita, dunia Black Panther. Girindrawardhana bukan hanya sekadar nama, melainkan sejarah baru akan diukir oleh ketiga anak kita nantinya. Aku percaya akan itu, Shaw,"


Shadow menggigit bibirnya, sekarang bukan hanya berkaca-kaca namun bola matanya menitikkan air mata bahagia. Ia pun sama dengan Kai, percaya akan masa depan ketiga anaknya yang besar.


"Sudah kewajiban kita menyiapkan sejak dini masa depan anak-anak kita. Pastinya berat, tapi kita bisa. Aku memiliki istri yang hebat dan orang tua seperti mereka," Kai melihat kedua orang tuanya. Hugo kini ikut berbasah-basah seperti ketiga orang yang ditemaninya.


"Terima kasih," seru Shadow kemudian mengecup pipi Kai. Seruannya membangunkan Kaluna. Putri kecilnya itu terlihat kebingungan namun ia tertarik mendengarkan teriakan Bumi dan Auriga.


"Papa.. Papa, mau," Kaluna bergerak gusar, ia menunjuk ke arah kedua kakaknya.


Kai menarik napas panjang. "Sore di danau dengan bermain air," ucapnya sambil mengikuti Shadow yang terlebih dahulu berlari kecil mendekati Bumi dan Auriga.


Kai memandang Kaluna dalam-dalam, putri kecilnya membalas tatapannya dengan bibir cemberut. "Berjanjilah kepada Papa. Bahwa kalian bertiga akan selalu bersama. Bermain dan menjaga kakak-kakakmu dari perbuatan yang tidak baik. Ya, Kaluna?" tanya Kai kepada putri bungsunya.


Entah paham atau malaikat penjaga bayi itu yang memintanya mengiyakan permintaan Kai. Sepersekian detik berikut Kaluna mengangguk dengan bibir tersenyum lebar dengan manik biru berseri-seri.


"Aku mencintaimu," Kai mencium Kaluna dengan penuh kasih sayang. Kaluan tertawa riang, terlebih ketika Bumi dan Auriga berebutan mengambilnya.


"Luna dengan kakak," teriak Bumi dan Auriga tidak mau kalah satu sama lain. Sepasang Matahari Kembar merebutkan satu bunga terindah dalam keluarga Girindrawardhana.


Bumi dan Auriga masih anak-anak, tapi suatu hari mereka akan menjadi pemimpin Black Panther, dua orang yang tak terpisahkan oleh apapun. Dua kekuatan sama besarnya, lebih hebat dari Kai Navarro dan lebih kejam dari Akio.


FIN.

__ADS_1


__ADS_2