CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Sehari Bersamamu


__ADS_3

"K..a..i Na..varro," terbata dan sangat pelan Martina menyapa pria bersurai putih yang wajahnya tenang dengan bibir sedikit mengulas senyuman.


"Ya, Ini aku" Kai berjalan dengan kepercayaan tingkat tinggi menghampiri Martina. Mereka berhadapan, Martina yang hanya bertinggi 162 centimeter terlihat kepayahan untuk menatap wajah pemilik tubuh tinggi menjulang yang menguarkan wangi maskulin.


Martina menyerah, ia tidak kuat berlama-lama memandang sosok yang membuatnya jatuh cinta hingga akal sehatnya tidak pernah berfungsi dengan baik. Kaki gemetar sehingga ia harus mendudukkan tubuhnya di atas kursi kayu. Martina menahan tangannya yang bergetar, setiap pori-pori kulit mengeluarkan titik peluh yang dingin. Ia tidak menyangka efek seorang Kai sedemikian hebat berpengaruh terhadap tubuhnya.


"Rileks, Martina," Kai menarik kursi dan duduk berhadapan dengan lawan bicaranya. Kai memerhatikan gadis muda berparas cantik dengan surainya yang hitam panjang. Sepasang alis melengkung indah, dan maniknya berwana hijau. Sensual dan menggoda, cukup wajar jika para pengawalnya mengatakan jika Martina sangat cantik dan juga seksi.


Martina menoleh ke belakang memastikan Antonio, sang kakak masih setia menemaninya. Pria yang menjadi sandera Kai tampak menganggukkan kepala hingga membuat Martina menelan saliva sambil mengembuskan napas pendek.


"Terima kasih telah mengatur ini," Martina sedikit lebih tenang setelah melihat Antonio, ia pun benisiatif membuka percakapan. Ia memandang Kai walau sekilas, ia tidak bisa lebih lama dari dua detik menantang sorot biru lautan nan tajam. Ia baru tahu jika dadanya terburai setiap kali matanya bertabrakan dengan manik Kai Navarrro.


"Aku sendiri tertarik mengenalmu, Martina. Jadi pertemuan ini menguntungkan bagi kita berdua. Benar, bukan?" Kai menaikkan bibirnya sebelah disertai dengusan dari hidungnya. "Jadi seperti ini sosok seorang Martina Ayuso, si bungsu dari Kartel Tijuana. Hola herrmoso, como estas hoy?


[halo cantik, apa kabar hari ini]


Martina tersentak mendengarkan Bahasa Spanyol Kai yang sangat fasih. Matanya terbuka melebar sementara kedua tangannya saling bertaut dengan erat.


"Kau bisa..." Martina terbata.


"Masa kecilku di Minorca, Spanyol. Hingga usia remaja kami bersaudara kembali ke Jerman. Banyak bahasa aku kuasai, Martina. Hanya kau tidak tahu semuanya. Pengetahuanmu tentang Kai Navarro hanya seujung kuku," Kai tersenyum bangga. Permainan memasuki bagian pertama, intro.


Tubuh Martina mendadak menggigil mendengarkan nada suara Kai yang berubah. Terdengar seperti bisikan dan menusuk. "Aku hanya tahu jika kau berasal dari Jerman," cicit si gadis yang mengenakan celana denim berwarna biru.


"Kamu tahu jika hotel dan resort adalah kamuflase dari kegiatan yang sama digeluti keluargamu. Hanya saja tidak ada yang mengetahui seluk beluk diriku. Seperti apa kedua orang tuaku, saudaraku, keluarga besarku,"


"Seperti apa?" tanya Martina dengan cepat. Rasa ingin tahu tentang pria yang dicintainya membuatnya cepat bersuara. Seakan ia berada pada momen yang pas untuk menggali lebih dalam. Martina sendiri tidak tahu dengan nasibnya setelah ini, entah ia dan Antonio akan dibantai habis oleh orang-orang Kai, mungkin juga ia akan selamat kembali ke rumahnya dengan perasaan cinta yang semakin bertambah besar.


Kai tertawa. "Tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Tidak seperti papamu yang dibesarkan oleh tantenya karena kedua orang tua tidak mau bertanggung jawab terhadap anaknya. Itu yang membuat papamu mengenal dunia kartel, tidak merasakan kasih sayang,"


"Aku tidak tahu itu," Martina kembali menoleh ke arah  Antonio, sang kakak terlihat sedang mendengarkan perkataan pengawal Kai.


"Mungkin kau tidak tertarik dengan sejarah keluargamu, Martina. Seharusnya kau tahu itu, seperti aku mengetahui kehidupan para lawanku,"


Aku tertarik hanya pada satu hal, itu kamu Kai Navarro. Lekat-lekat Martina memandang Kai. Yang didapatkannya malah sebuah seringaian jahil dan anggukan kepala yang misterius. Entah apa maksudnya, mungkin isi kepala Kai adalaj sebuah perintah yang sebentar lagi akan mengeksekusi  mereka. Bulu di tangan Martina meremang membayangkan jika hari itu merupakan hari terakhirnya di muka bumi.


Mati di tangan pria yang dicintai, tidak buruk bagi Martina. Setidaknya ia bisa melihat wajah yang ia rindukan dan puja sebelum menutup mata. Terdengar gila, bukan? Ya, Martina tahu dengan kegilaan yang mengisi kepalanya, terdengar realistis mati percuma dibandingkan membayangkan ia akan hidup bahagia dengan Kai Navarro.


Kai berdeham membuat Martina berhenti melamun dengan pikiran gilanya. "Maaf." ucap si gadis berambut hitam.


"Kembali ke topik utama. Tentang kehadiranku di sini," kata Kai terdengar serius. Tidak ada lagi seringaian di bibirnya, ia telah melirik jam tangan menandakan waktu berkunjung di kota itu sebentar lagi berakhir.


"Martina, aku mengaku jujur jika tertarik mengetahui dirimu. Aku mempelajari karaktermu dari berbagai foto dan video yang pengawalku dapatkan. Lihat ini aku yang sebenarnya, seorang mafia dan telah memiliki istri. Aku tidak perlu menjabarkan kepadamu tentang hubungan aku dengan Shadow. Aku tahu itu pasti akan membuatmu bersedih mungkin juga sakit hati,"


Hanya dengan bertutur panjang Kai telah membuat Martina tiba-tiba muram. "Tapi kau datang ke sini," suaranya terdengar merajuk dan serak. Martina menahan tangis yang menyesaki dada.


Kai mengangguk. "Ya, aku datang karena aku tertarik mengetahui seperti apa gadis yang berani memperalat saudaranya sendiri untuk mengganggu ketenangan keluarga kami. Pada saat itu orang tua istriku semuanya berkumpul, mereka adalah tanggung jawabku, Martina. Keselamatan mereka," suara Kai menusuk, tubuh Martina kembali tersengal dan gemetar.


Antonio tidak berkutik, ia tidak bisa bergerak memberikan perlindungan kepada adiknya sendiri. Ia berada di tengah dua pengawal terlatih Kai Navarro.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak pernah melakukan hal seperti ini. Di belahan dunia mana pun aku tidak pernah meluangkan waktu untuk menemui wanita seperti dirimu. Aku abaikan. Aku tidak peduli, bahkan mereka akan diam dengan selembar cek. Tapi kamu berbeda, kamu adalah anak seorang pemimpin kartel. Selembar cek tidak akan membuatmu berhenti melakukan hal gila lainnya setelah kejadian kemarin. Ya, kita harus bertemu. Kau harus melihat diriku yang menjadi sumber dari rasa penasaranmu itu. Dan lihat diriku? Apakah kau sudah puas? Apakah kriteria pria yang kau idamkan itu ada pada diriku?"


Martina tak tahu harus menjawab pertanyaan Kai yang mana. Ia meremas jemari tangan dengan napas pendek-pendek.


"Kamu masih muda, aku pun juga. Bedanya aku berada di akhir 20-an sementara kamu baru memulainya. Aku paham dengan dirimu sebagai anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan. Kamu gampang membujuk agar semua keinginanmu tercapai. Tapi adik sayang, tidak semua yang kamu inginkan itu bisa didapatkan semudah membalikkan tanganmu. Apalagi seorang pria atau mungkin yang kau pikir itu adalah cinta. Maaf, yang kau rasakan itu bukan cinta," pungkas Kai dengan tenang.


Sementara lawan bicara Kai tidak bisa menyanggah sedikitpun kecuali gerak tubuh bergetar samar dan bibir mengatup rapat. Manik hijau itu berkaca-kaca namun tidak sedikitpun membuat Kai menjadi iba, berbelas kasih.


"Lihat, kau ketakutan berhadapan denganku. Itu bukan cinta, Martina," lontar Kai.


Martina memandang Kai, pria yang salah mengatakan jika bukan cinta yang ia rasakan. Di saat yang sama Martina melihat kilatan cahaya merah yang membuatnya terpekik dan bergerak cepat ke depan.


"KAI! Awas!" jeritnya sambil menarik tangan Kai hingga keduanya terjerembab ke bawah lantai. Spontan pengawal Kai ikut tiarap ke lantai.


"Sniper," gagap Martina memberikan informasi, ia menangis tanpa air mata.


Manik biru Kai melebar ia mencari Conley. Di tengan taman itu mereka berada di bawah gazebo dengan dinding setinggi setengah meter dan itupun tidak seluruh bagian. Setidaknya mereka bisa berlindung untuk sementara.


"Conley," panggil Kai. Ia hanya perlu menatap pengawalnya dan pria itu mengangguk dan mengambil ponselnya.


Kai kembali kepada Martina. "Apa kau terluka?" tanyanya.


Martina menggeleng, sambil menutup bibirnya. Terdengar Conley memerintah lewat ponsel dan Antonio entah menghubungi siapa namun ia terdengar sangat marah. Sangat marah hingga semua umpatan keluar dari bibirnya.


Bamm!!


"Conley, William! Kita akan mati jika tetap berada di sini," Kai tidak sabaran.


"Boss, orang kita sedang mencari sniper-nya. Mobil akan segera kesini," sahut William tegas. Ia paham akan kekhawatiran sang pemimpin.


Kai mengepalkan tinjunya, ia geram dan darah panas perlahan naik ke atas kepala. Sniper tersebut kembali menembak tembok, di saat yang sama terdengar tembakan balasan dari tempat mereka. Rupanya ketiga pengawal Kai yang berada di dekat kendaraan memberikan perlawanan.


"Satu sniper, dia berada di pohon dengan jarak 500 meter, Boss!" William berteriak.


Kai meringis, dan tiba-tiba gejolak jiwa mudanya yang tidak sabaran muncul. Ia sendiri yang berkeinginan untuk menghabisi sniper tersebut.


"Jika itu orangmu, maka Tijuana akan habis," ancam Conley kepada Antonio.


Kakak Martina itu juga terlihat sangat marah, pupil hitamnya dihiasi semburat merah yang banyak. "Silahkan! Tapi tolong ampuni nyawa kami berdua, aku yang akan meneruskan Tijuana dan aku berjanji tidak akan pernah mengusik Black Panther," pinta Antonio dengan sungguh-sungguh. Sebuah janji yang teramat murni ia katakan, pun ia tidak peduli dengan nasib keluarganya setelah ini. Siapapun yang merencanakan penyerangan itu tidak dapat dimaafkan, bahkan jika ide itu berasal dari papa atau kedua saudaranya.


"Baik!" balas Conley. Kai hanya diam mendengarkan kesepakatan kedua orang itu di tengah berondongan senjata yang saling berbalas. Tanpa sadar jika rupanya Martina memeluk lengan Kai. Ketika sadar ia tidak tega menepis tangan Martina, ia membiarkannya. "Kita akan selamat," hibur Kai.


Martina bukannya tenang melainkan menangis lebih keras. "Aku tidak mau mati di sini. Aku masih 20 tahun, aku belum pernah bercinta, hanya ciuman tiga kali. Aku ingin melihat dunia. Anton, bawa aku pergi dari Meksiko setelah ini. Tolong!" raungan Martina disertai suara yang terbata, menggeram marah namun pula tidak berdaya.


Tiba-tiba keadaan menjadi sangat hening setelah bunyi senjata yang memekakkan telinga berakhir.


"Dia tumbang, saatnya kita pergi, Boss," kata William setelah mendapatkan kabar dari Akio. Pria Jerman itu yang terlebih dahulu berdiri. "Kita harus bergerak cepat, sebelum serangan terbuka lainnya datang,"


Kai ingin berdiri namun lengannya di cengkeram sedemikian kuatnya oleh Martina. "Jangan tinggalkan," pintanya disertai tangisan pilu.

__ADS_1


"Tidak, aku harus pulang," balas Kai. Melihat Martina enggan melepaskan Kai, Antonio bergerak mendekap sang adik. "Sudah, jangan menambah masalah," katanya mengingatkan.


Martina mendongak dengan manik hijau yang hujan lebat. Ia menatap Kai dengan keperihan hati yang begitu mendalam. "Kai Navarro, dengarkan aku. Aku akui jika perbuatanku di luar nalar kewarasan. Tapi jangan katakan ini bukan cinta, aku yang tahu hatiku dengan benar. Memang betul jika aku ketakutan berada di dekatmu, tapi aku mengenalmu, pekerjaanmu, sifatmu yang lebih jahat dibandingkan saudara-saudaraku. Aku berbeda dengan wanita yang kau kencani lainnya, mereka hanya tahu jika kau adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Tapi aku juga tahu jika kau tidak memiliki perasaan istimewa kepadaku,"


Kai berdiri. Ia menatap wajah cantik Martina untuk terakhir kali. "Kau pintar, Martina. Suatu hari kau akan menemukan pria yang tepat. Selamat tinggal," usai mengucapkan kata perpisahan yang datar, Kai pun bergegas meninggalkan tempat yang hampir membuat isi kepalanya terburai.


Bunyi decitan mobil membuat Martina mengeraskan pelukannya. Tangisannya semakin menjadi. "Anton, bagaimana caranya aku melanjutkan hidup?"


...


Di atas pesawat terbang kembali ke Amerika, Kai lebih banyak diam. Ia merenungi kesalahan yang hampir merenggut nyawanya. Sebuah keisengan untuk memberikan pelajaran terhadap Martina justru dirinya-lah mendapatkan pengalaman yang berharga. Ia tidak akan bermain-main lagi seperti ini lagi, batin Kai.


"Boss, sniper itu suruhan Luis Ayuso," William menundukkan tubuhnya di dalam pesawat pribadi sang pemimpin. Kini malah berjongkok di samping kursi Kai.


"Kau tahu apa yang harus kalian lakukan, seperti permintaan Antonio. Nyawa dibalas nyawa," timpal Kai dingin sambil menoleh menatap pengawalnya.


Langit menjelang sore, sebentar lagi Kai akan kembali ke Hollywood. Pulang ke rumah, sesuai janjinya terhadap Shadow. Malam tidak boleh memisahkan mereka.


###



martina ayuso



alo kesayangan💕,


gila, novel ini up terakhir bulan november


oh God, aku sungguh malas menulis


dan tahu jika lepiku rusak, hingga harus menulis dengan PC.


FYI, aku tidak suka dengan keyboard PC, sangat dalam untuk ditekan. sementara tanganku cepat untuk menulis.


oh yah, sepertinya Kai harus diendingkan yah..


biar fokus dengan Jace n Mersia.


kalian masih setia kan denganku?



foto aku menulis, dan lihat aku spending waktu dr pagi untuk chapter ini. besok kembali kerja di RL ❤️


love,


D😘

__ADS_1


__ADS_2