
Alexandre tertunduk dengan tangan saling menaut, ia masih syok dengan kejadian yang sangat cepat di depan matanya. Polisi baru saja selesai meminta informasi kepadanya, kedua ayah Shadow tampak tegang dan giliran berbicara dengan pihak berwenang.
Sang aktor merasa tak berdaya kecuali tampangnya yang memukau bagi banyak orang, beberapa kali ia membintangi film laga tak juga berguna ketika dihadapkan pada situasi genting. Alexandre hanya bisa histeris layaknya seorang ibu-ibu sosialita yang di jambret di jalan raya. Sungguh tak berguna sama sekali, semua aktingnya dan pemahamannya tentang menghadapi kejadian nyata penculikan Shadow, wanita yang dicintainya.
"Sudahlah, Alec. Tidak ada yang perlu kau sesali." Ricchi menepuk bahunya, pun ia lalu menatap pria paruh baya yang tersenyum simpul. Berbeda dengan pria satunya yang sedari tadi melirik Alexandre dengan tajam, siapa lagi jika bukan Lima Farubun.
"Andai Shadow mau naik di mobilku, Sir. Pastinya tidak akan terjadi.." sahut Alexandre dengan suaranya yang parau.
"Polisi sudah bekerja, Alec. Untungnya kau melihat peristiwa itu, andai tidak. Kami tentu saja tidak tahu jika Shadow diculik. Tidak baik bermurung seperti itu, Shadow pasti ditemukan." Ricchi kembali menepuk bahu Alexandre. Walau dalam hatinya penuh kekhawatiran namun ia tidak mungkin menambah beban kepada Alexandre, pria itu tidak tahu menahu bahkan mereka selaku orang tua sangat kaget dengan peristiwa penculikan Shadow.
Ricchi dan Liam sempat berbincang sebentar, membahas kemungkinan mereka memiliki musuh di industri film Hollywood. Hasilnya nihil, sedikitpun mereka tidak pernah berselisih dengan orang-orang di kota itu. Dan Shadow adalah seorang anak yang membatasi pergaulannya, hampir dipastikan ia juga tidak memiliki musuh. Jadi siapa gerangan yang berani menculik anak mereka?
"Saya merasa tak berguna, Sir." Aku Alexandre seraya berdiri dari kursi yang berada di lobby kantor Faburun dan Maheswara.
"Jangan terlalu membebani dirimu, Alec. Shadow pasti akan ditemukan." hibur Ricci yang kemudian raut mukanya berubah muram dan mendung ketika melihat sosok wanita yang berjalan tergesa ditemani Sunshine.
"Dee." erang Ricchi bergerak bersamaan dengan Liam menghampiri ibu dari korban penculikan.
"Anakku.. Bagaimana dengan anakku?" Jerit tertahan Dee ketika Liam memeluknya. Tubuh wanita paruh baya itu bergetar oleh isakan tangis yang diredam agak tak pecah di tengah banyak orang yang prihatin.
"Polisi sedang mengejar mobil itu, Shadow akan baik-baik saja." Liam berupaya menenangkan istrinya, sementara itu Sunshine menangis tersedu dalam pelukan Ricchi.
Liam memejamkan mata menahan rasa haru dan kalut menyesaki dadanya. Ia melirik Ricchi yang juga bersamaan menatapnya. Sorot mata mereka sendu sejuta makna dan berupaya tegar di tengah kebimbangan yang melanda pikiran.
"Apakah Kai sudah tahu?" tanya Dee dengan parau. Ia melihat tidak ada sosok tunangan anaknya di tempat itu.
"Ya, Kai sudah tahu. Dia sedang berusaha mencari Shadow." sahut Liam seraya menghela napas berat.
Dee mengangguk dengan pilu. Sebagai ibu kandung Shadow, kabar yang baru diterimanya adalah hal terakhir yang ia ingin ketahui. Keselamatan nyawa anaknya sedang terancam, mengetahui fakta tersebut seakan menarik jantung Dee beserta dengan akar-akarnya. Ia nyaris pingsan ketika Sunshine datang ke rumah hanya untuk mengabarkan tentang kakaknya yang diculik di depan kantor.
"Kai pasti sangat sedih." Dee bergumam lirih sembari membayangkan sosok tunangan anaknya.
"Dia hampir tak bersuara di telepon." Liam membenarkan perkataan istrinya.
...
"Shaw." satu kata yang terucap lembut di bibir Kai namun menciptakan debur amarah mendidih di dalam dadanya.
Wajah Kai kini sepucat warna surainya, wajahnya tidak pernah sekalipun menyiratkan sedikit riang hanya mendung tebal menggayuti alis tebal yang seharusnya melengkung indah.
"Boss, kami sudah siap." Suara Conley bergetar ketika memanggil sang pemimpin kerumunan pria berpakaian serba hitam.
Kai membalikkan badan dan menatap pria-pria pilihan yang berhasil secepat kilat berkumpul di tempat yang telah disiapkan oleh William. Sebuah tempat yang beradius dua kilometer dari titik lokasi penculik Shadow kirimkan.
"Orang itu atau kelompok tersebut menginginkan saya untuk datang sendiri." Kata Kai dengan tegas dan lantang di depan anggota Black Panther berjumlah 50 orang di luar dari kelima pengawalnya.
Tidak ada suara yang menginterupsi perkataan Kai, para pria bertubuh tinggi menunggu kelanjutan perkataan sang pemimpin.
"Jadi saya akan pergi sendiri." sambung Kai seraya menatap deretan orang yang berbaris rapi di depannya.
"Kalian pasti telah memiliki tugas masing-masing dari Akio. Setelah saya berhasil keluar atau dalam waktu 10 menit tidak muncul di pantauan kalian, ratakan dengan tanah tempat itu."
"Siap, boss! serempak anggota Black Panther menjawab perkataan Kai tanpa ada pertanyaan. Mereka semua telah terlatih, dalam keadaan sulitpun tidak perlu menanyakan ulang rencana sang pemimpin.
__ADS_1
"Jangan sampai ada yang terluka." pesan Kai dengan suaranya yang datar dan dingin.
"Siap!" suara tegas dan serentak menggetarkan jantung tak kuat bisa saja goyah hanya dengan mendengarkan sepatah kata tersebut.
Para anggota pilihan Black Panther dengan cepat mengurai dan berjalan meninggalkan tanah lapang yang terletak di pinggiran kota. Mereka telah mengantongi tugas masing-masing dan bergerak sesuai arahan Akio.
Akio sendiri yang meminta kepada Kai untuk memimpin dan menyiapkan rencana menyelamatkan Nyonya Boss mereka. Kai sebenarnya ingin segera bertindak sejak 90 menit lalu. Namun upaya Kai dihalangi oleh kelima pengawalnya.
Penculik itu atau Kai simpulkan kelompok Yakuza tersebut sepertinya sedang menguji kesabarannya. Dua kali si penculik mengubah tempat pertemuan, yang dibaca oleh kelima pengawal Kai bahwa mereka tidak memiliki rencana yang matang. Namun Kai mempunyai pemikiran sendiri bahwa yakuza tersebut ingin membuatnya pusing hingga tidak memiliki rencana. Kai tidak sendiri, ia memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa diandalkan dalam situasi tak terduga.
"Boss." Heron menyodorkan senjata api ke arah Kai.
Sang pemimpin menggeleng dengan sorot matanya yang tajam. "Percuma, aku pasti akan diperiksa sebelum masuk ke tempat itu. Aku tidak membutuhkannya." Kai menolak kemudian menuju Range Rover berwarna hitam seperti pakaiannya.
...
"Wajah yang cantik." benda dingin menggerus pipi Shadow. Dengan mata yang tertutup Shadow bisa memastikan jika pisau yang menyentuh kulitnya.
Shadow tidak berdaya, seluruh tubuhnya terikat di kursi kayu. Ketika ia terjaga kondisinya telah terikat dan suara-suara ruangan yang memantulkan gema. Shadow bisa memastikan jika dirinya berada di dalam gua atau ruang bawah tanah. Opsi terakhir lebih masuk akal, ia berada di Hollywood, tidak ada gua dalam waktu tempuh sejam perjalanan darat.
"Kau pasti senang bisa menjamah tubuh pria -ku." bisik suara wanita tepat di telinga Shadow.
Shadow tidak bisa menyanggah perkataan wanita yang Bahasa Inggrisnya tidak begitu lancar. Mulutnya sedang terplester ketat, ia hanya bisa melenguh ketika ujung pisau menusuk pipinya.
Suara tawa wanita itu manis tapi pula menjengkelkan, menurut kesimpulan Shadow.
"Sebentar lagi Kai-ku akan datang. Aku sendiri yang akan melepas penutup matamu, agar kau melihat ciuman panas kami."
"Nana berhentilah." Kazue memperingatkan ketika memasuki ruangan.
Nana menoleh dengan mendengus kesal. "Aku belum selesai, Kareshi. Wanita ini milikku!" bentaknya kepada sosok yang berjalan dengan gelengan kepala kuat.
"Tidak, sayang. Kita sudah sepakat jika kau hanya butuh waktu selama 10 menit untuk melihat langsung sandera. Selebihnya kau tidak memiliki kepentingan di tempat ini lagi." ujar Kazue mengingatkan.
Pisau di tangan Nana digenggamnya dengan kuat, ia melihat sikap tenang kekasih Kai yang tidak memberontak sedikitpun setelah perkataan melecehkan telah ia lontarkan.
"Aku tidak ingin pergi dari tempat ini. Aku ingin melihat semuanya, bagaimana ba****n itu bertekuk lutut di depanmu, Kareshi. Aku ingin melihatnya hancur dengan mata kepalaku sendiri." Ucap Nana sambil menancapkan ujung pisaunya di bahu Shadow tanpa aba-aba.
Shadow terpekik, ia bisa merasakan jika tubuhnya terkoyak oleh benda tajam.
"Nana, bukan seperti ini. Nona cantik ini tidak mempunyai kesalahan kecuali alat bagiku untuk mendatangkan kekasihnya." Kazue merebut pisau yang terlanjur melukai bahu sanderanya. Darah merah segar mengucur membasahi pakaian kerja Shadow, namun ia memilih membiarkannya.
"Kembalikan pisauku, Kareshi." Nana mengeraskan suaranya sambil berusaha mengambil kembali pisaunya.
Kazue melemparkan pisau jauh-jauh, berjarak dua meter dari anak buahnya yang sedang berjaga.
"Ini bukan urusanmu, sayang. Sekarang aku minta kau pergi dari tempat ini." Kazue memegang pergelangan tangan Nana ketika kekasihnya hendak menjambak rambut Shadow.
"Jika kau mengusirku seperti ini, itu menandakan bahwa kau tidak mencintaiku, Kareshi." Nana bersandiwara agar bisa kembali menyentuh kasar kekasih pria yang sangat diinginkannya.
Kazue tersenyum miring lalu menarik tubuh Nana ke pelukannya, ia kemudian ******* dengan gairah bibir semerah darah di bahu Shadow yang mengucur dan melepaskan pagutannya ketika lawannya hampir kehilangan napas.
"Aku mencintaimu, sayang. Itu tadi buktinya, jadi pergilah sebelum aku kembali menciummu hingga napasmu kali itu benar-benar berhenti."
__ADS_1
Wajah Nana seketika itu memucat, jantungnya berhenti sejenak ketika mendengarkan ancaman Kazue yang terdengar tidak main-main. Akhirnya ia bisa melihat sosok asli dan mengerikan Kazue, bukannya takut, justru Nana menyunggingkan senyuman puas.
"Baiklah, Kareshi. Aku akan keluar, tapi tidak pergi jauh. Aku akan menunggumu pria -ku." Nana berlenggok menggoda dan melingkarkan tangan di leher Kazue sekaligus mencium pipi pria itu.
Andai saja mulut Shadow tidak dibungkam, ia pastinya sudah muntah sesaat mendengarkan perkataan wanita bernama Nana itu. Shadow sungguh penasaran melihat wajah wanita yang terkesan gampangan mengatakan pria -ku kepada siapapun.
"Jangan jauh dari pengawalmu, sayang." Kazue memperingatkan seiring bunyi heels Nana bergema pelan dengan lantai.
Kazue menghela napas panjang sambil mengamati sanderanya. Ia kemudian berjongkok di depan lutut Shadow dan dengan lancangnya menaruh tangan di atas paha wanita cantik itu.
"Aku menawarkan posisi bagus untukmu, Honey. Ketika Kai Navarro hancur di tanganku, aku dengan senanghati memberikan tempat sebagai pendampingku, tentu saja wanita tadi sudah di makan oleh ulat. Kita bisa membuangnya di pengunungan Texas, tidak akan ada yang menemukannya. Tentu saja dengan pria yang dia damba-dambakan. Hmmm, Kai Navarro."
...
Tak lama berselang, sosok pria berwajah seputih surainya berjalan tegap melintasi halaman mansion tua tempat Shadow berada. Semoga saja benar, jika tidak orang-orang yang berjaga akan berakhir dengan sia-sia.
Dua pria bertubuh tinggi besar menghadang Kai. Paham maksud kedua orang itu, Kai merentangkan tangan dan kakinya dan membiarkan tubuhnya diperiksa mencari senjata tajam.
"Ikuti pria itu." perintah pria yang mengecek Kai sambil menunjuk ke arah depan yang berdiri di tangga marmer berwarna egg shell.
Kai tidak menjawab, ia hanya mengikuti permintaan pria bertubuh besar dan berjalan dengan postur tubuh sama seperti sebelumnya. Mereka melewati bagian inti rumah dan berjalan ke arah belakang, ke bangunan kedua yang lebih kecil.
Kai menghitung orang-orang yang berjaga di setiap ruangan dimulai halaman yang jumlahnya lima orang. Setidaknya sudah 30 orang Asia berjaga dengan senjata api di tangan, Kai pun memastikan jika ia berhadapan dengan kelompok Yakuza yang tidak bisa dianggap enteng.
Pintu batu tergeser otomatis ketika penjaga bermata sipit menekan tombol di dinding, manik birunya sedikit melebar ketika mendapati ruangan yang tidak memiliki perabotan sedikitpun melainkan satu tangga beton menuju ke bawah.
Tidak ada jendela atau saluran udara, ketika Kai mencapai ujung bawah. 20 anak tangga ia lewati, dan sensasi dingin oleh suhu bangunan bawah tangan dan penerangan lampu ala kadarnya menambah suasana semakin dramatis.
Dua pria menjaga pintu beton di ujung lorong, mereka membukanya dan membiarkan Kai masuk sementara si pengantar telah menyelesaikan tugasnya.
Perhatian Kai langsung terpaku di bagian tengah ruangan tersebut, tampak tubuh Shadow terikat dengan bahu yang memerah oleh rembesan darah. Semenit kemudian ia melihat langsung musuhnya yang berdiri dengan tangan saling bersedekap.
"Aku tidak menyangka jika Yakuza sebesar dirimu hanya berani dengan wanita." sindir Kai kemudian menempatkan dirinya tepat di depan Kazue dengan jarak sekitar 6 meter.
Mendengar suara Kai, tubuh Shadow sontak bergerak ingin melepaskan diri dari ikatan. Ia mengeluarkan suara, namun tidak ada kata yang bisa ditangkap jelas kecuali lenguhan keras berkali-kali.
"Shaw, tetap tenang." kata Kai dengan lembut. "Aku di sini."
Kazue tertawa. "Selamat datang, Kai Navarro di tempat terakhirmu." ujarnya melancarkan serangan verbal kepada pria jangkung yang berdiri dengan kedua tangan di saku.
Kai tersenyum seraya menatap para yakuza di dalam ruangan yang berjumlah tiga orang dengan AK47 di tangan masing-masing. "Aku memberikanmu waktu 10 menit untuk menyerahkan diri. Karena setelah 10 menit ke depan, aku tidak bisa menentukan nasibmu, tuan."
###
alo kesayangan💕,
finally aku menulis.. sepertinya masih banyak menunggu Kai. makasih buat kalian🙏🏻😁
love,
D😘
__ADS_1