
“Jadi berapa aku akan menjemputmu, Shaw?” tanya Kai ketika mengantarkan tunangan cantiknya hingga lobby Farubun and Maheswara. Setelah berlibur selama lima hari di Panama, mereka akhirnya kembali ke Hollywood. Sang sutradara perlu bekerja, kekasih Kai tersebut telah mengambil cuti yang sangat panjang. Untungnya nepotisme masih berlaku di kantor milik kedua orang tua Shadow, hingga gadis bersurai hitam itu bisa leluasa ikut dengan kekasihnya.
Shadow melepaskan tangannya pada lengan Kai, ia mengamati penampilan pria bersurai putih itu. Tampan dengan coatnya berwarna hitam dipadu
celana kotak-kotak hitam, sorot mata yang tajam bak elang namun penuh cinta menatap Shadow.
“Nanti aku kirim pesan, hari ini sangat panjang.” Shadow mengulang jawabannya. Semalam Kai juga menanyakan hal yang sama.
Bibir sensual Kai merenggut manja, Shadow terkekeh seraya mengelus rahang pimpinan mafia yang sedang merajuk. Sebuah sentuhan sederhana namun sukses membuat orang berada di lobby memerhatikan mereka.
“Aku bosan menunggumu, Shaw.”
Shadow mencebik dengan kemanjaan Kai yang secara terang-terangan ditunjukkan di muka umum. Andai saja orang-orang yang
memerhatikan mereka, tahu jika pria jangkung bersurai putih di depan Shado, bisa menghabisi nyawa penjahat hanya dalam satu jurus, tentu tidak ada yang berani menatap bahkan itu hanya sekilas.
“Dalam cinta harus merasakan menunggu, Tuan Mafia.” Shadow maju selangkah memberikan kecupan ringan di pipi kekasihnya.
Kai mengembuskan napas panjang “Baiklah, aku akan menyibukkan diri dengan kelima temanku. Mungkin kami akan ke Hollywood Museum.
Mereka belum pernah kesana. Tadinya aku pikir akan tinggal di sini bersamamu, jadi kami bisa membuka kantor baru buat Black Panther. Syukurnya tunanganku yang hebat ini mau pindah ke Berlin, jadi beginilah. Kami tidak memiliki kesibukan penting selama di kota ini.”
Giliran Shadow merajuk manja “Aku ingin ikut, Tuan Mafia.”
Kai tertawa seraya memeluk Shadow “Bekerjalah dengan baik, tenang saja kami akan mengirimkan foto jalan-jalannya, Shaw.”
Shadow menggerutu pelan dengan kata yang tidak dimengerti oleh Kai.
“Bye, baby girl.” Kai memberikan kecupan di pipi Shadow dan membalikkan tubuh gadis bersurai hitam itu menuju arah lift. Shadow sempat
berbalik dan menyaksikan sepasang manik biru melebar disertai anggukan kepala kekasihnya untuk masuk ke dalam ruang persegi empat berbahan baja tersebut.
Dan segala rencana yang disusun Shadow selama dua hari lalu buyar karena fokusnya teralihkan pada sosok Kai, tapi mau tak mau ia harus bekerja
dan bertemu dengan kedua pria hebatnya. Kurang sejam lagi Shadow harus mengikuti rapat tertutup dengan Liam dan Ricchi.
Sesampainya di ruangan kerja yang hampir dua bulan lamanya Shadow tinggalkan. Ia melihat tumpukan naskah di atas meja. Bisa di tebak jika Liam yang meletakkan naskah-naskah tersebut. Dengan penuh antusias Shadow membaca pilihan naskah aatu persatu, rupanya rasa rindu menyentuh hatinya. Dunia dan kecintaannya
kepada dunia film meronta-ronta. Shadow memisahkan satu naskah bersampul hitam, ia telah menetapkan pilihan.
Sebuah ketukan pelan di pintu membuat Shadow mendongak, sosok jangkung dengan suit abu berjalan masuk.
Shadow berdiri dengan tergesa-gesa “Ayah.” serunya seraya menghamburkan tubuh ke dalam pelukan Liam.
“Kalian benar-benar jahat kepada kami. Bukannya ke rumah malah menginap di apartemen.” Ucap Liam mengecup kening Shadow.
“Ibumu sangat rindu, sebentar lagi papamu akan kesini. Tadi dia bertemu dengan beberapa aktor di ruang meeting.” Tambahnya setelah menarik
napas dalam sambil memerhatikan kulit eksotik anak gadisnya.
“Kulitku bagus, bukan yah?” tanya Shadow riang ketika Liam mengajaknya untuk di sofa.
Pria paruh baya itu mengedutkan alisnya dengan seringaian di bibirnya “Kau tampak bukan anak ayah, kulitmu sangat coklat, nak.”
Shadow mengalunkan tangan pada lengan Liam dengan posesif, kepalanya pun rebah dan mata ikut terpejam menikmati wangi favoritnya, maskulin sekaligus manis merajai indera penciumannys.
“Shadow anak ayah, ibu dan papa. Kami berjemur hampir setiap hari selama di Panama, lucunya Kai juga melakukan hal yang sama, tapi dia tetap
berkulit putih pucat. Mungkin Kai adalah anak ayah.” ujarnya lalu tergelak tawa.
Liam mendengus lalu ikut tersenyum, ia sangat bahagia melihat anak gadisnya yang penuh dengan keceriaan. Mata coklat Shadow yang berpijar terang, terlebih ketika menyebut
nama Kai Navarro, tunangannya.
“Hugo akan marah jika aku mengklaim anak hebatnya, anakku. Papamu yang di Berlin sangat mencintai Kai, saat kami bersama, dia tak henti membahas kelakuan dan kesuksesan Kai. Sungguh beruntung seorang Ophelia Shadow mendapatkan pria sehebat Kai Navarro.”
Sanjungan Liam membuat Shadow merenung, kemudian mengingat sisi hebat Kai yang tidak diketahui oleh orang tuanya.
“Dia memang hebat, yah. Tidak terbantahkan. Buktinya Shadow bisa jatuh cinta kepada pria yang sama sekali tidak kukenal sebelumnya. Maksud Shadow, dulu pernah berpikir jika pria
yang menjadi kekasihku harus orang yang dikenal lama. Oh yah, apakah ayah yang menaruh naskah di atas meja? Shadow sudah memilih dan tertarik membuat film itu.” Shadow menatap mata sipit Liam, lalu berdiri dengan cepat kembali ke
mejanya dan hanya mengambil naskah yang telah dipilih.
“Ini, yah. Shadow sangat tertarik dengan ceritanya. Latar belakang ceritanya abad 17, kita bisa syuting di Inggris dan Jerman. Ayah atau
papa?” tanya Shadow mengedipkan mata.
__ADS_1
“Sepertinya papamu yang menjadi produser eksekutifnya.”
Shadow berseru riang “Yes!”
“Sebenarnya kami berdua yang memilihkan naskah-naskah itu, nak. Kami sudah menduga sebelumnya jika kau akan memilih film ini. Papamu sedang berbicara dengan para aktor yang kemungkinan kuat akan memerankan tokoh
utama.”
Alis Shadow mengerut “Ayah dan papa selalu saja bergerak terlebih dahulu.”
Liam terdiam sejenak kemudian menoleh menatap wajah anaknya yang sama sekali tidak mirip dengan dirinya. Ya, kecuali kecintaan terhadap film sama besarnya, mungkin beberapa sifat lain termasuk keduanya memiliki pemikiran yang sangat kritis.
“Mungkin kita bisa menemui papamu di ruang meeting.” Ujar Liam sembari berdiri dan menunggu Shadow untuk mengikutinya.
Shadow hari itu mengenakan sepasang suit hitam dengan kemeja putih di bagian dalam, tampak serasi ketika berjalan dengan Liam yang juga memiliki tubuh tinggi menjulang. Mereka berjalan bak peragawan yang sedang memamerkan
koleksi pakaian kerja dengan luwesnya.
Shadow berdiri di depan pintu ruangan meeting dan membiarkan Liam yang menginterupsi rapat yang sedang berlangsung.
Suara Ricchi tak tanggung meneriakkan nama Shadow ketika melihat sosok gadis yang muncul dari belakang tubuh Liam.
Di dalam ruangan itu hanya terdapat Ricchi dan satu aktor yang sangat terkenal. Shadow mengenalnya dari beberapa peran di film yang
sukses menjadi box office di segala penjuru dunia.
“Mana yang lain?” tanya Liam kepada Ricchi yang telah berhasil berpindah dari kursi seraya menggendong anak kesayangannya. Liam hanya
menggelengkan kepala melihat tingkah Ricchi dan Shadow nampak seperti sepasang kekasih yang baru bertemu.
“Sudah pulang.” Jawab Ricchi membawa tubuh Shadow menuju kursi.
“Maafkan dia dan anakku.” Tutur Liam kepada aktor yang mengenakan pakaian serba hitam.
London Rae McAhally tersenyum lebar sembari berdiri. Pria tampan berdarah Inggris campuran Jerman dan Italia itu berjalan menuju tempat
Shadow yang masih berada di atas pangkuan Ricchi.
“Hai, Miss Farubun. Saya London Rae, sungguh sebuah kehormatan bisa bekerja sama denganmu di project film ‘Revolution’.
Kai menoleh dengan cepat usai mendengarkan penuturan Shadow tentang project film yang di ambil tanpa pembicaraan sebelumnya.
“Shaw, apakah benar yang baru saja kau katakan? Kau akan mengerjakan film? Bagaimana dengan film dokumenter papa. Bukannya kau telah berjanji akan memprioritaskan itu dulu.” Ucap Kai menahan rasa kesal akan perbuatan tunangan
cantiknya.
Shadow menggelengkan kepala “Tentu saja film papa yang terlebih dahulu aku kerjakan, sayang. kami akan mulai dua minggu lagi, jika semuanya berjalan sesuai prediksi kami hanya akan melakukan syuting di Berlin sekitar 20 hari. Kemudian editing. Bulan berikutnya baru kami akan mulai mengerjakan “Revolution". Tolong pengertiannya, Tuan Mafia. Film dan diriku adalah satu kesatuan, tidak bisa dilepaskan, seperti dirimu dengan Black Panther.” bisik Shadow agar orang yang berada di antrian tidak mendengar perkataannya barusan.
Kekesalan Kai bertambah karena Shadow baru bersedia di jemput ketika jam menunjukkan pukul 6 sore, sangat melenceng dari jam yang diinginkannya.
Kai tadi pagi berhasil membuat Shadow bimbang, ia berharap kekasihnya tergoda untuk mengakhiri pekerjaan paling terlambat pukul empat sore. Pun jadwal jalan-jalan Kai bertambah panjang karena Shadow memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan, yang semula para rombongan kecil Black Panther hanya akan ke Museum, Broadway dan hotdogs yang sebentar lagi akan masuk
ke perutnya adalah menu yang sama di santap Kai tadi siang.
“Tapi kita akan menikah, Shaw. Aku ingin kau tidak bekerja keras menuju pesta pernikahan kita tahun depan. Bukannya kau telah berjanji akan tinggal di Berlin bersamaku?” Celotehan Kai terdengar seperti anak kecil yang dilanggar janjinya. Kesal bercampur rajukan.
Shadow perlu menggerakkan tangannya agar suara rengekan Kai tidak terdengar orang di depan dan belakang mereka. Untungnya Kai dan Shadow
terbiasa berbicara dengan menggunakan bahasa ibu, semoga saja tidak ada orang Indonesia di rute antrian yang sedikit mengular tersebut.
Atas permintaan Shadow juga yang membuat mereka mengantri pada restoran cepat saji tersebut. Adalah Pink’s Hotdogs pilihan Shadow usai bekerja, restoran cepat saji itu sangat terkenal di Hollywood, sangat wajar jika sore menjelang malam orang-orang rela menunggu lama untuk bisa menyantap menu makan malam mereka.
“Syuting filmnya di dua negara, Inggris dan Jerman, Tuan Mafia. Dan kau pasti akan selalu bersamaku.” Tutur Shadow memerhatikan wajah
Kai yang cemberut. Sangat lucu, jika dibandingkan ekspresi muka sang pemimpin mafia tersebut ketika berhadapan dengan musuhnya.
“Shaw, ingat kau adalah milikku.” Sahut Kai dengan posesif.
Shadow mendengus sambil melebarkan manik coklatnya yang indah.
“Tentu saja aku milikmu, Tuan Nacarro. Tuhan, kenapa aku bisa jatuh cinta kepada pria se posesif ini? Sayang, pernikahan kita itu masih lama. Aku mengambil project film ini atas keinginan ayah dan papa. Mereka ingin aku mengambil satu
film berbudget tinggi sebelum terfokus dengan dirimu. Ini adalah hidupku, film dan Kai Navarro.”
Tak jauh dari tempat itu, dua pria mengenakan pakaian casual tampak sesekali memerhatikan setiap gerak-gerik Kai dan Shadow.
“Yuujin, kita sangat susah mendekati wanita itu.” pria bersurai hitam mendengus kasar sembari mencari batu yang bisa di tendangnya untuk
__ADS_1
menghalau rasa gusar yang memuncak. [Yuujin dalam bahasa Jepang berarti teman akrab tapi formal]
Pria bersurai hitam satunya hanya terdiam terus menatap wanita yang menjadi sasaran target mereka “Ini seperti misi bunuh diri.” Gumamnya
dengan lirih.
“Bukan seperti tapi memang itulah misi kita kali ini. Rumah tanggaku hancur, istriku bermain serong. Aku tidak punya alasan untuk hidup
lagi, sangat cocok denganku.” sahutnya dengan bulu tangan meremang melihat sosok pria bersurai putih di sebelah wanita cantik yang terus menguraikan senyuman manis di bibir.
“Ya, bersiaplah mati untuk di tangan Kai Navarro, teman. Karena misi ini, hanya memiliki kemungkinan 5 persen kita akan hidup lama. Wanita menjadi terkutuk ketika tergila-gila oleh cinta. Sial, kehidupan kita sungguh sangat sial.
Semoga saja di kehidupan berikutnya aku berhasil reinkarnasi, dan memulai hidup baru lagi. Bukan sebagai seorang Yakuza.”
Kembali kepada pasangan yang memilih berdebat di depan restoran hotdogs, Kai tidak bisa menyembunyikan rasa kaget ketika mendengar bocoran film yang akan dikerjakan oleh kekasihnya.
“Maksudmu London Rae yang sangat terkenal itu menjadi pemeran utama “Revolution” Shaw?” tanya Kai mengikuti Shadow yang berjalan
menuju kendaraan mereka dengan tangan memegang bungkusan hotdogs.
Sang sutradara cantik itu menoleh seraya mengangguk “Ya, London Rae yang telah memenangkan dua piala oscar sebagai aktor terbaik.” terang Shadow
Kai melebarkan langkah tungkai panjangnya “Bisakah aku saja yang menjadi pemeran utamanya? Bukan pria itu?”
Shadow yang berdiri di sisi pintu mobil mewah kekasihnya sontak tergelak tawa yang sangat keras sampai terbatuk-batuk.
“Tuan Kai Navarro, jika kau ingin menjadi aktor, ada baiknya kau mengambil kelas khusus akting dengan papa. Ricchi Maheswara adalah aktor
terkenal pada jamannya, dan pernah mendapatkan penghargaan yang sangat banyak. Aku pikir papa pasti sangat senang menjadikanmu murid didikannya.” Kata Shadow yang masih
terkekeh akan ucapan tak masuk akal sang pemimpin Black Panther.
“Tapi, Shaw. Aku tidak ingin ada pria yang memiliki fans berjuta berada di dekatmu. Bagaimana jika dia menggodamu. Dan kau juga tergoda.”
“Kau meragukan perasaanku, Tuan Mafia?” tanya Shadow menatap tajam kekasihnya yang tidak pernah sekalipun memasang sebuah senyuman di bibir melainkan cemberut sejak menjemput Shadow.
“Iya, aku ragu. Shaw, London Rae sangat tampan, semua wanita jatuh cinta kepadanya hanya dalam hitungan detik. Dia adalah pria tertampan dunia selama dua tahun berturut-turut.” Gerutu Kai seraya menggeram.
“Bicara tentang pria tertampan itu, dia mengirimkan aku pesan.” Shadow memperlihatkan layar ponselnya.
Seketika itu juga Kai bergerak mendekatkan wajahnya pada layar datar di tangan Shadow.
“Hai Miss Farubun, senang bisa berbincang banyak denganmu. Aku sudah tidak sabar menunggu syuting “Revolution”. Pasti akan sangat mengasyikkan menghabiskan waktu bersama dengan sutradara muda, cantik dan bertalenta seperti dirimu.” Kai membaca dengan keras pesan yang dikirimkan oleh London Rae.
Manik biru lautan itu menatap dalam wajah kekasihnya “Shaw, apakah kau akan menjawabnya?” tanya Kai dengan sendu.
Shadow tersenyum dan menarik kembali ponselnya “Tentu saja aku akan membalasnya, Tuan Mafia. Gila, aku sedang membalas pesan pria tertampan di dunia.” Serunya memanas-manasi perasaan tunangannya.
“Shaw!” pekik Kai sambil memegang kedua bahu Shadow dengan hati yang luar biasa cemburu.
###
tahu gak siapa nih yang pangku2an
London Rae
alo kesayangan💕,
aku balik nih walau yang ke UP itu Kai..
kalian jahat, kenapa melupakan Kai Navarro, Jace dan Axel Yu hanya karena ada Orion..
pada nanya kapan Orion Up?
ckckckck..
btw, aku kangen hujan🥺
love,
D😘
__ADS_1