
Belarus, dua tahun lalu…
“Aku tidak percaya kita berada di atas rumah orang.” Kekeh Conley dibalas cengiran khas Kai dan sikap acuh dari Aiko.
Mereka dalam sebuah misi cuma-cuma, secara kebetulan Kai dan pasukan khususnya sedang berkunjung ke Belarusia untuk berwisata setelah satu pekerjaan yang cukup berat. Belarusia sebuah negara unik dan misterius di Eropa Timur yang terkenal dengan bangunan-bangunan dari abad ke-16 beserta segudang wanita cantiknya. Hal terakhir tersebut itu pula yang membuat Kai mengabulkan keinginan pasukannya, pria-pria pengawalnya memiliki keinginan untuk melihat langsung kecantikan wanita Belarusia, juga mencicipinya. Karena wanita pula mereka berada di pedesaan, menjadi dewa penolong teman kencan Conley.
Galina Locke, gadis cantik berambut coklat terang dengan manik biru membuat Conley tergila-gila dalam waktu singkat. Pesona Galina membuat Conley mengiyakan keinginan gadis tersebut untuk menyelamatkan kakaknya yang bernama Julia Locke. Sang kakak menurut Galina mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari suaminya. Julia kerap dipukul, dan sehari sebelum Kai dan pasukannya berada di Ilya, sebuah pedesaan yang berpenduduk sebanyak 1500 jiwa itu, kembali kakak Galina mengalami kekerasan hingga terluka parah.
Julia sempat mengirimkan pesan kepada Galina meminta pertolongan, wanita malang tersebut tidak memiliki tetangga dekat. Dan benar apa kata Julia, jika kediaman wanita itu terletak jauh dari pemukiman hingga ketika dia mengalami kekerasan tak ada satupun yang bisa mendengar teriakan pilunya.
“Kita bisa lewat pintu di bawah atau jendela.” Akio menggerutu dengan nada sinis.
Conley kembali terkekeh. “Terlalu mudah, sekali-kali kita merasakan adrenalin yang berbeda. Dan lihat, desa ini terlihat sangat indah dari atas.” Ujarnya terlihat menikmati pemandangan dan udara dingin yang menyegarkan.
“Aku seharusnya memilih tetap berada di kota dan bersenang-senang dengan William.” Gerutu Akio.
“Kau tidak bisa memilih, Teman. Boss sendiri-lah yang menginginkan kau ikut.” Balas Conley mematahkan perkataan Akio. Pria bermata sipit itu hanya membuang muka dan berdecih singkat.
Kai tidak peduli perdebatan anak buahnya, ia justru menikmati pemandangan dengan kaki menjuntai ke bawah. Tak ada satupun di antara ribuan anggota Black Panther memiliki phobia terhadap ketinggian, termasuk Kai sendiri. Mereka adalah orang-orang tangguh dan terpilih karena kehebatannya.
“Akkkhhhh!!!!” teriakan kencang membuat ketiga pria tinggi besar itu saling berpandangan.
“Kamar yang itu.” Kai menunjuk di bagian kiri ujung. Akio mengangguk, begitupun Conley.
Pria bertubuh tinggi dan hitam tersebut berjalan dengan hati-hati menapaki atap berbahan kayu dan cat anti bocor, sementara Akio kembali ke bagian belakang dan memilih masuk lewat jendela dari atap lantai satu.
Bersamaan terdengar bunyi pecahan jendela dan atap roboh yang sengaja Conley runtuhkan dengan lompatan yang kuat.
“Kalian semua gila.” Gumam Kai sambil tersenyum akan tingkah aneh Conley dan Akio. Dua menit kemudian terdengar suara lolongan hebat dari si pemilik rumah yang atapnya telah rubuh.
…
Dor! Dor!
Tembakan berkali-kali berhasil merobohkan para pembelot, sengaja hanya mencenderai di bagian kaki, karena perintah bukan untuk menghabisi nyawa kelima orang tersebut. Dengan cepat team penghancur menyeret para pembelot yang merintih kesakitan ke arah lapangan.
Kai berderap yang didahului oleh Akio dan Heron menghampiri Conley.
“Medis!” teriak Akio yang tidak sabaran.
“Aku tidak apa-apa.” Sahut Conley berusaha tegar di depan Kai dan teman-temannya. Pria bertubuh besar itu berusaha berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya, Kai menggeleng kuat lalu menoleh ke arah luar.
Tak lama team medis datang tergopoh-gopoh membawa tandu dan perlengkapan P3K-nya. Keempat orang tersebut serentak memeriksa luka Conley.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Heron kepada William dan Yoruban.
“Hanya Conley.” Jawab William sambil menepuk pakaian yang terkena debu atap bangunan yang runtuh. Hal sama yang dilakukan oleh Yoruban. Bahkan rambut dan wajah keduanya ikut tertutupi oleh debu.
“Conley akan kami bawa ke ruang perawatan, dia membutuhkan transfusi darah.” ujar salah satu team medis menatap kelima orang bertubuh tinggi besar.
Kai memejamkan mata kemudian menoleh ke arah Heron. “Conley memiliki golongan darah langka, hanya kau yang bisa mendonorkan darah.” ujarnya yang disanggupi Heron.
Pria berkemeja hitam itu mengikuti tandu yang mengangkat Conley yang sepertinya telah tak sadarkan diri. Pria yang menjadi sahabat Shadow kehilangan banyak darah hanya karena luka tembak di bagian pinggangnya.
Conley dan Heron memiliki golongan darah AB- dan di antara keenam pria yang sering bersama hanya keduanya memiliki keistimewaan tersebut. Sementara Kai dan ketiga pengawalnya masing-masing bergolongan darah sama yakni O. Semua telah dipikirkan oleh Kila ketika menunjuk pasukan khusus untuk Kai, andai saja skenario buruk terjadi mereka bisa saling membantu. Dan hari ini, ramalan di masa lalu terjadi juga.
__ADS_1
“Fyodor telah berada di lapangan, Boss.” Nikolaj menginformasikan kepada Kai yang masih berada di dalam ruangan yang sebagian atapnya telah runtuh.
Kai mengangguk tanpa ekspresi, tenang dan maniknya menajam seperti elang. Pun sang pemimpin Black Panther bergerak santai diikuti oleh Yoruban, William dan Akio. Tak satupun di antara ketiga pengawal khususnya mengerti dengan jalan pikiran Kai pada hari itu.
“Aku ingin kepala kubu dan beberapa anggotanya berdiri di belakang pagar di ujung sana. Penjagaannya harus berkali lipat. Aku ingin mereka melihat apa yang terjadi kepada Fyodor dan orangnya.” Manik biru itu berkedip sedikit ketika memberikan perintah kepada Nikolaj.
William, Yoruban dan Akio saling berpandangan. Hanya Akio yang acuh, sementara William beserta Yoruban menggelengkan kepala. “Tidak.” Bisik Yoruban lemah.
Matahari semakin condong ke barat, angin meniupkan sisa musim semi yang lembut namun tidak membuat suasana di lapangan Rozendaal menjadi romantis. Bahkan kebalikannya, menyeramkan.
Tidak ada yang berani bersuara, bahkan burung pun enggan terbang melintas di atas kepala para pria-pria yang memiliki warna baju hitam dan orange. Kelompok Black Panther dan sekitar 17 orang pria bersimpuh dengan pakaian berwarna orange. Itu di luar kelima pembelot yang tergeletak tak berdaya, entah hidup atau mati. Tak ada satupun yang peduli, kemanusiaan tidak berlaku di Rozendaal terlebih dalam kitab Black Panther.
“Aku akui kau mempunyai nyali, Tuan Smolnikov. Membuat kelima orang itu membelot dari Black Panther, sungguh hebat.” Ujar Kai tenang dengan sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Fyodor, mafia Rusia itu mengangkat kepala dan menatap ke arah Kai, ia terlihat menantang dengan meludah ke arah depan. “Tempat ini sangat membosankan!” teriaknya dalam Bahasa Inggris yang membuat Kai terkekeh.
Sepengetahuan Kai jika Fyodor adalah seorang mafia yang hebat dengan bisnis senjata ilegalnya, dia tentu saja memiliki banyak kenalan dari luar negaranya, namun tetap saja bahasanya sangat hancur. Mafia Rusia tersebut adalah pemasok senjata untuk kelompok Taliban. Bukan Kai yang menjebloskan Fyodor masuk ke dalam Rozendaal
melainkan para jenderal Black Panther.
“Tidak ada penjara yang menyenangkan, Tuan Smolnikov. Dimanapun itu semuanya sama. Apalagi tempat ini, tidak ada layanan wanita untuk kau pesan. Kami tidak menyediakan itu. Atau mungkin kau telah memiliki kekasih dari sesamamu.” Sindir Kai menunduk ketika tertawa ringan.
Fyodor menggeram, kedua tangannya yang terborgol ke belakang terlihat mengepal. “Kau menyindirku sementara dirimu tak lebih dari seorang anak muda yang mendapatkan warisan kekuasaan.” Ujarnya mengolok Kai. Ia berharap perasaan emosi ditunjukkan oleh pria bersurai putih yang berdiri dengan tegap dan tangan saling bersedekap.
Kai malah menyeringai seraya mengedikkan bahunya. “Ya betul, aku mendapatkan semua ini dengan gratis. Darah itu kental, Tuan Smolnikov. Aku mewarisi kejayaan mamaku dan meneruskannya. Setidaknya Black Panther lebih bermanfaat dan tidak hancur oleh kerakusan dan bisnis ilegal. Kami memiliki hubungan bagus dengan Interpol, mereka membutuhkan Black Panther untuk menghancurkan kelompok mafia seperti dirimu.” Jawabnya menyombongkan diri.
William bertepuk tangan di belakang, kemudian diikuti Yoruban.
“Mungkin di kehidupan berikutnya kau lebih berguna. Tidak di kehidupan ini, Tuan Smolnikov. Hidupmu yang sekarang hanya akan melihat langit dan tembok Rozendaal.” Kata Kai seraya menatap ke arah para tawanan dan penjaga Rozendaal yang mengelilingi pagar besi.
“Aku berharap kejadian ini adalah yang pertama dan terakhir terjadi di Rozendaal. Tempat ini kuciptakan untuk menjadi tempat terakhir bagi para penjahat sekelas kalian semua. Tidak ada dunia bebas lagi hingga suatu hari kalian semua akan mati di tempat
Yoruban menyeringai ketika ekor matanya menangkap pria yang mengoloknya beberapa saat lalu. Ia berbangga hati karena tidak perlu mematahkan rahang pria tersebut, cukup dengan perkataan Kai yang merupakan sebuah
keputusan final.
Kai bergerak ke depan kelima pembelot dan berdiri dengan agungnya. Cahaya matahari menerpa punggungnya yang lebar menutupi salah satu pria berpakaian hitam yang memegang luka tembakan di bagian paha. Sang pemimpin mendesah namun terdengar seperti sebuah kibasan samurai, merobohkan sisa kekuatan dalam hati kelima pria tersebut.
“Semoga Tuhan mengampuni kalian, karena aku tidak bisa memberikan itu.” kata Kai singkat membuat tubuh kelima bergetar hebat dan terisak.
Kai membalikkan badan. “Keluarga kalian akan mendapatkan kompensasi atas jasa-jasa selama bersama dengan Black Panther.” ucapnya dingin kemudian melayangkan pandangan kepada Akio.
Pria sipit dengan raut muka tegas bak robot yang dinyalakan oleh Kai kemudian bergerak seringan kapas dan tangannya menarik pelatuk Glock 19-nya.
Tembakan sebanyak 23 memekakkan telinga, bising hingga berlapis-lapis ke atas udara. Semburat jingga semakin memerah mungkin darah para tumbal sore itu menambah cerahnya lukisan yang tertoreh di langit. Dada para tawanan yang masih bisa menarik napas bergetar hebat, tungkai-tungkai terlatih pula yang malas ikut melemah. Mereka tidak menyangka jika sore hari itu menjadi eksekusi bagi para pembelot dan tawanan yang dikenalnya. Mungkin butuh waktu lama untuk menghilangkan trauma dan mimpi buruk jelas pasti akan menjadi teman sejati ketika malam menjemput pagi.
…
“Aku baik-baik saja, Nyonya Boss.” Conley berusaha tertawa kecil ketika Shadow berulangkali menanyakan keadaannya lewat telepon.
Kau pikir aku tidak tahu jika kau tertembak, Conley? Dua kantong darah Heron masuk ke dalam tubuhmu. Itu sangat parah menurutku.
Shadow berceloteh sementara Conley menatap pria bertubuh jangkung dengan surai putihnya terlihat meringis kesal. Conley mengulum senyuman.
“Aku akan kembali bersama dengan boss. Dan kita akan berlatih bela diri lagi.” ujarnya lantang memberikan pernyataan bahwa ia akan segera sembuh.
Berjanjilah untuk kembali pulih, kamu adalah temanku.
__ADS_1
Conley mengangguk, menggigit bibir bawahnya. Ucapan sederhana Shadow menggoyahkan hati hingga maniknya memburam.
“Ya, kita adalah teman. Oh ya, boss ingin berbicara.” Conley tidak kuasa untuk mendengar perkataan Shadow. Ia bisa saja menangis di depan Kai dan teman-temannya hanya karena ucapan seorang wanita yang sangat ia hormati.
Kai menyambut ponselnya dan berjalan keluar dari ruangan perawatan.
“Shaw.”
Terdengar suara tangisan tertahan dari seberang panggilan.
Aku mengkhawatirkanmu, Tuan Mafia. Aku bahkan tidak bisa makan sesuatu.
Kai menunduk menatap sepatunya kemudian menaikkan pandangan. “Aku baik-baik saja, Shaw. Bahkan nyamuk pun tidak berani menggigitku, apalagi orang-orang itu. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Baby Girl. Kami akan pulang dalam keadaan seperti semula.”
Tapi.. Isakan Shadow semakin terdengar.
Kai meraba dadanya yang berdebar hanya mendengar suara lemah disertai tangisan kekasihnya. Ia sungguh lemah hanya kepada satu hal. Cinta.
Hanya cinta yang membuatnya lemah. Satu hal yang paling dihindarinya sejak dulu. Ia bahkan beberapa kali memojokkan orang-orang yang takluk terhadap perasaan yang juga kini menderanya. Kai pernah mencibir pewaris tahta Kerajaan Mersia ketika kehilangan istrinya, betapa lemahnya pria itu yang terjebak oleh perasaan dendam dan mencinta.
Kai kini merasakan semuanya, ia sudah siap mati bersama dengan Shadow ketika diculik oleh Kazue Ishihara. Kembali mereka terpisah, walau baru beberapa jam namun sungguh Kai tidak mampu membentangkan tali cinta sejauh Berlin dan Rozendaal. Rindu menyesakkan dada, bahkan belum 12 jam ia tidak melihat wajah wanita bersurai ikal yang mengisi keseharian dengan gerutuan lucunya.
Kapan kau kembali? Aku telah merindukanmu.
Perkataan lemah lembut Shadow membuat pria setangguh Kai meremas kemeja hitamnya di bagian dada. “Bersabarlah, Shaw. Setelah Rozendaal aman aku akan kembali.”
Kapan? Sebutkan sebuah angka pasti. Aku tidak bisa menunggu menanggung rindu.
Manik biru lautan itu memejam menikmati perasaan cintanya yang terus berbalas dari Shadow. Mereka adalah kesatuan hati, apa yang dirasakan Kai pun mendera wanita yang sedang terduduk di tepian kasurnya dengan air mata meleleh tak henti.
“Dua hari, Ophelia Shadow Farubun. Ya, dua hari ke depan aku sudah berada di rumah.”
Lama.. apakah aku bisa bertahan selama itu, Alpheratz Kai Navarro? Aku membutuhkan pelukanmu.
Kai tidak tahan dan segera mematikan sambungan telepon, ia kemudian menengok ke dalam ruangan perawatan.
“Siapa yang ingin mengambil alih urusan Rozendaal, dan siapa ingin ikut kembali ke Berlin saat ini juga
membawa Conley bersama denganku.”
###
alo kesayangan💕,
4 hari yah jaraknya 🤭, maaf.. ak tidak punya waktu untuk menulis..
sampai hilang feelnya kali yah.
besok aku akan sibuk banget, then mungkin Minggu akan menulis kalau bukan Senin..
Happy Saturdate Night, Ladies..
love,
__ADS_1
D😘