
Kadang hidup membawa kita ke masa lalu yang ingin dilupakan.
“Kai, baby.” Sapa seorang wanita dari samping kanan pria bersurai putih.
Si pemanggil dengan suara sedikit cempreng, khas gadis Amerika adalah seorang wanita bertubuh seksi, berambut pirang pucat bertinggi 168 cm. Matilda Blake, berusia 29 tahun yang menetap di Hollywood. Pemilik Stylin Curl, salon langganan para selebriti di kota itu, termasuk Sky. Matilda Blake, pernah menjadi teman kencan Kai. Jika tidak salah menebak, 2 tahun lalu ketika Kai berkunjung di Hollywood. Kai sebenarnya sudah
lupa. Ia memang telah melupakan segalanya, termasuk wanita yang hanya dikencaninya selama 3 minggu.
“Matilda, apa kabar?” tanya Kai dengan cepat menjulurkan tangan ke depan. Ia melakukan itu agar Matilda tidak memeluknya. Sebuah senyuman nakal terbentuk di bibir Matilda, menyakinkan Kai bahwa wanita itu sedang
menggodanya.
Bibir penuh itu kemudian merungut akan sapaan datar Kai.
“Baik. Aku tidak tahu jika kau ada di Hollywood. Sky sekarang jarang ke salon dan kau menjadi tidak aktif di sosial media.” Matilda bergerak
maju menghampiri Kai. Rupanya ingin menggunakan pesona kemolekan tubuhnya, Kai
mundur sebanyak langkah kaki Matilda mendekatinya.
Kepala Kai menggeleng meminta Matilda untuk berada di tempatnya.
“Aku mengurangi kehidupan dunia maya, realita lebih indah. Dan oh yah, untuk sementara aku tinggal di kota ini, Matilda.”
Alis wanita yang berusia 2 tahun di atas Kai itu mengeryit “Akhirnya kau menyukai Hollywood, baby. Aku juga bilang kota ini sangat nyaman, selalu hangat tidak sedingin dengan Berlin. Aku lupa membahas ini, saat di Berlin kau sama sekali tidak membalas pesanku.”
Giliran Kai menautkan alisnya “Kapan?”
Matilda mengibaskan tangan lentiknya, tetap dengan senyuman menggoda. Kai sangat tahu apa isi kepala wanita seksi itu. Sayangnya, Kai bukan pria itu 4 bulan lalu. Dulu ia adalah pria yang sangat gampang jatuh ke tempat tidur bersama dengan wanita-wanita seperti Matilda.
“Awal tahun. Aku mengirimkanmu pesan, kau pria yang tidak suka di telepon. Aku juga mengirimkanmu direct message, tidak ada respon. Bagaimana yah, aku mengejarmu bersamaan dengan teman-temanku mengajak ke Berlin. Berharap bertemu, sayangnya kau mengabaikanku. Bukan begitu?”
Kai mendengus geli “Oh aku ingat awal tahun sedang di luar negeri, tentunya bekerja. Terlebih aku tidak pernah mengencani wanita yang sama
setelah semua sudah berakhir. Bukankah aku pernah mengatakan itu, Matilda?” ucapnya
menegaskan sekaligus mengingatkan syarat kencan seorang Kai Navarro.
Matilda mendengkus, sorotnya menjadi tajam “Aku pikir tidak ada salahnya kita mengulang sesuatu yang pernah membara di antara kita. Kau kan tidak tertarik menjalin hubungan serius, baby. Cukuplah 1 malam bersama.” ujarnya tetap berusaha meluluhkan pria bersurai putih itu.
Kai tersenyum menyeringai “Itu aku dulu. Sekarang sudah berubah, Matilda. Bukan hanya menjalin hubungan dengan seorang wanita. Tapi aku juga sudah bertunangan, lihat gadis jangkung itu.” ucapnya menunjuk kekasihnya yang sibuk
memilih dress.
Kai mengajak kekasihnya ke pusat perbelanjaan, sebelumnya mereka menyantap makan malam di restoran cepat saji di tempat itu.
Mau tidak mau Matilda mengarahkan pandangannya ke arah Kai menunjuk seorang gadis bak model sedang asyik dengan pakaian di depannya. Sedikitpun tidak melirik ke arah Kai, padahal bisa dikatakan mereka telah lama mengobrol.
“Apa kau yakin jika dia tunanganmu? Kau tidak mengada-ada, bukan? Baby, aku sangat tahu dari cerita Sky jika kau tidak ingin terlibat oleh
sebuah hubungan serius. Wanita itu sangat cantik, sepertinya aku pernah melihatnya.”
Kai tertawa kecil “Ya, dia tunanganku, Matilda. Duniaku berubah setelah bertemu dengannya, dari yang tidak tertarik dengan hubungan serius,
kemudian sebulan mengenalnya aku pun mengajaknya menikah. Shadow Farubun, namanya. Jika kau mengenal artis-artis di Hollywood, dia termasuk jajaran selebriti.”
Matilda sedikit terguncang mendengar penjelasan Kai, rautnya pun sontak berubah “Maksudmu sutradara muda yang mendapatkan Oscar? Dia terlihat biasa, sederhana.” Ucapnya melihat gadis mengenakan sweater hitam dipadu dengan jeans
denim.
“Maksudku saat penghargaan dia sangat memukau. Kau mendapatkan sutradara terkenal.” Matilda mengerang lirih.
“Ya, seperti itulah. Aku mendapatkan berlian berharga, berkilau di tengah kilau berlian lainnya.” Ucap Kai mengalihkan perhatian kepada
kekasihnya. Di saat bersamaan Shadow memandang ke arahnya, sontak Kai melambaikan
tangan.
Shadow membalas meminta Kai mendekat.
“Sudah ya, Matilda. Si cantik memanggil. Oh ya, semoga harimu membahagiakan.” Kai mengumbar sebuah senyuman simpul kepada Matilda. Wanita dengan rambut di curly itupun hanya bisa mengangguk tidak rela. Pria yang sangat dingin di depannya pernah ia taklukkan di tempat tidur. Mungkin sebaliknya kini telah melabuhkan hati.
Matilda mengikuti pergerakan tubuh Kai, punggung lebar itu perlahan menjauh dan mendekat pada gadis jangkung. Shadow Farubun, gadis muda yang beberapa bulan lalu menjadi bahan perbincangan hangat pelanggan salonnya.
__ADS_1
Betapa cemburu menghujam jantung Matilda melihat Kai menarik pinggang Shadow. Selama mereka bersama sekalipun Kai tidak pernah melakukan itu. Pria itu hanya panas di atas tempat tidur, selebihnya sangat dingin dan datar. Walau jujur jika pandangan mata Kai begitu menggoda. Siapa yang tahan dengan manik biru dengan bulu mata yang lentik itu.
Sayangnya, kesempatan itu tidak bisa terulang lagi.
…
Kai tersenyum bangga dan bahagia melihat genggaman tangan Shadow tidak lepas sedikitpun bahkan ketika kekasihnya sibuk menunggu giliran memesan kopi di gerai Starbucks.
“Sayang.” Shadow menoleh dengan tatapan manjanya.
Kai terpana dan berdebar. Sangat cantik, kekasihnya yang 30 menit lalu mengomel karena Kai menghabiskan banyak uang untuk membayarkan pakaian di toko tadi.
“Ada apa, baby girl?” tanya Kai lembut sambil menangkup pipi Shadow. Kekasihnya tersenyum lalu tersipu.
“Tidak ada apa-apa.” Shadow menahan diri lalu berbalik melihat antrian bergerak mendekati pramuniaga kedai.
Tidak puas dengan perkataan Shadow, Kai memeluk tubuh kekasihnya dari belakang. Ia kemudian merundukkan kepala pada bahu Shadow.
“Apakah kau ingin menanyakan wanita tadi, Shaw?” bisiknya tidak mempedulikan jika mereka sedang PDA (Public Display of Affection).
Gadis dengan surai ikal itu mengangguk ragu, Kai bisa mendengar hembusan napas keras dari Shadow.
“Ambil kopinya dan kita berbicara sambil berjalan di mall ini.” sambung Kai sadar jika tidak memungkinkan membahas masa lalunya dan di
dengar oleh banyak orang.
5 menit kemudian mereka berjalan di pusat perbelanjaan yang berada di Sunset Road Street, pun sosok mereka menjadi pusat perhatian. Entah apa karena mengenal Shadow atau keduanya terlihat sempurna sebagai pasangan.
“Aku pernah berkencan dengan wanita itu.” Kai membuka percakapan.
Shadow mengangguk dengan bibir terkulum “Aku bisa menebaknya, Tuan Kai Navarro. Tatapannya begitu memujamu, melihatmu berbincang lama
membuatku yakin jika kalian pernah terlibat sebuah hubungan lebih dari sekadar kenalan biasa.”
“Cemburu?” tanya Kai merapat pada tubuh Shadow. Ia pun memberikan ciuman singkat pada bibir manis kekasihnya.
“Tidak.” Singkat Shadow menatap manik biru Kai. Bibir sensual pria itu baru saja meningkatkan debar jantungnya.
Senyuman Kai mengembang, kelopak indah itu seolah ikut tersenyum.
Kekasihnya yang mengenakan cincin berlian sangat indah terlihat mengangkat bahu “Percuma, itu hanya menguras pikiranku memikirkan hal yang terjadi sebelum aku hadir di kehidupanmu. Sebelumnya kau pernah mengatakan pria
seperti apa dirimu dulu, aku percaya wanita tadi bukan yang terakhir kutemui di jalanan dan memandang penuh cinta kepada priaku. Walau ada sedikit khawatir jika kau akan tergoda dengan mereka. Bagiku kembali kepadamu, sayang. Aku
sebenarnya sangat posesif, sejak kita bersama. Tapi aku tidak bisa menggenggam hati seseorang terlalu erat.”
“Aku kecewa mendengarnya, Shaw. Padahal aku ingin kau memilikiku, hingga seluruh dunia tahu. Aku ingin kau merasa bangga memperlihatkan kita yang seperti ini.”
Senyuman di bibir Shadow menukik dan meledek kekasihnya “Playboy kita sudah bertobat?” tuturnya menghentikan langkah lalu mengalunkan tangan di leher Kai. Pun si pria bersurai putih itu memeluk pinggang ramping Shadow. Mereka
bertatapan penuh cinta yang berkobar memanaskan dada.
“Sepenuhnya tunduk pada cinta seorang gadis yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Dari Indonesia, tinggi dengan manik mata coklat. Terlebih suka menggerutu. Apakah mama saat mengandungmu suka makan makanan yang pedis?”
Shadow tergelak tawa manis dan renyah, ia menarik tubuh Kai agar semakin mendekat pada wajahnya
“Sepertinya kedua mama kita suka makanan yang
pedis. Tahukah jika kau juga bermulut pedis, bayangkan bagaimana jika kita memiliki anak dari orang tua seperti ini.” ujarnya lalu menyatukan bibir dalam pagutan tak berkesudahan.
Masa pacaran adalah fase terindah bagi sepasang manusia yang dimabuk asmara hingga melupakan puluhan pasang mata sedang melirik dengan
tatapan jengah. Peduli setan, Kai tidak bisa melepaskan pagutan manis bibir Shadow. Apalagi ini kali pertama mereka berjalan di muka umum sebagai pasangan.
“Jadi kau tidak akan cemburu pada wanita-wanita seperti Matilda, baby girl?” Kai tersenyum miring melihat Shadow terengah setelah melepaskan ciuman panjang mereka.
Shadow mencibir menatap lautan di wajah Kai “Andai waktu bisa di ulang, aku akan mengencanimu sejak kau sekolah. Agar kau tidak mengenal wanita lain.” Gerutunya sambil menautkan jemari tangan.
“Andai bisa begitu, tentu saja aku dengan senang hati mengenalmu sejak berusia belasan tahun. Jatuh cinta kepadamu, kita pasti berangkat sekolah bersama. Aku akan menjemputmu.”
Shadow menyesap caffe americanonya dengan tatapan ke arah pengunjung mall tersebut, sangat susah menemukan ras yang sama dengannya. Shadow tidak pernah sekalipun berkecil hati dengan dirinya. Ia tidak pernah merasakan
bully-an karena ia berasal dari Asia. Sejak mengenal bangku sekolah, ia selalu diterima oleh teman-temannya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kita 1 sekolah, aku ada di Hollywood dan kau ada di Berlin, Kai Navarro. Kau juga lebih tua 2 tahun dariku.”
Kai terkekeh kecil lalu mengacak surai ikal dan hitam Shadow “Aku akan menjadi senior yang jatuh cinta kepada adik kelasnya.”
“Berhentilah berandai-andai. Itu tidak mungkin terjadi, sayang. Saat sekolah aku tidak memikirkan untuk berpacaran, walau banyak yang
mengejar. Tapi papa dan ayah sangat ketat, mereka mengikuti kami ke sekolah. Memberikan
tatapan mematikan kepada teman sekolah yang terlihat menyukaiku dan Sunshine. Bagi papa dan ayah, mereka adalah pacar kami.”
“Sangat posesif.” Gumam Kai merangkul tubuh kekasihnya. Mereka berjalan sangat santai, semua belanjaan telah dibawa oleh pasukan khususnya. Dari jauh, Kai bisa merasakan jika kelima anggotanya mengawasi segala gerak-gerik seolah ia tidak bisa melindungi diri sendiri beserta wanitanya.
“Kata ayah, buat apa pacaran jika hanya untuk pergi berjalan ke tempat seperti ini, mereka juga bisa menemani. Malah uang ayah dan papa jauh lebih banyak daripada pria-pria yang mendekati kami.” Tutur Shadow mengingat kelakuan 2 pria
terhebatnya. Berkat mereka pula, Shadow tumbuh menjadi gadis yang tidak gampang jatuh cinta karena Liam dan Ricchi merecoki isi kepalanya tentang pria dan dunia pacaran.
Tidak ada yang salah dengan didikan seperti itu, malah Shadow bersyukur karena ia tumbuh menjadi gadis berlogika tinggi. Hingga pria yang sedang mengendus pipinya datang dan memporak-porandakan benteng hatinya. Kini Shadow menjadi gadis yang takluk kepada Kai, pria yang terus menempel. Enggan berpisah.
“Shaw.” Menahan langkah Shadow untuk berhenti. Kembali tangan mereka saling berpelukan pada pinggang.
Shadow mendongak pada bibir sensual, manik lautan, hidung sangat mancung. Kai –nya sempurna pasti bagi Matilda, wanita tadi. Dan mungkin ribuan wanita yang akan Shadow temui di masa depan, akankah ia kuat menghadapi perasaan yang tergores melihat para pemuja kekasihnya.
“Cintai aku.” pinta Shadow spontan pada manik biru menatapnya lekat.
Sebuah senyuman mengembang pada bibir sensual “Tentu saja aku mencintaimu, Shaw. Aku sangat mencintaimu hingga aku ingin mengatakan jika..”
“Apa?” tanya Shadow tidak sabaran.
Pelukan Kai terlepas di pinggang Shadow, kemudian pindah di kedua sisi pipi.
“Maukah kau ikut denganku ke Berlin? Papa memanggil kita berdua, mamapun juga. Mereka sangat kesepian di sana, tidak masalah kan jika
sekarang meninggalkan pekerjaanmu, Shaw?”
Shadow mengangguk secepat angin tordano menyapu sebuah wilayah “Aku telah menyelesaikan pekerjaan dan tidak menerima skenario baru.” Ucapnya tidak sabaran. Ia telah diberi kebebasan oleh kedua prianya sekaligus bossnya di kantor. Ya, Liam dan Ricchi sepenuhnya telah melepaskan Shadow kemanapun ia akan pergi bersama dengan Kai.
Kai mengembuskan napas lega “Aku ingin memperlihatkan rumah yang akan kita tempati setelah menikah. Dulu adalah rumah papa dan mama, sejak mereka bertunangan. Namun papa dan mama telah pindah ke rumah grandpa, rumah yang di samping danau itupun kosong. Padahal aku sangat menyukai tinggal di situ. Aku ingin hidup denganmu di rumah itu, membesarkan anak-anak kita.”
Celotehan Kai yang sangat lancar membuat dada Shadow mengembang dan berdenyut jauh-jauh di atas pompaan normalnya. Kakinya menjadi
tidak bersendi.
Ucapan Kai bak mimpi indah yang berada di pelupuk mata, impian menjadi seorang ibu seakan nyata.
Sejak kapan Shadow memiliki mimpi seindah itu, sejak dulu apakah baru saja ketika kekasihnya mengatakan keinginannya. Terlalu indah.
“Aku mau. Kapan kita berangkat?” tanya Shadow dengan suara bergetar karena bahagia memenuhi dada, ingatan yang menancap kuat di dalam kepala.
Kai menyatukan bibir, kembali memagut dengan panas.
“Kita harus meminta ijin terlebih dulu kepada ayah, ibu dan papa. Mungkin selama di Berlin kita bisa memutuskan kapan kita akan menikah,
aku ingin secepatnya, Shaw. Aku ingin memilikimu dan membawamu bersamaku. Aku ingin seperti papa dan mama, memiliki satu sama lain. Mereka pergi mengelilingi dunia bersama. Kalau aku ingin mengajakmu menghadapi para penjahat dunia, bersama kita taklukkan mereka. Apakah kau siap, menjadi Nyonya Kai Navarro? Memiliki suami seorang mafia. Maukah kau menerimaku, Shaw?”
###
alo kesayangan 💕,
i'm back..
weekend tiba, akupun santai..
kalian punya plan apa akhir pekan ini??
jangan lupa luangkan waktu untuk berolahraga yah..
love,
D😘
__ADS_1
aku di sini menulis chapter Kai..