CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Temptation


__ADS_3

Tubuh Shadow bergetar dengan kaki lunglai di dalam pelukan Kila, sang mama. Ia tak kuasa menatap ke arah belakang, hanya bisikan lembut dari Kila yang menenangkannya.


"Penjahat itu roboh."


Shadow semakin lemas, kedua kakinya tak kuasa lagi bertumpu. Sebuah erangan lemah keluar dari bibirnya sebelum kesadaran sang mempelai cantik itu hilang.


"Hugo Chan." panggil Kila yang berusaha menahan tubuh Shadow untuk tidak jatuh ke lantai.


Mendengar namanya dipanggil Hugo bergerak cepat menghampiri Kila dan mengambil alih tubuh Shadow yang telah kehilangan kesadaran. Tak lama kemudian, dua pria paruh dengan ketampanan Asia yang berbeda ikut membopong wanita cantik bergaun putih tersebut keluar dari ballroom hotel dengan penjagaan puluhan pria berpakaian hitam yang rapi.


Kai melihat keadaan istrinya dari kejauhan hanya bisa menggeram marah, matanya tajam menatap tubuh pria Rusia yang berani mengganggu pesta mewah tersebut. Ya.. pria tersebut telah meregang nyawa oleh satu peluru yang bersarang tepat di kepalanya.


Adalah William yang melesakkan peluru senjatanya dari jarak jauh, pria Rusia itu kalah sepersekian detik dalam menarik pelatuk Magnum -nya. Pengawal Kai lebih lihai dan tidak memiliki keraguan untuk mengeksekusi penyusup Rusia tersebut. William sangat tahu dengan tugasnya, walau mereka harus mengakui kelengahan anggota Black Panther terhadap penyusup tersebut.


"Periksa semua orang." perintah Kai dengan tegas. "Semua isi hotel." raut kaku pria jangkung berambut putih tersebut menyapu setiap sudut ballroom.


"Baik, Boss." sahut Akio bergerak menuju beberapa anggota Black Panther yang berjaga di sekitar mereka. Akio terlihat sibuk menjelaskan namun suaranya tidak sampai ke telinga sang pemimpin.


Sebenarnya tenggorokan Kai kering, pastinya karena insiden yang terjadi barusan. Namun ia tidak ingin meminta pelayan membawakannya segelas minuman, muncul ketidakpercayaan yang sangat besar kepada orang-orang di dalam hotel tersebut kecuali keluarganya. Kai ingin mengumpulkan semua orang yang bekerja di hotel miliknya. Besar dugaannya jikalau kehadiran pria Rusia tersebut berkat campur tangan salah satu pengawai hotel atau mungkin beberapa orang.


"Seluruh tamu luar telah kami kumpulkan di ballroom satunya, Boss." ujar Yoruban yang tiba-tiba saja telah berada di sebelah Kai.


"Mereka telah dicocokkan datanya?" tanya Kai sambil melipat tangan di dadanya. Wajahnya datar ketika melihat tubuh tak bernyawa penyerang Rusia tersebut diangkat keluar setelah dimasukkan ke dalam kantung mayat berwarna hitam.


"Ya, anak-anak bekerja cepat. Dan para tamu tersebut perlu dengan cepat meninggalkan hotel ini." imbuh Yoruban mengeraskan rahangnya. "Apakah tidak masalah jika bekas darah tersebut dibersihkan?"


Kai tetap tenang mendengarkan pertanyaan Yoruban sementara menyaksikan Heron memimpin pasukan untuk membersihkan bekas darah yang berceceran di lantai. Perlu perlakuan khusus untuk menangani bekas darah, dan mereka sangat handal dalam tugas tersebut.


"Kau tahu jika aku tidak suka melibatkan polisi Jerman. Mereka terlalu usil terhadap Black Panther. Hal kecil seperti ini nantinya akan di blow up ke media dan mereka akan nampak seperti Superhero. Ya, walau organisasi kita akan aman-aman saja. Tapi nantinya mereka tidak akan berpuas diri, dan terus mengganggu Black Panther untuk memberikannya beberapa kasus kriminal yang akan membesarkan nama teamnya."


Yoruban menganggukkan kepala pelan, bibirnya mencibir. "Beberapa kali kita pernah terjebak dengan mereka." tambahnya.


"Seperti itulah." Kai menyahut.


Ballroom yang tadinya penuh dengan tamu berpakaian indah, kini hanya tersisa banyak oleh orang-orang Kai. Pria-pria tersebut menyisir setiap sudut ruangan, sementara sang pemimpin berdiri di tengah ballroom bersama dengan dua pengawal hebatnya. William bergabung dengan Kai dan Yoruban.


"Terima kasih." gumam Kai kepada William. Bibirnya terkulum sambil meremas bahu pengawalnya.


William mengangkat bahu sejenak lalu menggelengkan kepala. "Sudah menjadi tugasku melindungimu, Boss." ujarnya tenang.


"Terima kasih." Kai melirik ke arah William. Pria yang sangat ahli menggunakan senjata dari jarak dekat maupun jauh.


"Come on, Boss. Kau bertingkah seperti anak kecil. Kami terikat kontrak darah untuk melindungi nyawamu, mungkin itu di pikiran kami ketika menandatanganinya. Tapi sekarang berbeda, kami melakukannya karena dirimu bukan sekadar pemimpin Black Panther melainkan kau adalah teman."


"Teman.." Secercah senyuman muncul di bibirnya. Yoruban terkekeh pelan seraya meninju lengan William.


"Apakah kita akan berpelukan seperti adegan di film? Kemudian berciuman? Kau tahu Willy jika seleraku orang berkulit putih." kelakar Yoruban diikuti muntahan pura-pura dari temannya.


"Tidak pernahkah kau bercermin?" William meringis menatap sosok Yoruban yang berkulit warna dengan tubuhnya tinggi besar.


"Sudah.. Sudah." Kai menengahi dua pengawalnya yang saling melemparkan candaan di tengah kesibukan anggota Black Panther lainnya. Kedua pria tersebut bertingkah santai seakan kejadian beberapa saat lalu adalah hal biasa bagi mereka.


"Boss." Kehadiran Conley tiba-tiba saja.


Kai mengerutkan alisnya dengan bibir sedikit dimajukan. "Ada apa?"


"Kami menemukan seorang pekerja taman gantung diri di pohon belakang." Conley memelankan suaranya, walau tidak ada yang terlihat menguping pembicaraan mereka.


"Apakah dia berkaitan dengan insiden ini?" selidik Kai serius.


"Akio sedang menyelidikinya, tapi menurut kesimpulanku pekerja hotel itulah yang membawa orang Rusia tersebut masuk ke sini. Besar kemungkinan karena semua terjadi sangat berdekatan." jawab Conley.


"Selidiki sampai tuntas." titah Kai dibalas anggukan oleh Yoruban, Conley dan William.

__ADS_1


"Pulanglah, Boss." ucap Yoruban ketika hampir 5 menit tidak ada yang bersuara di antara mereka.


"Ya, pulanglah. Biarkan kami yang menyelesaikan semuanya." imbuh Conley.


"Selalu begini." Kai menggeleng.


"Boss, ini pesta pernikahanmu. Seharusnya sekarang kau memotong kue tinggi itu." ujar Yoruban memandang ke arah kue indah bersusun 7 tersebut. Bukan sebuah kue biasa, tentu saja harganya tergolong mahal untuk pesta semegah ini.


"Ya seharusnya kita semua berpesta." erang Kai terlihat pasrah.


"Nyonya Boss membutuhkanmu." ucap William. Perkataan tersebut membuat tubuh jangkung Kai tersentak. Kedua bola mata biru lautannya menyala dalam seketika.


"Betul." sergah Kai dengan cepat. "Aku pergi dan laporkan saja lewat pesan."


Serempak ketiga pengawal Kai menggelengkan kepala.


"Tidak. Kami tidak akan mengganggumu, Boss. Kami akan melaporkan setiap perkembangan kepada Boss Besar." lanjut William sambil mengedipkan matanya.


Kai berdecih kemudian mengangkat bahunya. "Bukan berarti lari dari tanggung jawabku, tetapi aku perlu mengecek keadaan Shadow. Dia benar-benar lemah."


Ketiga pengawal Kai tergelak tawa pelan sambil berpandangan penuh makna.


"Lakukan dengan lembut, Boss." lontar Yoruban membuat kedua temannya mengeraskan suara tawa.


Kai menoleh dan menatap ketiga pengawalnya dengan tatapan tajam. "Kalian tidak usah mengajariku, aku sangat tahu apa yang akan kulakukan."


...


Sudah lebih sejam lamanya Kai mengamati Shadow yang terbaring di dalam selimut halus dan nyaman. Gaun pengantinnya telah berganti dengan pakaian tidur berbahan sutra berwarna beige. Tidur Shadow begitu lelap, suara napasnya teratur hampir wanita bersurai ikal yang tergerai di atas bantal tidak menyadari kehadiran Kai.


Seharusnya Kai tidur di hotel, di kamar president suite semalam sebelum keesokan hari terbang ke tempat mereka akan berbulan madu. Rupanya impian Kai dan Shadow harus kandas. Shadow justru di bawa pulang ke mansion orang tuanya dan mereka menempati kamar tidur milik Kai. Tidak ada sentuhan indah di kamar untuk pasangan yang baru mengucap ikrar setia sehidup semati tersebut, melainkan nuansa pria maskulin tanpa ada perabotan seperti meja rias di dalamnya.


Kai bergerak dari tempat tidur dan memilih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia merasa gerah, terlebih setelah insiden berdarah di hotel miliknya. Sekitar 20 menit kemudian tubuh jangkung dibalut handuk putih keluar dari balik pintu.


Wajah Shadow memerah sekilas membuang pandangan mata ke kanan, kemudian tidak bisa berlama-lama dan kembali kepada pemandangan indah di depan. Tubuh bagian atas yang terbuka Kai masih separuh kering, otot-otot padat menonjol membentuk lekukan sempurna. Seorang Kai Navarro sangat sempurna, walau Shadow sering melihat Kai bertelanjang dada, namun itu ketika berada di kolam atau pantai.


Kai menyeringai melihat istrinya menelan ludah. "Lihat sekarang siapa yang mesum?" katanya kemudian tertawa meledek.


Shadow memajukan bibir namun hatinya kecewa ketika Kai bukan berjalan mendekati tempat tidur. Melainkan ke arah walking closet yang berpisah dari kamar mandi. Shadow beranjak dari tempat tidur, mengikuti sosok jangkung memikat hati sekaligus mendebarkan tersebut.


"Kai!" pekik Shadow ketika melihat Kai melepaskan turun handuknya dan kemudian teronggok di atas karpet berwarna coklat yang empuk.


Pimpinan mafia tersebut menoleh tanpa membalikkan badan dengan seringaian licik dari bibirnya. "Ada apa, Shaw?" tanyanya terkesan acuh.


"Kenapa kau polos di depanku?" teriak Shadow menutup wajahnya dengan jemari tangan yang merenggang.


"Kau kenapa mengikutiku ke ruangan ini, Shaw?" Kai kini meraih pakaian dalam dan sepasang piyama kemudian memakainya tanpa berpikir jika Shadow sedang memerhatikan setiap perbuatannya.


"Ini pertama kali aku melihat pria bugil di depan mataku." erang Shadow dengan napas berat. Mungkin hidungnya bisa mengeluarkan asap dan isi kepalanya telah teracuni dengan sosok Kai yang tetap acuh memperlihatkan seluruh tubuhnya.


"Kau seorang sutradara, masa tidak pernah melihat aktormu bugil?" Kai membalikkan badannya dengan pakaian tidur lengkap dengan semerbak wangi cologne yang maskulin.


Shadow merenggut ketika tangannya digenggam oleh Kai. Jutaan volt menyetrum tubuhnya dalam seketika. Shadow membisu sesaat dan kehilangan perkataan yang telah mengumpul di lidahnya.


"Aku belum pernah membuat blue film, dan drama pun tidak sampai se-vulgar perbuatanmu barusan." akunya dengan suara terbata-bata.


"Biasakanlah, Shaw. Kita adalah suami istri sekarang." Kai menuntun Shadow hingga mencapai tempat tidur.


Jantung Shadow berdebar sangat kencang ketika Kai mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur yang empuk. Kai ikut duduk di samping tubuh Shadow.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, Shaw? Tadi kau pingsan." Kai menggenggam jemari istrinya.


"Aku baik-baik saja, Tuan Mafia." jawab Shadow dengan penuh keyakinan. Ia telah melupakan insiden di pesta pernikahannya, mungkin kini fokusnya teralihkan kepada godaan berwujud pria bermanik biru yang indah.

__ADS_1


"Aku mengkhawatirkanmu. Dan, sepertinya kita tidak pergi berbulan madu."


"Tidak apa-apa, sungguh aku tidak apa-apa jika kita tidak pergi. Aku mengerti jika situasi sekarang yang tidak memungkinkan untuk kita pergi jauh. Bahaya sedang mengintaimu." tandas Shadow.


"Maafkan aku, Shaw." Kai menangkup wajah istrinya yang sedang tersipu dan memerah.


Shadow mendesah pendek. "Aku di manapun sama, asal kau ada. Maafkan jika dulu aku terkesan memaksakan untuk berbulan madu jauh dari sini. Aku melupakan jika suamiku seorang pimpinan mafia. Apakah kau telah tahu pelakunya?"


"Tidak. Mungkin belum." jawab Kai mengecup singkat bibir Shadow.


Ada rasa yang kurang dan belum terpuaskan dari Shadow, ia mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Apakah?' tanya Shadow yang terputus ketika melihat sorot bola mata Kai yang menenggalamkannya lebih dalam.


"Belum." Kai memeluk tubuh Shadow yang panas dingin. "Aku belum ingin melakukannya malam ini, Shaw. Tidak di rumah papa, besok sore kita akan ke rumah. Di danau."


"Serius tidak?" tuntut Shadow.


Kedua jemari Kai menangkup wajah kecil Shadow, ia mengangguk. "Tidak, istriku. Ini sudah jam berapa dan aku bisa menahannya. Terlebih pikiranku sedang bercabang memikirkan pria Rusia tersebut."


Shadow memasang wajah kecewanya. Matanya menyendu. "Kau jahat."


"Hei! Kenapa mengatakan aku jahat, Nyonya Kai Navarro?"


Shadow mendorong dada Kai. "Kau berani memamerkan bokongmu, dan tidak mau bertanggung jawab." sungutnya.


Kai tertawa keras, ia kemudian menjawil pipi Shadow. "Ternyata kau gampang di pancing, Shaw. Apakah selama ini kau memendam banyak hal? Termasuk urusan ****?"


Shadow merenggut kemudian naik ke tempat tidur. Ia masuk ke dalam selimut dan sempat mengerling tajam ke arah Kai yang masih tertawa-tawa dengan senangnya. "Kau suamiku, tentu saja pikiranku telah berbeda ketika melihatmu."


"Lihat siapa yang mesum sekarang." canda Kai menggoyangkan lengan istrinya.


"Kau!" sahut Shadow.


Kai menarik tubuh istrinya dan merengkuhnya kemudian mematikan lampu di atas meja nakas. "Malam ini kita beristirahat saja, Shaw. Karena besok kau tidak akan bisa tidur dengan lelap lagi hingga minggu depan. Kau tahu maksudku."


"Malam ini sungguh menyiksaku." gumam Shadow pasrah.


Kai  mengecup kening Shadow tanpa melepaskannya. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu Shadow Farubun. Hari pernikahan kita sangat berbeda dengan orang-orang, justru kita melihat darah tergenang di dalam ballroom. Sepertinya kita perlu mengulangnya maksudnya pesta yang melibatkan keluarga besar, pesta berikutnya di Hollywood setelah keadaan lebih aman."


"Aku akan mempercayainya ketika benar-benar terjadi, Kai. Hidupku tidak bisa diprediksi termasuk hari ini." imbuh Shadow.


"Kau menyesal?"


Shadow menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah menyesalinya. Aku bertemu dengan kau yang hebat dan sangat berbeda. Pria yang dulunya terkenal banyak wanita namun memperlakukanku dengan cara berbeda. Aku mencintaimu, Tuan Mafia."


"Jadi sudah bisa ikhlas tanpa ada **** malam ini?" Kai kembali menggoda istrinya. Shadow layaknya mainan hidup yang bebas ia permainkan perasaannya.


"Tentu saja." tegas Shadow sambil mencubit perut berotot Kai.


Kai tertawa pelan lalu berbisik di telinga istrinya. "Terus kenapa napasmu berat, Shaw. Tubuhmu menggigil."


Shadow mendesis sambil mendorong kepala suaminya menjauh. "Dasar iblis sekaligus mafia!


###



alo kesayangan💕,


aku terbangun jam 3.30 pagi tadi dan aku mengingat jika beberapa saat lamanya ak hiatus. hmm... yah my real life lebih penting untuk sementara..


tapi aku akan kembali, Jace sudah yang nyariin.. apakah juga sudah ada yang menanti Prince Onyx?


love,

__ADS_1


D😘


__ADS_2