CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Fear


__ADS_3

“Pernikahannya harus meriah.” Titah Kila kepada Kai dan Shadow. Pasangan dimabuk asmara itu hanya mengangguk menyetujui.


Di sebelah Kila ada Hugo yang memilih diam, membiarkan istrinya berperan atas persiapan pernikahan Kai dan Shadow.


“Apakah kalian telah membicarakan ini kepada ayah, ibu dan papa di L.A?” wanita bersurai hitam itu mengarahkan pandangan kepada Kai dan


Shadow yang duduk bersebelahan dan saling bergenggaman tangan.


“Belum, ma. Kami belum membicarakannya.” Shadow menjawab, setelah melihat wajah kekasihnya.


Keempatnya tersenyum dan saling berpandangan “Sebenarnya aku dan papamu ingin kalian menikah di Berlin. Berhubung kedua saudari kalian


menikahnya di Bali dan Lyon. Tapi, jika kalian ingin menggelar pesta di L.A kami akan mengalah.”


Perkataan Kila terdengar santai namun membuat tangan Shadow berkeringat. Kai menatapnya dengan tawa yang di tahan.


“Awas.” Bisik Shadow mengancam pimpinan mafia itu. Kekasihnya tertawa tanpa mempedulikan kedua orang tuanya.


“Alpheratz Kai.”Kila melayangkan protes dengan tatapan tajam. Hugo hanya tersenyum manis, papanya memang tidak pernah marah ataupun


melayangkan komplain. Sumber kenyamanan dan ketenangan rumah mereka berasal dari seorang Hugo Chan.


“Shaw dan keluarganya tidak mempersoalkan itu, ma. Ya, kan ? Kai menepuk lembut tangan kekasihnya. Shaw mengangguk.


“Kami akan menikah di Berlin, ma, pa.” Shadow memutuskan, walau suaranya terkesan ragu. Bukan karena tidak yakin akan pernikahannya,


melainkan berbicara tentang hal serius seperti ini efeknya mengalahkan ciuman pertamanya dengan Kai.


Kapan ciuman pertama mereka ? Shadow menggelengkan kepala. Sempat-sempatnya


ia memikirkan hal seperti itu di depan kedua orang tua kekasihnya.


“Tidak, nak. Biarkan kami berbicara dengan orang tuamu. Memutuskan sebelah pihak seperti ini bukan budaya kita sebagai orang Indonesia. Segala sesuatunya harus dibicarakan dengan baik-baik. Maafkan mama kalian, dia ini sudah tidak sabaran untuk melihat Kai menikah.” Tutur Hugo dengan tangan melingkar di bahu istrinya dengan pandangan mata disipitkan ke arah Kai dan Shadow.


“Mungkin kita perlu mengundang orang tua Shadow kesini, Hugo Chan. Sekalian berwisata di Berlin.” Kila sangat antusias, sesuatu hal biasa di


keluarga Navarro.


Hugo menatap ke arah Shadow “Harusnya kami yang ke Hollywood.”


“Ayah, ibu dan papa sangat senang jika di undang ke Berlin. Bahkan pernah mengatakan jika ingin tinggal di sini.” Sahut Shadow memandang kepada pria paruh baya bersurai sama dengan kekasihnya. Walau dari  segi wajah tidak memiliki sedikitpun kemiripan.


“Shadow, apakah kau sepenuhnya setuju untuk tinggal di Berlin bukan terpaksa karena Kai. Tau sendiri kan, seperti apa kekasihmu itu.” ucap


Kila


“Mama, Kai tidak memaksa Shaw. Dia sangat setuju untuk tinggal di Berlin.” Kai menyahut membela diri.


“Mama tidak bertanya kepadamu, Kai Navarro.” Kila menatap kesal yang bercanda kepada anak laki-lakinya.


Shadow terkekeh kecil mendengar calon ibu mertuanya saling bersahutan sengit dengan Kai.


“Kau akan terbiasa dengan pertengkaran mamamu dan Kai, nak. Mereka seperti ini sejak Kai beranjak dewasa.” Hugo mengingatkan Shadow, agar kelak tidak kaget melihat Kila dan Kai yang bertingkah seperti air dan minyak, Tom


and Jerry.


“Aku suka melihatnya, pa. Di rumah kami yang seperti ini adalah ayah dan papa. Mereka hampir tiap hari berdebat dan saling cemburu. Lucunya di saat yang sama kami sadar jika papa dan ayah saling mengasihi. Mama dan Kai juga pasti saling mencintai.”


“Tentu saja, nak. Kai adalah anak mama yang paling terakhir menikah. Dulu kami sempat bingung, karena dia tidak tertarik menjalin hubungan serius dengan wanita. Mama dan papa pikir tadinya Kai baru akan menikah di umur 30 tahun. Ternyata dia menunggu dirimu, Shaw.” Kata Kila dengan lembut.


Shadow menoleh menatap Kai, kekasihnya melakukan hal sama. Keduanya pun saling melemparkan senyuman manis.


“Hugo Chan, aku juga mau seperti itu.” Kila merenggut ke arah Hugo, suaminya terkekeh.


“Nanti, bukan di depan anak-anak.”


Kila menghela napas kecewa dan kembali memandang ke depan.


“Mama itu sangar tapi sangat manja sama papa.” Kai berbisik namun tetap saja terdengar oleh kedua orang tuanya. Kila hanya bisa tertawa


lalu menggamit tangan suaminya.


Shadow terpaku melihat kemesraan Kila dan Hugo, seutas senyuman lebar dengan harapan yang besar tertanam di relung hati. Kelak ia

__ADS_1


ingin menua seperti orang tua kekasihnya. Walau ketiga orang tuanya dipenuhi kebahagiaan, tetap saja defenisi rumah tangga seutuhnya adalah satu istri, satu suami di bawah satu atap.


“Ma, pa. Dulu Shadow bercita-cita ingin jadi sutradara seperti ayah dan papa. Sebuah impian yang besar, walau dengan gampang saya bisa


mengerjakan proyek film berdana besar karena campur tangan kedua ayah. Kemudian Kai datang, merubah pola pikir Shadow. Dulunya tidak pernah


terpikirkan akan tinggal jauh dari L.A tapi sekarang sudah goyah, nantinya Shadow


akan terus berada di samping Kai, ma.” ungkap jujur Shadow sambil menyebut nama kekasihnya.


Pria bersurai putih mengulum senyum “Benar bukan apa yang Kai bilang tadi. Shaw, sekarang itu milikku, ma. Jadi kemanapun kami akan terus


bersama.”


Kila mencebik “Seperti bukan anak kita yang bicara yah, Hugo Chan. Dulu mama sampai capek menasehati, lihat sekarang perbedaannya.”


Hugo tertawa mendengar celetukan Kila “Tapi kalian belum menikah, baiknya diresmikan dulu dan tinggal bersama. Kei, setelah ini kita


hubungi orang tua Shadow.” ujarnya dengan bijak dan tenang.



Kai mengikuti langkah panjang Shadow yang tergesa ke arah halaman belakang mansion orang tuanya. Usai pembicaraan yang tidak terlalu


serius karena masih sempat melemparkan gurauan, papa dan mamanya berpamitan untuk


menghubungi orang tua kekasihnya. Yang terpenting adalah kesamaan hati dan mendengar keseriusan Kai dan Shadow untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


“Hahhhh.” Shadow mengembuskan napas panjang, kedua tangannya merentang dengan lebar.


Kai berdiri di sebelah kekasihnya yang hari ini juga


mengenakan pakaian kasual. T-shirt putih dipadu dengan jogger senada, Kai kebalikannya. Seperti biasanya, ia mengenakan pakaian serba hitam.


“Ada apa, baby girl ?”


Manik coklat dengan kelopak cekung nan indah menatap dengan bibirnya cemberut.


“Aku mengambil udara, tadi dalam aku tidak bernapas. Kenapa menikah itu susah, sayang?” Shadow bergerak merapatkan tubuhnya, Kai pun


“Di mana susahnya?” sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Shadow, kekasihnya sontak mendongak dengan wajah berbinar bahagia.


“Berbicara di depan orang tua, seperti di sidang. Sementara lihat kekasihku ini yang sangat santai, sungguh tidak adil.” Sungut Shadow. Kai memegang dua sisi bahu Shadow.


“Kau yang terlalu tegang, Shaw. Papa dan mama itu tidak pernah memakan menantunya, malah penuh cinta kepada Axel dan Adrien. Kau belum


bertemu dengan mereka, aku ingatkan jangan jatuh cinta kepada Adrien dan Axel.” Ucap Kai khawatir, mengingat suami saudari memiliki wajah yang tampan.


Shadow mengangguk “Aku sudah melihat foto mereka, di sosial media. Betul yang kau katakan, sayang, jika mereka itu sangat tampan tapi percayalah kau lebih tampan, Kai Navarro. Apalagi Kak Isla sangat cantik seperti mama, Sky seperti


malaikat. Semua mempunyai kelebihan masing-masing. Bagiku hanya ada kau di hati, memilihmu di antara pria yang mencoba dekat bukan hal perkara mudah. Bukan soal wajah yang tampan, tapi siapa yang paling kuat merobohkan hatiku, siapa yang lebih pintar hingga bisa merubah pola pikirku. Cara pendekatanmu juga unik, bukan seperti pria umumnya.”


“Kau menyanjungku, Shaw.” Kai menarik tubuh Shadow masuk ke dalam pelukannya.


Udara Berlin sangat segar di siang hari itu, terlebih di halaman bak permadani hijau terhampar lebar sejauh mata memandang.


“Aku serius, sayang.” Shadow mendongak menatap lautan mengerjap indah kepadanya.


“Tuhan, satukan kami.” Kai menurunkan kepala untuk menyatukan bibir, mencecap manis bibir kekasihnya.


“Kita sudah sejauh ini, Shaw. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku jika ada kekuatan besar memisahkan kita. Jujur aku tidak


membutuhkan sebuah pernikahan mewah, baby girl. Tapi kita juga harus menghargai keinginan orang tua. Apa kita menikah saja dulu baru menggelar pesta?” sambung Kai


Shadow mendengus geli, tangannya menangkup wajah kekasihnya. Bibir Kai terlalu seksi ketika cemberut, merajuk seperti anak kecil.


“Kenapa kau terdengar ketakutan, sayang? Aku ada di sini, berada di dekatmu. Bahkan telah jauh dari ketiga orang tuaku. Aku tidak seseorang di kota ini dan juga tidak memiliki musuh.”


Wajah Kai menegang, rahangnya mengeras “Bukan kau, Shaw. Tapi aku. Semakin mendekat jalan kita untuk bersama, perlahan aku mulai mengenal rasa takut. Sebelum ini aku tidak pernah tahu perasaan seperti ini. Semalam aku tidak bisa tidur dengan lelap, dan terbangun mendapati di sebelahku kosong. Aku baru sadar jika kau tidur di kamar tamu. Aku ingin pindah ke kamarmu, Shaw. Tapi tidak ingin membangunkanmu.”


“Kau tidak beralasan agar kita tidur bersama, tuan mafia?”


Kai menggelengkan kepala “Tidak, baby girl. Aku tidak pernah berbohong kepadamu. Ini juga alasannya aku mengajakmu ke Berlin, agar kau bisa berada dalam pengawasanku.” Kesahnya diikuti helaan napas dalam. Shadow memerhatikan setiap perubahan mimik kekasihnya.

__ADS_1


Ya, Kai terlihat khawatir. Ada kekuatan besar teredam berdampingan dengan rasa ketakutan yang terselubung. Shadow belum sepenuhnya bisa memahami dalam kerisauan hati kekasihnya.


“Apakah ada musuh yang mengancam?”


Kai kembali menggeleng “Tidak ada. Tapi aku takut jika diriku yang sangat bahagia ini menjadi lengah dan tidak fokus, Shaw.”


“Apakah lebih mudah jika kita berpisah, hingga kau tidak merasakan takut lagi, Kai Navarro.” pancing Shadow mencoba menyelami lebih


dalam isi hati pria bersurai putih itu.


Kai mendengus dengan bibir tersenyum “Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, baby girl. Diriku sepenuhnya masih sangat waras, tidak mungkin aku melakukan itu. Aku takut sesuatu terjadi di antara kita, tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu. Tuhan, tidak! Aku bisa gila hanya dengan memikirkan kau tidak lagi berada dalam pelukanku, Shaw.”


“Kau sangat mencintaiku.” Jantung Shadow berdenyut indah.


Kembali biru lautan itu menatapnya dengan lekat “Aku sangat mencintaimu, Shaw. Sejak pertama kau telah mengambil tempat di hatiku. Sungguh ini terdengar gila, tapi semua yang terjadi di antara kita adalah di luar rencanaku. Seolah ada kekuatan yang menyeretku untuk mengejarmu di belakang resort. Aku selalu ingin melihatmu, mendengar gerutuanmu. Sekarang aku sangat


ingin menikahimu, Shaw.”


Shadow tergelak tawa “Aku tidak menyangka seorang pimpinan mafia seperti ini ketika sedang jatuh cinta. Tapi kau sungguh menggemaskan,


sayang.”


Bukannya merespon perkataan Shadow, Kai malah makin mengeratkan pelukan, bibirnya jatuh di puncak kepala kekasihnya.


“Aku lemah di hadapanmu, Shaw.”


Shadow mengamini dalam hati. Sungguh ia pun begitu, lemah di dalam pelukan Kai. Menyerah penuh dalam kekuasaan pria yang memiliki keteguhan hati yang sangat besar, Kai yang dominan dan seorang perayu bisa meluluhkan hati hingga sekarang ia berada di halaman luas seperti perkebunan itu, bedanya tidak ada tanaman sayur


ataupun buah  melainkan hanya rumput hijau


terpotong rapi beserta pohon-pohon palem yang tumbuh tinggi. Sebuah kediaman yang sangat nyaman, bahkan sekarang Shadow telah melupakan bentuk apartemennya di


Hollywood.



Shadow membuka mata dan langsung memandang wajah kekasihnya yang masih terlelap dalam tidurnya. Akhirnya mereka kembali tidur bersama, yang dilakukan tanpa sepengetahuan Hugo dan Kila. Adalah Kai yang mengendap di kamarnya pada pukul 11 malam, sengaja pria itu meminta untuk tidak mengunci


kamar. Licik dan lucu, melihat Kai berkeringat dingin karena takut ketahuan dengan Kila.


Kai pernah mengatakan kepada Shadow, jika dia sangat takut kepada mamanya. Dan kemarin pimpinan Black Panther itu mengutarakan ketakutan terbarunya, yakni kehilangan Shadow.


Sambil tersenyum Shadow, menyusuri wajah Kai dengan telunjuknya.


“Alpheratz Kai Navarro, tuan mafia –ku. Aku janji tidak akan kemana-mana, kau juga tidak pernah kehilangan diriku. Kita akan seperti ini, membuka


mata di pagi hari dan saling melihat wajah yang masih terlelap. Sayang, kau tahu tidak jika kau itu sangat tampan, bulu matamu sangat lentik ketika saling mengatup seperti ini. Tulang pipimu melembut, bibirmu yang sangat indah dan


menggoda iman.” Ucapan Shadow terhenti ketika melihat manik biru itu terbuka indah.


“Jika menggoda iman, tolong cium aku.” Suara rendah serak menggetarkan dada Shadow.


Shadow bernapas dengan susah payah, sepagi ini jantungnya sudah olahraga berat.


“Selamat pagi, tuan lautan. Apakah hari ini kau ingin menikah dengan seorang gadis bernama bayangan?”


###




alo kesayangan💕,


aku bersusah payah menulis chapter ini


hampir 2hari baru selesai


feelnya terbang jauh..


hatiku ke Mersia wkwkk


love,

__ADS_1


D😘


__ADS_2