CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Give Up


__ADS_3

Shadow menguatkan diri ketika melihat orang-orang berjatuhan di depannya, kelompok Black Panther sangat kejam merobohkan para anggota kartel, bahkan kekasih jangkungnya terlihat sangat lincah menghabis para lawannya. Setiap kali pria-pria anggota kartel Cabrera meregang nyawa, saat itu pula perut Shadow melilit bergolak mual, beragam sensasi hadir sejak ia menginjak mansion mewah tersebut. Antara emosi, belas kasih, juga jijik melihat percikan darah dari tubuh dan mulut pria yang tadinya meneriakkan sumpah serapah.


Black Panther berbeda, mereka tidak banyak bicara hanya sedikit aksi namun mematikan. Shadow memperhatikan hanya berapa gerakan dan para pria lawannya yang mengenakan pakaian pantai dan formal berakhir dengan cara sangat mengenaskan.


Kai mempercayakan keamanan Shadow di tangan Conley, sementara sang pemimpin bertarung bersama anggota Black Panther lainnya.


“Tuhan!” pekik Shadow ketika tubuh besar lawan Conley jatuh tidak jauh dari kakinya.


Conley menoleh dengan seringaian meledek ke arah Shadow, pria berkulit gelap itu tidak memiliki perasaan, menganggap nyawa seseorang hanya sebatang ranting tua yang semestinya layak untuk di pangkas.


“Kau ingin mencobanya, nyonya boss?”


Mata Shadow nanar, menggelengkan kepala sangat kuat hingga surai ikalnya ikut terkibas dengan paksa “Tidak!” jawabnya dengan lantang.


Conley terbahak tawa dan kembali mengarahkan pandangan ke depan. Halaman mansion mewah itu kini penuh dengan tubuh-tubuh bersimbah darah dan tak bernyawa.


“Tetaplah di belakangku, nyonya boss.” Ujar Conley sambil melangkahi satu mayat untuk masuk ke dalam mansion, menyusul sang pemimpin.


Tentu saja aku di belakangmu ! teriak Shadow menimpali dalam hati.


Shadow tidak ingin mati konyol di Kolombia karena kenekatannya yang ikut bersama gerombolan Black Panther. Rasa penasaran dan ketakutan akan terjadi sesuatu kepada Kai membuatnyamerengek agar permintaan tersebut dituruti.


Sayang sekali ketakutannya hanya sebuah hal yang sia-sia. Di mansion itu Shadow melihat sisi lain dari seorang Kai Navarro, sisi yang membuatnya merinding sekujur tubuh.


Dulu Kai pernah berkata jika ia adalah malaikat yang menempuh jalan kegelapan. Itu anggapan dari Kai, bagi Shadow kekasihnya tak lebih dari dewa kematian yang memiliki raga manusia. Orang-orang Juan Pablo Cabrera remuk di tangan


Kai, wajahnya tidak menyiratkan sedikitpun kehidupan untuk lawannya. Datar dengan sorot


mata berkilat dan tajam, sungguh sangat menakutkan.


Sangat terbalik dengan sikap keseharian Kai kepada Shadow, bagai langit dan magma Bumi yang panas. Di dalam tubuh jangkung terdapat


material yang sangat panas, dan ketika itu keluar sangat membahayakan kehidupan orang sekitarnya. Tapi sepertinya orang-orang Black Panther paham dengan pembawaan sang pemimpin, hanya Shadow saja yang menjadi orang bodoh di tengah pertarungan dua kelompok mafia.


“Bunuh dia!” teriak satu orang mengenakan kemeja berwarna biru laut, mengacungkan senjata tajam ke arah Conley. Pengawal Kai itu berbalik


melihat Shadow.


“Bersembunyilah di belakang kursi.” Perintahnya menunjuk kearah deretan kursi-kursi mewah di ruangan tamu tebak Shadow, mansion itu terlalu besar hingga ia melupakan berapa banyak ruangan yang telah dilewatinya. Rupanya Conley mengambil jalan lain di dalam mansion hingga di ruangan ini mereka kedapatan oleh gerombolan Cabrera.


Sekitar ada 5 orang bertubuh tinggi besar dengan senjata tajam di tangan menghadang Conley.


Sekujur tubuh Shadow bereaksi, bulu kuduknya meremang bergetar, dadanya terbelah-belah menjadi ribuan keping. Dengan sisa tenaga ia menuruti perintah Conley, meringkuk mendekap tubuhnya di belakang kursi.


Teriakan gaduh kesakitan menghujam jantung Shadow di persembunyian. Air mata berjatuhan, tidak pernah dalam sejarah hidup Shadow, ia menangis karena rasa takut, detik berjalan seperti sejam. Namun semakin mendekatkannya


kepada kematian.


“Hahaha.. cantik di sini rupanya kau bersembunyi.” Suara tawa dan bariton mengagetkan Shadow, kepalanya naik menatap pria kolombia yang sedang menyeringai nakal.


Tuhan !


Shadow gemetar hebat, dengan cepat ia mengambil glock pemberian Kai  yang ia taruh di sebelah tubuhnya. Dengan pengetahuan minim Shadow menaikkan glock dengan tangan yang


sama sekali tidak bisa fokus kepada pria bertinggi sekitar 175 cm itu.


“Mendekat aku menarik pelatuknya!” ancam Shadow


Bukannya takut malah pria itu tergelak tawa sinis “Coba tarik, aku rela mati di tangan wanita secantik dirimu. Selama pesta aku tidak pernah


melihatmu, apakah mereka menculikmu?” sekilas pria berkumis mengalihkan ke arah suara baku hantam yang tidak bisa Shadow lihat.


“Apa pedulimu?” tantang Shadow belajar meredam ketakutannya.


“Hahaha.. rupanya kau punya nyali juga, gadis cantik. Aku sangat menyukai wanita sepertimu. Malu-malu tapi mau, tapi nanti juga kita bisa bersatu, di ranjang.” Pria itu semakin mendekat, jarak mereka hanya tersisa lima meter saja.


Shadow beringsut mundur setiap kali pria itu melangkah. Sangat jelas telunjuknya berada di pelatuk glock, tapi entah mengapa ia tidak


mempunyai kekuatan untuk menariknya.


“Siapa yang membawamu kesini?” tanya pria itu mempercepat langkahnya hingga berada kurang semeter dari tempat Shadow yang tubuhnya bergetar.


Jantung Shadow meledak ketika pria itu menundukkan badan dengan tangan terulur hendak menyentuh wajah mangsanya.


“Aku!” teriakan lantang di ujung ruangan membuat pria itu menghentikan pengerakan tangan dan menolehkan kepala.


Seakan hanya menunggu pria itu melihat asal suara, dan tak lama kemudian suara dentuman membuat Shadow memekik keras.


Dor !


Satu peluru bersarang tepat di tengah alis penyerang Shadow, tubuh pria itu roboh tepat di depan kakinya.


“Akhhhh!” Shadow menutup bibirnya melihat darah muncrat dari depan dan belakang kepala pria yang berapa menit lalu masih sempa menggodainya. Tak dinyana itu adalah momen terakhir hidupnya di dunia. Dan pria bersurai putih adalah dewa kematian yang bertugas memisahkan roh dari raganya.


“Shaw!” Kai berteriak pelan dan ringan, seringan tubuhnya yang berpindah tempat tanpa Shadow sadari.


Tangis Shadow meledak keras ketika Kai mengambil Glock dari tangannya seraya mendekap dengan erat.


“Aku menyerah.” Ucap Shadow histeris kemudian suara tangisan gadis itu hilang bersamaan dengan tubuhnya lunglai dalam pelukan Kai.

__ADS_1


Pria bersurai putih itu mendengus geli lalu menoleh ke arah para pengawalnya.


“Istriku pingsan.” Ucapnya kemudian tertawa.


Akio, William, dan Yoruban menahan tawa sambil menggelengkan kepala dengan serempak.


“Semua beres?” tanya Kai kepada ketiga pengawalnya seraya mengangkat tubuh Shadow.


Tiga pasang jempol mengacung kompak “Beres boss.”


Kai menganggukkan kepala dengan senyuman menyeringai “Kalau begitu saatnya kita pulang, teman.”



Tubuh Shadow tersentak seakan rohnya kembali bersatu dengan tubuh. Mimpi buruk –lah yang membangunkan, entah berapa lama ia tertidur atau mungkin juga pingsan, hingga tempat Shadow berada sekarang sangat jauh berbeda


dari ruang tamu mansion milik Juan Pablo.


Sebuah kamar tidak begitu luas tapi menampung tempat tidur empuk dan  beberapa perabotan lainnya. Shadow akhirnya paham ia berada di mana setelah melihat jendela kecil berderetan di sebelah kanannya.


Ia berada di private jet kekasihnya, mengetahui hal itu Shadow melompat turun dari tempat tidur dengan hati yang gembira. Badai kartel Cabrera telah berlalu, dan syukurnya ia masih hidup tanpa berkurang sedikitpun.



“Kai.” panggil Shadow ketika berpindah ruangan di dalam pesawat mewah itu. Bukan hanya orang yang dipanggilnya berbalik, tepatnya 5 pria lainnya menatap ke arah Shadow.


“Rupanya kau sudah bangun.” Kai menepuk sofa di sebelahnya agar Shadow ikut bergabung. William dan Akio masing-masing duduk di single sofa, sementara 3 lainnya bersama dengan Kai.


Shadow mencebik ketika mendapati lima pengawal Kai tertawa kecil akan kehadirannya. Ia sangat lemah di hadapan para pria pencabut nyawa tersebut.


“Selamat datang kembali, nyonya boss.” Ledek Conley yang berani mencandai Shadow di depan Kai. Bukannya membela kekasihnya, Kai tergelak


tawa seraya mengacak surai ikal Shadow.


Shadow mendengus “Terima kasih.” Ucapnya lalu rebah di dada Kai.


Kemudian suasana kembali hening, para pria hebat itu hanya saling berpandangan. Hanya Akio yang sibuk dengan ponselnya.


Shadow sedikit bingung dengan suasana hening itu. Semestinya usai misi di Kolombia mereka menampakkan wajah semringah dengan minuman beralkohol di tangan.


“Boss, Carlos Valdes benar ada di Panama.” Kata Aiko memecah keheningan. Pria bermata sipit itu menaikkan kepala melepaskan pandangan dari


ponsel canggihnya.


Kai mengangguk kepala tanda mengerti “Berarti kita sudah benar dengan terbang menuju ke Panama.” Jawabnya melirik Shadow yang sedanflg menatapnya.


Kai tersenyum melihat wajah kekasihnya yang mendadak datar “Ada apa, Shaw?” tanyanya


Tangan ramping dan panjang Kai mengusap pipi Shadow.


“Kami mendapatkan misi tambahan. Adik tiri Juan Pablo yang bernama Carlos Valdes sedang bersembunyi di Panama. Harga nyawanya setara


dengan Juan, kakaknya. Sebenarnya Black Panther jarang menerima pekerjaan tambahan, berhubung tidak susah jadi ya aku terima saja.” tutur Kai enteng.


Jantung Shadow kembali berdegup kencang, baru saja ia bernapas lega karena lepas dari misi berbahaya di Kolombia. Sekarang ia


dihadapkan dengan satu misi baru, kartel lain.


“Kai.” lirih Shadow meremas kemeja hitam kekasihnya.


Kai tersenyum miring meraih kepala Shadow untuk masuk dalam dekapannya.


“Seorang istri mafia harus tangguh, Shaw. Bukan begitu, teman-teman?” tanya sang pemimpin Black Panther mengedarkan pandangan kepada


anak buahnya.


“Ya, boss!” sorak serentak kelima menjawab kemudian terbahak tawa yang membuat dada Shadow memanas.


Gadis berusia 25 tahun itu menegapkan badan “Bagi kalian ini mudah, tapi sangat susah untukku. Kalian membunuh orang-orang itu seperti


melihat kawanan semut di makanan. Tanpa perasaan, dan aku tidak bisa dalam sekejap mata


berada di level yang sama dengan kalian.” Kata Shadow tegas yang di buat-buat. Sebenarnya


nyalinya ciut jika harus menghadapi satu pertarungan kartel lagi dalam rentang waktu yang tak berjauhan.


“Nyonya boss juga nanti akan terbiasa.” William menyahut sambil menganggukkan kepalanya.


Shadow mendengus lalu cemberut “Terbiasa apa? Melihat kalian membunuh seperti itu?”


Kai terkekeh mendengarkan perdebatan Shadow dengan anggota pengawal khususnya.


“Bukan hanya itu, nyonya boss. Tapi kami menunggu sampai nyonya boss bisa menarik pelatuk dengan tangan yang tidak gemetar. Jika menghadapi penjahat seperti itu, tidak usah menggunakan isi kepala langsung saja di


eksekusi. Dalam sebuah misi, kami di larang menggunakan hati.” Conley menuturkan aturan Black Panther.


“Hati? Bukannya kalian tidak memiliki itu?” sahut Shadow sengit.


Kembali suara tawa menggelegar di kabin pesawat pribadi pemilik Alpheratz Hotel and Resort itu. Bahkan di dalam kabin yang ber AC,

__ADS_1


menetes bulir keringat di pelipis Shadow.


“Siapa bilang kami tidak memiliki hati, nyonya boss? Buktinya kami sangat mencintai pemimpin Black Panther.” celetuk Heron


Kai tertawa kecil “Memang itu sudah seharusnya, teman.”


Shadow melipat kedua tangannya di dada lalu menyandarkan punggung di sofa, tidak ada rona memerah yang indah di wajahnya. Kesal iya


karena candaan yang dilontarkan para pria-pria bawahan kekasihnya.


“Kita tidak akan mendarat di kota Panama, tapi langsung menuju Provinsi Bocas del Toro, boss.” Akio mengambil alih percakapan.


“Baiklah.” Kai melirik jam tangannya lalu menatap sang kekasih yang sedang cemberut dengan manik berkabut ringan.


Sejam kemudian yang diisi dengan susunan rencana menyerang Carlos Valdes bersamaan dengan itu pesawat pribadi mendarat di Isla Colo Airport.


Shadow yang memilih tidak bersuara selama sisa penerbangan bergegas turun dari pesawat. Bocas del Toro adalah provinsi di Panama, sangat wajar jika bandara yang dimiliki juga tidak besar. Begitu Shadow menyimpulkan ketika melihat bangunan berlantai satu dibingkai dengan jendela kaca yang besar.


Kai mengejar gadis yang mengenakan sweater kasmir berwarna gold yang dipadu dengan hot pants hitam, dan kaki jenjangnya dibalut sneaker


putih.


“Baby girl, tunggu aku.” Ucap Kai menangkap jemari kekasihnya.


Wajah si gadis itu cemberut dan tegang “Aku membencimu, tuan mafia!” gerutunya mempercepat langkahnya namun tetap menarik tangan Kai bersamaan melewati pintu keluar bandara.


“Itu mobilnya.” Kai menunjuk dua mobil Range Rover berwarna hitam terparkir di lobby bandara.


Tanpa bersuara Shadow naik di bangku tengah penumpang, sementara Kai memilih duduk di depan. Rupanya Heron yang menjadi sopir mobil mereka, dan sisanya bisa ditebak berada di mobil satunya.


Merasa bosan dan mungkin pikiran Shadow sedikit santai usai penuh ketegangan selama di pesawat, ia pun mendapati dirinya mengantuk berat. Dan semuanya kembali gelap dengan tubuh di tarik pelan masuk ke dalam alam mimpi.


Belaian lembut di pipi Shadow membuatnya terbangun.


“Shaw, kita sudah sampai.” Wajah Kai yang tampan dengan manik biru menari adalah pemandangan indah bagi Shadow ketika ia membuka mata


“Sampai ?” Shadow menoleh ke samping kiri dan kanan, tampak resort di tengah pohon kelapa yang menjulang tinggi dan beberapa pohon hijau


lainnya.


Kai menarik lembut tangan Shadow untuk turun dari mobil.


Sebuah resort berlantai lantai 2 dengan dengan cat berwarna cream, nampak sederhana, nyaman dan juga asri.


Shadow pasrah dalam tuntunan jemari Kai mengarahkan masuk ke dalam bangunan resort, mengabaikan kelima anggota khusus Black Panther yang sibuk bersenda gurau sambil menurunkan tas pakaian mereka.


Manik Shadow melebar ketika berada di lantai dua, tepatnya di depan jendela yang terbuka, sebuah pemandangan laut biru luas membentang seperti warna bola mata kekasihnya.


“Apakah kau suka, Shaw?” tanya Kai lembut seraya mendekap tubuh Shadow dari belakang.


Segala risau dan beban di hati Shadow menguap bersamaan dengan kehangatan pelukan kekasihnya beserta angin laut yang terserap masuk ke dalam paru-parunya.


“Sangat.” Jawab Shadow riang.


Kai berdeham lalu mengecup puncak kepala Shadow “Carlos Valdes adalah pria yang hendak merayumu di mansion, pria yang mati di tanganku,


Shaw. Kami berbohong jika ada misi tambahan, baby girl. Kita ke sini hanya untuk beristirahat dan melepaskan penat. Jadi, tidak ada misi menjatuhkan kartel dalam waktu dekat. Mungkin untuk sementara kita akan absen hingga mentalmu siap untuk itu lagi.”


Tubuh Shadow bergetar, air matanya jatuh lalu berbalik memeluk erat tubuh Kai.


“Ya betul, aku membencimu Kai Navarro.”


Pria bersurai putih itu menangkup pipi Shadow, sepasang manik biru menatap dengan lembut.


“Aku justru sangat mencintaimu, Ophelia Shadow Farubun.”


###




alo kesayangan💕,


bagaimana long weekendnya?


Jogja macet banget


aku mencoba keluar tadi sore dan jalan penuh dengan kendaraan plat luar..


aku tidak menyukainya tapi yah pariwisata kudu jalan.


semoga mereka yang datang bisa menjaga kesehatan..


kalian juga..


jika tidak penting,


tetap di rumah saja.

__ADS_1


love,


D😘


__ADS_2