CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
War Is Coming


__ADS_3

Kai berjalan berderap diikuti Conley, Heron dan Yoruban. Tak lupa ada Shadow di belakang setengah langkah dari pria berwajah datar dan dingin. Rupanya tempat yang dikatakan William lewat telepon telah di jaga oleh anggota Black Panther dari luar.


Semua terdiam ketika melihat Kai, hanya sebuah anggukan kepala memberi hormat dan membiarkan sang pemimpin masuk ke dalam bangunan yang berada jauh dari pemukiman.


“Boss.” Ucap William ketika melihat rombongan Kai masuk, pria berkewarganegaraan Jerman itu berjalan mendekat.


Perhatian Kai justru mengarah kepada dua pria Asia yang duduk saling dengan terikat tali. Wajah kedua pria itu tidak menunjukkan ketakutan, malah Kai bisa melihat mereka mengulas sebuah senyuman tipis.


Sungguh aneh.


“Apa benar mereka tidak mau bicara?” tanya Kai datar kepada William.


“Tidak, walau sudah dipukuli.” Sahut Wiliam menunjuk ke arah dua pria yang memakai pakaian berwarna sama dengan seantero orang di dalam bangunan kecuali rombongan Kai yang baru datang.


“Baik, aku mengerti.” Kai bergerak pelan ke arah dua pria Asia tersebut. Shadow  tetap berada di samping teman baiknya, siapa lagi jika bukan Conley. Sementara Heron dan Yoruban berjalan di belakang sang pemimpin.


Kai menatap dua pria itu dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan, tidak ada satupun yang bisa menebak isi hati pria bersurai putih itu kecuali dirinya sendiri.


“Kalian masih belum mau bicara?” tanya Kai seraya berjongkok di depan pria tawanan Black Panther.


Dua orang bermata sipit itu mengangguk pelan sambil menantang tatapan Kai yang tajam.


“Kalian bernyali juga rupanya.” Kai menyindir pria-pria di depannya sambil tersenyum.


Kai berdiri namun masih berada di tempatnya “Tolong buka ikatannya.”


Yoruban dan William bergerak cepat ketika mendengar perkataan Kai, tak berapa lama ikatan kuat itu terlepas. Kai mendengus kasar ketika melihat dua pria Asia itu kini gemetar berhadapan dengannya.


“Jepang.” Tangan kanan Kai mencengkeram wajah pria Jepang itu dengan kuat-kuat. Kini Kai melihat perubahan ekspresi pria yang tadinya masih bisa tersenyum dengan tipis.


“Siapa namamu?” tanya Kai makin mengeraskan cengkeramannya, terdengar bunyi krek dan entah itu apa.


Pria Jepang satunya menggigil ketakutan, sama hal dengan temannya. Suara Kai berbisik seperti bagian tajam sebuah pedang samurai, mengiris ego dan keberanian kedua pria tersebut.


“To..Moshita.” jawab pria bermata sipit bertinggi badan sekitar 173 cm itu. Kai sedikit menoleh ke arah samping kanan kepada pria satunya.


“Mizhushima.” Masih dengan suara ketakutan Tomoshita menyebut nama temannya.


Kai menghela napas sambil menganggukkan kepala, ia pun melepaskan cengkeraman tangannya kemudian menatap bergantian Tomoshita dan Mizhushima. Kai bisa menebak jika mereka adalah bukan anggota Yakuza sembarangan, kedua pria itu memiliki bentuk fisik seperti Aiko. hanya saja, Aiko lebih tinggi 10 centimeter di atas Tomoshita dan Mizhushima.


“Di mana Aiko?” tanya Kai mengingat satu  pengawal belum menampakkan diri. Andai saja Akio ada di tempat itu, Tomoshita dan Mizhushima tidak akan bisa berdiri tegap, tubuh mereka pasti telah patah di hajar Aiko yang terkenal paling tidak sabaran di antara kelima pengawal Kai.


“Dia sudah dikabari, Boss. Akio sedang dalam perjalanan menuju ke sini,” Jawab William sambil berjalan menghampiri Kai. Ia kemudian menatap ke arah Kai dan sang pemimpin Black Panther itu mengangguk sekali.


“Ada apa?” tanya Kai.


“Mereka kita apakan, Boss?” tanya balik William.


Kai melipat tangan di dada sambil berjalan selangkah dan menurunkan tubuhnya yang tinggi untuk berbicara dengan kedua pria Jepang itu.


“Aku hanya akan bertanya sekali.” Kata Kai beradu pandangan dengan Yomoshita dan Mizhushima.


Pria bertubuh tinggi dengan surainya berkilauan putih melangkah mundur seraya menegakkan badannya.


“Kalian berasal dari klan mana? Dan aku tahu jika target misimu adalah tunanganku. Tidak mungkin si cantik di belakangku itu memiliki seorang musuhd dari kalangan Yakuza,bh bukan? Pasti hanya menjalankan perintah dari pimpinan klan kalian. Aku hanya ingin tahu siapa yang berani memilih Shadow sebagai target, bukan berhadapan langsung denganku.” Ucap Kai dengan tenang. Tidak ada emosi terpancar dari wajah bahkan bahasa sangat sopan.


Kehadiran Shadow membawa dampak positif bagi Kai, ia sekarang lebih bisa menahan diri dan tidak terjebak pada emosi sesaat. Otaknya bekerja dengan baik dibandingkan nafsu untuk menyelesaikan musuh-musuhnya.


Yomoshita dan Mizhushima saling berpandangan dengan tubuh yang gemetar. Keduanya tidak ada satupun berani menjawab.


Kai tertawa dengan nada yang aneh, seperti suara iblis menggoda sekaligus hendak menghabisi nyawa. Mungkin itu adalah defenisi sebuah tawa yang mematikan.


“Kalian bimbang? Antara aku dan pemimpin kalian? Sungguh kasihan, jika tidak bisa menentukan sebuah pilihan.” Ucap Kai seraya tersenyum. Ia sempat menoleh dan memandang seorang gadis yang air mukanya mengeras. Pun Shadow tidak membalas senyuman Kai.


“Boss.” Bisik William.


Kai berdeham dan kembali mengarahkan pendangan kepada dua tawanannya yang mendadak bisu.


“Mereka tidak akan pernah mau bicara. Sejak kami tangkap, sekalipun tidak mau bersuara. Jadi, ini hal sia-sia menanyai mereka, Boss.” Ujar William.


Kai diam, manik biru lautannya menatap lurus ke dua pria Jepang di depannya yang masih bingung menentukan pilihan.


Suara langkah ringan membuat Kai menoleh, ia melihat sosok Aiko berlari dengan kaki hanya menjejakkan kaki sesaat di lantai, bak bangau yang terbang dengan ringannya.


Melihat itu, Kai menyingkir setelah tahu makna sorot mata seorang Akio.


“Buang-buang waktu saja.” Teriak Akio sambil melayangkan jurus mematikan kepada kedua Yomoshita dan Mizhushima. Seakan permintaan kedua pria Jepang itu dikabulkan, mereka justru berdiri tegap ketika malaikat maut datang menjemput. Tidak ada perlawanan dari tawanan itu selain pasrah, sesaat kemudian tubuh mereka berjatuhan menghantam lantai dengan keras.


Kai menggelengkan kepala melihat aksi Akio yang dengan mudahnya menghabisi nyawa dua orang tersebut.

__ADS_1


“Aku sudah tahu dari Willy, Boss. Jika mereka tidak mau bicara.” Kata Akio sambil melap tangannya pada bagian samping celana.


“Tapi kita bisa mengirimnya ke Rozendaal.” Balas Kai berdecak masih menggeleng pelan. Pun ia tidak memarahi Akio akan perbuatan sadis tanpa persetujuan sebagai pemimpin. Kai tahu jika Heron, Yoruban terlebih kepada William juga


sudah sangat tidak sabaran untuk melakukan hal yang sama Akio perbuat.


“Itu hanya menambah banyak penghuni Rozendaal, Boss. Aku yakin mereka ini tidak akan bertahan lama berada di sana, Yakuza sangat dibenci oleh semua kubu di Rozendaal. Dan jalan lainnya, sangat tidak mungkin, bukan?


Melepaskan mereka kemudian berakhir dengan melakukan harakiri demi kesetiaan kepada klannya.” Jelas Yoruban dengan panjang.


“Oke, baiklah.” Kai mengakui dengan fakta yang terjadi di pulau pengasingan para penjahat dan mafia yang ditaklukkan oleh organisasi Black Panther.


“Aku akan memajang foto mereka di situs bawah tanah tentang dua orang ini. Cepat atau lambat pasti akan sampai ke kelompok mereka.” Kata William dengan mantap. Seakan berjanji semua akan selesai tanpa ada kendala.


“Mereka yang terlebih dahulu mengibarkan bendera perang, Boss. Mereka menanam mereka menuai. Dan kami siap sepenuhnya untuk meladeni mereka, siapapun itu.” Heron menegaskan diikuti anggukan kepala oleh Akio dan Yoruban.


Kai pun ikut mengangguk-angguk.


“Aku serahkan semua kepada kalian. Walau ini bukan misi pertama berhadapan dengan kelompok Yakuza, kalian harus tetap berhati-hati. Jangan ada celah sedikitpun yang membuat kita berada di posisi yang salah. Mengerti?” Kai


mengingatkan para pengawalnya.


“Mengerti, Boss.” Heron, William, Akio dan Yoruban serempak menjawab.


Kai berpikir tidak ada yang perlu dijelaskan lebih mendalam kepada para pengawal sekaligus temannya itu. Mereka semua adalah mafia profesional bahkan terkadang ada melewati batas kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh


Akio sesaat tadi.


Ketika sang pemimpin mafia membalikkan badan, ia melihat Shadow berjongkok memeluk tubuhnya. Conley melakukan hal yang sama dengan sorot mata khawatir.


“Ada apa?” Kai bergegas dengan langkah lebar mendekati kekasihnya.


Conley mendongak memandang Kai “Sepertinya Nyonya Boss sedang syok melihat perbuatan Akio.” Jawabnya dengan lirih.


“Shaw.” Kai memanggil kekasihnya dengan lembut, balasannya sepasang manik coklat sayu ketika memandang ke arahnya.


“Kau bisa berdiri?” tanya Kai memegang jemari Shadow.


Gadis cantik berpakaian serba hitam pun kemudian mengangguk lemah.


“Aku butuh udara segar.” Cicitnya seraya menguatkan genggaman tangannya pada jemari Kai.


“Sungguh kau tidak apa-apa, Baby Girl?” Kai kembali bertanya memastikan keadaan kekasihnya. Kedua pasangan itu berjalan sambil merangkul menuju pintu keluar.


“Aku baik-baik saja.” Shadow melepaskan diri dari Kai, ia berjalan lebih cepat ke arah rerumputan. Hanya berselang berapa detik kemudian, Shadow memuntahkan makanannya.


“Shaw!” Kai terpekik sambil bergegas mendekati kekasihnya.


“Aku tidak apa-apa, Sayang.” Shadow menahan Kai agar tidak mendekat.


Kai memberikan kode agar membawakan air mineral dan tissue kepada Conley yang ikut bersama dengan mereka. Rupanya isyarat Kai sudah dibaca oleh anggota Black Panther yang sedang berjaga di luar bangunan. Seorang pria


berusia pertengahan 20 tahun berlari membawakan barang permintaan sang pemimpin.


“Minumlah.” Kai menyodorkan botol mineral ke arah Shadow.


Kai terlebih dulu melap bibir kekasihnya dengan tissue, Shadow yang pucat pasrah dalam kendali besar si pria tinggi bersurai putih.


“Lebih baik kita pulang, Shaw.” Ucap Kai sambil memerhatikan Shadow menghabiskan isi botol mineralnya.


“Sepertinya iya.” Jawab singkat si gadis berambut ikal. Tanpa merasa segan dengan kondisinya yang baru saja muntah, Shadow memeluk Kai.


“Maafkan aku, Shaw. Kau harus melihat kejadian tadi. Sepertinya dirimu belum siap dengan perbuatan kejam anak-anak. Salahku membawamu ikut ke tempat ini.” kata Kai khawatir dengan keadaan kekasihnya. Ia masih bisa


merasakan getaran tubuh Shadow dalam rengkuhannya.


“Tapi aku seorang mafia juga, mau tidak mau aku harus siap dengan kejadian seperti ini.” gumam Shadow dalam dada Kai.


“Kau belum kuat mentalnya, Shaw. Kau perlu banyak berlatih sebelum terjun di lapangan.” Balas Kai sambil mengecup puncak kepala Shadow. Ia berusaha menenangkan kekasihnya yang berusaha tegar dan kuat padahal Kai sangat tahu jika Shadow sedang tidak berdaya seperti ketika mereka di Kolombia. Namun setidaknya Shadow tidak jatuh pingsan lagi, ya hanya memuntahkan isi perutnya.


“Aku ingin kembali ke Hollywood, Tuan Mafia. Aku rindu ayah, ibu dan papa.” kata Shadow lemah.


Kai menghela napas panjang seraya mengusap punggung Shadow dengan pelan “Setelah syutingmu berakhir, Baby Girl.”


Kai mengeratkan pelukannya dengan pandangan mengarah kepada pepohonan yang mengelilingi tempat itu. Dalam benak Kai sedikit khawatir, dan juga bersiap akan badai besar yang mungkin saja akan menghantam Black Panther juga hubungannya dengan Shadow.


Ia harus bersiap, karena siapapun itu lawannya pasti sangat mengenal Shadow. Dan Shadow memiliki orang-orang yang dicintainya, hal besar yang perlu Kai jaga keselamatan hidupnya.


__ADS_1


Seorang pria berahang tegas dengan mata sipit menatap layar ponselnya dengan hati memanas. Ia melihat unggahan foto dua anak buahnya di situs bawah tanah dalam keadaan tak bernyawa, mereka mati dengan cara mengenaskan. Tanpa ada keterangan, namun ia sangat tahu siapa orang di balik kekejaman itu.


“Baiklah, sepertinya kita akan main dengan cara terbuka.” Ujar si pria bermata sipit dengan sengit.


Ia kemudian bersandar pada sofa berwarna hitam dengan tetap memandang gambar Yomoshita dan Mizhushima dengan geram. Kedua orang itu adalah orang kepercayaannya dan telah ikut bersama dengan klan Ishihara lebih dari 15 tahun lamanya.


Pria berusia 37 tahun itu berdeham keras, bersamaan dengan dendam membara tumbuh menguat di dadanya. Di dalam ruangan VVIP rumah bernyanyi terdapat 5 orang lainnya yang terdiam, tak berani bersuara. Di luar sana


terdengar sayup-sayup musik dan suara fals menyanyikan lagu Jepang lama dan baru.


“Dia ada di mana?” tanyanya kepada pria di sampingnya. Usia mereka tidak jauh beda, menandakan jika keduanya berjuang bersama untuk berada di level tertinggi. Sebuah kelompok Yakuza paling terkuat di Negeri Matahari Terbit.


“Yorkshire, Inggris.” Seorang menyahut dengan tegas.


Mengesampingkan suara hingar bingar di luar, keadaan di dalam ruangan itu sungguh sangat mencekam. Tidak ada yang berani bersuara kecuali ketika pria berpakaian hitam melontarkan sebuah pertanyaan.


Pria berhidung tinggi dengan rahang tegang terdiam.


“Aku akan kesana.” Ucapnya dingin.


“Tuan Kazue.” Pria di sebelahnya menyela.


“Apa?” Sepasang mata elang menajam, suaranya mendesis. Ia sungguh tidak suka jika seseorang melakukan hal yang terjadi barusan.


“Kita berhadapan dengan Black Panther.”


Kazue menggeram seraya berdiri.


“Diam kau, Haruki! Mereka berani membunuh dua orang kepercayaanku. Yomoshita dan Mizhushima.”


“Black Panther, Tuan Kazue. Tolong pikirkan kembali, jika ini hanya berdasarkan atas permintaan kekasih anda, ada baiknya kita menahan diri.” Pria bernama Haruki kembali mengingatkan Kazue Ishihara. Pria berbadan jangkung dengan otot padat itu merupakan generasi kelima klan Ishihara.


Kazue berdecih kemudian meludah sembarangan.


“Kau sepertinya tidak menyukai kekasihku. Apakah semua yang berada di dalam ruangan ini?” teriak marah Kazue seraya menatap satu persatu orang-orang yang kini memilih tertunduk diam.


“Tapi, Tuan Kazue.” Pria yang duduk di ujung sofa bagian kanan berani bersuara.


Kazue terbahak tawa sebentar, tanpa aba-aba ia mengambil pistol di punggungnya.


DOR !


Suara menggema, nyaring diikuti bau bubuk mesiu, pekikan terakhir dari pria yang duduk di sebelah kanan sofa. Sebuah peluru bersarang tepat di kepalanya dan itu pula mengakhiri hidup singkatnya di dunia.


“Siapapun di sini berani menentang atau membahas lagi tentang keputusanku untuk menghabisi Black Panther, akan berakhir seperti dia.” kata Kazue dengan nada marah. Sedikitpun penyesalan tidak hadir di hatinya, bahkan ia tahu jika orang yang barusan mati itu adalah salah satu orang kepercayaan Kazue.


Bau anyir menguar, dendam membara, hati sakit, pula logika turun oleh penguasaan sebuah nafsu yang tentunya telah salah jalan. Kai yang berada di Eropa tidak tahu dengan kemarahan Kazue, pun sang pemimpin klan Ishihara tidak tahu jika ia berhadapan dengan seorang Kai Navarro yang memiliki lima perisai yang sangat kuat.


###




Kazue Ishihara



alo kesayangan💕,


aku mengunggah Kai hari ini, dan merupakan salam perpisahan kita.. karena author kaleng-kaleng ini memutuskan untuk liburan akhir tahun. Yeayyy, aku butuh refreshing dan jauh dr kejaran Mangatoon😂


so, kita akan bertemu tahun depan😙


semoga kalian yang mempunyai rencana liburan atau party taon baru, bisa mengikuti protokol kesehatan.


jika kalian ingin membaca novelku😝, skip dulu bertandang di sini, ribuan author di MT bisa kalian kunjungi karyanya.


jadi, selamat tanggal 30 Desember 2020..


selamat tinggal tahun yang berat dan penuh perjuangan.


sampai bertemu di tahun 2021 yang gemilang dan bersinar.


kesehatan, pekerjaan, rejeki, dan cinta yang hebat menanti kita di tahun 2021..


sayang kalian semua, peluk satu-satu via online..


D😘

__ADS_1


__ADS_2