CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Wanita Tangguh


__ADS_3

“Sepertinya aku tidak cocok menjadi seorang mafia.” Shadow bergumam ketika Kai memeriksa lukanya.


“Menyerah?” Kai terkekeh menatap wajah sendu kekasihnya. Ia menangkap jika trauma masih membayangi Shadow.


“Sepertinya. Aku hanya membahayakan kalian. Untungnya mama di Berlin tidak tahu tentang hal ini.”


Kai memasangkan plester di bahu Shadow dengan perlahan, kemudian menatap sambil mengulas senyuman simpul. “Mama tahu, dan sangat marah.”


Shadow tersentak kaget. “Serius mama tahu?”


“Ya, papa dan mama tahu. Di antara kelima pengawalku, ada satu orang yang menjadi mata-mata mama. Aku tidak tahu siapa orangnya, karena tidak ada satupun yang mau mengaku. Dia sangat setia kepada mama, dan setiap pergerakanku dilaporkan kepada mama. Kecuali misi terakhir, mama baru tahu ketika kau berhasil diselamatkan.” Terang Kai.


“Tuhan.” erang Shadow seraya menangkup wajahnya. “Terus?”


Kai tersenyum menatap lembut kekasihnya. “Besok papa dan mama akan ke sini.”


“Apakah mama tahu jika kita tinggal di rumah ayah?” Shadow mengerjap sambil memikirkan hal yang harus ia siapkan. Terutama mental.


“Tahu. Aku sudah bicara dengan mama, Shaw. Mama ingin kita kembali ke Berlin dan tinggal di sana. Menurut mama, Berlin lebih aman dibandingkan Hollywood. Bagaimana menurutmu, Shaw?” Bujuk Kai sambil memegang lengan kekasihnya.


Sejenak Shadow berpikir, menelaah perkataan Kai yang banyak benarnya. Memasuki hari ketiga pasca penculikannya, Shadow kerap kali terbangun saat tengah malam oleh mimpi yang sama. Shadow selalu memimpikan Nana dan Kazue, kejadian keduanya mati saling berpelukan tidak bisa hilang begitu saja dalam ingatannya.


Shadow tidak menceritakan hal tersebut kepada Kai, baginya itu hal lumrah melihat satu kejadian traumatis dan membawanya ke alam bawah sadar. Shadow tidur sendiri, ia tidak bersama dengan


Kai hingga pria –nya tidak mengetahui mimpi-mimpi buruk tersebut. Mungkin juga Shadow ketika sadar, ia masih memikirkan isi kepala Nana yang berani memperalat Kazue dan mengakibatkan nasib keduanya berakhir dengan tragis.


Di mata Shadow, Nana memiliki kecantikan Asia yang unik. Wajah cantik, mata sipit tajam, rambut hitam panjang, tubuh yang indah. Tidak terlalu kurus dan juga tidak berisi, Nana sempurna. Andai saja wanita itu mau bersyukur dengan apa yang dimilikinya, tentu saja Nana tidak akan berakhir dengan nasib yang mengenaskan.


Sayang, semua telah usai. Orang yang selamat hanya bisa mengenang sebelum akhirnya melupakan. Orang-orang datang dan pergi dengan berbagai alasan, ada yang hadir hanya untuk merusak tatanan hidup dan ada pula yang memperbaikinya. Untuk Kazue dan Nana, kehadiran keduanya banyak memberikan pelajaran berharga bagi Shadow.


Dari tragedi yang dialaminya, Shadow juga


dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah terhadap Alexandre. Aktor tampan itu mengalahkan kebahagian orang tua Shadow ketika ia kembali ditemukan. Berkali-kali Alexandre menelepon mengucapkan permintaan maaf sekaligus rasa syukur karena Shadow selamat dari insiden yang melibatkan dirinya.


Alexandre mendadak sangat peduli, ya sebelum kejadian tersebut sang aktor sering mengirimkan pesan namun tidak di gubris oleh Shadow.


"Mama dan papa akan menginap di rumah Sky." kata Kai membuat Shadow tersadar dari lamunan.


Manik coklat Shadow mengerjap indah. "Aku juga ingin bertemu dengan Serenade, Lake dan Forest. Apakah kita bisa membawa mereka berjalan-jalan?" tanyanya penuh harap.


Kai mengacak surai hitam Shadow sambil tertawa kecil. "Bahumu belum sembuh, dan Forest bukan tipe bayi yang betah di keretanya, Shaw. Bagaimana dengan Nada saja, lebih gampang diatur dan anak itu sangat lucu."


"Ya, aku mau." sahut Shadow dengan riang. Walau jarang bertemu dengan saudara kembar kekasihnya, namun Kai acap kali membagikan foto dan video anak-anak Sky. Mereka anak yang lucu dan menggemaskan.


Walau mereka telah sampai pada pembahasan pesta pernikahan, namun Kai belum pernah memgungkit tentang kehidupan setelah itu, kecuali mereka akan tinggal di Berlin. Pun Shadow membiarkan semuanya mengalir apa adanya, terlebih Kai masih memikirkan Black Panther. Hal yang melekat bak jantung yang memompa dan aliran darah yang mengalir di dalam tubuh pria itu.


"Bagaimana mama bisa sangat tangguh? Sementara aku baru menghadapi orang-orang seperti Nana sudah menghancurkan segalanya. Aku tidak berani memikirkan misi Black Panther berikutnya. Tidak bisa membayangkan lagi dirimu yang datang dengan tangan kosong menghadapi puluhan Yakuza. Aku mau mati, Kai. Hanya dengan memikirkan hal seperti itu." kata Shadow sembari menangkup wajah Kai, tenggelam pada birunya manik pria itu.


Kai bergumam pendek, bola matanya naik ke atas menandakan jika ia sedang berpikir, menganalisa pertanyaan Shadow.


"Mama mengenal proses dari nol, bukan seperti dirimu. Sejak kecil kakek menempa mental mama, berteman dengan papa, membangun Black Panther secara bersama-sama. Hmm.. Mama hebat, ya dia sangat hebat."


Shadow mengiyakan sambil mengangguk kecil. Dari bahasa tubuh pun ia sudah menilai jika seorang Aurora Kila adalah pribadi yang sangat tangguh. Wanita yang tidak pernah terlihat lemah di mata Shadow.


"Kau sangat mengagumi mama, Tuan Mafia."


"Tentu. Mama adalah detak jantungku, Shaw." Kai dengan cepat menimpali.


"Tentu mama adalah detak jantungmu, sayang. Yang menjadi pertanyaan bagiku, kenapa kau tidak mencari wanita setangguh mama?" tanya Shadow tiba-tiba. Ia sedang berkecil hati dengan kemampuan dirinya, merasa lemah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Shadow bukan apa-apa jika disandingkan dengan detak jantung Kai.


"Tidak ada yang setangguh mama, Shaw." sahutnya sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Bagaimana jika kau menemukan wanita seperti itu, akankah kau meninggalkanku ?


Shadow menggelengkan kepala, ketika monolognya usai.


Kai menghela napas panjang. "Aku tidak pernah memikirkan akan jatuh cinta dengan gadis seperti dirimu, Shaw. Semua terjadi sangat natural, Tuhan yang mengatur pertemuan kita berdua, membuka hatiku ketika melihatmu meraung di tepi pantai. Ah itu sangat lucu."


Shadow tertawa. "Kau jahat. Mengatakan wajahku seperti hantu hanya karena maskaraku luntur. Aku tidak pernah menemui seorang pria yang berbicara seleluasa dirimu."


Kai mengedikkan bahu kemudian menarik jemari tangan Shadow untuk berdiri. Suara teriakan Ricchi memanggil mereka untuk makan siang membuatnya bergerak sebelum disusul oleh pria paruh baya itu.


"Jujur jika aku malah tidak pernah berbicara seperti itu sebelumnya, Shaw. Aku hanya bersikap terbuka dengan Kak Ibo dan Sky." ujar Kai sambil memeluk pinggang Shadow.


"Ya, ini artinya kita berjodoh. Kau tahu bukan, jika hal tersebut sesuatu yang hadir tidak bisa diprediksi. Mengalir seperti air, berhembus layaknya angin." celetuk Kai yang membuat Shadow terbahak tawa keras.


"Please, stop it. Kau sangat tidak cocok menjadi seorang pujangga, Tuan Mafia. Tetaplah berada di jalurmu." tawa Shadow begitu hidup hingga Kai bisa menghela napas lega. Rupanya tragedi Nana tidak membuat Shadow terpuruk dan tertekan, kekasihnya tampak baik-baik saja.


...


Shadow sedikit canggung ketika menginjakkan kaki di rumah Sky, suasana rumah saudara kembar kekasihnya sangat ramai. Semua anggota keluarga Kai tampaknya sedang berkumpul di Hollywood. Shadow pun akhirnya bisa berbincang dengan Isla dan Adrien. Kai memiliki kakak yang hebat, dan mereka sangat terbuka menerima Shadow.


Sebenarnya Shadow sempat tidak percaya diri, berhadapan dengan kakak kekasihnya. Ia membandingkan perbedaan isi saldo rekeningnya dengan pasangan tersebut yang jika diibaratkan seperti Gunung Everest dan Shadow hanya sebuah gundukan setinggi 10 centimeter.


"Kau harus lebih bersabar menghadapi Kai, Shaw. Dia bungsu karena Sky lebih cepat menikah. Terkadang pola pikirnya masih belum dewasa. Semoga kau bisa memahaminya." tutur Isla dengan bijak seraya mengelus lengan Shadow akrab.


"Terima kasih, Kak Ibo." sahut Shadow dengan tulus. Ia pun tidak bisa memungkiri jika pria yang berdiri tak jauh dari Isla memiliki wajah yang sangat tampan. Adrien sesekali bertukar senyum kepadanya, pria itu tidak banyak bicara. Shadow juga dipastikan tidak bisa menimpali perkataa seseorang yang berada di lima besar orang terkaya dunia.


"Aku ingin meminjammu." Sebuah rangkulan di punggung membuat Shadow menoleh dengan tiba-tiba. Rupanya Kila, mama dari kekasihnya tanpa permisi dan begitu intim menariknya keluar dari ruang tengah tanpa mempedulikan Isla dan orang-orang.


"Akhirnya mama lepas dari pasukan kecil itu." tawa Isla semarak ketika berjalan menuju kolam renang.


"Tapi mama suka, memiliki cucu yang banyak. Isla 4 dan Sky 3, kalian berencana ingin punya anak berapa?" sambung Kila yang membuat Shadow tersentak kaget dengan pertanyaan wanita yang paling dicintai kekasihnya.


"Kami belum membicarakannya, ma." jawab Shadow lemah.


"Hanya di sini jauh dari keramaian orang-orang, nak. Mama mengajakmu kesini bukan untuk membahas jumlah anak kalian kelak. Tapi, tentang insiden kemarin." kata Kila sambil duduk di sebelah Shadow. Raut wajah wanita yang melahirkan Kai kini tampak lebih serius, Shadow pun ikut tegang menanti kata mutiara dari Kila.


Kila menarik napas panjang sambil menatap wajah Shadow dengan lekat-lekat, sebuah tatapan yang menelanjangi hal-hal yang ingin ia sembunyikan dari semua orang, termasuk Kai sendiri.


"Kau bermimpi buruk, ya sayang? Kejadian itu menghantuimu?" terka Kila dengan kata-kata bak panah tajam menancap tepat di jantungnya.


Shadow tertunduk dengan manik coklat yang berkabut. Kini jemari tangannya digenggam erat oleh Kila, sepasang tangan yang menyalurkan kekuatan pada jiwa lemah milik Shadow.


"Itu hal biasa, anakku." Kila mengusap pipi Shadow sambil mengangkat kepala yang tadinya masih menunduk.


"Ada perasaan ingin menyerah, ma. Shaw, merasa jika dunia mafia bukanlah jalan hidupku. Ini terlalu sadis, melihat orang-orang mati dengan gampangnya. Tapi di sisi lain, saya sangat mencintai Kai." bisik Shadow menatap wajah Kila yang penuh kasih dan juga sangat kuat.


"Mama mengerti, sayang. Tapi jangan pernah pemikiran seperti itu mengacaukan perasaanmu terhadap Kai. Dia anak yang sangat kuat, tapi segala hal yang berkaitan denganmu, Kai sangatlah lemah. Mama seperti Kai, hanya papa kalian yang membuat mama lemah. Mama yakin, jika kau mengambil pelajaran penting dari kejadian kemarin pastinya tidak akan terjadi kembali. Kau dekat dengan Conley, bukan?"


Shadow mengangguk kuat. "Ya, ma. Semua pengawal Kai sangat hebat, termasuk Conley."


Kila tersenyum sambil memperbaiki rambut Shadow yang jatuh di pipi. Shadow tersipu akan kasih sayang wanita yang melahirkan kekasihnya. Kila memberikan perhatian layaknya Shadow adalah anak kandungnya sendiri.


"Ketika Kai sedang sibuk, tetaplah berada di dekat Conley. Dia pria yang hebat, dirimu aman bersama dengannya." ucapan Kila terdengar sebuah perintah, mau tidak mau Shadow mengangguk tanpa ada paksaan.


"Saya tidak setangguh mama. Bahkan sangat lemah." Aku Shadow mencurahkan isi hatinya.


Kila mengangguk memahami perasaan Shadow. "Seorang Shadow Faburun tidak perlu tangguh seperti mama, atau seperti hebatnya kelima pengawal Kai. Shadow hanya perlu menemani Kai, memberikan kekuatan, ide-ide, menekan gejolak amarah anak mama itu. Mencurahkan perhatian dan cinta, karena hanya itu yang dibutuhkan Kai. Shadow tangguh sesuai dengan porsinya. Walau seperti itu, anak gadis mama yang cantik ini, tetap seorang Black Panther. Darah yang mengalir di tubuhmu, menyatu dengan ribuan anggota Black Panther lainnya. Tidak ada kekuatan yang bisa membuat kalian berpisah. Ini adalah perjanjian hidup sampai mati. Shadow akan menemani Kai hingga penerus berikutnya lahir."


Shadow tersedu mendengarkan perkataan Kila, keraguannya hilang dalam sesaat, bayang-bayang Nana dan Kazue lenyap tak berbekas di hati dan pikirannya. Shadow sangat terpesona dengan kekuatan Kila, hanya berupa kata-kata dan semangat hidupnya kini berkobar sangat hebat.


"Saya ingin kuat seperti mama dan penuh kasih seperti papa." Ucap Shadow lalu memeluk Kila.

__ADS_1


"Kita punya banyak waktu, sayang. Kalian akan ikut dengan mama kembali ke Berlin. Setidaknya jika kalian ada di Berlin, mama dan papa mempunyai alasan untuk tidak perlu hadir di pesta teman-teman kami yang sangat membosankan itu." seloroh Kila lalu terbahak tawa.


"Terima kasih, ma. Sekarang Shadow lebih lega."


"Seorang ibu pasti tahu isi hati semua anak-anaknya, bukan?" Kila mengakhiri pelukan dengan sebuah kecupan di pipi Shadow.


"Mama yang terbaik." puji Shadow terkagum-kagum kepada Kila.


Kila tersenyum manis dan mencubit pipi Shadow. "Di antara menantu mama, kau adalah yang teristimewa, sayang. Kenapa? Karena dirimu menjadi pendamping seorang pemimpin organisasi mafia yang sangat besar. Kai membutuhkanmu untuk tetap kuat berada di dekatnya, dan mama papa akan terus mendukung kalian. Jadi, semangat!" seru Kila bak anak remaja berusia belasan tahun. Shadow tertawa akan hiburan cuma-cuma dari mama kekasihnya.


"Semangat!" Shadow membalas seruan Kila sambil menaikkan kedua kepalan tangannya di udara.


"Ini baru anakku." kembali cubitan lembut mendarat si pipi Shadow. Kila, wanita yang tidak nampak jika sepantaran dengan Dee, ibu kandung Shadow, kini berlari dengan lincah ketika mendengar panggilan dari pria bersurai putih. Bukan Kai, melainkan Hugo Chan.


Tak lama berselang, Kai menyusul setelah Kila kembali masuk ke dalam rumah.


"Mama bicara apa saja?" Tanya Kai merangkul hati-hati Shadow yang bahunya masih dalam masa pemulihan.


Shadow mengerling jahil pada wajah tampan dan bibir sensual pimpinan Black Panther tersebut.


"Hmm.. Mama menanyakan, berapa anak yang kelak akan kita punyai?"


"Serius?" Kai membelalakkan matanya sekaligus bibirnya indah itu menganga.


Shadow terkekeh dan giliran dirinya -lah mencubit pipi kekasihnya dengan gemas.


"Aku mengatakan kepada mama, jika kita ingin anak yang banyak. Mungkin seperti Kak Ibo yang hanya perlu mengandung sebanyak dua kali." ujarnya kemudian berdiri dengan tergesa-gesa.


"Hei, Shaw. Kapan?" teriak Kai mengejar kekasihnya yang tertawa riang.


"Kapan apa?" tanya Shadow mengerutkan alisnya. Kini lengannya digamit oleh Kai seakan tidak hari esok untuk mereka berdua.


"Memulai memberikan cucu untuk mama? Nanti malam?" hamparan lautan biru tersebut seperti air bah yang terhempas membasahi setiap relung hati Shadow.


"Papa... Kai mesum!" teriak Shadow yang kemudian bibirnya dibekap oleh Kai.


"Tidak, aku cuma bercanda." Kai menggelengkan kepala dengan kuat, wajah tampan itu mendadak seputih surainya.


Shadow tergelak tawa keras, kemudian memeluk kekasihnya dengan erat-erat.


"Kamu sangat menggemaskan, Tuan Mafia. Dan aku sangat mencintaimu."


###




alo kesayangan💕,


more action? or more romance?


atau dua-duanya..


menurut kalian, ada gak cinta sekuat ini di dunia hitam?


aku pikir gak ada..


[ada dobel up untuk chapter ini]


love,

__ADS_1


D😘


__ADS_2