
Sorak sorai menyambut ketiga pengawal Kai di Rozendaal. William, Yoruban dan Conley diutus oleh sang pemimpin untuk memastikan keamanan tempat pengasingan para musuh yang berhasil ditaklukkan oleh Black Panther. Situasi di Rozendaal memanas, pemimpin kubu selatan Jose akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di tengah
perkelahian. Nasibnya mengenaskan, dan tidak sedikit korban berjatuhan di tempat pengasingan tersebut. Tercatat 17 orang meninggal, dan puluhan lainnya terluka parah, hal ini merupakan rekor buruk bagi Rozendaal.
Kai murka, namun sang pemimpin masih menunggu persetujuan Kila untuk terbang ke Denmark. Kai sempat berkeinginan untuk memindahkan dua kubu tersebut, yang berarti Black Panther akan mencari sebuah tempat baru. Untung Kai mendengar saran kelima pengawalnya.
“Hei kau yang hitam!” teriak salah satu tawanan dari dalam sel.
Sontak Conley menoleh dengan wajahnya yang garang. Ia melihat sosok tinggi besar berdiri di balik jeruji besi. Tampak pria itu tidak gentar, walau Conley telah menantang dengan sorot mata tajam.
“Bukan kau, bodoh! Temanmu yang jel*k itu, hitam satunya!” pria itu kembali berteriak. Yoruban menghentikan langkah kaki dan mendesis.
Yoruban berbalik melangkahkan kakinya mendekati ruangan sel yang hanya berisi dua orang tawanan. Sebuah persyaratan wajib yang berlaku di Rozendaal bahwa isi sel maksimal berisikan dua orang tawanan. Bahkan banyak yang hanya terisi oleh satu orang, terlebih tawanan seperti Jose Colunga menempati selnya seorang diri. Hal itu sengaja diterapkan agar para pemimpin kubu tidak leluasa merencanakan sebuah pemberontakan.
Alih-alih pemberontakan, malah mereka saling berperang antar kubu yang berakhir dengan mengenaskan.
“Hmmm.” Yoruban menggeram di depan sel. Ia mengadu mata dengan pria yang sepertinya sedang mencari gara-gara.
Pria itu membalas dengan decihan yang seolah-olah merendahkan Yoruban. “Aku tidak menyukaimu, aku tidak pernah menyukai manusia yang berkulit hitam seperti dirimu. Taruhan kau pasti meregang nyawa di tanganku, lepaskan aku dan kita berkelahi one by one.” Ujarnya memprovokasi Yoruban.
William tertawa sambil menepuk bahu temannya. “Sudahlah, jangan diladeni.”
Yoruban tersenyum sembari memicingkan manik hitamnya. “Mungkin lain kali, teman. Dan kau berakhir di bawah hitungan 10. Sayangnya, aku masih memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan. Badanmu besar, nyalimu besar tapi kekuatanmu masih jauh di bawahku.” Tuturnya dengan santai.
Pria berkulit putih dan memanjangkan cambangnya nampak semakin berang. “Hanya karena aku di dalam sel, kau bebas mengarang kalimat tadi, Brengs**!”
“Diamlah!” hardik Conley dengan suara menggema sepanjang blok sel timur.
William mendengus pelan seraya menarik tangan Conley dan Yoruban untuk menjauh dan kembali berjalan menuju tujuan utama mereka, sementara pria Rusia itu terus menggonggong dengan sumpah serapah yang tak hentinya disesumbarkan.
“Dia gila.” Kata Conley ketika berhasil melewati blok sel timur menuju bangunan kantor yang berada di sisi utara.
“Rozendaal membuat orang-orang semakin beringas dan mungkin gila. Sangat sedikit yang bertobat mencari jalan Tuhan.” Yoruban menimpali dan Willian hanya berdeham mengamini perkataan temannya.
“Bukan mungkin, tapi sudah. Mereka yang berada di sini tanpa kepastian nasib, akankah mereka bisa keluar atau mati hingga ajal menjemput. Andai saja Akio yang dilecehkan kulit beserta mata sipitnya…” Conley kemudian terkekeh membayangkan amarah Akio yang sangat cekatan menghabisi pria Rusia tadi hanya dalam beberapa kedipan mata.
“Bersyukurlah Akio bersama dengan boss kita. Pria itu masih bisa merasakan tembok sel malam ini.” sahut William.
Ketiga kemudian terdiam. Orang-orang kepercayaan Rozendaal berbaris kiri dan kanan menyambut kedatangan mereka.
“Apakah kita harus mendamaikan kubu itu?” saran Yoruban melirik kedua temannya.
“Tidak. Boss tidak meminta kita untuk itu. Boss hanya meminta untuk melihat situasi pasca bentrokan, dan semua korban dikuburkan dengan layak di pulau ini.” sahut William.
Para pengawal Kai memiliki posisi khusus di antara semua anggota Black Panther, kedatangan ketiganya cukup membuat para penjaga Rozendaal terlihat tegang. Terlebih William, Yoruban dan Conley membawa misi khusus sang pemimpin.
“Aku tidak pernah membawa pria itu masuk ke sini. Si Rusia tadi.” gumam Yoruban. “Andai kata kita yang menaklukkannya, tentu saja dia tidak berani menantangku.”
“Sudahlah. Jika kau masih memikirkan pria itu, baiknya nanti kau menelepon boss kita dan meminta agar merelakan nyawa satu tawanan Rezendaal untuk berakhir di tanganmu. Sepertinya kau tidak terima dikatakan “hitam”. Bukankah begitu, Will?” tanya Conley dan tertawa.
William mendengus sambil menaikkan bahunya. “Jangan terpengaruh, kita harus mengecek sampai akar-akarnya selama berada di sini. Aku mencium hal yang tidak enak, maksudku mungkin saja ada pembelot yang ingin membuat Rozendaal kacau. Ya, aku hanya berpikir seperti itu. Segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.”
Mendengar perkataan William, kedua pria berkulit gelap itu kemudian memasang wibawa dan wajah seriusnya. Mereka tidak ingin terlihat santai di depan para penjaga tempat pengasingan yang notabene ratusan penjahat kelas atas tinggal di Rozendaal. Jika setengah saja dari warga Rozendaal berhasil kabur, itu berarti keselamatan sang pemimpin berada di ujung tanduk.
Tidak ada yang menginginkan itu, terlebih pesta pernikahan Kai dengan Shadow hanya terhitung puluhan hari lagi.
__ADS_1
…
“Aku ingin berbulan madu di Tahiti.” Pinta Shadow sambil menggeser tablet canggihnya di tangan. Kai menaikkan ujung bibirnya seraya mengelus surai hitam tunangannya.
“Tahiti? Kenapa harus Tahiti, Shaw?”
Shadow mengulum senyuman dan memajang wajah merajuknya. “Pantai. Aku sangat suka berjemur, tapi aku tidak tertarik untuk kembali ke Indonesia.” Putusnya.
“Kenapa tidak? Bukannya itu bagus, Shaw. Mengulang saat pertama kita bertemu di Hauptsitz, view -nya juga sangat indah di president suite.” Timpal Kai sambil memerhatikan Shadow menggeser foto-foto pantai indah di Tahiti.
Shadow mendelik dengan bibir yang cemberut. “Dan juga gratis, bukan? Kenapa kau sangat pelit kepada istrimu, Tuan Mafia? Bagaimana jika aku yang membayar bulan madu kita ke Tahiti?” tanyanya dengan gusar.
Kai tergelak tawa hingga suaranya memenuhi ruang keluarga mansion milik kedua orang tuanya. “Tidak, bukan begitu, Nyonya Boss. Aku hanya berpikir mungkin saja kau ingin kembali ke tempat kita memulai segalanya. Bali termasuk kota dunia yang indah untuk berbulan madu, jangan remehkan itu.”
“Iya aku tahu. Tapi aku belum mau mengakhiri kisahku denganmu. Perjalanan kita baru mulai, dan mama juga telah memberikan ijin untuk berbulan madu kemanapun aku mau. Kasihanilah aku yang telah lama terkurung di dalam mansion seluas 4 kali lapangan bola dan hanya berpenghuni 4 orang.”
Kai semakin gemas dengan rajukan Shadow, ia mengecup bibir tipis dan sensual milik kekasihnya. “Sebentar lagi rumah ini akan penuh dengan orang. Dan ya, aku ingin membawamu ke rumah kita.”
“Kapan?” sergah Shadow menegakkan bahunya.
Kai berdeham panjang sambil melirik layar ponselnya. “Aku menunggu ketiga orang yang ke Rozendaal memberiku kabar.”
Shadow mendesah lemah seraya kembali menyusut pada punggung sofa dan mencari resort terbaik di Tahiti.
“Apakah kau sangat ingin ke Tahiti, Shaw?” bujuk Kai menyatukan kepalanya dengan kepala Shadow. Ia pun ikut mengeser foto-foto yang menampilkan hunian sementara di pulau indah tersebut.
Shadow tersenyum dengan desisan suara senang sambil menganggukkan kepala. “Sebuah resort terpencil, hanya ada kita dan laut. Bisakah kau mengabulkannya, Kai?”
“Tentu saja, Shaw. Apapun kau minta aku pasti mengabulkannya. Hanya berlibur di Tahiti, bukan? Kau tidak memintaku menjadi pemimpin suku di sana, Shaw?” gurau Kai membuat Shadow terbahak tawa.
Kai tersanjung kemudian mengecup punggung jemari Shadow, ia memandang wajah gadis cantik itu yang memerah bukan karena sinar matahari. Ya, tentu saja karena cinta yang tidak pernah luntur dari hati kekasihnya.
“Aku mencintaimu, Shaw. Kau adalah wanita terbaik yang hadir di hidupku. Hingga aku yang dahulu tidak yakin akan cinta, meremehkan perasaan itu kini menjadi pemujanya. Dan juga menjadi pemujamu. Di luar para penggemarmu yang mendoakan hal-hal buruk.”
“Hussttt.. Senang tidak senang kau dengan mereka, di masa depan kita akan banyak bertemu dengan Alec dan London. Ini duniaku, Tuan Mafia. Kita harus saling memahami pilihan hidup masing-masing. Seperti kau yang tidak bisa melepaskan Black Panther, begitupun aku dengan dunia yang membesarkan nama keluarga kami.” Tutur Shadow dengan bijak.
Ia tidak tahu jika tak jauh dari tempatnya berbicara, kedua orang tua kekasihnya mendengar semua percakapan mereka.
Hugo menatap istrinya sambil tersenyum. Ia pun menarik tangan istrinya untuk keluar dari rumah melewati pintu belakang.
“Shadow adalah gadis terhebat untuk anakku.” Kata Kila dengan bangga. Ia mendongak menatap wajah Hugo yang juga berseri-seri. Senyuman manis dan mata sipitnya membentuk sebuah garis indah yang melengkung ke bawah.
“Dia tangguh dan bisa mengarahkan Kai. Hampir sama denganmu, Kei.” Sahut Hugo dengan nada suara lembutnya.
Kedua orang tua itu sepakat dan saling mengangguk. “Apakah kau ingin ikut berlibur di Tahiti, Hugo Chan? Sepertinya kita belum pernah kesana.”
Hugo terlihat gembira dengan ucapan sang istri. “Aku ingin membawa semua cucu-cucuku.”
Kila menimpalinya dengan rangkulan kuat di badan suaminya. “Kai dan Shadow tidak akan memprotes keinginan kita, selama tempat menginap tidak berada di resort yang sama. Aku pun tidak ingin mengganggu anak-anakku yang sedang berbulan madu, bukankah kita dulu hanya berdua di Adonara.”
Hugo tertunduk dan mengulas sebuah senyuman yang sangat manis. “Andai bisa mengulang waktu, aku ingin kita kembali di masa itu, Kei. Masa-masa indah usia muda kita berdua.”
Sepasang paruh baya itu terkekeh bahagia dan berjalan pelan menuju halaman belakang mansion. “Semoga Kai dan Shadow memulai hidupnya dengan penuh sukacita. Tidak terjal, seperti yang pernah kita lalui bersama, Hugo Chan.”
…
__ADS_1
Shadow membelalak ketika Kai membuka pintu ruangan khusus yang sengaja di bangun oleh kekasihnya. Rupanya ruangan bawah tanah yang dikerjakan tanpa sepengetahuan Shadow adalah sebuah tempat untuk memajang koleksi senjata sang pemimpin Black Panther.
“Kau gila, Tuan Mafia.” Sembur Shadow dengan mulut menganga penuh keheranan melihat senjata api yang berjumlah ratusan dari pabrikan berbeda pun berbagai model.
“Ini adalah impianku, Shaw. Aku ingin memiliki semua ini sejak dahulu kala. Sekarang karena kita telah memiliki rumah sendiri, jadi aku bisa mewujudkan cita-citaku.” Kai terdengar sangat bahagia, terlebih dengan gerakan tubuhnya menunjuk ke arah koleksi yang bisa dikatakan sangat gila dan berbahaya.
“Apakah semua ini legal?” tanya Shadow menajamkan manik coklatnya pada raut semringah pria jangkung bersurai putih itu.
‘Yeah. Tentu saja, Shaw. Semuanya memiliki surat resmi. Dan jangan heran seperti itu, Nyonya Boss. Aku adalah seorang mafia, wajar jika memiliki kegilaan akan senjata api.”
“Tapi tidak sebanyak ini, Kai Navarro. Lihat, dengan ini semua kau bisa memimpin sebuah pasukan perang di Timur Tengah. Kau hanya tidak memiliki tank dan pesawat tempur.” Shadow menggerutu dan Kai terbahak tawa, manik biru lautannya berpijar terang.
“Haruskah aku membeli itu juga? Tapi apa kata mama, Shaw? Jika aku membeli sebuah pesawat tempur.” Tetap saja Kai hanya mengingat sosok sang mama. Satu-satunya orang yang bisa menahan kegilaannya. Shadow tidak akan melarang, hanya menggerutu seperti biasanya. Gadis cantik itu terlalu mencintai seorang Kai Navarro.
Shadow mendengus dan mencebikkan bibirnya. “Coba tanyakan sendiri. Apalagi papa masih memiliki hanggar yang sangat besar. Memangnya kau ingin menjatuhkan bom di negara mana, Tuan Mafia?”
Kai terkekeh lalu merangkul Shadow yang tertarik dengan DSR 50 Sniper. “Tidak. Aku hanya ingin mengoleksinya. Aku belum bisa menerbangkan sebuah pesawat, kecuali sahabatmu, Conley, dia memiliki lisensi pilot.”
“Oh ya?” Shadow terpukau akan informasi yang baru saja Kai ucapkan.
“Ya, benar. Conley sangat hebat dalam menerbangkan pesawat.” Jawab Kai. “Dia juga seorang sniper.”
Manik Shadow yang coklat semakin jernih dan bibirnya mengukir senyuman lebar.
Suara bunyi ijakan kaki yang berderap membuat pasangan tersebut menoleh ke asal suara. Rupanya Akio sedang berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri sang pemimpin.
“Ada apa?” tanya Kai sambil melepaskan rangkulan tangannya ketika melihat mimik tegang milik Akio.
Pria bermata sipit itu mengembuskan napas dengan kasar lewat mulutnya. “Boss, terjadi kegaduhan di Rozendaal. Conley terluka, William dan Yoruban terjebak di sana!”
###
aku kasih pic toples pemeran kita 😅
alo kesayangan💕,
apakah kalian masih tetap membaca novel di MT? atau sekadar membuka sesekali aplikasi ini?
apakah kalian merasakan jika MT tidak semeriah dulu..
apakah kalian akan tetap bertahan di aplikasi ini? ataukah kalian membaca novel di aplikasi lainnya?
mungkin, jika ada yang hilang pasti akan ada gantinya yang lebih baik, bukan?
apakah kalian sudah menemukan yang lebih baik dari MT?
love,
D😘
16 Maret 2021
__ADS_1