CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
The Traitors


__ADS_3

“Bertahanlah.” Kata Yoruban kepada temannya yang terluka di bagian pinggang. Sebuah peluru mengoyak bagian tersebut ketika terjadi perdebatan di dalam ruangan rapat. Rupanya di kudu pejabat Rozendaal terdapat pembelot yang tergiur oleh iming-iming berhadiah dari kelompok mafia Rusia.


Sekarang mereka bertiga menjadi sandera bersama dengan kubu yang tetap setia di bawah kepemimpinan Kai Navarro. Sebanyak 5 orang berdiri dengan angkuhnya, tangan mereka masing-masing menggenggam senjata AK47. Syukur bukan senjata itu yang menerjang pinggang Conley. Walau sekarang Conley hanya terdiam memegang pinggangnya yang terluka dengan wajah menahan amarah karena tidak bisa melakukan apapun. William dan Yoruban melakukan hal yang sama.


Para pembelot tersebut tidak bisa melakukan sesuatu kecuali bertahan di dalam ruangan, itu dikarenakan terdapat pasukan bersenjata yang hendak menerobos masuk. Tak ada yang bisa kelima pembelot itu lakukan selain bertahan. Pun nampak kecemasan di raut orang-orang tersebut. Mereka menginginkan Fyodor Smolnikov, seorang pemimpin mafia Rusia dibebaskan bersama dengan beberapa anggotanya, tentu saja termasuk para pembelot.


“Mereka merencanakan ini jauh hari.” Ucap William sambil menunduk, suaranya sangat pelan agar tidak terdengar kelima orang tersebut. Mereka yang menjadi sandera berharap tidak ingin ada korban jatuh lagi, cukup Conley yang merasakan timah panas di pinggangnya. Mereka berusaha tetap menjaga sikap setidaknya sampai tahap negoisasi menemukan kesepakatan bersama.


“Tentu. Mereka menunggu kita datang dengan sengaja menimbulkan kekacauan. Ingat berapa bulan yang lalu ketika terjadi pertikaian antar kubu, sepertinya mereka mempelajari tindakan kita pada saat itu.” Yoruban menimpali sekilas melihat kepada kelima orang yang sedang berbicara serius.


Sementara di luar sana terdengar suara yang meminta agar para sandera dibebaskan. Namun tak ada satupun kalimat yang mengatakan bahwa Fyodor Smolnikov akan dilepaskan. Sebuah permintaan yang sulit, pun menyelundupkan keluar seorang tahanan yang mendiami sel spesial berlapis baja dan dijaga oleh 4 orang memiliki kemampuan setara dengan Akio. Keputusan untuk menyandera anggota pasukan khusus Black Panther adalah satu-satunya jalan yang lebih realistis dibandingkan melawan ratusan penjaga dengan kemampuan setara para pembelot.


“Aku tidak memikirkan sampai sejauh ini.” ujar Conley disertai ringisan menahan sakit.


“Stt.. lebih baik kau diam. Semakin bersuara lukamu semakin mengeluarkan darah. Untungnya dia tidak berniat membunuh kita, hanya sebuah tembakan peringatan. Tapi tetap saja aku menaruh dendam kepadanya.” Yoruban menatap ke arah si penembak yang masih terlibat diskusi yang alot.


“Apakah boss tahu?” Conley sepertinya tidak mendengarkan celotehan Yoruban. Ia melawan rasa kantuk yang menyerang, yang sebenarnya sebuah respon tubuh semakin melemah. Ia tidak mau kehilangan kesadaran dan kalah akan sebuah luka kecil. Ini belum seberapa dibandingkan beberapa tahun lalu, ketika Conley masih belia dan ceroboh. Ia hampir mati dengan tiga luka tembakan, semua bersarang di bagian atas tubuhnya. Tuhan masih menyayanginya, hingga Conley bertemu dengan Black Panther. Sebuah organisasi besar yang mengubah banyak termasuk sisi temperamennya, yang hampir tidak bisa dikendalikan oleh siapapun.


Bukan hanya Conley, namun hampir semua anggota khusus Black Panther mendapatkan jalan terang di organisasi mafia terbesar itu. mengatakan hampir, karena Akio satu-satunya pengawal khusus sang pemimpin tetap dengan sifatnya yang dingin pun mematikan, amarahnya tidak bisa terbaca dan Kai sepertinya membiarkan pria bermata sipit itu tetap menjadi seseorang yang berbeda daripada lainnya.


“Aku tidak bisa menebak, namun semoga saja tidak. Boss kita sebentar lagi menikah, aku tidak ingin ia terlibat dengan masalah kecil seperti ini.” sahut William melirik Conley tajam. Ia seakan meminta temannya untuk diam.


“Jika boss tahu, dia akan marah besar.” Imbuh Yoruban dengan suara gemetar menahan amarah. Ia masih belum bisa berdamai dengan kelima orang tersebut.


Conley menggeleng dengan wajah tegang. “Bukan boss kecil tapi boss besar. Tapi tempat ini bukan boss besar yang membangunnya tapi seorang Kai Navarro. Aku lebih takut jika boss besar yang turun tangan dan meratakan tempat ini beserta para tawanan tanpa perasaan.”


William dan Yoruban sontak menggeleng dengan mata membelalak. “Demi Tuhan, jangan boss besar.” Sahut William sembari bernapas pendek dan mencari cara agar mereka terlepas dari kemelut.


Kami meminta yang terluka untuk dibebaskan sebelum sniper menembak kalian!


Kembali suara lantang dan tegas menggema ke dalam ruangan yang dibantu dengan alat pengeras. Sungguh orang-orang di luar tidak mengenal rasa takut, toh para sandera tidak mempermasalahkan jika mereka menjadi korban sia-sia dari kebodohan nyata para pembelot. Bukankah semuanya telah memberikan berjanji darah ketika bergabung dengan Black Panther.



“Berhentilah bersikap seperti itu.” Kai menegur Akio yang terus-terusan menggeram dan bersikap gelisah setelah beberapa saat lalu helicopter mereka mendarat di bagian terluar Rozendaal.


Pulau seluas 10 kilometer tersebut hanya diperuntukkan untuk para tawanan Black Panther, tidak ada penghuni lain kecuali para petugas dan para tahanan. Untuk mencapai pulau tersedia dua jenis kendaraan, terdapat kapal cepat atau denggan pesawat kecil, khusus untuk Kai dan pasukannya umumnya menggunakan helicopter. Kai sengaja mendarat di luar area penjara, agar suara desing helicopter tidak terdengar oleh orang-orang yang hendak membajak Rozendaal.


Kai tidak ingin ketahuan jika ia datang ke Rozendaal. Kedatangannya melalui pembicaraan serius dan tangisan dari kekasihnya yang tak lain Shadow. Gadis cantik itu harus berpasrah diri ketika Kila memintanya agar tidak ikut bersama dengan Kai. Di lain pihak, Kai justru bersorak bahagia. Ia tidak perlu membawa Shadow di saat pernikahan mereka yang tidak lama lagi akan digelar.


Kai tidak ingin Shadow mengalami mental down, hal yang sama di alami pasca sutradara cantik itu diculik oleh klan Ishihara. Kini Kai dihadapkan dengan kejadian di Rozendaal, sebuah drama aksi  baru. hal yang sama sekali tak pernah ia pikirkan akan memburuk hingga melukai Conley.


“Aku tidak sabaran, Boss.” Sahut Akio menggeram namun tidak berani melewati Kai untuk mencapai mobil mereka.


“Tetaplah tenang.” Heron menasehati seraya menepuk punggung Akio.


Akio mendecih kemudian meringis tanpa belas kasihan. Mata sipitnya menatap tajam kepada pria-pria yang menjemput kedatangan mereka. “Apakah di antara kalian ada yang ingin melawan para pimpinan Black Panther? Beranilah bersuara sebelum aku yang turun tangan.” Soraknya dengan lantang.

__ADS_1


Kai terkekeh mendengar perkataan Akio, sementara para pria pasukan Black Panther tersentak kaget. “Tidak, Tuan Akio. Maafkan kami dan orang-orang yang menyandera Tuan Conley, Tuan Yoruban dan Tuan William.” sahut


salah satu yang terlihat lebih berumur dibandingkan lainnya.


“Kalian lengah!” lanjut Akio menyuarakan isi hatinya.


Kai hanya memilih melangkahkan kakinya hingga mencapai mobil 4WD berwarna hitam. Sejenak ia memandangi satu persatu anggota Black Panther dengan maniknya yang sengaja disipitkan. “Sepertinya aku akan kembali mereview satu persatu anggota Black Panther. Terkhusus kalian yang bekerja di Rozendaal.” Katanya terdengar dingin kemudian mendudukkan tubuh di kursi tanpa menunggu reaksi pasukannya.


Akio menyeringai senang sambil mengambil tempat di sebelah Kai, sementara Heron duduk di samping sopir.


“Benar apa kata boss, jika anak-anak Rozendaal harusdiseleksi ulang.” Ujar Akio menoleh menatap Kai yang membalas pesan Shadow.


Sekilas Kai menatap Akio kemudian melanjutkan menekan layar canggihnya. Ia harus menenangkan Shadow yang terus menerus meminta kabar terbaru. Kai bahkan baru 10 menit lalu mendarat dan Shadow telah berulang kali


memintanya untuk tetap berhati-hati.


“Aku memikirkan hal ini selama perjalanan. Ternyata mereka yang bertugas di Rozendaal bisa tergiur oleh para ketua penjahat dan mafia tersebut. Aku yakin sebuah angka tidak kecil hingga para pembelot bisa mengkhianati kita. Dan butuh waktu panjang meluluhkan hati orang-orang tersebut. Ya, ke depannya para petugas di Rozendaal hanya bertugas selama dua hingga tiga tahun dan akan mendapatkan mutasi ke tempat lain. Ya, agar tidak terulang dengan kejadian yang sekarang kita hadapi.” Titah Kai yang didengarkan dengan baik-baik ketiga orang di dalam mobil Eropa tersebut.


Akio terdiam, pun dengan Heron yang terkenal paling irit bicara di antara kelima temannya. Usai menjelaskan dengan rinci kepada Shadow, Kai memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Hari itu, ia mengenakan pakaian


kebesarannya. Sepasang kemeja dan celana bahan berwarna hitam, tentu saja sepatu kulit berwarna senada. Ia terkesan misterius, hanya manik birunya menyala terang menatap ke arah samping, di mana padang rumput luas membentang dengan indahnya.


Tidak ada hal menarik selain alam yang didominasi dengan warna hijau di Pulau Kalunborg. Tidak bangunan lain selain Rozendaal yang terletak di tengah pulau. Untuk mencapai Rozendaal hanya menempuh waktu 5 menit dari


dermaga kecil, sekaligus helipad di tempat sama. Sebenarnya di Rozendaal terdapat bandara untuk mendaratkan pesawat berawak tak lebih dari 12 orang. Namun misi Kai ke tempat itu bukan untuk berwisata, melainkan menyelamatkan sahabat tunanganya yang sedang terluka. Ya, Shadow telah menitipkan agar Conley kembali


“Sudah sampai, Boss.” Ujar Heron menoleh ke arah Kai. Sang pemimpin hanya mengangguk kemudian menyiapkan diri menghadapi para pembelot Black Panther.


Kai menaikkan jemari telunjuk kepada barisan pasukan yang menunggunya. Ia mengisyaratkan agar orang-orang berpakaian hitam itu tidak meneriakkan namanya.


“Bagaimana?” tanya Kai kepada kepala petugas Rozendaal, Nikolaj Tomsen.


Nikolaj terlihat sangat gugup, ia menunduk lebih lama dibandingkan membalas tatapan Kai yang sangat dingin. Sungguh berbeda ketika pria jangkung bersurai putih masih di dalam mobil. Sang pemimpin itu kembali ke


dirinya yang sebenarnya, dingin, angkuh dan tegas.


“Kami sedang meminta agar Conley bisa keluar, tapi mereka berkeras agar permintaannya dipenuhi.” Jawab Nikolaj gamang.


“Bagaimana dengan Fyodor?” tanya Kai mengikuti derap langkah pelan para pengawalnya yang terlebih dulu berjalan. Ia memilih jalan lain melewati tengah bangunan, yang merupakan akses khusus bagi para petinggi


Rozendaal.


“Masih di selnya, Boss. Penjagaan kami tingkatkan menjadi tiga kali lipat. Beberapa tahanan yang merupakan orang-orang Fyodor juga kami perketat penjagaannya.”


Kai mengangguk mendengar penjelasan Nikolaj. Ia sedikit puas atas kinerja bagus pria berusia 40 tahun tersebut. “Tinggal orang-orang di dalam ruangan rapat.”


“Ya, Boss. Mereka meminta chopper untuk Fyodor ditukar dengan Conley keluar dari tempat tersebut.” terang Nikolaj menuturkan singkat kondisi terkini.

__ADS_1


“Bagaimana dengan para sniper dan team penghancur?” Kai berhenti ketika melihat bangunan yang dijaga puluhan pria bersenjata.


“Mereka semua bersiaga, Boss. Hanya menunggu perintah. Ruangan rapat hanya memiliki satu jendela kecil yang berada di bagian atas, namun semua terlihat lewat detektor suhu tubuh. Orang-orang yang berkumpul di bagian utara adalah para sandera, dan para pembelot berada di sisi timur. Team penghancur sudah siap merobohkan atap.”


“Bawa keluar Fyodor dan semua orangnya ke lapangan, dalam waktu 10 detik setelah aku berbicara semua teammu melakukan tugasnya.” Perintah Kai kembali berjalan dengan langkah panjang.


Nikolaj mengangguk dalam kemudian menoleh kepada bawahannya tanpa bersuara kecuali lewat tatapan yang mengisyaratkan akan perkataan Kai segera dilaksanakan.


Para pasukan bersenjata lengkap mengangguk melihat kedatangan sang pemimpin. Mereka sepertinya tidak memperkirakan jika Kai akan menyambangi Rozendaal dalam waktu secepat itu. Akio dan Heron berbisik dengan


penjaga yang berada tidak jauh dari pintu. Berbisik dan kemudian kedua pengawal khusus Kai mendapatkan senjata yang sama, MGL-32 Grenade Launcher.


Koordinator pasukan yang memimpin telah paham ketika Kai berdiri di sampingnya, ia pun menyerahkan alat pengeras suara kepada sang pemimpin tanpa ada pertanyaan.


Kai menatap satu persatu anggota Black Panther yang tetap pada posisi semula, beberapa lainnya berjaga di bagian belakang. Ia berdeham panjang kemudian menghela napas. Kai tetap tenang, ia tidak ingin gegabah, apalagi menyangkut nyawa orang-orang kepercayaannya.


“Apakah kalian mendengarku? Ya, kalian yang berani mengambil keputusan menyalahi kebijakan Black Panther. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian semua.” Kai memperkirakan jika kelima orang di dalam sangat kaget mendengarkan suaranya.


“Conley, Belarus!” teriak lantang Kai mengakhiri pidato singkatnya. Sang pemimpin mendengar hitungan mundur dari Nikolaj.


"Tiga.. dua.."


Boom!!


###



alo kesayangan💕,


btw, ini belum kuedit..


ak mau keluar habis magrib..


mungkin sepulang nanti bakal kucek lagi, typo dan SPOK -nya 😂..


oh yah, aku berencana membuat cerpen di WP


apakah kalian mempunyai akun di sana


jika sudah jadi cerpennya bakal kuinfo nama akunku..


minggu ini agak padat RLnya


tetap sehat, ladies.


love,

__ADS_1


D😘


__ADS_2