
“Apakah kau menyukainya?” Kai bertanya kepada gadis jangkung yang mengedarkan pandangan pada ruang tamu rumah yang lumayan luas itu. Well, hanya beberapa tahun terakhir karena sebelum itu Kai dan keluarganya tinggal di Minorca, Spanyol. Sepenuhnya ia beserta Sky tumbuh besar di negara itu, sebuah villa mewah yang masih kerap dikunjungi oleh orang tuanya.
“Sangat tenang, indah dan up to date.” Jawab Shadow menoleh dengan senyuman yang sangat lebar di bibirnya.
Kai bergerak mendekat pada Shadow “Sekitar 9 bulan yang lalu rumah ini aku renovasi, mengganti perabotannya namun terlebih dulu meminta ijin
kepada papa. Aku sudah pernah mengatakan jika rumah ini adalah tempat papa melamar mama. Awal menikah papa dan mama tinggal di sini, kemudian insiden itu terjadi.” Ucapnya dengan suara yang memelan di ujung kalimat. Hati Kai selalu berdenyut sakit mengingat apa yang telah dilalui mamanya.
“Insiden apa?” tanya Shadow pada Kai yang spontan terlihat sangat murung.
Manik biru menoleh dengan sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya “Suatu hari aku akan cerita kepadamu, Shaw. Hari ini kau harus
menikmati rumah masa depan kita. Oh yah, sebenarnya rumah ini sudah lama diserahkan kepadaku. Rutin dibersihkan setiap hari, hingga aku menghubungi kontraktor untuk merenovasinya. Motivasiku adalah pisah dengan papa dan mama, walau saat itu sangat berat. Aku kan anak mama.” Kai mengakuinya, Shadow tertawa ringan mendengar ucapan kekasihnya.
“Aku anak ayah dan papa, kita berdua sangat mencintai orang tua kita.” Shadow bergumam kecil sambil memerhatikan sofa empuk berwarna hitam, beberapa lukisan bernada sama. Warna
favorit pimpinan Black Panther.
Kai mengusap surai ikal Shadow “Ternyata, rumah ini kau siapkan buatmu.”
Shadow menoleh pada pria yang merengkuh pinggangnya “Saat kau merenovasi rumah ini, di saat yang sama aku masih tidak percaya akan cinta.” Ujarnya berjalan pada daerah dapur.
“Memangnya aku juga percaya? Tidak. Kau yang merubah segalanya, Shaw. Lihat design interior rumah ini, khas laki-laki. Tidak ada sentuhan wanita yang berwarna, cenderung hambar dan datar.”
“Aku suka.” timpal Shadow berjinjit mengecup pipi Kai. Kekasihnya tersenyum penuh arti lalu balik memberikan ciuman.
“Kau menyukainya, Shaw?”
Shadow melerai pelukan dan menyentuh permukaan kitchen bar, sutradara muda itu kemudian berpindah ke kompor bersumbu 4.
“Sayangnya wanita yang akan mendampingimu tidak begitu pintar memasak.” Erangnya lirih lalu berbalik menatap Kai.
Kai terkekeh “Aku mencari teman hidup bukan tukang masak. Lagian rumah mama di pusat kota, kita bisa numpang makan di sana. Atau kau ingin tinggal bersama dengan papa dan mama, baby girl?”
Shadow menaikkan bahunya “Aku terserah denganmu, Tuan Kai Navarro. Walau aku tinggal mandiri di Hollywood bukan berarti aku tidak bisa
hidup bersama dengan orang tua. Aku sangat menyenanginya, terlebih papa dan mama tidak seperti mertua yang di film. Sangat terbuka dan asyik.” Pujinya kepada calon mertua tak lain orang tua kekasihnya.
“Akan aku pertimbangkan, Shaw. Rumah papa itu sangat besar, seperti istana. Bukan menyombongkan tapi itu warisan grandpa grandpa kepada papa nanti juga kau akan melihatnya, baby girl. Sekarang puaskan dirimu dengan rumah ini. Apakah kau ingin melihat kamar tidurmu?”
Shadow kembali mengangguk riang lalu menyambut uluran tangan Kai yang menuntunnya menapaki tangga.
“Aku menemukan pria yang sangat mencintai keluarganya. Lihat.” Seru Shadow pada pigura besar yang menghiasi dinding di area dekat
tangga. Di ruang tamu pun terdapat beberapa foto keluarganya.
“Kita nantinya akan berfoto juga dan memajangnya.”
Shadow menyambut ucapan Kai dengan tawa yang renyah. Rumah yang kelak menjadi tempat tinggalnya, sangat nyaman dan menenangkan. Seakan beban yang menekan bahunya selama bekerja di Hollywood terhempas begitu saja ketika melihat pekarangan hijau rumah itu.
“Berfoto seperti apa?” gumam suka cita Shadow, angannya sudah melambung tinggi pada bayangan ia dan Kai mengenakan pakaian formal. Suit hitam dan gaun berwarna putih.
“Foto prewedding.” Singkat Kai.
Dua kata sederhana melengkapi impian Shadow. Pun ia tidak berani melirik ke arah Kai. Sebuah keyakinan dari dasar hati jika saat itu juga wajahnya merah merona bak buah cherry.
“Kenapa kau diam, Shaw?” Kai menyikut Shadow yang terus menatap dinding bercat night blue.
“Kau tidak ingin menikah denganku?” sambungnya ketika kekasihnya belum juga menyahut.
“Mau! Tentu saja aku mau.” Sorak Shadow tidak
tanggung-tanggung, alhasil Kai pun kaget mendengarnya. Pemimpin mafia itu tergelak tawa yang keras lalu memeluk erat tubuh Shadow.
“Kau sudah tidak sabaran sepertiku, Shaw? Bukannya kau dulu tidak percaya akan cinta, sekarang sangat ingin menikah.” Kai meledek
kekasihnya.
“Itu dulu, sebelum kau datang merusak tembok pertahananku. Dulunya aku pikir tidak akan menikah hingga lepas dari usia 30 tahun. Aku ingin karierku di Hollywood kuat seperti ayah dan papa. Prioritasku adalah membuktikan bahwa aku bisa menjadi seperti mereka. Kau tahu jika Sunshine adalah aktris cilik dan sejak dulu bisa menghasilkan uang. Sementara aku adalah mesin ATM bocor orang tuaku. Aku merasa jika duit yang keluar selama aku sekolah hingga kuliah belum sebanding dengan penghasilanku. Dan sekarang sudah ingin menikah, aku belum sempat membalas kebaikan kedua pria-ku.” Ujar Shadow panjang pas di ambang pintu bercat warna charcoal dengan kenop pintu dari perak.
“Kau memiliki calon suami sangat kaya raya, baby girl. Berapa biaya yang pernah kau keluarkan selama ini, biarkan aku membayarnya.”
Manik coklat Shadow sontak melebar dan tangannya menepuk lengan Kai.
“Kau ingin membuat orang tuaku tersinggung, sayang? Bukan begitu maksudku, Tuan Navarro Yang Sangat Kaya Raya. Dulu aku pikir akan berbakti lama kepada orang tuaku, kemudian memikirkan menikah. Toh saat gagalnya
hubungan dengan Alexandre, mereka tidak membahas soal pria kepadaku.”
Kai mengangguk “Aku pikir kau mencatat utangmu.”
Shadow berdecih kasar “Orang tuaku tidak seperhitungan itu, Tuan Mafia. Jadi simpan saja uangmu untuk membelikan sebuah tempat tidur baru. Aku tidak menyukai warna dan modelnya. Terlalu manly, sementara nantinya ada kita berdua yang tidur di atasnya.”
Kai tertawa “Akhirnya ada yang kau tidak sukai dari design rumah ini, Shaw. Baiklah nanti aku minta designernya datang dan katakan seperti
__ADS_1
apa keinginanmu.” Ucapnya sambil menghempaskan tubuh di atas tempat tidur.
“Omong-omong ini sangat empuk, Shaw. Kemarilah. Setidaknya kita tempati tidur sebelum kau membuangnya.”
Shadow berdecih namun tetap membaringkan tubuh di sebelah Kai, kepala pada lengan kekasihnya.
“Kau punya anak buah yang banyak, sayang. Tempat tidur ini pasti sangat mahal, berikan ke orangmu yang mempunyai rumah atau membutuhkan sebuah tempat tidur.”
Kai menoleh ke gadis berbulu mata lentik di sampingnya “Ya, pasti banyak yang mau. Kau mengatakan ini mengingatkan aku jika waktunya untuk memberikan hadiah Thanksgiving. Setiap tahun aku pasti membelikan sesuatu, khusus untuk kelima pria yang sering kau lihat itu, biasanya Sky yang menemaniku berbelanja. Sekarang aku sudah memilikimu.” Ucapnya lalu menghela napas lega.
“Conley, Yoruban, Heron, Akio dan William.” Sambung Shadow.
“Ya, mereka. Kelima anggota khusus Black Panther adalah perisaiku, baby girl. Mereka telah menandatangani surat perjanjian dengan mama.
Kelima orang itu rela mengorbankan nyawanya demi keselamatanku, Shaw.”
Bulu di tangan Shadow meremang mendengar ucapan Kai, ia pun sontak bangun.
“Kai.” lirih Shadow bergumam.
Kai tersenyum simpul dan kembali menarik tangan Shadow untuk kembali terbaring.
“Ini resiko memilih tunangan seorang mafia. Tapi kekasihmu ini tidak gampang dilumpuhkan, Shaw. Aku punya 5 perisai, baru peluru menembus
dadaku.”
Shadow memeluk tubuh Kai “Jangan, tidak usah dibahas. Ini sangat menyedihkan dan membuatku berpikir tidak-tidak. Sekarang bisa saja aku tidak
membiarkanmu pergi sendiri.” Ucap Shadow dengan rasa pilu menghampiri benaknya.
“Kau boleh ikut, Shaw. Apakah kau tertarik belajar bela diri? Kau bisa menembakkan pistol?”
Shadow menggeleng kuat “Tidak bisa semuanya. Aku di didik untuk menjadi sutradara besar, Tuan Mafia. Bukan menjadi seorang preman.”
Kai tergelak tawa keras, tubuhnya ikut berguncang.
“Hei, bukan begitu maksudku. Seorang wanita harus memiliki dasar bela diri, nanti aku akan mengajarkanmu, Shaw. Kita tidak tahu seperti
apa masa depan, tapi aku ingin kau jadi wanita yang kuat.”
“Iya ajar aku, Tuan Mafia. Biar kita seperti Angelina Jolie dan Brad Pitt di film Mr and Mrs. Smith.” Ucap Shadow disambut derai tawa sang
pemimpin Black Panther.
Pasangan yang selalu sukses membuat orang iri sekaligus terpaku karena kesempurnaan raga keduanya. Kai dan Shadow adalah perpaduan terbaik dua ras . Dan pasangan itu terlihat sangat sibuk memilihkan kado untuk kelima anggota khusus Black Panther.
“Mereka memiliki selera berbeda.” Kembali Kai mengingatkan Shadow yang terus menunjuk berbagai model jam tangan mewah.
“Jadi tidak boleh disamakan, maksudku biar tidak ada kecemburuan di antara mereka, sayang.” Shadow menimpali sembari menatap lautan di seberang etalase.
Pria bersurai putih itu menggeleng “Akio dan Yoruban menyukai sesuatu yang sporty. Lainnya lebih ke maskulin. Jangan pikirkan harganya.”
Shadow hanya bisa berdecak mendengar ucapan kekasihnya yang tidak meremehkan harga jam senilai ratusan ribu Euro itu “Apakah aku boleh melihat saldo rekeningmu, Tuan Navarro?”
Kerjapan indah dari manik biru diiringi tawa miring dari Kai “Ya, nanti di rumah papa aku akan memperlihatkannya kepadamu, semuanya.” Ucapnya tanpa berpikir.
Shadow menggeleng “Aku hanya bercanda.”
Kai bergerak ke sebelah Shadow dan menundukkan kepala “Kau perlu tahu, tidak ada yang perlu aku sembunyikan darimu. Karena setiap sen yang aku miliki adalah milikmu juga.” Ucapnya tepat di telinga Shadow dengan separuh
berbisik. Ya, mereka sebenarnya tidak perlu berbisik, toh keduanya berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
“Kai.” panggil wanita cantik yang baru masuk ke dalam toko jam mewah di Mall Berlin.
Sontak Kai dan Shadow berbalik.
“Ciara.” Gumam pelan Kai kepada wanita bersurai putih dengan bola mata sebesar pingpong, pun memiliki manik berwarna biru seperti miliknya.
Shadow bergantian menatap Kai dan wanita bernama Ciara yang berjalan mendekat.
“Hai, apa kabarmu?” Ciara mengulurkan tangan, agak lama di udara sebelum akhirnya Shadow menyikut Kai untuk menyambutnya.
“Baik, Ciara.” Jawabnya datar, berbanding terbalik dengan binar manik biru milik Ciara yang menari bahagia melihatnya.
“Kau pun terlihat baik-baik saja, Ciara. Oh ya, kenalkan tunanganku Shadow.” Ucap Kai sambil merangkul tubuh kekasihnya. Shadow mengulurkan tangan ke depan namun tidak dibalas oleh Ciara. Akhirnya tangan Shadow kembali turun dengan helaan napas pelan dan kecewa.
Kai mendengus melihat sikap Ciara yang tidak sopan itu, pun ia menggelengkan kepala kepada gadis bersurai putih itu.
“Baby girl, pilihlah jam untuk mereka. Aku ingin bicara sebentar dengan Ciara.” Kai menoleh dengan lembut kepada Shadow, kekasihnya pun
mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya.
Mengerti jika ada hal penting yang ingin dibahas Kai, Shadow pun memusatkan perhatian pada deretan jam di atas kaca anti peluru.
__ADS_1
Sedikit pun Kai tidak menyentuh Ciara namun berhasil membawa wanita yang pernah dikencaninya itu di pojokan.
“Aku tidak menyukai sikapmu kepada tunanganku, Ciara.” Ujar Kai langsung tanpa basa-basi.
Ciara mengarahkan pandangan pada Shadow yang tampak tertawa dengan pegawai toko.
“Yeah, aku melihat cincin berliannya, my Kai.”
Kai menaikkan tangannya dan memerangkap tubuh Ciara dengan geraman di bibir “Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Ciara.” Usai berucap, Kai kembali menegakkan tubuh.
“Waktu bisa mengubah semuanya. Aku masih mengingat dulu kau memanggilku dengan sebutan “baby” sekarang malah dia yang beruntung mendapatkan panggilan “baby girl”. Aku pikir dulu kau tidak suka jalan di tempat umum dengan seorang wanita.”
Manik biru Kai memejamkan mata mendengar sindiran Ciara yang terdengar sangat sinis “Itu dulu saat kita berkencan, Ciara. Yang kau katakan benar adanya tentang waktu mengubah segalanya, seperti itulah aku sekarang.”
“Aku bisa mengembalikan 300 ribu euro itu, asal kau kembali kepadaku, Kai. Maksudku, wanita itu berapa banyak kau akan membayarnya jika
bosan dengannya nanti.”
Rahang Kai mengeras, tampak cekungannya sangat dalam pertanda jika ia sangat marah.
“Maafkan jika menghargaimu dengan uang sebesar itu, Ciara. Tapi jika mengharapkan kami berpisah itu tidak akan terjadi, kami akan menikah. Pun jika ada yang terjadi sesuatu kepadaku, Shadow akan mendapatkan semua yang aku miliki.” Tandas Kai cepat, menahan agar amarahnya tidak meledak di dalam toko jam
tangan itu.
Wajah Ciara mendadak pias, ia pun menggelengkan kepala dengan tangan mencengkeram kuat tas kulitnya. Ia pun kehilangan kata-kata melihat manik biru yang berkobar menatapnya.
“Jika kau ingin mengembalikan uang sedikit itu, berikan saja kepada panti asuhan atau lembaga sosial yang kau percayai. Ingat, tolong jangan
bertingkah kekanak-kanakan seperti ini lagi.” sambung Kai menatap sejenak wajah Ciara sebelum akhirnya berbalik tanpa pamit kepada gadis bersurai putih itu.
Melihat kedatangan Kai, Shadow menggelengkan kepala lalumenghela napas panjang “Resiko memiliki kekasih playboy.” Gumamnya
Kai mengacak surai ikal Shadow “Maafkan aku, Shaw.” Tukasnya lalu memeluk pinggang Shadow.
“Aku versus wanita-wanitamu, Tuan Mafia.” Canda Shadow dan menganggukkan kepala kepada dua pengawai toko yang hendak membawa jam tangan pilihannya.
Kai pun merangkul Shadow menuju kasir tanpa protes, sepenuhnya memercayakan Shadow isi kado untuk anggota khususnya.
“Apakah Shaw –ku sudah cemburu dengan wanita-wanita itu?” balas Kai mencandai Shadow yang terlihat datar setelah ia memberikan peringatan kepada Ciara.
Shadow menoleh dengan senyuman simpul di bibirnya “Percuma marah kepada sesuatu yang telah menjadi masa lalumu, sayang. Aku bisa melihat raut wajahmu yang tidak menyukai kedatangan Ciara. Jadi tidak ada yang perlu aku
khawatirkan, andaikata pria yang menjadi tunanganku ini ingin kembali ke wanita-wanitanya, aku hanya perlu membuka cincin berlian dan memesan tiket kembali ke Hollywood.”
Sambil melipat bibir Kai menatap sendu “Jangan pernah lakukan itu, baby girl. Kau bisa membunuhku, sekarang jantungku saja sudah sangat perih mendengarnya, tolong jangan. Aku akan mati tanpamu, Shaw.”
###
alo kesayangan💕,
i'm back wkwwkwk
kerjaanku perlahan berkurang, yeahhh...
senang gak?? dh pada kangen Kai Shadow, pastinya..
sebenarnya ak dh sedikit free kemarin, tapi kepalaku butuh di refresh..
so, aku jalan2lah..
tadinya pengen ke pantai Gunung Kidul, malah berakhir di Cilacap.. wkwkwk
berangkat jam 8pagi dan pulang sore...
jam 8 malam dh tiba di rumah.
aku tuh kek gitu, suka "get lost"
tau-tau dh nyampe mana, oh yah kalian dari kota mana saja?
mungkin suatu hari giliran kota kalian aku kunjungi..
ini oleh-olehnya, Pantai Teluk Penyu..
love,
D😘
__ADS_1