
"Terdengar sangat gila." gumam Pedro berlagak acuh ketika Martina mengucapkan kalimat yang membuatnya muak.
"Kau selalu begini, Pedro." Martina meringis sambil melihat kakak keduanya asyik dengan birnya. Sungguh tidak tahu sopan santun, saat makan malam malah memilih menenggak bir dibandingkan wine. Ruangan makan mansion mereka seperti bar murahan di kawasan prostitusi. Itu wajar jika Pedro terkesan rendahan, sejak kecil dia telah dikenalkan dengan kehidupan keras. Anak buah kartel yang mengenalkan Pedro dengan dunia hitam pada usia dini. Berbeda dengan kedua kakak Martina, yang memiliki pergaulan yang berbeda.
Luis selaku anak pertama tentu saja yang akan mewarisi kepemimpinan Urbina, di samping kemampuan diplomatik yang hebat, ia juga ditakuti oleh kartel lainnya. Luis telah hadir di ruangan tersebut, hanya sedang berbincang dengan papa mereka, Urbina. Tentu sedang membahas perkembangan bisnis mereka di dunia hitam, namun tetap sesekali melirik tajam ke arah Martina.
Ketiga saudara Martina belum ada yang menikah, berkeinginan pun tidak. Jadi tidak mencengangkan jika mansion sehebat itu sangatlah suram. Mungkin bisa dikatakan hanya Martina yang normal di tempat itu. Martina sejak menginjak usia 17 tahun telah memikirkan untuk menikah. Ya sejak mengetahui pimpinan mafia Black Panther, sebelumnya Martina tidak pernah sekalipun tertarik dengan pria seusianya bahkan salah satu di antara teman kakaknya.
Martina terpaku kepada Kai Navarro, pemimpin mafia yang sangat terkenal di kalangan kartel. Bukan hanya satu dua berhasil dihancurkan oleh Kai, sangat banyak. Hal itu tidak membuat perasaan suka Martina berkurang, malah ia semakin menggilai Kai Navarro.
Sayangnya, tidak ada satupun anggota di kartel papanya berani mencari masalah dengan Black Panther. Segan mungkin juga takut, walau Tijuana Kartel milik keluarganya terkenal brutal di Meksiko.
"Antonio!" pekik Martina ketika melihat kakak ketiganya memasuki ruangan makan. Ia berdiri dan melihat Antonio tergesa-gesa berjalan menghampirinya.
"Hidupku." Antonio menyerukan kata pemujaan ketika memeluk erat tubuh Martina. Terlalu drama hingga Pedro memutar matanya dengan malas.
"Duduklah di dekatku." pinta Martina, pria berkemeja coklat itu tersenyum miring sambil menarik kursi.
"Kau terlihat..." potong Antonio sambil memerhatikan adiknya. Ia kemudian menarik napas panjang. "Terlihat cantik."
Martina memukul lengan Antonio pelan, ia merenggut. "Aku tahu jika kau hanya mengada-ada, Antonio. Papa mengatakan aku mengerikan."
Antonio menggigit bibirnya kemudian tergelak tawa keras. Ia terus tertawa hingga Martina menepuk lengannya lebih keras dari sebelumnya.
"Papa benar. Bahkan make up tidak bisa menutupi wajahmu yang mengerikan. Lihat matamu membengkak sampai menonjol keluar. Tuhan, hanya perkara pria kau merusak kecantikanmu, Sayang." ucap Antonio sambil menggelengkan kepala.
"Itu karena kalian tidak menculik Kai Navarro untukku." sanggah Martina terluka.
Pedro yang mendengar perkataan Martina spontan mendengus kasar, berbeda dengan Antonio yang menepuk punggung adiknya.
"Kau tahu jika sangat susah menembus pertahanan Black Panther. Menyusupkan satu orang gila ke pesta pernikahannya butuh waktu berminggu, Sayang. Rusia bodoh itu, memilih mati konyol. Kau pasti tidak ingin melihat kakak-kakakmu terburai isi kepalanya, bukan?" terang Antonio.
Seketika wajah Martina pucat pasi, buru-buru ia mengambil gelas berisi air putih dan menenggaknya hingga habis.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan, Martina. Hanya itu satu-satunya upaya yang bisa menembus Black Panther. Pertahanan mereka sangat ketat, dan tidak ada yang bisa berhadapan langsung dengan pemimpin Black Panther kecuali berujung dengan kematian."
Bulu kuduk Martina meremang, pahanya gemetar. Ia berada di antara perasaan cinta dan ketakutan. Sungguh dilematis.
"Kenapa dia sangat susah untuk dijangkau? Aku iri dengan wanita itu." kata Martina pelan.
Pedro menoleh dengan lirik mata acuh. "Setiap orang memiliki jodoh masing-masing, Adik Kecil. Dan kau seharusnya tahu jika sekuat apapun berusaha mengusik Kai Navarro, tidak akan bisa membuatnya jatuh cinta kepadamu. Itu tidak mungkin terjadi. Kita berada di dunia yang sama, tapi mereka sepertinya tidak akan pernah bisa melirik anak gadis dari satu kartel untuk dijadikan teman hidup. Terlebih pria itu telah menikah!"
Kalimat terakhir Pedro sengaja ditekankan, bahkan nada suaranya ikut naik. Martina kesal dan dadanya mendidih. Matanya berkaca-kaca melirik ke arah Luis yang semakin asyik dengan percakapannya. Martina ingin merayu sang kakak pertama untuk meloloskan keinginan terbesar dalam hidupnya.
"Jangan pernah berpikir sejauh itu, Adik Kecil." Pedro mengingatkan, pria tampan pemilik mata coklat tajam itu menggeleng pelan, seakan tahu isi kepala Martina Ayuso.
...
Akio berdeham. Ia sekilas melirik pria di sebelahnya.
"Apa?" tanya Kai datar.
Akio menahan bibirnya untuk tersenyum. Ia tahu jika pemimpin Black Panther baru saja mendapatkan gerutuan dari istrinya. Untuk menghilangkan kekesalan Shadow, empat pasukan khusus Black Panther turut membantu wanita cantik itu membersihkan lantai bawah kediaman mereka.
"Harusnya kami tidak datang tiap hari dan tidak sepagi ini." ujar Akio setelah menoleh melihat teman-temannya bekerja.
"Ini sudah siang." Kai melirik jam di tangannya.
"Tapi boss dan nyonya boss masih dalam suasana bulan madu." bisik Akio.
"Shaw mengerti, dia menggerutu karena semalam aku menjanjikan berenang di danau."
__ADS_1
"Tapi kami malah datang merusak hari Nyonya Boss."
Kai tersenyum miring sambil melebarkan manik lautannya. "Tidak apa-apa, Shaw mengerti. Ya, dia mengerti. Jadi kabar apa yang ingin kalian sampaikan?"
Akio sejenak terdiam. Tubuhnya yang terlatih dengan posisi tegap, berbeda dengan Kai melipat kedua tangannya sambil bersandar pada ambang pintu.
"Rusia itu suruhan dari Kartel Tijuana dari Meksiko." pelan Akio menyampaikan berita kepada sang pemimpin. Hanya anggukan kecil dari kepala Kai tanda mengerti akan perkataan pria bermata sipit itu.
"Kita tidak memiliki masalah dengan mereka, dan tidak ada kartel lain yang berkaitan dengan Tijuana. Maksudku kartel yang pernah kita hancurkan sebelum ini. Tijuana cukup besar, mereka memiliki anggota sekitar 200 orang. Bisnisnya seperti biasa, narkoba dan memiliki lahan opium yang cukup besar."
"Mungkin mereka ingin diratakan." timpal Kai datar.
Akio mengedikkan bahu. "Yoruban berkata hal yang sama."
Kai tertawa halus sambil menyelipkan tangan di saku celananya. "Awasi mereka." perintah pria bersurai putih yang terlihat misterius, kali ini bisa ditebak.
"Baik, Boss." Akio mengangguk. "Jika terjadi hal mencurigakan, boss hanya tinggal di rumah."
Spontan Kai menoleh sambil mengerutkan alisnya yang melengkung dramatis. "Apa?"
Akio tertawa. "Kami hanya mengikuti perintah Boss Besar."
Tak lama terdengar ******* halus dari bibir Kai. "Ini sangat membosankan."
"Apakah perkataan boss barusan bisa aku sampaikan ke mansion?" seloroh Akio.
Manik biru itu menyipit tajam menatap Akio. "Aku bisa mengirimmu ke Rozendaal selama sebulan."
"Boss!" seru Akio.
"Apa?" Kai mendengus kemudian menyeringai.
"Makan!" teriak William membuat kedua pria itu menoleh.
"Sejak sekarang." kelakar William berjalan di belakang Kai, sementara Akio menatapnya dengan senyuman geli.
...
Kai membaca dengan seksama isi kertas yang memberikan informasi lengkap tentang Kartel Tijuana. Pemimpin Black Panther tersebut terlihat serius, ia mengamati kembali satu persatu anak dari Urbina. Dan manik biru Kai berhenti pada selembar foto gadis berusia awal 20 tahun. Keningnya berkerut samar, memerhatikan penuh kecurigaan.
Gadis meksiko yang cantik namun di balik rupa memukau, ada ego besar terpancar dari sorot matanya.
Kai mendengus sambil menyeringai.
"Ada yang menarik?" tanya Shadow. Wanita cantik bak dewi yang menggerai surai ikalnya.
"Sedikit." Kai menutup map lalu berdiri dari kursi kerjanya.
"Dia cantik." ucap Shadow melirik ke arah meja, walau kini Kai telah berdiri di hadapannya. Sosok jangkung Kai mendominasi, sebentar lagi menguasai Shadow sepenuhnya.
Panas. Tubuh dan tatapan Kai melemahkan sendi-sendi Shadow. Ia akhirnya menyerah dengan memegang pada kedua lengan kekar suaminya. Shadow mendongak, sepasang manik berwarna biru menyambutnya teduh. Jantungnya sakit, ia tak tak mau sepasang manik lautan itu menatap wanita selain dirinya.
"Ahh.." desah pendek keluar dari bibir Shadow.
"Ada apa?" selidik Kai sambil tersenyum.
Shadow menggeleng lemah. Ia membatinkan rasa cemburu di dalam hati.
Sejak kapan ia memiliki perasaan ini? Sebelumnya ia tidak begitu peduli akan wanita lain.
"Wanita itu anak bungsu dari Kartel Tijuana. Hanya itu, Nyonya Navarro." Kai menangkap maksud perkataan Shadow.
__ADS_1
"Hanya itu?" pertanyaan menuntut penjelasan lebih detil keluar begitu saja dari bibir Shadow.
Kai tertawa kecil seraya menarik tubuh Shadow masuk ke dalam dekapannya. "Tidak biasanya."
Shadow terdiam namun tangannya mencubit perut Kai yang sangat keras bak pipihan baja.
"Cemburu?" Kai tersenyum miring.
Kepala Shadow mengangguk lemah. Kai sontak tertawa lepas. "Wajahmu semakin cantik ketika seperti ini, Shaw. Aku jatuh cinta dengan hal yang tak biasa, bukan karena tampilan rupa melainkan sikap. Ophelia Shadow Farubun adalah wujud sempurna dari semua wanita di dunia."
Shadow berdecih mendapati dirinya dirayu sedemikian rupa oleh sang pemimpin Black Panther.
"Sudahlah. Aku tahu jika kau berusaha membujukku, Tuan Mafia." Shadow menyandarkan kepalanya di bahu Kai.
Kai mendelik sedikit ke bawah, jelas nampak jika istrinya sedang cemberut. Bibir mungil berwarna plum itu selalu menarik untuk dikecup dalam dan lama.
"Shaw." desah pelan Kai sambil memainkan surai kekasih hatinya.
Hanya dehaman kecil sebagai balasan dari Shadow. Tangan lentiknya bermain di kemeja putih milik Kai.
"Suamimu seorang mafia, beberapa misi Black Panther memiliki keterkaitan sebab dendam dan pemujaan terhadap diriku. Bukan hanya soal narkoba, dunia hitam dan sebagainya. Anak-anak mengatakan penyusupan ketika kita menikah memiliki hubungan kartel dari Meksiko tersebut. Black Panther tidak pernah mengusik kartel itu. Bahkan kita tidak pernah mengetahui keberadaan mereka sebelum ini. Tidak ada yang berani mengganggu ketenangan Black Panther."
Shadow terdiam sambil menatap raut wajah Kai yang serius. Dada Shadow berdebar kencang, bukan karena takut mendengar perkataan pria bermanik biru menggoda itu. Namun, ia tergila-gila dan memuja suaminya sendiri. Semakin mengenal lebih dalam sosok Kai Navarro, semakin besar rasa cintanya. Shadow tidak bisa membayangkan jika seorang wanita muda seperti di foto tadi mendapatkan kehangatan Kai.
Dadanya terbakar cemburu buta. Buru-buru Shadow menggeleng kuat, tangannya kini mencengkeram kemeja Kai pada bagian dada.
"Kau kenapa, Shaw?" tanya Kai sedikit khawatir. Malam itu Shadow terlihat tidak seperti biasanya. "Tidur?"
"Aku belum mengantuk." tolak Shadow malah mengeratkan pelukan. "Berjanjilah padaku, Kai." sambungnya setelah menarik napas panjang.
"Apa yang harus kujanjikan kepadamu sementara kau telah mendapatkan semua." tampik Kai.
"Begitu? Bahkan kesetiaanmu?" tanya Shadow.
Kai meniup wajah Shadow hingga anak rambut istrinya terkibas ke belakang. Kai tertawa senang mendapati istrinya posesif.
"Menikahimu adalah bukti kesetiaanku kepadamu, Shaw. Tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, apalagi hanya perkara anak gadis seorang kartel. Aku tidak pernah tertarik dengan wanita yang berasal dari dunia yang sama."
"Bukannya lebih gampang memiliki jiwa yang sama." pungkas Shadow.
"Tidak. Aku tidak berpikir hidup selain jalan yang kutempuh saat ini. Aku tidak akan pernah mencintai wanita selain dirimu. Dan aku sangat yakin jika aku tidak akan pernah berpindah hati, tidak! Aku hanya memandang lama foto wanita itu karena instingku mengatakan dia berperan atas berantakannya pesta pernikahan kita. Jika itu benar, aku tidak segan-segan menghancurkan mereka. Kita hanya beruntung hidup sampai hari ini. Bagaimana jika malam itu salah satu di antara kita berakhir hidupnya? Bagaimana jika kau tidak ada di hidupku, Shaw?"
"Sttt." telunjuk Shadow mendarat di bibir sensual Kai. "Buktinya kita masih hidup."
"Makanya itu, dengan wanita biasa-biasa saja aku tidak tertarik apalagi dengan wanita seperti Martina. Kau mengenalku, Shaw. Aku adalah orang yang sangat jahat kepada musuhku. Tidak ada nyawa yang kuampuni ketika mengusik kehidupan kita. Percayalah itu."
###
alo kesayangan💕,
Mangatoon sudah mewanti-wanti akan menurunkan level 3 novel ini jika tidak mengupdate lanjutan novel. Sudah sebulan lebih tidak menambah chapter, sadis amat yakk. 😅
Sebentar lagi aku balik k Jogja setelah liburan panjang ini, aku janji akan rajin menulis.
Oh ya, apakah kalian sudah pindah lapak membacanya? Apakah kalian bisa merekomendasikan lapak bagus dengan pembaca banyak, atau mungkin kalian bisa membaca novelku di situ?
Love,
__ADS_1
D😘