CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Nyonya Boss


__ADS_3

Sepasang manik biru berwarna lautan menatap sosok Shadow dari kejauhan, kedatangan Kai terbilang sangat mendadak di Quedlinburg. Begitu mendengar kabar buruk itu, iapun langsung meminta ijin kepada papanya untuk tidak hadir pada hari kedua rapat Navarro Group. Ada hal lebih penting, yakni tunangannya yang menjadi sasaran sebuah kelompok mafia. Tebakan Kai mengarah ke organisasi yang sama dengan Black Panther,  dan pastinya punya nyali untuk mengusik ketenangannya.


“Jadi mereka orang Jepang?” Kai dengan dingin bertanya kepada Conley. Kelima pengawal khususnya ikut merasakan ketegangan sang pemimpin. Kai sejak datang tidak menampakkan senyumnya sedikitpun. Mungkin saja penyebabnya adalah karena sang dewi cinta belum menghampiri, Shadow sedang sibuk dan Kai belum menampakkan diri kepada gadis cantik itu.


“Ya, boss.” Kata Conley mencoba tersenyum samar. Hanya dengusan kasar yang terdengar dari hidung mancung sang pemimpin.


Kai bak banteng yang terluka mendengar kabar Shadow diintai oleh dua orang yang sekarang keberadaannya tidak terlacak di kota kecil itu. Sungguh berani mereka mendekati Shadow, tak tahu jika Kai bisa meremat tengkorak kepalanya dengan satu tangan.


“Shadow akan istirahat selama tiga hari, tapi di Inggris. Tolong, salah satu di antara kalian mencarikan hotel yang dekat dengan lokasi syuting. Minta beberapa orang bertugas di sekitar Shaw, aku takut ketika kita berenam lengah dan mereka mengambil kesempatan itu.” Ucap Kai datar, sama dengan wajahnya.


Perkataan Kai terdengar sangat berlebihan, enam orang yang memiliki kemampuan bela diri setara dan penciuman setajam anjing pemburu kemungkinan besar tidak akan kecolongan.


“Baik, boss.” Jawab Akio seraya mengeraskan tulang pipinya. Mata sipitnya menoleh ke arah bangunan-bangunan pertokoan lama, bak elang mencari dua pria Jepang yang pastinya terlebih dulu dilompatinya. Demi sang boss, Akio rela terluka walau sampa sekarang ia masih bisa meloloskan dari beragam maut yang telah mereka hadapi.


“William, coba telusuri kelompok Yakuza yang pernah kita hadapi. Mungkin salah satu di antara mereka sekarang telah memiliki penerus dan ingin membalas dendam. Tapi kedua orang Jepang tersebut tidak bisa dijadikan pedoman bahwa mereka berasal dari kelompok Yakuza. Bisa jadi dari Eropa atau entah dari mana.” Kai berusaha tenang sambil berpikir beberapa kelompok yang masuk dalam list kandidat pengintai Shadow.


“Tapi kemungkinan besar dari Jepang, Bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus. Nyonya boss yang mengatakan jika kedua pria Asia itu tidak fasih, tapi bisa jadi mereka berakting.” Tambah Conley.


Sang pemimpin Black Panther mengembuskan napas panjang, jika melihat tampilan hari itu yang sama sekali ia tidak seperti seorang ketua mafia yang paling ditakuti, Kai selalu menawan dengan style bak seorang supermodel. Kai lebih terlihat sebagai pengusaha pemilik Alpheratz Hotel dan Resort yang sangat sukses, orang-orang tak tahu jika pria bersurai putih itu adalah magma bumi yang sangat panas.


“Bisa jadi orang-orang itu sudah pergi dari sini, dan mengetahui kalau syuting pindah ke Inggris. Kita harus bergerak juga. Sebentar aku akan bicara dengan Shaw, dia harus dibekali.” Kata Kai diikuti anggukan setuju oleh kelima pengawalnya.


Pria jangkung mengangguk pelan, kemudian berjalan dengan gontai menuju tempat Shadow. Ia bisa melihat pria yang tergila-gila dengan tunangannya membuang muka dan segera berlalu menjauh tempat duduk sang sutradara.


Shadow seketika berbalik ketika salah satu kru menyikutnya dan mengabarkan akan kedatangan Kai.


“Shaw.” Kai tersenyum lebar, selebar tangannya terbuka agar tubuh kekasihnya masuk ke dalam pelukan. Shadow melakukannya tanpa diminta, sepasang manik coklat berkabut dengan bibir yang merekah menjadi pemandangan indah bagi Kai.


“Aku pikir kau masih di Berlin, Tuan Mafia.” Bisik Shadow berjinjit mengatakan tepat telinga pria yang dirindukannya. Walau semua kru telah menyingkir namun Shadow tidak ingin profesi menakutkan kekasihnya menjadi bahan


pembicaraan orang-orang. Cukup dirinya yang tahu, karena tanpa itupun saja Kai sudah menjadi pembicaraan para kru wanita. Mereka memuja Kai Navarro, pemilik jejaring Alpheratz Hotel and Resort, pria yang sangat sukses sekaligus tampan dan dingin.


“Kau tahu bukan jika aku tidak bisa hidup jauh dari dirimu, Nyonya Boss.”


Shadow mencebik sambil mencubit pinggang pria mengenakan suit berwarna spring green, sangat memukau dan memberikan nuansa nyaman bagi orang yang melihatnya.


“Kau seperti pengawalmu yang suka memanggilku dengan sebutan itu.” gerutunya sambil merajuk. Kai justru mempererat dekapannya tanpa mempedulikan tatapan para kru film. Secercah sedih muncul di hatinya, andaikata ia kehilangan sosok Shadow. Kai tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


“Karena kau adalah nyonya Kai Navarro, Shaw. Oh ya, papa dan mama merindukanmu. Mereka berharap kita bisa meluangkan waktu ke Berlin sebelum ke Inggris.” Bujuk Kai yang memiliki rencana untuk menghambat pergerakan Shadow ke negara tersebut.


Shadow terlihat berpikir kemudia menganggukkan kepala dengan antusias “Ya, aku juga merindukan papa dan mama. Apakah kita akan menggunakan pesawatmu untuk terbang ke UK?”


Kai menyengir seraya mengangguk “Tentu saja, Shaw. Tanpa diriku pun kau bebas memakai pesawat itu.”


Shadow sekilas menoleh menatap krunya lalu kembali berbisik “Aku mendengar selentingan gosip yang mengatakan jika sutradaranya mendapatkan perlakuan khusus dengan terbang kesana-kemari dengan pesawat pribadi, sayang.”


Kai tertawa kecil, manik lautan menyala “Kau adalah milik Alpheratz Kai Navarro, Shaw. Perlakuan spesial yang kau terima karena kau adalah kekasihku. Aku tidak ingin membiarkanmu tersiksa dengan pesawat ekonomi.”


Shadow tergelak tawa seraya menggelengkan kepalanya dengan riang “Sebelum bertemu denganmu aku sangat bahagia terbang dengan pesawat ekonomi, Tuan Mafia. Kita bahkan menggunakan pesawat seperti itu saat ke Kolombia.”


“Itu terpaksa, Shaw.” Kai mengecup kening kekasihnya. Suara desas-desus dari para kru terdengar nyaring, Kai menatap orang-orang berpakaian t-shirt berwarna putih dengan sablon hitam bertuliskan “Revolution”. Orang-orang tersebut kemudian berpura-pura menyibukkan diri, pun Kai mengulas senyum kemenangan.


“Aku tahu, Tuan Kaya Raya. Oh ya, kami cuma mengulang satu adegan setelah itu syuting hari ini selesai. Nanti sore kita bisa kembali ke Berlin, menginap semalam dan terbang ke Yorkshire.” Kata Shadow memberikan kecupan ringan di pipi Kai.


“Baiklah, Shaw. Aku akan menunggu sambil makan siang dengan mereka.” Sejenak Kai menoleh menatap kelima pengawalnya yang dibalas dengan lambaian tangan heboh, seolah Kai adalah salah satu anggota keluarga mereka


yang baru turun dari kapal usai bepergian selama bertahun-tahun.


Shadow tertawa “Aku sangat menyukai mereka.”



Mimpi Shadow harus berakhir oleh gerakan tangan Kai yang menggoyangkan bahunya.


“Kai Navarro, apa yang kau lakukan?” Shadow berusaha membuka matanya yang langsung merasakan silau dengan lampu kamar tidur dinyalakan semua oleh kekasihnya.


Tanpa mempedulikan pertanyaan Shadow, Kai justru menarik tubuh kekasihnya untuk bangun.


“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, Shaw. Gantilah pakaianmu.”

__ADS_1


“Jam berapa sekarang?” erang Shadow melirik jam kecil di atas meja nakas “Tuhan, ini baru pukul dua dini hari, sayang. Badanku sepertinya remuk karena syuting.”


Shadow bermalas-malasan mengikuti permintaan kekasihnya yang terlihat sangat bersemangat. Seingatnya, setelah makan makam bersama dengan kedua orang tua Kai, mereka masuk ke dalam kamar dan tidur lebih awal. Sekarang Shadow mendapati penampilan Kai yang sangat rapi, membuatnya mengerutkan kening.


“Tuhan, kita akan kemana jam 2 dini hari? Kasihanilah tunanganmu ini.”  Shadow memelas namun Kai tetap pada pendiriannya.


Kai mengangsurkan pakaian serba hitam kepada Shadow.


“Pakai ini, aku tunggu di ruang tengah.” Ucapnya seraya memberikan kecupan di pipi kemudian berlalu dan berjalan meninggalkan kekasihnya yang melongo.


Tidak ada yang bisa diperbuat Shadow selain menuruti permintaan, sambil mendesah panjang dan melawan rasa kantuknya, iapun berjalan menuju kamar mandi.


Senyuman Kai melebar ketika melihat sosok tinggi semampai berjalan menuruni tangga rumah orang tuanya. Wajah Shadow terlihat fresh dan lebih bersemangat daripada 20 menit yang lalu.


“Aku akan memberimu hukuman jika bangun jam dua dini hari tidak berarti apa-apa, Tuan Mafia.” Gerutu Shadow ketika Kai menangkap pinggangnya.


Kai tersenyum miring dengan bibir sensualnya.


“Kau pasti akan menyukainya karena aku juga, Shaw. Bukankah kita sehati, baby girl.” katanya sambil berjalan menuju pintu utama. Kekasihnya terdiam sepanjang jalan, dan sedikit terkejut melihat lima pengawal khusus Kai telah berada di samping kendaraan yang berwarna sama dengan pakaian mereka.


William membukakan pintu untuk Kai dan Shadow, dan Yoruban ikut duduk di depan. Ketiga lainnya mengendarai mobil berjenis sama dan berjalan terlebih dahulu.


Jalanan lengang, kendaraan hanya satu dua membelah malam yang hampir pagi, Shadow bisa menebak mobil yang dikemudikan William berada di kecepatan 90 kilometer/jam. Tak lama kemudian mobil berbelok masuk ke jalanan sepi, dan hanya ada pepohonan tinggi di kiri dan kanan jalanan.


Sesekali Shadow melirik Kai yang terdiam, begitupun dua pria di depan. Iapun segan untuk membuka percakapan selain mengikuti ritme teka-teki kekasihnya.


“Shaw, kita sudah sampai.” Kai meremas jemari kekasihnya, manik coklat di kegelapan malam berkilat lalu meredup “Tidak ada apa-apa, baby girl. Ada aku bersamamu.”


Kai turun dari mobil sambil menggenggam tangan Shadow. Mereka berada di sebuah lapangan di tengah rimbunnya pepohonan yang sangat tinggi. Sebenarnya Shadow merasakan sedikit takut, namun ia bersama enam pria hebat, kecuali pria-pria itu berubah menjadi orang lain tentu saja bisa dipastikan nyawanya tidak akan sampai matahari terbit hari itu.


Sedikit Kai menuntun Shadow dari tempat mobil terparkir.


“Berdirilah di sini.” Kai memegang kedua bahu Shadow seraya menoleh sedikit.


“Ini, boss.” Conley menyodorkan sebuah senjata kepada Kai.


“Apakah kau ingin membunuhku?” tanyanya dengan suara bergetar.


Kai tersenyum tipis, lalu sorot matanya redup penuh makna. Ia kemudian memasangkan Earmuff, pelindung telinga untuk kekasihnya.


“Ini untuk kebaikanmu, Shaw.” Ucapnya singkat sembari meletakkan senjata yang sama ia berikan kepada Shadow saat di Kolombia.


Kai bersuit, sedetik kemudian secercah cahaya muncul sekitar 20 meter di depan Shadow. Balon berwarna merah menyala, dan hanya itu bisa Shadow lihat di kegelapan tanah lapang tersebut.


“Tembak pas pada balon itu, Shaw. Tarik pelatuknya.” Perintah Kai di respon tatapan aneh dari Shadow.


“Tapi.” Sahut Shadow meragu, tangannya gemetar dengan kaki yang hampir layu.


Tubuh Kai condong ke bawah pas di sudut pipi Shadow “Baiklah aku akan mempraktekkannya terlebih dahulu. Lihat dan pelajari.”


Kai bersuit sebanyak dua kali, dan meraih senjata yang berada diselipkan pada punggungnya.


Dor ! sasaran pertama secepat kilat, tak lama kemudian sasaran lebih jauh menyala.


Dor ! bunyi desing senjata memburai keheningan hutan, bulu kuduk Shadow meremang. Adrenalin memompa tinggi menyaksikan setiap sasaran yang semakin jauh di depan meledak tak lama setelah peluru yang dilesakkan.


Shadow melihat beberapa sosok berlari di depan mengganti target dengan cepatnya.


“Giliranmu.” Kai bersuara ketika sosok-sosok itu kembali menghilang.


Sambil menarik napas panjang, Shadow mengangkat kedua tangannya ke atas. Si gadis yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali tentang menembak sedang mengumpulkan fokusnya pada balon merah.


Dor !


Tembakan pertama Shadow meleset, hanya angin menjadi sasaran pelurunya.


“Tenang, tetap fokus.” Kai berbisik dari sebelah Shadow.


Shadow menarik napas panjang kemudian mengambil posisi yang pernah diajarkan Kai.

__ADS_1


Dor !


Desing peluru hampa kembali berdentum di hutan entah berantah yang jelas Shadow masih berada di Jerman.


“Sedikit lagi, Shaw. Kau telah mengenai bahu sasaranmu, tapi itu tidak mematikan. Tembak balon merah itu dan kau mengenai jantungnya.” Kai berbicara dingin, seolah Shadow bukan kekasihnya melainkan anak didikannya.


Shadow tidak ingin memperpanjang dengan membantah, matanya memicing pada balon merah.


Dor ! plastik balon meledak karena tekanan peluru Shadow.


“Yes!” Shadow berteriak sendiri, tapi kesenangannya tidak berlangsung lama. sasaran berikutnya kemudian menyala.


“Aku tahu kau memiliki mata yang sehat, Shaw. Hanya perlu memusatkan bidikanmu ke sasaran-sasaran berikutnya. Masih ada sepuluh sasaran di depan, dan aku yakin kau bisa.” Kai menepuk punggung Shadow dibalas anggukan kuat dari gadis bersurai hitam itu.


Kai pun bergerak sebanyak tiga langkah ke belakang, ia membiarkan Shadow menikmati pelajaran menembaknya.


Setiap kali Shadow berhasil meledakkan balon-balon merah, Kai tersenyum simpul. Kekasihnya sangat cepat dalam belajar. Pagi telah datang ketika Shadow berhasil menyelesaikan sasaran tembak terakhirnya. Shadow terpekik riang melompat, usai sasaran sejauh 600 meter diledakkannya. Ia menyerahkan senjatanya kepada Kai dengan raut wajah yang sangat bahagia.


“Aku berhasil, Tuan Mafia.” Ucapnya sambil mengusap wajah yang berpeluh, begitupun dengan rambutnya kini telah basah.


“Minumlah.” Kai menyodorkan sebotol mineral kepada kekasihnya dengan rasa bangga.


Shadow baru saja menelan dua tegukan air putih dan mendengar derap langkah kaki berjalan seirama. Ia tertegun dan terkejut, ratusan pria berpakaian serba hitam kini berbaris rapi.


“Kai.” suara Shadow tercekat di tenggorokan.


Shadow semakin tidak percaya akan penglihatannya, tampak sosok orang tua kekasihnya berjalan melewati pria-pria berpakaian serba hitam. Di sisi Kila dan Hugo, berjalan tiga pria paruh baya berwajah tenang dan dingin. Hanya ada satu yang berbeda di antara orang-orang tersebut, yaitu Hugo satu-satunya orang yang mengenakan pakaian berwarna beda, yakni serba putih.


Shadow kebingungan, mencengkeram lengan Kai.


Lima orang yang baru datang berbaris di sebelah Shadow dan Kai. Sementara para pengawal Kai berada paling ujung barisan, di sebelah tiga pria paruh baya itu. Kila dan Hugo melemparkan senyuman kepada Shadow yang tegang.


Perhatian Shadow tertuju pada cawan perak yang di pegang Heron, pria berkulit hitam itu terlihat menyayat telapak tangannya dan meneteskan darah pada wadah tersebut. Hal yang sama dilakukan Conley, William, Akio dan Yoruban. Begitupun ketiga pria paruh baya, diikuti oleh Hugo dan Kila.


Tidak ada suara yang terdengar kecuali bunyi ciutan burung pagi, yang masih berkabut di tengah hutan.


Kai menatap kekasihnya sebelum tanpa segan menyayat telapak tangan dan mengisi darahnya pada cawan perak itu.


Degup jantung Shadow bergemuruh, matanya memerah karena takjub dan entah perasaan apa yang sedang membanjirinya. Seakan ada yang memerintahkan Shadow di dalam kepalanya, pun ia menyodorkan tangan ke depan dengan sukarela.


“Maafkan aku, Shaw.” Kai memegang lembut tangan Shadow kemudian melakukan hal yang sama. sedikitpun Shadow tidak mengeluhkan perih bahkan matanya memicing melihat tetesan darahnya menyatu dengan milik lainnya.


Sepasang air mata haru jatuh di pipi Shadow, bibirnya tersenyum walau itu bergetar.


“Sekarang kau adalah seorang Black Panther, Shaw. Bukan hanya cinta yang menyatukan kita tapi juga darah. Kami semua di sini akan melindungimu sampai tetesan darah terakhir.” Ucap Kai seraya menatap ke depan kepada ratusan anggota Black Panther yang berada di Eropa berkumpul untuk hari bersejarah kekasihnya.


Shadow kehilangan kata-kata, ia lalu menatap orang-orang di depannya dengan perasaan bangga dan kagum yang membumbung tinggi.


“Selamat datang di Black Panther, Nyonya Boss!” pria-pria berpakaian serba hitam itu serempak bersuara, menggema dan menggetarkan hati Shadow.


###




alo kesayangan💕,


jadi update dua hari sekali yah..


betul2 akhir tahun yang banyak urusan.


masih adakah yang menunggu Kai?


hmmm...


love,


D😘

__ADS_1


__ADS_2