
Matahari bersinar terang, jam telah menunjukkan pukul 10.00 pagi hari, namun tak ada tanda-tanda Kai akan terbangun dari tidurnya. Kehadiran Shadow di dalam kamar pun tidak dirasakan oleh pria bertelanjang dada yang sedang tenggelam dengan mimpi indahnya.
Usai mengamati Kai, Shadow menuliskan pesan pada sticky note dan menempelkan pada ponsel Kai. Ia sangat tahu hal pertama dicari suaminya ketika bangun. Ponsel!
"Bu, Shadow titip Kai. Dia belum bangun," gerutunya ketika mencapai ruang tamu. Di situ ada Dee bersama dua pria paruh baya yang mengenakan sama-sama pakaian rapi. "Kita berangkat," katanya kepada Liam dan Ricchi.
"Baiklah, Ibu juga akan membuatkan sarapan untuk Kai," ujar Dee penuh kasih sayang.
"Tepatnya brunch," ralat Liam.
"Semoga Kai bangun tak lama setelah kalian pergi," kata Dee menerima ciuman pipi dari Shadow. "Ibu tidak ingin kesepian,"
"Kau tidak pernah kesepian, Sayang," hibur Ricchi mengecup pipi Dee satunya. Usai mengacak surai Dee, Ricchi merangkul bahu Shadow. "Lihat, Ibu merajuk kesepian,"
Sejenak Shadow termenung dengan perkataan Papanya. "Shadow belum mengatakan kepada Kai," gumamnya.
"Dia sangat sibuk. Semalam Kai pulang jam berapa?" Ricchi menuntun Shadow menuju mobil yang akan mereka kendarai menuju kantor.
Shadow menghela napas, ia menengok ke lantai dua di mana kamar tidurnya berada. "Mungkin sekitar pukul 2 atau 3 dini hari,"
Ricchi menyandarkan punggung di badan mobil, ia ikut memandang ke atas. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, kain gorden masih tertutup rapat. "Wajar masih tidur. Sepertinya pekerjaan Kai sangat banyak yah, Shaw?"
Shadow mengerucutkan bibir sambil mengangguk. "Entah dan mungkin juga iya, Pa. Biasanya Kai menceritakan pekerjaannya kecuali yang ini,"
Ricchi membuka pintu depan ketika melihat Liam berjalan setelah usai berpamitan lama dengan Dee. "Biarkan Ayahmu duduk di belakang,"
Shadow mengikuti saran Ricchi, ia duduk di bangku penumpang. Sambil menghela napas berat ia mengenakan seat belt. Separuh hati Shadow masih berada di tempat tidur sementara ia harus menepati janji kepada kedua orang tuanya.
"Hari yang cerah," seru Liam ketika bergabung di kursi belakang. Pria paruh baya dengan surai sepenuhnya telah abu-abu namun justru itu membuatnya lebih menarik.
"Kau sudah memastikan kedatangan Richard?" tanya Liam sambil melihat ponselnya.
"Iya, dia membalas pesanku sangat pagi. Mungkin ketika dia bangun dan langsung mengabari akan bertemu di kantor," sahut Ricchi sambil membunyikan klakson mobil.
Shadow melambaikan tangan kepada Dee, wanita cantik itu membalas dengan lambaian dan senyuman lebar.
Mobil baru bergerak sekitar 100 meter dari rumah, dan Shadow melihat dari kaca spion di belakang mereka ada dua kendaraan yang mengikuti.
"Sampai kapan Kai menyewa pengawal untuk kita?" tanya Ricchi yang menyadari kehadiran kendaraan berjenis SUV berwarna hitam mengkilat.
"Aku tidak pernah melihat Kai marah kecuali kejadian dua minggu yang lalu. Saat kita makan malam," sambung Liam. "Dia berubah menjadi orang lain,"
Ricchi di balik kemudi menganggukkan kepala. "Bang, aku memikirkan kejadian itu. Tapi tidak berani membahasnya di depan Dee. Semakin bertambahnya usia, Dee terlihat lebih rentan,"
Liam berdeham. "Sebenarnya Dee bertanya-tanya tentang pria yang menganggu acara makan malam kita. Dia sempat berpikir jika ada yang mengganggu pekerjaan atau ada yang tidak menyukai Kai,"
Ricchi melirik Shadow tanpa respon, tidak juga ingin menambahi. "Jika Shaw masih tenang sebaiknya kita juga, Bang. Lebih baik kita pikirkan saja masa depan perusahaan karena kemungkinan Kai tidak setuju untuk menetap di sini sangatlah besar," imbuhnya.
Liam menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk membalas email. Ia mengarahkan pandangannya ke depan. "Kita juga belum terlalu tua untuk tetap bekerja," timpalnya optimis.
"Ya. Beginilah nasib memiliki dua anak perempuan. Andai saja dulu kita berusaha untuk mendapatkan seorang anak laki-laki," kesah Ricchi sambil memberikan jalan kepada mobil hitam yang mengawal mereka untuk memimpin. "Mereka hebat," pujinya melihat pria-pria berpakaian serba hitam di dalam mobil menyalip.
Shadow meresapi perkataan orang tuanya. Walau belum ada pembahasan lebih mendalam tentang rencana memiliki keturunan dengan Kai, namun keluhan Ricchi membuatnya tergerak. Shadow seharusnya mulai memikirkan masa depan Alpheratz Hotel dan Black Panther. Ia tidak ingin Kai di usia Ayah dan Papanya masih terjun ke suatu misi membahayakan nyawa. Terlebih Black Panther bukan sebuah perusahaan film di Hollywood melainkan sebuah organisasi mafia yang tidak akan pernah bubar sampai kapanpun. Black Panther adalah warisan keluarga yang harus dipelihara dan diturunkan kepada penerus selanjutnya.
...
__ADS_1
Kai sengaja berjalan sendiri dari parkiran mobil menuju restoran meksiko yang dipilih istrinya untuk bertemu sore itu. Setelah bangun pada pukul 11 menjelang siang, ia kemudian menghabiskan hari dengan berbincang banyak dengan Dee, sang Ibu. Dee memberikan banyak nasehat rumah tangga, pula diselingi cerita masa lalu tentang Shadow waktu kecil dan perjalanan cinta berliku Dee..
"Hai, Cewek Cantik. Sendiri?" goda Kai ketika memeluk Shadow yang sejak kehadirannya di pintu langsung berdiri dan menyambutnya.
"Ya, sebenarnya aku memiliki suami. Sayangnya dia sangat suka tidur dan malas," protes Shadow lalu meringis.
Kai tertawa dan mengambil tempat duduk di samping Shadow. Ia sempat mengamati suasana restoran Meksiko yang merupakan langganan Shadow di Hollywood. "Aku merindukanmu, Shaw," ucapnya sambil menggenggam jemari Shadow.
"Jika kau rindu seharusnya kau mengurangi kesibukanmu, Tuan Mafia," ujar Shadow menatap Kai. Bibirnya masih mengerucut kesal, walau itu yang terpampang di wajahnya namun lain yang ia rasakan. Pun Shadow merasakan hal yang sama, yakni rindu. Kesibukan membuat mereka tidak memiliki waktu untuk bersama selama di Hollywood.
"Sudah tidak ada, Shaw. Misinya sudah berakhir, Done!" tegas Kai menabrakkan maniknya dengan bola mata caramel milik Shadow.
"Ini bukan janji kebanyakan para politisi, bukan?" Shadow menuntut kepastian.
Tawa Kai meledak. "Tentu saja bukan. Kau lama-lama seperti mama. Jadi bagaimana dengan urusan kantor?"
Shadow mengangkat bahu. "Banyak hal diputuskan dalam rapat, termasuk peranan Richard di dalam Farubun and Maheswara. Tadinya Ayah ingin aku mengambil alih kepemimpinan di kantor, tapi aku belum bicara denganmu dengan rencana itu..."
"Kenapa?" potong Kai.
Shadow mendesah. "Itu berarti kita akan menetap lama di sini, dan aku belum yakin bisa,"
"Itu tidak masalah bagiku," sergah Kai menyakinkan istrinya.
Shadow menggeleng. "Aku menjadi plin plan, Tuan Mafia. Aku tidak tahu misi apa yang kau kerjakan beberapa hari terakhir. Tapi semenjak kita berada di kota ini, kau menjadi tidak mempunyai banyak waktu untukku. Jika kita berdua sama-sama sibuk nantinya.. aku tidak menjamin kita akan punya waktu untuk bermesraan," keluhnya yang ditanggapi tawa pelan dari Kai.
"Astaga," Kai berdecak dengan bibir mengulum senyuman. Ia menggeleng menggoyangkan surai putihnya yang lembut.
Shadow berusaha mengabaikan godaan indah dari pria yang notabene adalah miliknya itu. "Tadinya aku berpikir memiliki rumah di sini, jika kita menetap. Tapi aku sudah memutuskan akan membagi waktu dalam setahun. Jadi setiap musim berganti kita juga akan berganti kota antara Berlin dan Hollywood. Karena aku tumbuh di kota ini yang sepanjang tahun hampir sama saja, maka musim dingin akan berada di Berlin, aku ingin melihat salju," putusnya dibalas anggukan dari Kai.
Shadow melebarkan matanya. "Urusan apa?"
"Sunshine," Kai melipat bibir dengan tatapan serius. "Dia berada di sini, di kota yang sama dengan Ibu. Tapi kenapa Sunshine jarang berkunjung membawa serta Max,"
Shadow manggut-manggut seraya mengembuskan napas panjang. Ia meraih gelas berisi air putih di meja dan menenggaknya hingga sisa setengah. "Aku tidak tahu jalan pikiran adikku. Tapi semua tingkahnya itu berasal dari bimbingan Richard juga. Aku akan bicara dengan Richard,"
"Panggil saja mereka makan malam di rumah dan baiknya bicarakan secara bersama-sama. Ada Ayah, Ibu dan Papa," saran Kai.
Shadow mendengus. "Aku hampir lupa menceritakan hal yang terjadi di perusahaan Ayah. Begini.. Richard berniat menguasai Farubun dan Maheswara,"
"Ibu sudah cerita tadi, Shaw. Menurutku tidak apa-apa jika Richard berkeinginan mengembangkan perusahaan Ayah. Selama dia hanya diberikan batasan kewenangan. Lihat aku, Shaw. Kita memiliki banyak cabang Alpheratz Hotel, tapi apa yang kukerjakan selain menghadiri rapat tahunan. Semua tetap berjalan lancar, tanpa ada kendala. Kita hanya menikmati hasilnya dengan bersantai seperti ini," pamer Kai sambil menyeringai. Bagi Shadow raut wajah Kai seperti itu membuatnya jatuh dan jantung berdegup di atas normal. Shadow meringis kesal karena ia ingin mencubit pipi suaminya namun pembahasan mereka lebih penting.
"Terus sebagai pemimpin Black Panther kau masih turun ke lapangan? Bukan duduk bersantai atau tinggal bermesraan dengan istrimu. Kau tahu bukan hanya Ibu yang kesepian, aku pun kesepian!" sindir Shadow lalu mendengus.
Kai terkekeh. "Kau membuatku bergairah, Shaw. Tapi untuk menghabiskan malam panjang kita perlu banyak tenaga," ucapnya sambil mengerdip nakal. "Kita makan dulu sebelum pulang ke rumah,"
...
Enam bulan kemudian ketika Berlin memulai musim dinginnya. Shadow adalah satu-satunya anggota keluarga Navarro yang bergembira dengan butiran salju turun seusai hujan rintik. Ia betah berjam-jam duduk di dekat jendela kaca, bahkan ketika berkunjung di kediaman orang tua mereka di pusat kota. Sama halnya dengan Shadow yang memberikan jadwal antara Hollywood dengan Berlin, pun berlaku kepada Kai yang setiap seminggu sekali berkunjung menemui Kila dan Hugo.
"Istrimu masih di ruang baca?" tegur Kila ketika melihat Kai sedang membuat coklat panas.
"Ya, Ma," Kai menoleh sekilas akan kedatangan Kila ke dapur bersih. Dapur yang dikhususkan untuk anggota keluarga untuk membuat minuman dan makanan ringan bukan dapur besar di mana pemilik rumah mempekerjakan beberapa chef dan pelayan khusus.
__ADS_1
"Ini ada surat untukmu," Kila menaruh amplop coklat di atas island kitchen. Ia melirik Kai dengan tatapan tajam. "Mama sudah membukanya, hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mencurigakan di dalam surat,"
"Ma! Jika surat untukku, Mama tidak boleh membukanya, itu melanggar privasi," Kai berseru sambil mengaduk coklat panasnya. Ia meletakkan sendok kecil di pinggiran piring kecil.
"Istrimu harus tahu isi surat ini, berjanjilah kepada Mama," Kila mengacuhkan seruan Kai, ia memberikan pukulan tak seberapa di dada anaknya sebelum beranjak meninggalkan dapur.
Belum sempat Kai menjawab, sosok Kila telah menghilang. Kai dengan buru-buru membuka amplop coklat dan mengambil kertas di dalamnya. Ada dua lembar foto di dalam surat tersebut, dengan helaan napas panjang Kai memulai membaca surat yang diperuntukkan kepadanya.
Dear Kai,
Hai, ini dengan Martina. Aku jamin kau pasti belum melupakanku. Pertama dan terakhir kita bertemu di Meksiko dan sejak itu pula aku tidak pernah bisa melupakanmu. Bahkan sedetik pun.
Pada hari kita berpisah, di hari yang sama pula Tijuana Kartel hancur, rata dengan tanah bersama dengan Papaku, Luis dan Pedro. Tidak, aku tidak menyalahkanmu dengan kehancuran keluargaku atau kematian mereka. Aku mungkin anak yang durhaka, karena walau hatiku hancur karena mereka telah tiada namun di sisi lain aku merasakan lega. Kejahatan mereka sudah berakhir, dan bagaimanapun dalam sejarah sebuah keluarga kartel tidak akan bertahan lama. Tumbuh di lingkungan seperti itu membuat diriku sejak kecil sudah bersiap diri akan kehilangan mereka. Dan terima kasih, kau menyisakan Antonio untukku.
Kai.. Aku tahu kau telah memiliki seorang wanita, itu yang membuatku bimbang untuk meneruskan kegilaan yang kau katakan itu. Walau sebenarnya berat, tapi aku berusaha tidak membandingkanmu dengan pria-pria yang mendekatiku. Wangimu, bau napasmu, lengan kokoh yang melindungiku, dadamu yang bidang adalah tempat ternyaman yang pernah aku singgahi sesaat. Tidak ada yang sama.
Kai.. Tujuanku menulis surat yaitu hanya ingin mengabarkan keadaanku dengan Antonio. Kami di Reykjavik Islandia, kau pasti tahu dengan keberadaan kami di sini. Karena semua atas suruhanmu membuang atau lebih tepatnya menjauhkan kami dari Meksiko. Kami di sini menjadi orang yang baru, tidak ada yang mengetahui dengan kehidupan sebelumnya. Mereka tidak mengenal Martina dan Antonio. Yang mereka kenal adalah Ana dan Daniel Cervantes.
Oh ya Kai, aku mulai melanjutkan sekolahku. Ya, berusaha menjadi orang yang lebih baik dan tidak berharap banyak dari harta peninggalan Papa. Begitupun dengan Antonio yang membuka kedai makanan khas Meksiko. Kami berjanji akan menyentuh uang tersebut jika benar-benar tidak berdaya lagi. Sayangnya kami tidak pernah merasakan hal itu karena kau selalu mengirimkan uang setiap bulannya.
Antonio menitipkan pesan, ia berharap kau berhenti memberikan kami uang. Kedainya mulai ramai dengan pengunjung, sepertinya kami sudah bisa melepaskan diri dari sokonganmu. Ya, kecuali dengan apartemen tersebut, kami belum bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik. Dan orangmu juga melarang kami untuk pindah. Kau tahu pasti itu.
Kai, aku berterima kasih atas segalanya. Terakhir jika aku boleh berharap suatu hari kau akan berkunjung ke sini. Pada hari itu, kedatanganmu ke Reykjavik aku anggap kau melepaskan wanitamu yang sekarang.
With Love,
Martina.
###
alo kesayangan💕,
hai, aku kembali... dengan novel yang akan tamat ini. novel yang ternyata sangat panjang dan seharusnya byk action atau adegan mafianya.
tapi aku tidak ingin menampilkan kekerasan lebih di sini. sesuai judulnya, Cute Mafia bukan Killer Mafia 😂🤣
walau beberapa mengatakan novel ini "no feel" tapi ada juga yang menunggunya.. begitu hidup, kita tidak bisa memaksa semua orang suka, bukan?
oh yah, gimana kabar kalian?
ak sedang recovery setelah kelelahan karena urusan kerjaan. aku paling tidak suka mengeluh, karena tidak ingin lemah di mata orang😂.
aku akan kembali beraktifitas seperti semula dan berolahraga lebih tekun setelah hampir 2 minggu berantakan jadwalnya.
tetap sehat, ladies..
yang sakit harus kembali pulih
kalian kuat💪🏻.
love,
__ADS_1
D😘