
“Sekarang aku ada di sini.” Kai memamerkan dirinya di depan Shadow yang separuh sadar. Gadis bersurai ikal itu membuka matanya sedikit, kemudian membelalak.
“Kau sudah pulang?” kaget Shadow spontan terduduk sambil merapikan surainya yang berantakan. “Jam berapa ini?”
Alis Kai yang melengkung terlihat berkedut sekali. “Hampir jam 3 dini hari, Shaw. Tadi aku memastikan temanmu, Conley mendapatkan perawatan di rumah sakit baru aku pulang.”
Shadow mengembangkan tangannya. Kai bergerak cepat merengkuh kekasihnya. “Tuhan, terima kasih mengembalikan mafia satu ini utuh untukku.”
Kai terkekeh. “Memangnya ada mafia lain, Shaw?”
“Banyak. Kau memiliki ribuan anggota beserta pengawalmu yang luar biasa itu.” Shadow merenggut.
Bibir Kai menyeringai seksi. Shadow semakin merenggut. “Kau harus mengunjungi Conley.” Kata Kai mengingatkan.
“Separah apa dia?” tangan Shadow memegang kerah kemeja Shadow, tatapannya sedikit mendung mengkhawatirkan keadaan Conley.
“Tidak parah, Conley sangat kuat. Hanya perlu beristirahat, dan aku sengaja membawanya ke rumah sakit agar dia di awasi oleh suster. Jika tidak seperti itu, Conley akan melakukan hal bodoh. Seperti kembali bekerja.”
Shadow paham perkataan Kai, ia mengangguk. “Aku akan membawakan makanan kesukaannya. Atau mungkin kue yang enak. Kai, apakah Conley mempunyai keluarga di Berlin?”
Wajah Kai yang tidak menyiratkan lelah sedikitpun kemudian menggeleng. “Setahu tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu, Shaw?”
Shadow menghela napas pendek. “Kalian semua tangguh. Bisa berada dalam satu pertempuran kemudian terluka tanpa ada keluarga yang tahu dan menemani. Ataukah kalian tidak mengenal rasa sakit? Tidakkah kau memikirkan orang-orang yang menunggumu, Tuan Mafia. Jika bukan mama yang memintaku untuk tenang, aku tidak bisa tidur.” cerocosnya seperti kereta Jepang.
Kai mencebik meledek kekasihnya. “Buktinya kau tidur dengan lelap.”
“Ya, itu karena mama menenangkan. Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.” Shadow sepenuhnya telah terbangun. Kini malah ia berdiri dan menarik tangan Kai. “Kau mau tidur atau ingin aku membuatkanmu secangkir kopi. Kantukku hilang dan aku rindu.”
“Sebuah tawaran yang menarik.” Kai mengetatkan tautan jemari mereka sambil berjalan menuju lantai bawah. “Sebentar lagi papa dan mama bangun.”
“Kenapa mama dan papa sangat santai, Tuan Mafia. Maksudku, mereka tahu jika anaknya dalam satu misi dan masih tetap tenang, sementara aku tidak bisa.” Shadow mengerang lirih.
“Biasakan dirimu, Shaw. Kau tahu mama dan papa bersikap seperti itu karena mereka pernah mengalaminya. Mereka saling mendukung, dan apa yang papa mama lakukan di luar pengetahuan kakek. Ini hanya tebakanku.”
“Sayangnya aku tidak bisa setangguh mama. Namun, aku tahu posisiku, seorang yang baru bergabung dengan Black Panther itupun secara nepotisme.” Desah Shadow, lalu Kai tergelak tawa keras.
“Nepotisme. Hmm, berpacaran dengan pemimpin Black Panther adalah jalan singkat. Bukan begitu?” Kai masih terkekeh akan perkataan kekasihnya.
Shadow mengedikkan bahu. “Mungkin iya. Tapi aku terlanjur suka walau tahu jika kau adalah pemimpin sebuah organisasi hitam. Aku tidak berharap akan sejauh ini terjun ke dunia mafia, Tuan Navarro. Tapi mama pernah mengatakan jika aku hanya perlu mendampingimu, tidak perlu berharap bisa sehebat kalian.” ujarnya melemah dan tak percaya diri.
“Belum, jangan berkecil hati, Shaw.” Sanggah Kai menghibur gadis yang tetap menarik bahkan baru saja bangun tidur. “Semua butuh proses, tapi tenang. Aku tidak mungkin meletakkanmu dalam posisi yang berbahaya. Tapi untuk menjadi tangguh dan hebat, kau harus selamat dari berbagai pertempuran. Seperti Conley, bukannya dia merasakan sakit. Tentu saja Conley merasakan hal itu, dan bukan pertama kali dia terluka dengan posisi tanpa ada keluarga yang menemani. Sering, dan hal itu pula yang membuat kami terlihat kebal akan rasa sakit dan rindu. Jujur, aku belum pernah terluka.”
“Kau hebat.” Sanjung Shadow mendongak.
Kai mendengus sambil memiringkan bibirnya. “Bisa dikatakan seperti itu, mungkin juga karena doa-doa mama didengarkan Tuhan untuk selalu melindungiku di setiap misi. Sekarang aku punya dua wanita yang mendoakan.”
Shadow berdecak dengan manik membelalak. “Jangan terlalu sering terjun ke satu pekerjaan yang berbahaya. Apakah kau tidak mempunyai team kedua, ketiga yang mengerjakan hal berbahaya tersebut? Kenapa selalu pemimpin Black Panther yang turun tangan ke suatu tempat. Bukannya para boss mafia di film-film hanya duduk di singgasana menikmati kekayaannya serta bermain dengan berbagai wanita seksi.”
Bola mata Kai mengerling jahil.” Kau mau aku seperti itu? duduk dengan hebatnya, cerutu di tangan lalu ditemani berbagai wanita seksi dan cantik di sekelilingku?”
“Tidak!” sergah Shadow seraya membulatkan maniknya.
Kai tertawa keras, suaranya memenuhi wilayah tangga mansion milik Hugo, sang papa. “Shadow, kau sangat lucu. Jangan menyuarakan sesuatu jika dirimu tidak sanggup mendengarnya atau mungkin melihatnya. Kuakui jika gambaran mafia di film-film hampir sama dengan kehidupan nyata namun aku tidak ingin menjalani hidup seperti itu. Orang tuaku tidak mengajarkan hal tersebut ketika menjalankan kepemimpinan Black Panther. Kami mengedepankan ikatan kekeluargaan dibandingkan sikap hidup berlebih-lebihan.”
“Maafkan aku.” Shadow mendesah, sementara Kai mengulum senyuman.
__ADS_1
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Shaw. Andai aku mau, tentu saja telah aku lakukan hal itu sejak dulu. Dan mungkin aku tidak bisa mengembangkan Black Panther sebesar ini. Aku hanya akan berpuas diri dengan pencapaian mama yang diwariskannya. Black Panther memiliki kesempatan yang besar, kami tidak akan berada di level ini. Aku pernah mengatakan kepadamu, jika kami adalah malaikat yang berjalan di sisi gelap dunia. Dan kejahatan lebih banyak yang harus diperangi. Aku selalu berpikir ketika mendapatkan satu misi besar, mereka adalah penjahat kelas kakap. Tak lama setelah itu, aku bertemu dengan yang kelompok berkuasa dan lebih menakutkan. Seperti langit, mafia atau para penjahat pun mempunyai ribuan lapisan.”
“Ini berat, Tuan Mafia.” Kembali Shadow mengerang ketika mereka mencapai dapur kering yang hanya diperuntukkan untuk membuat minuman.
“Berat?” tanya Kai sembari memandang kekasihnya menyalakan coffee maker.
Shadow berhenti dan menantang manik lautan Kai Navarro. “Pembahasan yang berat, pekerjaan yan berat, masa depan…” potongnya meragu untuk melanjutkan perkataan.
“Tidak, Shaw. Tidak ada yang berat dilakukan ketika kita ikhlas menjalaninya. Mari secara perlahan kita
berdiskusi tentang rencana-rencana yang berkaitan dengan Black Panther, dan rencana kehidupan rumah tangga kita setelah menikah. Tidak ada jalan lain selain menghadapinya, kau tidak akan pernah lepas dari genggamanku, Nona Ophelia Shadow.” Tukas Kai dengan nada dan mimik serius.
Shadow melebarkan senyumannya sambil menusuk bagian rusuk kiri Kai. “Siapa juga yang ingin melepaskan pria sepertimu, Tuan Mafia? Kau adalah perwujudan sempurna seorang pria yang kucari selama ini. Aku adalah milikmu.”
…
Sore hari setelah Shadow usai berbicara dengan ketiga orang tuanya lewat panggilan telepon, ia berencana untuk membalas email pekerjaan sambil duduk bersantai di ruang keluarga lantai dua.
“Sibuk?” tanya lembut menjeda aktifitas Shadow. Ia menoleh ke arah pasangan paruh baya yang saling
bergenggaman tangan. Sepintas rasa kagum hadir di benak Shadow melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh orang tua kekasihnya.
Shadow tersenyum sambil menggeleng. “Tidak terlalu, Pa.”
Hugo Chan dan Kila kemudian menempati sofa di samping tempat duduk Shadow. “Tolong bawakan teh dan kue untuk kami.” Ujar Kila kepada pelayan yang tengah berdiri menanti perintah sang majikan.
“Baik, Nyonya Navarro.” sahut sang pelayan kemudian bergegas.
Shadow meletakkan tabletnya di atas meja, ia merasa tidak sopan jika meneruskan pekerjaan tatkala kedua orang tua Kai duduk bersama dengannya.
Kila melirik jam berwarna perak di pergelangan tangan sambil mengiyakan. “Masih 90 menit ke depan, kami akan menghadiri pesta teman papamu. Pernikahan perak. Kami telah melewati itu.”
“Sebuah waktu yang singkat.” Tambah Hugo menoleh dan menatap lembut istrinya.
Shadow menunduk sambil tersenyum. Kedua orang tuanya di Los Angeles pun telah merayakan pernikahan perak mereka. Sebuah pesta kecil yang hanya dihadiri oleh keluarga inti dua keluarga. Kai belum hadir di hidupnya ketika perayaan itu diadakan di sebuah restoran mewah Hollywood. Sudut pandang Shadow saat itu masih skeptis tentang hubungan percintaan bahkan sebuah pernikahan yang bertahan hingga 25 tahun. Ia tidak mempercayai pria, tidak memberikan celah pada hatinya tergerak oleh lawan jenis. Ia dibayang-bayangi oleh Richard dan Alexandre, kedua pria yang tidak pernah berpuas diri dengan satu wanita. Shadow membencinya, bukan karena
tampilan, mereka tidak buruk karena kebaikan-kebaikan pria-pria yang pernah hadir sangatlah tulus. Richard adalah sahabatnya sementara Alexandre adalah kolega di dunia perfilman. Shadow hanya tidak menyukai prinsip kedua pria itu dalam menjalani sebuah hubungan percintaan. Hal itu membuat Shadow memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Hingga Kai hadir, mendobrak segalanya. Cangkang kehati-hatiannya, dinding tebal angkuh Shadow dirobohkan dengan sangat cepat oleh seorang Kai Navarro. Alibi pertemanan Shadow sanggupi, dan perlahan rasa suka, rindu hadir di hatinya. Buah perjuangan Kai mendapatkan hasil yang sempurna, tidak butuh waktu lama mereka pun bertunangan.
“25 tahun itu lama.” gumam Shadow menatap Hugo dan Kila secara bergantian.
“Benar. Bisa dikatakan 25 tahun itu lama, karena itu lama hidupmu, Shaw Sayang. Tetapi ketika kau membaginya dengan seseorang, hidup dan waktumu. Semuanya berjalan sangat cepat. Kami melihat Isla, Sky dan Kai tumbuh dan kini semuanya telah memiliki pasangan.” Sahut Kila yang terus menggenggam jemari suaminya.
Shadow terdiam. Gambaran perkataan Kila memenuhi kepalanya, tidak mudah ia membayangkan anak-anaknya kelak, ketika yang Shadow bayangkan adalah Kai tetap terpusat dengan urusan Black Panther. “Bagaimana
Shadow menjalani kehidupan dengan Kai kelak?” celetuknya lebih terdengar sebuah keluhan yang samar.
Perkataan Shadow membuat pasangan paruh baya tersebut berpandangan lalu keduanya tertawa kecil. “Bukankah mama telah mengatakan jika Shadow hanya perlu mendampingi Kai. Hanya itu, Sayang. Perkara setahun, dua tahun hingga 25 tahun semuanya kita serahkan kepada Yang Kuasa. Setiap hari yang diberikan Tuhan adalah berkah. Jangan membebani dirimu dengan keselamatan Kai, Nak. Mama tahu jika dirimu sangat mengkhawatirkan anak kami yang nakal itu. Kai memiliki banyak orang-orang yang melindunginya, dan dia tidak lemah. Kalian pasti akan berada di posisi seperti kami. Menua bersama dan saling menemani hingga akhir.”
“Maafkan Shadow, Ma.”
Kila menyunggingkan senyuman. “Memang berat memiliki seorang pasangan yang bergelut di dunia mafia, Sayang. Oh yah, apakah kau ingin melihat foto-foto pernikahan kami?” tawarnya yang membuat mimik Shadow berubah riang. Melihat respon Shadow, Kila tidak perlu bertanya dua kali kemudian berjalan ke arah lemari berwarna putih gading dengan ukiran emas.
“Shadow.” Panggil Hugo Chan dengan lembut.
__ADS_1
Shadow menatap pria bersuarai putih panjang yang kali ini penampilannya tidak mengenakan pakaian serba putih melainkan dengan sepasang jas berwarna abu gelap. “Ya, Pa.” jawabnya.
“Percaya dan tetap tenang. Sikap papa ketika mamamu memimpin Black Panther. Shadow bisa melihat seperti apa sifat mamamu, bukan? Dan Shadow bisa menebak papa seperti apa ketika bersama dengan mamamu. Hanya dengan terjun bersamanya, membuat hatiku tenang. Baik Kila maupun Kai, darah Black Panther tidak akan pernah pisah dari diri mereka. Kita berdua orang-orang yang terpilih untuk mendampingi mereka, anakku. Tapi papa menyarankan Shadow untuk mendengarkan semua keinginan Kai. Tidak perlu memaksakan diri untuk menemani Kai dalam suatu pekerjaan berat. Dan nanti mamamu akan berbicara kepada Kai agar mengurangi kegiatannya.”
Ucapan Hugo yang lembut membuat Shadow berkaca-kaca. Hal itu yang sangat ingin didengarnya selama ini. Beban berat di hatinya terangkat sesaat itu juga. “Terima kasih, Pa.”
Hugo tersenyum tipis lalu mengangguk. “Sebentar lagi ada rapat besar yang dihadiri para petinggi Black Panther, nantinya kami membahas banyak hal. Termasuk peran Kai sebagai pemimpin. Mamamu pikir, sudah waktunya untuk Kai menikmati hidup tenang bersama denganmu, nak. Ya, mungkin sesekali Kai akan terjun ke lapangan, namun tidak sesering kemarin.” Tambahnya membuat Shadow menitikkan air mata bahagia.
Malu di tatap Hugo dengan pandangan teduh, Shadow buru-buru menghapus air mata walau maniknya menyisakan semburat kemerahan di sana. “Kabar ini sangat membahagiakan, Pa. Tapi ini bukan berarti Kai akan duduk manis kemudian hanya memberikan perintah dengan jentikan tangan dan ditemani oleh wanita-wanita seksi.” Celetuknya yang disertai tawa ringan oleh Hugo Chan.
“Tidak akan terjadi seperti itu, Sayang. Mama sangat tahu Kai, dia bukan anak seperti itu. Walau sebelum bertemu denganmu dia memiliki banyak wanita.” lugas Kila sambil melebarkan album foto pernikahannya.
“Mama!” teriak Kai yang berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemberut. “Tolong, jangan mengungkit masa lalu Kai
kepada Shadow.”
Shadow terkekeh melihat sosok jangkung berpakaian casual dengan rambut sedikit basah dan acak-acakan. “Aku tidak cemburu.” Sahutnya sambil mencebik.
Kai meraba dadanya sambil menghela napas lega. “Apa yang terjadi di masa lalu hanyalah bagian kelam hidupku.”
Kila berdecih dengan perkataan puitis anaknya. Kai kini duduk berdampingan dengan Shadow, tak lupa merangkul bahu sang kekasih.
“Tapi masa lalu membuat kami bisa sekuat ini, Kai Navarro. Hei, Hugo Chan. Lihat, kau sangat tampan ketika kita menikah. Wajahmu nampak sangat muda dan senyumanmu. Ahh!” pekik Kila menekan gambar Hugo. Ia membelalakkan manik hitamnya.
“Papa juga masih tetap tampan sampai sekarang.” Imbuh Kai mencebikkan bibir kepada sang mama.
Shadow tertawa dengan pertengkaran kecil antara Kai dan Kila. Hubungan yang sangat akrab antara anak dan sang mama. Kedua orang tersebut bertingkah seperti layaknya teman sekaligus musuh bebuyutan yang saling mencintai. Mungkin itu pula yang membuat Kai jatuh cinta kepadanya, sebab sepanjang ingatan Shadow, ia bersengit kepada Kai di awal perkenalan mereka di Pulau Bali.
“Jangan banyak bicara, anakku. Pria-pria tangguh umumnya akan melankolis ketika menikah. Seperti papamu yang menangis ketika menikahi mama.”
Hugo tertawa manis sambil menatap istrinya. “Andai bisa, aku ingin mengulangnya, Kei.”
###
alo kesayangan💕,
finally aku kembali, setelah berulangkali berupaya menulis di sela padatnya kesibukan.
waktu menjadi pendek di bulan ramadan, banyak pekerjaan dan kegiatan ibadah, bukan?
happy fasting buat yang menjalankan.
tetap sehat, Ladies.
love,
D😘
ps. buat Lila, nih aku kasih cintamu.. dh sampe mana ngajinya? 😂
__ADS_1