
"Sore mba..." Sapa seorang receptionis karaoke.
"Iya sore mba. Saya mau bertemu dengan Pak Kuncoro. Apa beliau ada?" tanyaku ramah. Kerutan di dahinya menandakan kebingungan pada diri wanita itu.
"Beliau ada di ruangannya mba. Tapi maaf sore ini beliau tidak bisa di temui. Apa mba mau membuat janji temu dengannya?" tanya wanita itu lagi.
"ohh gitu ya mba. Tapi saya sudah ada janji dengan beliau sore ini. Apa saya bisa menunggu?" tanyaku lagi.
"Maaf kalau boleh tau mba siapa? Biar saya sampaikan terlebih dahulu"
"Saya Kanaya Dewi mba"
"Ohh mba Kanaya Dewi" kali ini dia memperhatikan tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jujur saja aku sedikit risih dengan tatapannya. "Yang mau lamar kerja ya mba?" ku anggukan kepalaku. "beliau sudah sedari tadi menunggu anda. Mari saya antar menuju ruangannya"
Aku mengikuti langkah kaki wanita itu. Ruangan pak kuncoro berada di bagian dalam dari gedung itu. Membuatku melewati beberapa ruangan yang menurutku seperti aquarium manusia. Ada banyak wanita di balik kaca bening yang ku lewati tadi. Beberapa di antara mereka ada yang sedang bercanda, tertawa cekikikan bahkan ada sebagian lagi yang sedang memperbaiki dandanannya. Kami sampai di ruangan yang tampak tertutup rapat. Wanita tadi mengetuk pintu dan masuk ke dalam setelah ada jawaban dari dalam ruangan. Tak berapa lama wanita itu keluar dan mempersilahkan aku masuk. Ku ucapkan terimakasih pada wanita itu sebelum akhirnya dia pergi.
Seseorang di balik meja kerja dalam ruangan itu menyambutku tanpa berdiri. Seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayahku.
__ADS_1
"Ka..naya Dewi" kata pria itu mengeja namaku sambil membaca berkas yang ada di tangannya. Aku mengangguk. "Mari silahkan duduk" katanya lagi. "Umur 19th, hm tinggi badan 162..." dan entah apa lagi yang dia katakan, aku tak begitu mendengar dengan jelas. Sesekali dia membuka lembar demi lembar berkas yang ada di hadapannya. "Kamu sudah pernah menikah?" tanya nya lagi.
"Belum pak" Jawabku cepat.
"Masih perawan?" tanyanya lagi. Matanya menatap penuh selidik. Menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mata tajamnya membuat hatiku bergidik. Tatapannya seolah menelanjangi tubuhku. Aku terdiam sejenak.
"Masih pak"
"Ini surat kontrak kerjanya. Silahkan di baca dan di pelajari terlebih dahulu, sebelum di tandatangan. Karena jika setelah di tandatangan tidak bisa di batalkan" Pak kuncoro menyodorkan map yang ada di hadapannya. Cukup tebal kertas yang ada di dalamnya. Mungkin sekitar 20 lembar. Aku membalik setiap halamannya tanpa membaca isinya. Kolom paraf yang ada di setiap halaman ku isi, hingga di halaman akhir. Aku menandatangani Surat kontrak kerja itu. Fikirku kontrak kerja itu sama saja isinya. Larangan memiliki hubungan dengan kawan sekantor, tidak boleh menikah selama beberapa tahun, lagian aku tak berniat menikah dalam waktu dekat ini. Jadi tak ku permasalahkan. Lagian aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi apapun aturan kerjanya, akan aku terima.
"Mulai besok kamu boleh masuk kerja. Selamat bergabung Kanaya Dewi?" Wajahnya berbinar. Aku mengangguk. Senyuman terpancar dari wajahku. "Jam 12 siang kamu sudah ada disini" Dia kemudian mengangkat telepon yang ada di ruangannya. Menyuruh seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya. Tak lama ketukan pintu terdengar. Seorang wanita setengah baya masuk ke dalam ruangan. Tampak dandanannya sangat mencolok. Sebatang rokok terselip di jarinya.
"Lo bisa ngerubah anak ini, gue yakin harga jualnya tinggi kalau ada di tangan lo" pak kuncoro menjawab wanita itu. aku terdiam sesaat. Mencerna obrolan mereka berdua. Belum sempat aku mengerti maksud dari obrolan mereka, wanita itu menyuruhku bangkit dari duduk ku. Menarik ku agak menjauh dari kursi yang tadi ku duduki. Matanya memperhatikan setiap datail dari tubuhku. Lagi-lagi aku seperti di telanjangi. Aku tertunduk. Darahku mendesir lebih kencang dari biasanya. Wanita setengah baya itu menarik daguku, membuatnya terangkat. Senyum manis tersungging dari bibirnya.
"Queenza..." Katanya lagi. Aku masih terdiam tak mengerti ucapannya. "Queenza, kamu disini sama siapa?" Aku masih terdiam. Wanita itu mengguncang tubuhku, matanya menatap tajam ke arahku. "Apa kamu gak bisa ngomong?" lanjutnya lagi.
"Maaf. Saya kira, ibu barusan bukan berbicara dengan saya" kataku sedikit ragu. "Saya disini tinggal sendiri bu. Kontrakan saya hanya sekitar 30 menit dari sini"
__ADS_1
"Oke mulai sekarang, kamu tinggal di mess, dan ingat nama kamu queenza mulai hari ini. Kepada siapapun kamu memperkenalkan diri, hanya dengan nama Queenza"
"Baik bu" Jawabku.
"Sebentar lagi asisten saya akan mengantar kamu kembali ke kontrakan lamamu, dan membenahi barang untuk di pindahkan ke mess" katanya. "Boss, sabtu ini gua pastiin sudah mulai bisa jualan" katanya lagi sambil berbalik ke arah pak kuncoro. Setelah beberapa lama aku menunggu di ruangan pak kuncoro, seseorang datang ke ruangan. Dia kemudian mengajakku keluar dari ruangan itu setelah mendapat perintah untuk mengenalkan beberapa tempat di tempat itu. Ku fikir wanita itu sangat baik memperlakukan aku. Dia menunjukan beberapa ruangan di dalam tempat itu. Beberapa kali aku berpapasan dengan beberapa wanita muda dengan pakaian seksi. Entahlah sepenting apa wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama mba rina itu di tempat ini. Semua wanita yang tidak sengaja berpapasan dengan kami tadi sangat ramah padanya. Kami terus berkeliling di tempat itu. Tempat itu sangat berbanding terbalik dengan kontrakanku. Semua fasilitas disini sangat lengkap. Dia juga membawaku ke kamar yang nanti akan aku huni. Kamarnya sangat bagus, fasilitas nya sangat lengkap. Ada AC di ruangan itu, di sudut lain ada sofa hitam lengkap dengan mejanya. Di sudut lain ada kulkas dua pintu. Kamar ini di lengkapi dengan kamar mandi besar. Bathup serta water heater terpasang sempurna di kamar mandi itu. Aku memperhatikan seisi ruangan itu dengan takjub. Jujur saja, aku tak pernah bermimpi memiliki kamar semewah ini. Jangankan bermimpi, berkhayalpun aku tak berani.
"Ini kamar lo, gimana lo suka? Atau lo mau liat kamar yang lain? Ada 3 kamar yang kebetulan kosong disini" Mba rina mengagetkanku.
"Oh eh mba, hmm aku suka kamar ini koq mba. Kamar ini bagus. Jauh lebih bagus dari yang aku bayangin sekalipun"
"Lo suka?"
"Suka banget mba. Aku pasti betah tinggal disini"
"baguslah, jadi kapan kita ke tempat lo buat ngambil barang-barang lo?"
"Terserah mba rina aja. Kapan mba rina ada waktu buat temeni saya" jawabku lagi.
__ADS_1
"Sekarang bisa?" tanyanya lagi. Aku mengangguk. Lantas dia menggiringku ke luar dari kamar, mengunci kamar itu, dan memberikan kuncinya padaku.
Mulai hari ini kamar ini akan menjadi tempat tinggalku.