Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 23


__ADS_3

Pagi ini editorku mendadak ingin bertemu. Beliau bilang ada beberapa revisi yang harus ku selesaikan sesegera mungkin. Seperti sebelum-sebelumnya aku lebih memilih cafe untuk tempatku bertemu sang editor. Karena aku akan dapat mengobrol dan membahas tentang novelku dengan leluasa.


Sekitar pukul 10 pagi aku sampai di cafe yang menjadi tempatku bertemu dengan editor. Ku pilih meja pojok agar aku jauh dari pandangan orang lain. Sembari menunggu aku membuka laptopku. Ku baca ulang semua novelku. Dari awal. Mengeja hurufnya satu demi satu. Sambil memperbaiki EYD nya, kalau-kalau ada yang salah. Entah sudah berapa kali aku membaca novelku sampai tamat. Membuatku hafal di luar kepala setiap katanya.


"Pagi mba, silahkan di nikmati ini kopinya" Sapa seorang pria. Aku hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun ke arah sumber suara. Pandanganku terus tertuju pada laptop di hadapanku.


"Terimakasih" kataku tanpa meliriknya. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Mengeja kata demi kata. Kalau-kalau ada kata yang janggal atau penulisan yang tidak tepat. Semua tanda baca pun ku perhatikan. Tak ada yang luput dari penglihatanku. Tak berapa lama, mas seno editorku tiba di meja tempat aku duduk. Dia menyapaku lembut.


"Pagi. Udah lama ya? Maaf tadi jalanan macet" kata mas seno seraya duduk di kursi yang ada di depanku.


"Eh, mas..." kataku seraya melirik beliau yang sudah duduk di hadapanku. Aku dan mas seno memang sudah sangat dekat. "Pagi. Hmm gak terlalu lama koq" jawabku.


"Lagi bikin novel ke dua kamu?" tanya mas seno.


"Gak lah mas. 1 aja belum kelar-kelar" jawabku. "Ini lagi baca-baca aja kalau-kalau ada yang salah penulisannya" lanjutku. Aku menghentikan aktifitasku. Menyingkirkan laptop ku, dan mulai membahas pekerjaanku dengan mas seno. Ada beberapa revisi di BAB terakhir novelku. Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Jadi kapan kita bisa ketemu lagi?" tanyanya. Saat mataku masih tertuju pada laptop milik mas seno.


"Hmm, minggu depan gimana mas?" jawabku. Mataku kini tertuju padanya.


"Kelamaan donk. Ayolah kan cuma 2 BAB aja" jawabnya lagi. Seolah sedikit memaksa. "Besok bisa?" tanya mas seno. Aku terperanjat mendengar ucapannya.


"Waduh..." kataku. Mataku terbelalak kaget. "Gak kecepetan mas?" kataku setengah meledeknya dengan keberatanku. Mas seno terbahak mendengar ku menggodanya.


"Bisa gak?" katanya lagi. "Bisalah" lanjutnya lagi. Aku hanya terdiam di tempatku.


"Hmm, kayaknya berat deh mas" jawabku lagi. Aku masih terus menatap layar laptopku, mencari-cari kesalahan yang tadi mas seno sebutkan. Sesekali aku melirik mas seno yang hanya tersenyum geli melihatku bingung.

__ADS_1


"Ya udah kalau berat. Sekarang aja deh. Saya tungguin disini. Gak apa-apa sekali-kali nongkrongin orang bikin novel" katanya lagi.


"Nah loh... Makin puyeng aja aku mas" kataku sambil tersenyum. Mas seno membalas senyumanku dengan tertawa.


"Udah beres belum?" katanya lagi selang beberapa lama.


"Masih nyari revisi nya dimana mas" kataku. Mataku tetap menatap layar di hadapanku.


"Disini yang harus di revisi" kata mas seno sembari memberiku map biru dengan logo penerbit yang akan menerbitkan novelku.


"Apa ini mas?" tanyaku.


"Buka aja dulu. Terus baca. Biar kamu ngerti" jawabnya. Dengan sedikit ragu dan cemas aku membuka map biru itu. Ku baca kata demi kata. Senyumku mengembang.


"Jahat ihhh ngerjain aku" kataku. Air mata bahagia tumpah tanpa bisa aku tahan. Mas seno tersenyum ke arahku.


Aku ulangi membaca kontrak itu, kata demi kata. Tak aku lewatkan sedikitpun. Setelah aku yakin dengan kontrak kerja yang tertulis di kertas itu, aku menandatanganinya. Mas seno mengangguk. Dan mengambil kembali map itu dariku.


"Akhirnya beres juga" kataku berbicara sendiri.


"Kapan mau bikin buku keduanya?" tanya mas seno padaku. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.


"Setelah sang pemeran utama jatuh cinta" jawabku sembari tertawa yang di sambut dengan tawa juga oleh mas seno. Mas seno memang mengetahui novel ini di tulis berdasarkan kisah perjalanan hidupku.


"Makanya buka hati. Jangan mikirin gilang melulu" kata mas seno.


"Hahaha, siapa gilang mas? Udah lupa tuh" jawabku. "Aku pengen bikin novel baru, tapi mungkin rehat dulu beberapa minggu" jawabku.

__ADS_1


"Oh jadi sang pemeran utama udah mulai jatuh cinta tampaknya" mas seno tertawa meledek ku.


"Gak mas. Hati aku akan tetap aku jaga agar tak jatuh cinta lagi. Aku justru mau bikin cerita baru" jawabku.


"Kenapa?" tanya mas seno.


"Ya pengen aja cerita baru, ada sih beberapa ide yang juga terinspirasi dari kisah nyata" jawabku.


"Bukan tentang cerita barunya. Tapi tentang jatuh cinta" tanya mas seno.


"Oh hahah. Ya gak mau sakit hati lagi mas" jawabku singkat.


"Saya aja sebelum bertemu sama istri jatuh bangun dulu. Pacaran putus pacaran lagi putus lagi. Kalau di itung lebih dari 8 kali. Kamu baru sekali udah nyerah" kata mas seno. Aku terdiam sejenak mendengar kalimatnya. Menarik nafas panjang, sebelum aku menjawab pertanyaannya.


"Mas kita kan beda. Aku gak layak buat di cintai mas. Siapa coba yang mau nikahin cewek kaya aku? Aku cuma gak mau berharap aja mas" kataku. Ada gurat kesedihan terpancar di wajahku.


"Tuhan itu menciptaka kita berpasang-pasangan. Banyak kali cowok yang mau sama kamu, cuma mungkin kamunya yang terlalu menutup hati" jawab mas seno lagi.


"Ah mas. 1000 banding 1 mas, ada cowok yang mau sama aku. Kalau cowok itu tau masa laluku" kataku.


"Dan kamu jadi yang satu nya itu. Percaya deh" katanya lagi. Aku hanya mencoba tersenyum pada mas seno. Ada sedikit harapan yang tumbuh dalam hatiku. Namun sebagian besar lagi hanya khayalan tanpa mungkin jadi kenyataan. "Kalau boleh tau, kira-kira apa rencana mu untuk novel keduamu?" tanya mas seno yang aku yakin mas seno hanya ingin mengalihkan pembicaraanku.


"Tentang Cinta" jawabku. "Cinta dan kesetiaan seorang laki-laki pada kekasihnya yang sakit karena penyakit yang tak bisa di sembuhkan" kataku.


"Kisah nyata?" tanya mas seno.


"Terinspirasi mas" jawabku meyakinkan

__ADS_1


Tak dapat ku pungkiri, jika aku juga menginginkan ada seseorang di sampingku. Seseorang yang akan menemaniku. Seseorang yang akan menjadi teman hidupku. Tapi rasanya itu sangat tak mungkin. Khayalan itu terlalu tinggi untukku. Jika Tuhan memang mentakdirkan aku harus seperti ini hingga nanti, aku terima. Karena aku sadar. Diriku terlalu kotor dan hina untuk menjadi seorang ratu di rumah suamiku. Setidaknya aku punya dua adik. Mereka akan menikah, dan aku akan punya kesempatan untuk menjaga seorang anak. Meski anak itu tidak lahir dari rahimku.


__ADS_2