
Suasana haru masih menyelimuti kediaman kami. Meski aktifitas di rumah lebih ramai. Ada beberapa tetangga yang selalu membantu kami menyiapkan tahlil bapak. Maklum kami tak punya keluarga yang lain, sehingga hanya para tetangga saja yang membantu kami. Aku dan Silvana bertugas untuk mengemas makanan yang akan di berikan kepada para pelayat yang kami undang untuk mendoakan bapak. Sementara para ibu-ibu membantuku memasak di dapur. Ya memang di kampung tempat kelahiranku, ada acara semacam ini. berlaku hingga 7 hari setelah meninggal di lanjut hari ke 40 dan hari ke 100 baru nanti setiap tahun di tanggal dan bulan yang sama saat meninggal ada acara doa bersama lagi. Silvana sangat sibuk dengan tugasnya. Air matanya sudah mulai mengering meski terkadang di tengah malam, dia menangis sendiri. Namun aku tau dia belum dapat melepas kesedihannya di tinggal bapak. Begitu pula aku. Tangisku sudah tak seperti awal-awal saat bapak meninggal, tapi aku masih selalu menangis. dimanapun dan kapanpun. Air mata masih seja terus mengalir. Rasa pedih dan pilu masih membelenggu setiap jengkal dari hatiku. Bahkan mungkin lebih sakit dari yang di lihat orang. Merasa gagal menjadi seorang anak, itulah alasan yang paling menyakitkan untukku. Aku belum bisa memberikan bapak uang halal. itulah yang selalu membuatku tak dapat menghentikan tangisku.
"Teh, besok eteh pulang?" tanya Fadly yang kehadirannya tak aku sadari. Aku meliriknya sesaat setelah ia bertanya. kemudian aku kembali melanjutkan aktifitasnya. Tak berniat menjawab pertanyaan Fadly. Hatiku masih terlalu hancur, sebagian jiwaku yang hilang belum ku dapatkan kembali. Aku bergelut dengan fikiranku sendiri. Antara menolak untuk pergi dan tanggung jawab untuk menghidupi.
Fikiranku melayang jauh pada kejadian kecil 10 tahun yang lalu. Lebih tepatnya 3 tahun saat ibu pergi meninggalkan kami. Waktu itu usiaku masih 11 tahun. Aku menghampiri bapak yang terbaring lemah di atas kasur. Bapak sakit, suhu badannya panas. Aku tak dapat membawa bapak ke dokter, bahkan hanya sekedar memeriksakan bapak ke puskesmas pun aku tak mampu. Aku hanya dapat mengompres kening bapak dengan air dingin. Seperti yang bapak lakukan saat anak-anaknya sakit. Di periksa ke Puskesmas memang tak memerlukan banyak uang, aku bisa saja menahan lapar seharian tapi aku tak punya uang lebih banyak dari biaya pendaftaran ke puskesmas yang harus aku bayarkan ke tukang ojek. Jarak tempuh dari rumahku ke puskesmas cukup jauh. Jika naik ojek butuh uang 10 kali lipat untuk ongkos pulang pergi dari pada yang harus ku bayarkan untuk biaya berobatnya. Malam telah larut, aku dan silvana masih menunggui bapak. Sementara Fadly sudah tertidur pulas di samping bapak. Silvana sudah terkantuk-kantuk saat menunggui bapak. Namun dia menolak aku suruh tidur.
"Kamu gak tidur?" tanya bapak saat aku mengganti air kompresan bapak.
"Belum ngantuk pak" kataku berbohong. Saat itu kantuk memang mulai menyerangku, namun sekuat tenaga aku mencoba mengusirnya. "Maaf ya pak, eteh gak bisa bawa bapak ke puskesmas" kataku penuh penyesalan.
"Gak apa-apa teh. Bapak juga paling cuma masuk angin biasa. Besok juga sembuh" bapak saat itu sudah terbaring sakit selama 2 hari.
"Pak, nanti kalau udah besar ena mau jadi dokter. Biar bapak gak usah jauh-jauh untuk periksa" kata silvana seraya menggisik matanya yang sudah semakin kantuk.
__ADS_1
"Belajar yang rajin kalau mau jadi dokter. Harus pinter" kata bapak "Doain bapak biar banyak uang. Biar bisa sekolahin kamu tinggi" lanjut bapak lagi.
"Emang kalau sekolah dokter mahal ya pak?" tanya silvana. Dia mulai tertarik dengan obrolannya dengan bapak.
"Ya mahal"
"Segimana pak uangnya?" tanya silvana lagi. Silvana saat itu masih berumur 6 tahun.
"harus banyak uangnya" jawab bapak.
"Emang ena mau jadi dokter?" tanyaku.
"Mau teh. biar nanti kalau bapak sakit ena yang periksa, eteh sama ade juga kalau sakit ena yang periksa gak usah bayar" kata ena lagi.
__ADS_1
"Ya udah kalau ena mau jadi dokter harus belajar yang rajin. Eteh janji, eteh bayarin sekolah ena" jawabku. Bapak menatapku penuh haru. "Pak, doain eteh banyak uang ya? biar eteh bisa sekolahin ena tinggi biar jadi dokter. eteh janji sama bapak. eteh udah besar mau cari uang yang banyak uang sekolah ena sama ade" aku lihat bapak menitikan air matanya. Bapak merentangkan tangannya agar kami mendekat ke dalam pelukannya. Aku memang tak terlalu lama merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi dengan punya bapak aku merasa tak pernah kekurangan kasih sayang ibu. Bapak sangat menyayangi kami, memperhatikan kami lebih dari seorang ibu.
"Teh..." Fadly memanggilku lagi. Suara fadly membawaku kembali ke dunia nyata. Dunia yang siap untuk di arungi. Aku melirik ke arahnya. Mempertimbangkan jawaban apa yang harus ku lontarkan.
"Besok" kataku lirih. "Mungkin" lanjutku lagi untuk meralat jawaban pertamaku.
"Eteh masih sedih?" tanya fadly lagi. Aku diam. Ku tundukan wajahku. Air mata mulai bergenang disana meski menetes keluar dari tempatnya. "Kalau eteh ambil lagi cuti beberapa minggu lagi gimana teh?" tanya fadly lagi. Aku yang di tanyai hanya diam saja. "Ade sekarang udah besar teh. Udah kelas 3 SMP. Ade bisa cari uang. Ade bakal keluar sekolah. Buat teh ena aja yang sekolah sampe jadi dokter" Aku menatap tajam ke arah fadly. Kelopak mataku ku biarkan terbuka lebar. "Ade udah bosen teh belajar terus" lanjutnya lagi. Aku tau fadly berbohong dengan ucapannya. Yang aku lihat, fadly selalu semangat untuk belajar.
"Kamu harus meraih cita-cita kamu" bentakku dengan nada yang sedikit di tekan.
"Ena juga gak jadi pengen jadi dokternya" Silvana ikut-ikutan fadly untuk menyatakan jika mereka ingin berhenti sekolah.
"Apa lagi ini. Gak boleh. Biar eteh yang kerja. Kalau kalian sayang eteh dan bapak, sekolah yang rajin. jangan sia-siain kerja keras eteh untuk sekolahin kamu"
__ADS_1
"Tapi ena sama ade pengen eteh disini. gak usah pergi lagi ke kota" kata silvana. Air mata yang sedari aku tahan agar tak jatuh akhirnya tumpah juga membasahi pipiku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya sekaligus seolah aku ingin melepas segala beban yang ada di pundakku.
"Eteh kerja bukan karena kalian. Bukan karena biaya sekolah kalian. Eteh kerja karena eteh suka. Eteh seneng disana. Eteh nyaman. Eteh punya banyak temen disana yang sangat baik" aku tau mereka mengetahui kebohonganku, meski tak ada yang menyanggahku. Mereka terdiam mendengar kata-kata ku.