
Aku kembali ke rutinitas ku menjadi penjaja tubuh di rumah bordir ini. Liburanku 3 hari kemarin membuat tamu yang menemuiku hari ini lebih banyak dari biasanya. Semenjak kerja disini aku rutin di KB untuk mencegah kehamilan, membuat aku tak lagi mendapat datang bulan. Hari 10 tamu ku layani. tak ada kata lelah dalam diriku. Aku memang harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi semua kebutuhan keluargaku yang semakin bertambah banyak. Juga untuk menabung kuliah Fadly dan Silvana juga buat bekalku saat aku pensiun dari tempat ini. Sedikit banyak aku sering berbagi cerita dengan mba rina. Dia yang menyarankan aku untuk menabung dan tidak menyia-nyiakan usiaku. Ya, seperti yang semua orang tahu. Persaingan di dunia birahi seperti ini sangat sulit. Setiap hari banyak wajah-wajah baru yang bermunculan. Membuat para senior tersisihkan. Aku yang baru 1 tahun kerja disini memilih untuk tidak menyia-nyiakan waktu mudaku. Usiaku sekarang 20th, hanya tersisa 5 sampai 15 tahun lagi untuk tetap berada di sini. atau bahkan bisa saja lebih sedikit dari itu, jika aku tak terlalu pintar menjamu dan memberikan service pada tamuku.
Aku sedang berendam di bathtub saat mami masuk ke kamarku yang lupa aku kunci tadi.
"Queenza, gimana hari ini?" kata mami farida ramah. Mami memang memperlakukan aku dengan istimewa di banding anak-anak nya yang lain. Kata mba rina, aku adalah aset mami yang sangat berharga.
"Lumayan capek mi" kataku.
"Ya sudah kalau kamu capek, hari ini cukup sampe disini yaa sayang. kumpulkan energimu buat besok"
"Emang masih ada tamu buat aku mi?"
"Ada. tapi mami bisa cancel untuk besok"
"siapa?"
"Pak heru. Kalau gak salah dia sudah beberapa kali pake layanan kamu"
"Oom heru yang dari jakarta bukan mi?"
"iya sayang"
"Boleh mi, aku selesaikan mandiku sekarang"
"Kamu memang gak capek?"
__ADS_1
"Capek sih mi, tapi udah seminggu si neneng cemberut kepengen muntah. heheh" kataku sedikit menggoda. Ku gunakan kata neneng untuk menyebut bagian intim tubuhku. Mami hanya tersenyum mendengar jawabanku.
"Oke. siapin diri kamu. 20 menit lagi pak heru datang ke kamarmu"
"Siap mamiku" mami beranjak dari kamar mandiku. Aku bergegas turun dari bathtub dan mulai menghias diri. 2 orang OB ku panggil untuk membersihkan kamarku dan mengganti sprei tempat tidurku. Kali ini aku mengenakan lingerie hitam yang transparan. Membuat para OB itu sesekali melirik kearahku. Rambutku ku biarkan terurai. sisa curly tadi masih nampak disana membuat rambutku bergelombang. Para OB sudah keluar dari kamarku, saat Pak heru masuk ke kamarku. Aku masih mematut tubuhku di depan cermin. Tanpa aba-aba pak heru memelukku dari belakang. aku terkekeh.
"Aku kangen sayang" katanya setengah berbisik di telingaku.
"Aku juga kangen sayang" aku membalikkan badan. Kini badan kami saling berhadapan. "Oom udah lama gak kesini, atau mungkin oom udah bosen sama Queenza? Jadi tiap oom kesini oom gak dateng ke kamar Queenza?" aku sengaja memonyongkan bibirku.
"Oom sibuk sayang"
"Bohong..."
"Iya sayang, ini aja oom baru sampe dari Kalimantan. belum ke rumah, langsung kesini. Oom pengen ketemu kamu dulu" kami masih saling berpelukan. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah saat dengan sengaja aku lebih merapatkan pelukanku.
"Hehehe magnetnya kuat jadi langsung siap tempur" aku menggiring Pak heru ke atas kasur. Kami mulai bertempur hebat. Saling berbagi air liur dan berbagi keringat. Keinginanku tercapai. Oom heru memang tak pernah gagal membuatku klimaks. 2 kali kami bertempur malam itu. membuatku klimaks 3 kali. Oom heru malam ini menginap di kamarku dengan tambahan uang lebih tentunya. Dia membayar 3x lipat dari jumlah yang seharusnya.
"Sayang..." kataku saat pak heru mulai terlelap
"Hmm" jawabnya
"Lagi yuk" kataku. sementara tanganku meraba daerah sensitif nya.
"queen masih pengen?"
__ADS_1
"Iya oom, cuma oom kan yang slalu bikin queen keluar berkali-kali" kataku lagi.
"Memang orang lain gak bisa bikinnkamu seneng, sayang?"
"Kayaknya cuma oom deh"
"Masa sih?"
"Hmm, kalai queenza bohong ngapain ngajakin oom lagi? kan mending Queenza tidur buat persiapan kerja besok" aku terdiam sejenak. "Ayuk lagi oom" lanjutku merajuk. Pak heru tertawa puas. Dia memang sangat senang saat kejantanannya di puji olehku. Dia lantas kembali menyerangku, membuatku tak dapat berkata apa-apa lagi selain kata-kata tak jelas yang ku keluarkan dari mulutku. Aku merasakan kenikmatan yang tak ternilai. Malam ini dahaga cintaku terpenuhi...
***
Sekitar pukul 8 pagi Pak heru pamit pulang. Dia memberiku tips cukup besar hari ini.
"5 juta cukup buat jajan kamu?"
"Makasih oom. Oom memang paling bisa bikin Queenza seneng" aku menghentikan ucapanku. "Apalagi bikin Queenza ketagihan kayak semalem" lanjutku.
"hahahah... Kamu mau Lagi?" katanya lagi. aku hanya tersenyum manja. Ku gigit bibir bawahku untuk menggodanya.
"Boleh oom?" kataku. kerlingan nakal ku buat untuk menjatuhkan pak heru ke dalam pelukanku.
"Godain lagi donk oom nya, bikin oom betah berlama-lama di kamar kamu" katanya. Pak heru kemudian duduk di sofa yang ada di kamarku. Aku bangkit dari ranjangku. Ku putar musik dan mulai meliuk-liuk kan tubuhku di hadapannya. Aku lihat mimik muka pak heru mulai berubah. Menjadi lebih buas dari tadi. Seolah dia siap untuk menerkamku kembali. "Sayang..." katanya sambil mengerlingkan mata ke arah bawah menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang dia suka. aku mendekatinya. ku ikuti semua titahnya. pak heru kembali bergairah. dia mulai menerjangku. kali ini kami melakukannya di atas sofa. desahan manja saling bersahutan dari bibir kami. hingga kami sama-sama mencapai di puncaknya bersamaan. "Nakal yaa kamu" kata oom heru yang masih berada di bawah tubuhku. tangannya mencubit hidungku. Aku tertawa terkekeh. "Kamu memang paling bisa minta uang jajan lebih dari oom" lanjutnya lagi. setelah nafas kami kembali teratur oom heru bangkit. merapikan pakaiannya dan kembali memberiku sejumlah uang.
"Makasih oom"
__ADS_1
"Malam ini kamu udah puasin oom. Cuma kamu yang bisa bikin oom seneng gini" katanya. aku hanya tersenyum sambil menatap punggungnya yang hilang saat aku menutup pintu. Aku memang akan melakukan apapun untuk menyenangkan tamu istimewaku. lebih tepatnya lagi tamu yang bisa mengajakku ke puncak. Aku tersenyum memikirkan kata-kata mba rina dulu. sepertinya kata-kata itu sudah mulai aku rasakan. aku mulai ketagihan. Tak hanya karena jumlah rupiah yang aku dapatkan setiap aku selesai menyelesaikan misi para tamuku, tapi terlebih dari kenikmatannya yang juga aku inginkan.