
Aku membuka mataku perlahan. Kamarku gelap. Tubuhku terasa amat remuk. Rasa haus memenuhi tenggorokanku. Perlahan aku bangkit dari tidurku. Dengan mengumpulkan sisa energi yang ada aku mengangkat gelas di sisi tempat tidurku. Kosong. Aku mulai menyeret langkahku menuju kulkas. mengambil air mineral di dalam botol. Ku lirik jam di dinding kamarku. Jarumnya menunjukan pukul 10 malam. Hari ini tak ada satupun yang membangunkanku. entahlah.. mungkin mami memberiku libur hari ini. Aku mulai bergerak ke kamar mandi. merendam tubuhku di dalam bathtub air hangat mungkin akan sedikit mengusir rasa lelahku. Suara ketukan pintu terdengar saat aku belum menyelesaikan mandiku. aku bergerak menuju pintu dengan hanya berbalut handuk yang melilit tubuhku. tampak Mba Rina berada di ambang pintu.
"Mba" suaraku terdengar amat berat.
"Capek banget ya? Abis lembur 24 jam nonstop" Kata mba rina menggodaku. Wajahnya tersenyum.
"Badanku terasa remuk"
"Malam ini lo istirahat aja. Smua tamu yang dateng udah gue cancel in smua"
"Makasih mba. Mba aku bisa minta tolong gak?" tanyaku ragu.
"Apa?" tanya mba rina.
"Mba aku pengen boddy spa donk"
"Udah gua panggilin tadi. Sebelum lo minta"
"Makasih mba. mba baik banget sama aku" Mba rina hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih dariku. Aku sadar, disini memang hanya mba rina yang paling mengerti aku. Mba rina yang slalu memperhatikan semua kebutuhanku. Menyediakan apapun yang ku minta. Sudah seperti assisten pribadi saja buatku. Aku masih berendam saat aku dan mba rina mengobrol, hingga suara ketukan pintu terdengar nyaring. Membuat aku dan mba rina menghentikan obrolan kami. Aku hendak bangkit, untuk membukakan pintu namun mba rina mengibaskan tangannya dan mengambil alih tugasku.
"Maaf pak, Malam ini Queenza sedang tak bisa di temui. Apa tadi tidak ada yang memberitahumu saat di resepsionis?" suara mba rina terdengar samar.
"Maaf, saya hanya ingin menemuinya sebentar saja" jawab suara itu. Aku bangkit. Mengeringkan tubuhku dan mulai mengintip ke luar pintu. Aku lihat sosok Mas gilang sedang berdiri tepat di ambang pintu. Wajahnya tampak terlihat sedikit bingung.
__ADS_1
"Mas" kataku. ku lihat mas gilang tersenyum ke arahku. "baru pulang ngantor ya mas? mau mandi bareng?" tanyaku. tanpa menunggu persetujuan darinya ku lucuti pakaiannya dan mengajaknya masuk ke dalam bathup. Kami hanya mengobrol sebentar saja. tanpa saling menyerang seperti tadi malam. Entahlah aku merasa nyaman saat berada di sampingnya. bahkan mungkin aku mulai mencintainya.
***
Hingga malam-malam berikutnya mas gilang rutin menjumpaiku. 3x dalam seminggu. Membuatnya menjadi tamu tetapku saat ini. Aku slalu menyambutnya dengan senyuman saat mas gilang ke tempatku. ada yang berbeda saat aku melayaninya. rasa kepuasan yang lebih dari yang kurasakan sebelumnya. Tak jarang mas gilang mengajakku pergi selama berhari-hari untuk seledar menemani perjalanan bisnisnya. Tak perlu ku ceritakan secara detail apa saja yang kami lakukan di sela-sela jadwal mas gilang yang sibuk. Yang pasti kami akan slalu melakukannya di manapun. Namun ada yang berbeda saat aku melakukannya. Kali ini aku melakukan nya dengan suka rela. Saat sebelumnya mungkin saat aku sedang bekerja, otak aku selalu berfikir bagaimana caranya membuat tamuku puas. Sama sekali aku tak berfikir untuk diriku sendiri. Tapi ternyata melakukannya tanpa dan dengan cinta itu sangat berbeda. Saat bersama mas gilang, aku perlu memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk menyenangkan mas gilang. karena semua yang membuat mas gilang senang, akan membuat aku senang juga.
***
Malam ini jadwal mas gilang ke tempatku. Kami bertempur tanpa rasa malu dan ragu. Setelah selesai melakukannya kami sering mengobrol tentang apapun. tak jarang juga kami saling melontatkan candaan nakal satu sama lain membuat kami terpancing lagi untuk melakukannya. Sungguh beberapa waktu terakhir ini adalah hari-hari terindah dalam hidupku.
"Queenza, jika mas memintamu lebih, apa kamu akan melakukannya?" tanyanya suatu ketika saat kami sudah hampir 6 bulan berkenalan.
"Minta apa mas?" jawabku.
"Maksud mas?"
"Mas ingin kamu menyambut mas saat mas pulang kerja, menyiapkan mas sarapan, kita bisa bertemu kapanpun. kita akan tidur di kasur yang sama setiap harinya"
"Aku gak ngerti mas" Aku sebenarnya mengerti maksudnya. Namun aku ingin ketegasan dari ucapannya. Aku tak ingin berharap.
"Mas mau kita tinggal serumah"
"Aku ini PSK lho mas"
__ADS_1
"Iya mas tau, tapi mas ingin kamu berhenti dari tempat itu dan mulai hidup baru dengan mas"
"Tinggal serumah tanpa ikatan mas?"
"Iya. tapi mas akan jamin semua kebutuhan mu, juga kebutuhan adik-adik mu" aku terdiam sejenak. memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku memang sudah terlepas dari perjanjian kontrak itu, jadi kapanpun aku keluar dari tempat itu tak akan ada masalah. Aku juga lumayan cukup untuk biaya masuk kuliah Silvana. dan yang paling penting, aku juga mencintai mas gilang.
"Mas, masih banyak kebutuhan yang harus aku penuhi. Apa mas sanggup?"
"30Juta satu bulan?"
"Jika suatu hari nanti mas pergi ninggalin aku?"
"Jangan berfikir terlalu panjang"
"Mas, aku sadar aku ini siapa? Jika suatu saat nanti aku berada di rumah mas, aku tak lebih dari sampah yang tak sengaja di pungut orang. dan kapanpun orang yang memungut sampah itu bisa saja membuangnya"
"Mas belikan rumah untuk masa depanmu" rasa nya sangat sakit mendengar kata-katanya. Bukan kata itu yang ku harapkan keluar dari mulutnya. Namun kata lain. Sebuah kata yang akan mengubah seluruh hidupku.
"Hmm, beri aku waktu?" kataku. mas gilang mengangguk pasrah. Dalam hatiku masih terus berdebat memilih keputusan apa yang harus aku ambil. Aku memang tak mungkin bila terus bekerja di rumah bordir itu, tapi jika ku serahkan diriku pada mas gilang tanpa ikatan? aku juga tak mau ambil resiko.
"Queenza, jika mas memintamu untuk menjadi istri sirih mas, apa kamu juga akan meminta waktu untuk berfikir?" aku terlonjak kaget. Hatiku bersorak. sungguh memang kata-kata itu yang aku harapkan darinya.
"Jika seandainya mas memintaku menikah, aku tak butuh waktu untuk memikirkannya. Akan ku jawab Ya tanpa menunggu lebih lama. Tapi aku tau semua itu tak akan mungkin. Tak ada yang mau memungut sampah untuk di jadikan perhiasan di rumahnya" aku tersenyum kecut.
__ADS_1
"Meski hanya istri sirih?" tanya nya meyakinkan aku sekali lagi. Ku anggukan kepalaku. Apalagi yang dapat wanita penghibur seperti diriku harapkan yang lebih dari pernikahan sirih? Nikah sirih saja bagiku sudah sangat cukup. Amat sangat cukup.