Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 20


__ADS_3

Berat memang jika aku harus berpisah di suasana yang masih seperti ini, namun aku tak punya pilihan lain. Tanggung jawab yang harus ku pikul menantiku. Aku menghela nafas panjang, rasa sakit karena kehilangan masih begitu terasa. Hari ini aku putuskan untuk kembali ke rumah bordir itu. Tempatku mengais rezeky. Tempatku mewujudkan mimpi Bapak, Silvana, Fadly. Aku sudah tak pedulikan apa ke inginanku saat ini. Sudah lama aku mengubur semua keinginan diriku sendiri, dan mulai menanam Keinginan bapak, silvan dan fadly menjadi keinginanku. Udara pagi itu teramat cerah, aku sudah berada di terminal sejak 30 menit yang lalu. Menanti bus yang akan membawaku ke kota itu datang. Aku menunggu di kursi khusus penumpang. Jadwal keberangkatan bus masih 2 jam lagi. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengusir rasa bosanku selain memainkan game di ponselku. Suara hiruk pikuk manusia terdengar di telingaku. Beberapa calo bus menanyai semua penumpang yang duduk di tempat tunggu penumpang. Bertanya tujuan sang penumpang kemudian mengantarnya ke bus yang menjadi tujuan sang penumpang. Dengan harapan sejumlah uang logam yang akan berpindah tangan dari kondektur bus ke tangan para calo. Pandanganku sekarang tertuju pada keadaan sekitar. Pemandangan yang sering aku temui dan ku lihat, namun kali ini aku melihatnya dengan cara berbeda. Cara pandang yang tak sama.


"teh, pasihan kanggo emam" seorang anak kecil berbaju kumal menghampiriku. Tubuhnya kotor oleh debu. Tangannya tengadah meminta uang padaku. Aku membuka dompetku untuk memberinya beberapa uang receh. Tampak dia pergi saat uang di tanganku berpindah ke dalam saku celananya. Aku masih memperhatikan sekitar, saat tanpa ku sadari seorang pria duduk di sampingku.


"Ketemu lagi" kata pria itu. Aku melirik ke arah sumber suara, melihat dengan seksama si pemilik suara itu. "Si cowok gak punya hati itu" kataku dalam hati. Cepat ku palingkan kembali wajahku ke arah lain. "Udah baca pesan saya?" tanya nya lagi. Aku masih tetap diam tak bersuara. "Nampaknya nona sekarang sedang kehilangan suaranya" katanya lagi.


"Maaf ya kang, saya tidak kenal akang. Akang juga gak kenal saya. Jadi saya mohon tolong jangan ganggu saya. Jangan bikin hidup saya semakin malang karena mempunyai kawan seperti anda" kataku ketus.


"Baiklah, saya tidak akan mengganggu anda lagi. Saya akan diam" katanya lagi. Aku menatap tajam ke arahnya. Kemudian aku berdiri untuk mencari tempat duduk lain agar aku terhindar dari pria itu. Namun dengan gerakan cepat dia menarik tanganku agar tetap duduk di kursi itu. Ku kibaskan tanganku untuk melepaskan diri dari cengkraman tangannya. Namun tenaga pria itu lebih kuat dari yang ku duga. Pria itu balik menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. "Diem" nada suaranya kali ini dia tekan agar aku menuruti apa maunya. Aku terlonjak kaget mendapat perlakuan tak aku duga seperti ini. Darahku berdesir begitu cepat. Jantungku berdetak kencang. Rasa takut dan marah bercampur jadi satu. Tak bisa ku lepaskan genggaman tangannya, bahkan sekedar untuk melonggarkan pegangannya saja aku tak bisa. Aku lihat dia mengeluarkan ponsel di tangannya. Mengetik sesuati di dalam ponselnya. Kemudian memberikan ponsel itu padaku untuk ku baca.


"Liat sekumpulan pria yang ada di arah jam 10. Pria itu ku lihat sedang memperhatikanmu sedari tadi. Tetap disini bersamaku, aku rasa pria itu akan melakukan hal buruk padamu. jika anda memang tak suka padaku, abaikan saja aku. Anggap aku tak ada. Tapi biarkan aku tetap disini" begitu yang tertulis di dalam ponselnya. Aku melirik arah yang dia sebutkan tadi. Benar saja ada beberapa pria yang sedang berdiri sembari memperhatikan aku. Di sampingnya ada anak kecil tadi yang meminta uang padaku. Anak kecil itu tampak menunjuk ke arahku sambil berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu. Aku menundukan wajahku. Pria itu melepaskan cengkramannya dari tanganku.

__ADS_1


"Terimakasih" kataku lirih. Pria itu tak bersuara. Ku lihat dia sibuk dengan ponsel di tangannya. Aku kembali menundukan wajah, sementara tanganku sibuk memastikan semua barang bawaanku masih lengkap dan aman. Pria itu memberikan ponselnya padaku untuk ku baca.


"Sama-sama nona manis, saya disini tak ada niat untuk mengganggu anda. Saya hanya ingin menolong anda. Jika anda berkenan saya ingin memberitahukan nama saya. Saya Rangga. Boleh saya tau nama anda?" aku memalingkan wajah ke arahnya. Ku lihat Rangga tertunduk, tak berani menatap wajahku.


"Kamu gak perlu menulis ini untuk berbicara padaku. Langsung saja" kataku. Untuk pertama kalinya aku tersenyum ke arah Rangga. Rangga membalas senyumanku. "Namaku... Hmmm..." kataku. Aku terdiam sesaat. "Kanaya" lanjutku lagi. Kali ini nada suaraku terdengar rendah.


"Nama yang indah nona. Anda kerja, kuliah atau..." dia menghentikan kalimatnya.


"Saya sudah bekerja" jawabnya lagi. "Mengais rezeky untuk anakku di kampung" lanjutnya lagi.


"Oh jadi kamu udah nikah?"

__ADS_1


"Ya 3 tahun yang lalu. Sekarang anakku tinggal bersama keluarga istriku. Saya biasa mengunjungi putriku beberapa kali dalam setahun" Lanjutnya lagi.


"Oh" Jawabku. "Kenapa gak kamu bawa saja ke kota? Dengan begitu kamu bisa setiap hari bertemu anakmu" lanjutku lagi.


"Ya ingin saya seperti itu, tapi keadaan yang memaksaku untuk menitipkan putriku di neneknya. Istriku meninggal sesaat setelah dia melahirkan putri pertama kami. 2 Tahun yang lalu tepatnya" ada gurat kesedihan yang terpancar jelas di wajahnya.


"Maaf" kataku menyesal.


"Tidak apa-apa. Sudah takdir Allah seperti itu, saya hanya harus melanjutkan perjalanan hidup saya. Jika tak keberatan boleh kah saya bertanya nona? Kenapa anda menangis di bus tempo hari?"


"Bapak saya meninggal" ku tundukan wajahku dalam. Mataku mulai berkaca-kaca. Saat air mataku hendak jatuh dari tempatnya aku menatap langit, berharap dengan menengadahkan kepalaku air mata itu akan tetap diam di tempatnya.

__ADS_1


"Sangat sakit memang, ketika kita kehilangan orang yang sangat kita cintai. Tapi jika saya boleh mengatakan sesuatu.." kalimatnya terhenti sesaat. "Jangan terlalu terpuruk dengan keadaan. Bangkit dan terus lah berjuang. Meski luka karena di tinggalkan tak akan pernah hilang, tapi waktu terus berputar. Dan hidup terus berjalan" Lanjutnya lagi. Pandangannya menatap lurus kedepan. "Masih banyak orang yang jauh lebih menderita dari kita saat ini, hanya saja mereka tak pernah mengeluh dengan keadaan. Karena mereka sadar jika mereka berlarut-larut dalam kesedihan, kehidupan yang harus mereka hadapi akan terabaikan" katanya lagi. Aku masih terus diam. Air mata yang sedari tadi aku tahan agar tak tumpah, akhirnya keluar juga. Rangga benar. Aku harus bangkit untuk maju kedepan.


__ADS_2