
"Maaf, hp eteh kemaren rusak" kataku berbohong.
"Oh pantesan. Ena khawatir eteh kenapa-napa"
"Eteh baik-baik aja. Gimana kabar kamu?"
"Ena baik teh"
"Bapak sama ade sehat?"
"Sehat teh, cuma bapak.." Silvana tak melanjutkan kalimatnya.
"Bapak kenapa?" tanyaku. Nada suaraku terdengar sedikit lebih tinggi.
"Bapak kemaren sakit teh, tapi sekarang udah baikan. Ena sama ade udah bawa bapak ke dokter"
"Kata dokter bapak sakit apa?"
"Radang paru-paru"
"Lah koq bisa? Bukannya bapak tak ounya riwayat penyakit paru-paru?"
"Iya teh, kedinginan mungkin teh. Udaranya sekarang lagi ekstrim banget, lagian hmm.." Silvana menghentikan kalimatnya.
"Lagian apa ena?" jawabku menimpali kalimatnya yang tergantung tanpa penyelesaian.
"Hmm gak teh. Eteh gimana kerjaannya? Lancar? Kapan eteh pulang?"
"Ena... lagian apa?" bentakku tegas. ku tekankan nada suaraku saat ku sebut namanya.
"Kamar bapak bocor teh. Saat hujan semua kasur bapak basah. jadi bapak sekarang tidur di kamar ade" lanjutnya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar. Aku mengeluh dalam hati. Memperbaiki atap yang bocor dapat membuat tabunganku untuk sekolah adikku semakin berkurang.
"Besok ena suruh tukang buat benerin atap. Eteh transfer uangnya sekarang" kataku.
"Gak usah teh. Bapak sementara bisa tinggal di kamar ade"
"Gak bisa gitu ena. Udah kamu ikuti aja perintah eteh"
"Teh, bukan hanya atapnya saja yang bocor, tapi plaponnya ambruk terkena angin" lagi aku melengguh dalam hati.
__ADS_1
"Tapi bapak gak kenapa-napa kan? gak terkena ambrukannya?"
"Gak teh, Bapak sudah sebulan berganti kamar dengan ade. Jadi saat plaponnya ambruk bapak tidur di kamar ade. Ade yang kena ambrukannya"
"Terus sekarang gimana?"
"Ade gak apa-apa teh. cuma luka kecil. cuma terkena serpihan plapon aja, beruntung ada lemari di kamar bapak membuat plaponnitu tak menimpa ade langsung" aku menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah. Sekarang eteh transfer 5juta. kalau masih kurang nanti sisanya eteh transfer lagi"
"Eteh ada uang?" tanyanya ragu.
"Ada. Gak usah fikirin eteh"
"Buat eteh sehari-hari disana ada? Buat makan bayar kontrakan" katanya lagi. Silvana memang tak pernah tau aku tinggal dimana? Mereka taunya aku mengontrak rumah petak disini.
"Ada" Jawabku. Samar aku mendengar suara bapak memanggil silvana dari speaker ponselku. "Bapak manggil kamu tuh. Eteh tutup ya teleponnya" kataku lagi.
"Iya teh"
klik. hubungan pun terputus. Ku hempaskan tubuhku di atas kasur. Sisa uang di rekening ku hanya tinggal 20jt an lagi sisa bayar biaya rumah sakit kemarin. Sekarang akan berkurang lagi. membuatku harus lebih bekerja keras untuk biaya kedua adikku. Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Entahlah aku sanggup mengumpulkan biaya buat kuliah ena dalam waktu 2 tahun kurang lagi atau tidak. Biaya kuliah yang aku tau tak akan kurang dari 80jt. Tak butuh waktu lama bagiku untuk kembali pada kenyataan yang harus di hadapinya. Keluh kesah dalam dadaku tak dapat merubah apapun di dunia ini. Aku mulai membuka ponselku, menekan aplikasi mbanking. Mentransfer jumlah uang yang di sebutkannya pada Silvana. No rek silvana memang sudah dia simpan di dalam daftar transferku, membuat ku tak perlu repot untuk memasukan kembali no rekening nya saat aku hendak transfer. "Aku lupa" aku berbicara sendiri. "Seharusnya 4 hari lalu aku transfer uang buat biaya makan adik-adikku dan juga bapak" lanjutku yang masib berbicara sendiri. Cepat aku memijit angka pin dan transfer uang bulanan pada silvana. Aku membuka aplikasi WhatsApp. Ada beberapa WhatsApp yang masuk, namun ku abaikan semuanya. mencari no silvana dan mulai mengirimnya pesan. Belum sempat ku kirim pesan, notif chat silvan ada 38. Aku membaca semua pesannya satu persatu.
"Eteh gimana kabarnya?"
"Teh, masih sibuk?"
"Teh, kenapa gak pernah online?"
"Eteh sibuk banget ya?"
"Teh ena juara satu lomba karya tulis, eteh gak ngucalin selamat?"
"Eteh sehat?"
"Teh kenapa gak pernah jawab?"
"Eteh baik-baik aja kan?"
"eteh dimana?"
__ADS_1
"teh"
"Teh 2 hari ena kirim pesan tak pernah di baca"
"Hp eteh kenapa gak aktif"
"ena khawatir"
"Teh, eteh sehat kan?"
"Eteh kenapa?"
"masih gak aktif"
"teh"
"teh jangan bikin kami khawatir"
"Eteh gak pernah kayak gini, eteh kenapa?"
"Eteh ena khawatir"
"masih gak aktif"
"eteh kemana?"
"teh, jangan ngilang ena takut"
Chat itu terkirim ke ponselku. di tambah sisanya beberapa huruf P saja.
"Sudah eteh transfer 8juta buat perbaiki rumah 5 juta. sisanya buat uang belanja sama uang sekolah" aku menegetik kalimat itu di dalam ponselku. dan menekan tombol kirim.
"Maaf eteh telat transfer. Bulan lalu Ade minta beli buku kumpulan soal buat ujian, jangan lupa beliin ade buku itu. Bapak jang sampe telat obatnya"
"Maaf eteh belum bisa disana buat bantu kalian jaga bapak. eteh masih harus kerja disini. belum bisa pulang untuk beberapa bulan ke depan" ku kirim 3 pesan itu ke ponsel silvana. tak lama silvana membalas chat ku.
"Makasih teh, maaf ena masih ngerepotin eteh. Ena belum bisa bantu eteh cari uang" balasan itu terkirim ke ponselku.
"Tugas ena cuma belajar. kalau ena mau bantu eteh, cukup dengan belajar yang rajin dan temani bapak selama eteh kerja" balasku lagi.
__ADS_1
"Iya teh" jawabnya lagi. tak aku balas lagi WhatsApp dari silvana. aku mulai membaca satu persatu chat masuk selama seminggu terakhir. Tak ada yang spesial. Hanya teman-teman ku di tempat kerja saja yang bertanya kabar. Aku terhenti di sebuah chat yang membuatku sedikit tertarik. Pesan yang terkirim dari no asing. Hanya 1 kata memang, tapi membuatku berfikir begitu keras memikirkan sosok yang mengirim pesan itu.
"MAAF" hanya itu yang tertulis dengan hiruf kapital sebagai penegasan mingkin. Entahlah. ku balas pesan itu dengan satu huruf tanda tanya. Pesan yang ku kirim hanya menyisakan ceklis 1. Penasaran dalam hatiku tak sedikitpun terobati. no itu nampaknya sudah tak lagi terpakai. aku lantas mengecek panggilan masuk dalam pesan WhatsApp ku. Ada beberapa nama terbaca di panggilan tak terjawab. Namun tak ada yang menarik hatiku untuk kembali menghubungi mereka. Ku letakan kembali ponselku, setelah ku cek semua pesan dan panggilan tak terjawab di ponselku. Aku memang bukan type orang yang harus selalu membawa dan memegang ponsel kemanapun aku pergi. Aku cenderung lebih cuek. Ku pegang ponsel hanya saat ingin menulis pesan, menelpon atau menerima telepon atau sesekali aku melihat YouTube. selebihnya ak pernah lagi ku pegang benda itu. saat aku bosan tak punya kegiatan, aku lebih suka menonton tv.