Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 4


__ADS_3

3 bulan sudah aku mendekam dalam rumah bordir ini. Silih berganti pria masuk ke dalam kamarku setiap hari. Malam, siang, sore. 4 sampai 5 pria berbeda setiap harinya yang datang mengunjungiku. Yang mereka inginkan hanya 1, kepuasan dari tubuhku. Tak lain. Awalnya aku risih, namun mungkin sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanku. Mungkin aku juga sudah tergiur dengan harga yang mereka tawarkan sebagai imbalan jasa service ku. Benar saja kata mba rina, jika suatu saat nanti aku akan menikmati pekerjaanku ini. Dan yang lebih penting dari semua ini jika aku memang sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tak ada pekerjaan lain untuk seorang wanita lulusan SMA dengan gaji yang harus cukup untuk biaya berobat bapak, sekolah kedua adikku juga untuk makan keluargaku selain menjadi seorang wanita penghibur sepertiku. Bapak sudah terlalu tua untuk bekerja membiayai ke dua adikku. Jadi akulah kini yang harus menggantikan peran bapak sebagai pencari nafkah. Ibuku..., ahh sudah lah aku tak mau memikirkan wanita itu. Wanita yang sudah meninggalkan kami tanpa belas kasihan. Aku tak tau kabar ibu, bahkan aku tak pernah mau tau apapun tentang ibu. Bagiku ibu sudah mati.


"Kring... kring..." suara tlp di kamarku berbunyi. Deringnya membawaku kembali kedunia nyata.


"Ya..."


"Hari ini lo dapet 5 tamu yang sudah DP. Ada 3 tamu lain yang mau lo temenin malem ini, tapi mereka belum DP. Kalau lo mau tolak boleh" suara cempreng dari sebrang sana membuatku sedikit berfikir.


"Oke kalau mereka DP sekarang, gak apa-apa gue ambil aja. Malem ini 10 orang lah boleh. Gue lagi butuh duit. heheh" jawabku.


"Butuh duit atau keenakan nih? hahahah"


"dua-duanya. hahahah"


"Oke. eh tamu lo lagi jalan ke kamar lo sekarang tuh..." lanjutnya. langsung ku tutup tlpnya. Aku mematut tubuhku di cermin. Kali ini aku hanya menggunakan kimono mandiku. Pakaian dalamku yang berwarna senada tampak sedikit terlihat dari sela belahan kimono mandiku.


"Tok... Tok... Tok..." suara ketukan di depan pintu kamarku. Cepat aku membuka pintu kamar.


"Siang oom..." kataku manja. Ku gigit bibir bawahku untuk menggodanya. "Masuk Oom. Queen udah lama lho nungguin oom" kataku genit.

__ADS_1


"Kamu yaa memang pilihan oom yang paling tepat" katanya menjawab pertanyaanku. Aku tertawa. "Cantik banget kamu. Oom gemes jadinya" lanjutnya lagi.


"Masa sih oom? Oom ini terlalu muji queenza deh oom"


"Kamu memang cantik sayang, menarik, menantang, oom jadi gak sabar"


"Yakin oom?" kataku seraya membuka kancing bajunya. Mba rina memang benar, akh harus slalu memuaskan pelanggan untuk mempertahankan posisiku sebagai ratunya di tempat ini. Semua service yang ku berikan harus membuat pelanggan slalu merindukanku. Itulah satu-satunya caraku bertahan di tempat ini dengan semua fasilitas mewah dan perlakuan khusus. Aku memang sudah sangat menikmati pekerjaan ini, hingga aku melupakan tujuanku yang akan berhenti setelah semua hutangku lunas. Setelah kamu bergumul di atas ranjang 1 jam oom itu pergi meninggalkanku. Beberapa uang lembar seratus ribuan terselip di bawah bantalku.


"Minggu depan oom cari kamu lagi. Bikin oom lebih puas dari sekarang yaa"


"Siap oom. Queenza slalu siap berbagi keringat sama oom. heheh" kataku lagi. Aku bangkit dari tempat tidurku. Selimut putih ku balutkan pada tubuh telanjangku. Mengunci pintu dan mulai masuk ke kamar mandi untuk membasuh seluruh tubuhku.


"Ya" kataku


"Sudah siap?"


"Belum, baru beres mandi gue. Kasih waktu nafas lah buat gue sejam"


"Oke. sejam lagi tamu favorit lu dateng"

__ADS_1


"Siapa?"


"Hahahah yang punya banyak tamu favorit sampe lupa siapa namanya. Pak Yanto yang dari surabaya"


"Bilang setengah jam lagi gue siap"


"Oke"


Aku menutup teleponnya. Pak Yanto emang tamu langgananku, dia sudah 7 kali menggunakan jasa service ku. Aku mulai memilih baju yang hendak aku kenakan. Kali ini aku menggunakan Costum seragam SMA. Aku kuncir rambutku menjadi dua. Kali ini dandananku sedikit polos. Hanya menggunakan lipbalm pink yang menghiasi bibirku.


"Siang Pak guru" kataku setelah membuka pintu kamar yang tadi di ketuk. "Hari ini bapak yang terlambat datang" kataku lagi. "Apa seorang murid boleh menghukum gurunya pak?" lanjutku lagi.


"Queenza, murid favorit bapak sudah di kerjakan PR nya?" tanyanya lagi. Pak yanto memang menyukai kejutan-kejutan dariku. Dia slalu memintaku memerankan suatu hal sebelum akhirnya mengeksekusiku di atas ranjang.


"Maaf pak guru, Queen lupa" kataku seraya menungging di tempat tidur. "Hukum queen pak. Pukul pantat queen" lanjutku lagi. Pak yanto kemudian memukul ku. Dan tanpa basa basi lagi mulai menyerangku dari berbagai arah. hingga akhirnya pak yanto ambruk diatas tubuhku setelah selesai menyelesaikan misinya.


"Queenza, itu yang oom suka dari kamu. kamu gak pernah buat oom bosen" katannya seraya mengecup keningku. Aku tersenyum lembut.


"Ngobrolnya sambil mandi yuk oom" kataku seraya menariknya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi kami kembali melakukannya. Aku tak peduli seberapa banyak oom yanto melakukannya padaku, karena dengan begitu pundi-pundi rupiah yang akan di berikannya akan semakin banyak juga akan semakin membuatku puas. Yaa memang benar tak semua tamu yang mengunjungiku dapat memenuhi klimaks yang ku ingini. Hanya beberapa orang saja dari mereka yang dapat membuatku senang. Tak jarang juga dalam sehari aku tak sekalipun mendapat inti puncaknya. Meski 5 tamu sudah kulayani. Dan aku harus menyelesaikannya sendiri, saat malam telah larut. di temani sebotol beer dan rokok di tanganku aku mulai bermain dengan si neneng menggunakan tanganku. Jika mereka bilang semua wanita sepertiku merasakan kenikmatan yang sama dengan pengguna jasanya, maka akan ku jawab semua itu bohong. Tak semua orang bisa merasakan kenikmatan itu. Kami hanya bertugas untuk membawa para pemakai jasa kami untuk menuju puncaknya. Menyelesaikan misinya, tanpa bisa menuntut lebih pada mereka untuk juga menyelesaikan kita menuju puncak. Mungkin memang ada sebagian dari mereka yang dapat membawa kita meraih puncaknya. Tapi hanya sebagian kecil saja. Selebihnya mereka hanya inginkan untuk mereka saja, tanpa memperdulikan kita. Bahkan ada sebagian dari mereka yang berlaku kasar pada kami para wanita penghibur. Tapi ada pula yang memperlakukan kami dengan lemah lembut. Membuai kami, dan mengajak kami bicara sebelum naik ke ranjang. Meski ada yang langsung menghajar kami di atas ranjang tanpa berbicara sedikitpun. Menyelesaikan misinya dan pergi begitu saja sembari melempar uang tips pada kami. Pria yang memakai jasaku memang bervariatif. Hanya satu yang mampu membuatku bertahan. Hanya tekadku untuk membawa keluargaku ke kehidupan yang lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2