Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 12b


__ADS_3

Dia tak berhenti menghujaniku dengan tamparan dan pukulan, meninggalkan luka lembam dalam wajah dan tubuhku. Sementara dia masih terus menunggangi tubuhku. Aku hanya bisa meringis kesakitan. Gerakannya yang kasar meninggalkan rasa perih dan panas di bawah sana. Air mata mulai mengalir dari sudut mataku. Dia semakin menggila menyiksaku. Sambil terus tertawa dan memaki aku dengan perkataan yang terdengar begitu sakit di telingaku. Semua tubuhku terasa sakit. Aku masih terdiam sembari sesekali melakukan apa yang di perintahkannya padaku. Aku mencoba menutup mataku, sekedar untuk mengusir rasa sakit yang kurasakan di bawah sana.


"Liat muka gue perempuan sampah" Bentaknya sembari menghentikan aktifitasnya sesaat, lantas menamparku dengan sangat keras. Aku membuka mataku. Ku lihat dia melirik ke arah daerah intimku. Tawanya membahana setelah melihat semuanya. dan tak lama setelah itu dia selesai. Dia bangkit dari atas tubuhku. Memakai kembali semua pakaiannya, sambil terus tertawa puas.


"Lihat diri lo di cermin, hahahah" katanya "menjijikan" lanjutnya lagi. Aku sudah tak perduli lagi dengan apa yang dia katakan dan lakukan padaku. Cacian demi makiannterus terlontar dari mulutnya. Namun tak begitu ku dengarkan. Setelah pakaian nya sudah sempurna melekat di tubuhnya, Lantas dia pergi meninggalkan tubuhku yang masih telanjang. Hatiku semakin hancur saat Aku melihat ke daerah intimku. Darah segar mengucur dari dalam sana. membasahi sprei putih yang saat itu membungkus kasur di kamarku. Noda darah tampak terlihat jelas disana. tubuhku terasa remuk. aku mencoba menyeret tubuhku mendekati tlp yang ada di kamarku. dengan sisa energi yang ada aku memijit no receptionis dan memanggil seseorang untuk datang ke kamarku. Rasa perih semakin terasa di bagian intimku. Mataku terpejam menahan sakit. Sayup ku dengar suara mba rina memanggil namaku, sebelum akhirnya tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


...****************...


Aku memicingkan mata, saat cahaya putih menyilaukan mataku. Aku merasakan seluruh tubuhku remuk. Kepalaku terasa berat. Bau obat menusuk tajam ke dalam rongga hidungku. Perlahan aku membuka mataku. Samar aku melihat sosok barbaju putih yang sedang berdiri di hadapanku. Wajahnya putih bersih.


"Aku dimana?" suaraku pelan nyaris tak terdengar. Pria itu melirikku sebentar. Aku dapat menangkap pria muda yang tadi berdiri di sampingku dengan map besar di tangannya, berjalan tergesa keluar ruangan tanpa menjawab pertanyaanku. Tak lama pria itu kembali datang dengan sesosok pria setengah baya.


"Selamat siang mba. Saya periksa dulu ya" kata pria paruh baya itu. Aku hanya mengangguk. Pandanganku mulai menyapu ruangan sekitar. Bersih. Putih. Selang infush terpasang sempurna di punggung tanganku. Tanpa perlu pria muda tadi menjawab pertanyaanku, aku sudah tau aku ada di mana. Rumah Sakit.

__ADS_1


"Dok saya kenapa?" tanyaku pelan.


"Pendarahan di bagian sensitif anda, tapi kami sudah berusaha menghentikan pendarahannya dan melakukan beberapa test"


"Bahaya dok? apa penyebabnya?" tanyaku seraya membenarkan posisi tidurku.


"Saya belum bisa memastikan apa penyebabnya, karena saya belum menerima hasil laporan dari lab"


"Baik. Terimakasih, dok" jawabku lagi.


"Sakit disana dok, rasanya kayak perih panas" jawabku. Suaraku masih teramat sangat lemah. Dokter mengangguk sembari tersenyum.


"Itu wajar, ada ada luka di daerah sensitif anda. Untuk sementara waktu jangan dulu bergerak ya. Nanti perawat akan memberikan obat penahan nyeri" Kata dokter itu lagi. Lantas Dokter itu pergi. Tinggalah aku dan perawat muda tadi di dalam ruanganku.

__ADS_1


"Saya periksa dulu infusannya ya. Mba, saya masukin obat pereda nyeri nya ya. Ini akan terasa sedikit sakit. Di tahan ya. Tapi jika sakitnya sudah tak tertahan, ngomong ya mba" katanya ramah. Aku menganggukan kepalaku sambil tersenyum. Dia kemudian memeriksa infusanku. Memasukan cairan bening ke dalam selang infusanku. Rasanya terasa begitu perih. Aku meringis kesakitan. Dia menangkap Memastikan seluruh benda berfungsi dengan baik.


"Mba, ini bell nya ya. kalau mba butuh sesuatu tinggal pijit saja bell nya"


"terimakasih" jawabku lagi. Kemudian si perawat pergi meninggalkan ruanganku. Tinggalah aku dalam ruangan ini sendiri. Aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi sebelum aku berada di tempat ini. Tubuhku bergidik saat memori itu di paksa untuk di putar kembali dalam ingatanku. Rasa sakit memenuhi rongga dadaku. Laki-laki itu yang telah menyiksaku, dia yang telah membuatku menjadi seperti sekarang ini. dia yang harusnya bertanggung jawab pada diriku. Tapi aku tak dapat berbuat apapun. Bahkan hanya sekedar menghukum perbuatannya pun aku tak bisa. Air mata kembali menetes. Ahhh betapa menderitanya hidup menjadi diriku dengan profesi ini. Aku harus selalu menerima apapun perlakuan mereka padaku tanpa bisa memprotes semua yang mereka lakukan padaku, meski itu sangat menyakitkan. Kejadian yang menimpaku ini hanya akan berlalu seperti debu yang tertiup angin, berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu dan akan terlupakan dalam memori mereka. Dan bahkan akupun harus memaksa diriku untuk melupakannya dan memaafkan semua perbuatannya meski sesungguhnya aku tak ingin. Ketukan pintu membawaku kembali ke dunia nyata. Aku melirik ke arah pintu kamar di dalam ruangan itu.


"Sore mba, ini makanannya. Mba mau makan sekarang? Biar saya siapkan." Tanya seorang wanita muda yang masuk dengan nampan berisi makanan. Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Baik mba, saya permisi dulu" katanya lagi.


"Sebentar" kataku menghentikan langkahnya. dia berbalik ke arahku. "Bisa aku minta beberapa lembar kertas dan juga pulpen?" tanyaku.


"Baik mba, nanti saya ambilkan" jawabnya lagi. Dia pergi dan lantas kembali ke dalam ruanganku. memberikan kertas dan bolpoint yang ku pinta. Aku mulai menulis sesuatu di atas kertas itu.

__ADS_1


"Ahh, manusia seperti apa aku ini. Aku bahkan tak di beri kekuasaan untuk menyelamatkan diriku sendiri. Atau bahkan hanya sekedar membela diriku saja. Aku hanya budak nafsu mereka. Aku hanya boneka yang dapat mereka perlakukan seperti apapun mereka mau. Betapa rendahnya diriku. Betapa hinanya aku kini. Ya, aku memang yang memilih untuk jadi seperti ini, tapi apa harus menerima saja semua perlakuan mereka? harus menerima setiap penderitaan dan siksaan mereka? Menerima semua cacian dan makian yang mereka lontarkan padaku? Tapi kenapa? Kenapa aku tak boleh saja merasakan kebahagiaan walau hanya sebentar saja? Dulu saat mas gilang memintaku untuk menjadi istrinya, aku kira semua itu akan menjadi awal bahagiaan bagiku. Tapi ternyata aku salah. Tuhan tak pernah mengijinkan aku untuk bahagia. Mungkin Tuhan telah lupa padaku. Tuhan lupa jika telah menciptakanku. Tuhan lupa jika akupun sama seperti yang lainnya." Ku hempaskan tubuhku kembali. kertas yang tadi sudah ku tulisi ku biarkan tergeletak di samping tempat tidurku.


__ADS_2