Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 7


__ADS_3

Tadi siang mami memberi tahuku jika malam ini aku akan kedatangan tamu spesial. Tamu yang mempunyai cukup banyak uang, sehingga pria itu akan akan berada di kamarku selama 24jam penuh. Mami memberiku tarif tinggi. 20juta untuk satu hari dan dia setuju. Mba rina membantuku bersiap. Memilihkan baju yang cocok untukku, dan juga merias wajahku.


"Mba.."


"hmmm.."


"Tamunya member lama kita bukan sih?" tanyaku penasaran.


"Yang mba denger sih orang baru. Tapi duit nya banyak. lo pasti dapet tips lebih. masih muda lagi"


"Masa sih mba?"


"iya"


"Mba sibuk ya? sekarang jadi jarang main ke tempat aku?"


"Banyak anak baru, tapi gak ada yang bisa ngalahin lo. lo masih jadi bintangnya disini"


"hmmm"


"Siapin diri lo. bentar lagi tamunya datang" lantas mba rina bangkit dan pergi dari kamarku. tak lama seseorang mengetuk pintu kamarku. cepat ku buka pintu, tampak seorang pria berusia 30 th berdiri tepat di ambang pintu. Mba rina benar, dia memang tampan. Kulitnya putih bersih, wajahnya bercahaya.


"Mas, mau minum apa?" tanyaku setelah beberapa lama kami saling mematung.


"Air putih boleh" jawabnya. ku sodorkan air putih padanya. "Kamu gak keberatan kan menemani saya ngobrol?" tanyanya.


"Gak donk mas" jawabku. Pria itu bernama Gilang, Seorang pengusaha muda di kota ini. Cukup lama kami berbincang. Dari mulai obrolan ringan, hingga obrolan-obrolan yang cukup berat mengenai berita yang tadi kami tonton bersama. Aku mulai tak sabar, ingin segera menyelesaikan apa yang seharusnya sudah di mulai sejak tadi. Tapi ku lihat mas gilang sama sekali tak menunjukan tanda-tanda ke arah sana. "Apa aku kurang menarik?" tanyaku dalam hati.

__ADS_1


"Mas, barangkali mas mau makan?" tanyaku di sela-sela obrolan.


"hm boleh cemilan cemilan ada?"


"Ada mas"


"Saya mau French Fries sama sosis goreng. Minumnya Coca-Cola"


"Yes sempurna" aku bersorak dalam hati. minuman yang sangat tepat di campurkan dengan obat perangsang" senyumku nakal. Aku bergerak menuju tempat pesawat telepon di simpan. Mulai menekan 3 angka panggilan untuk receptionis.


"hallo selamat malam"


"Malam, aku minta kentang goreng, sosis goreng, minumnya jus strawberry sama Coca-Cola yang itu yaa double" kataku.


"Napa lo? Pak gilang kenapa?" kata suara di seberang sana. gelak tawa terdengar.


"Baik, terimakasih" kataku seraya menutup pesawat telepon. Aku pernah beberapa kali meminta bantuan orang pantry untuk mencampurkan obat itu di minuman para tamuku. Dengan alasan yang berbeda tentunya.


"I.. iya kenapa?"


"Aku gerah, boleh aku ganti baju dulu?"


"Iya tentu..."


"Mas suka aku pake baju yang kayak gimana?"


"Oh ahh ya. yang gimana pun boleh"

__ADS_1


aku bergerak menuju lemari. Posisi lemari berhadapan dengan sofa yang di duduki mas gilang jang jaraknya sekitar 2m. Sengaja aku melepas bajuku di depan cermin yang ada di lemariku, aku melihat mata mas gilang melotot ke arah tubuhku dari cermin. Sesekali ia tampak tertunduk, kemudian menatap ku kembali. Aku mengenakan dress polos warna putih yang ketat dan mempertontonkan lekuk tubuhku yang sempurna. kali ini aku sengaja tak memakai bra membuat benda berwarna kecoklatan tampak dari luar. CD hitam juga terlihat jelas. Setelah selesai ku ganti baju, aku kembali duduk di sofa, kali ini aku duduk persis di sampingnya. mas gilang tampak mulai salah tingkah.


"Mas, gimana penampilanku sekarang?" kataku seraya tanganku membelai pahanya. mas gilang hanya mengangguk. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Aku mengambil tisu yang berada di meja samping mas gilang. Sengaja aku membiarkan posisi dadaku tepat berada di depan wajahnya. ku dengar nafas nya mulai memburu. "Mas.." kataku seraya menyentuh wajahnya. Ku palingkan wajahnya tepat di depan wajahku. "Mas kenapa?"


"Gak gak gak apa-apa gak" katanya salah tingkah.


Aku membelai rambutnya ciuman hangat mendarat di bibirnya. Aku mulai memainkan peranku, meski mas gilang tak membalas seranganku namun dia juga tak menolak ajakanku. Aku mulai mengajaknya ke atas ranjang. Kali ini aku yang mengendalikan. Sementara lawanku hanya diam mematung. Aku mulai mengarahkan tangannya untuk menyentuh bagian-bagian yang aku inginkan. Namun tangan nya masih kaku tak bergerak. Hanya memegang tak lebih.


"Dimainin mas" kataku dengan desahan yang menggoda. matanya terbelalak kaget, meski mulai menggerakan tangannya. Darahku mulai berdesir. Ku fikir seru juga bermain dengan orang yang seperti mas gilang. Aku semakin menginginkan lebih, bahkan mas gilang juga tampak menginginkannya. Hampir satu jam aku memainkan peran. Tubuhku sudah bergetar tiga kali tanda aku sudah mencapai puncak, namun tak ada tanda dari mas gilang. Ku percepat gerakanku. Mata mas gilang terbelalak Tubunya bergetar hebat matanya terpejam. lahar panasnya tumpah ke dalam rahimku. ku jatuhkan tubuhku di atas tubuhnya. Deru nafas kami saling bersahutan.


"Mas hebat" kataku memuji kejantanannya. dia diam tak bereaksi. Ku peluk mesra tubuhnya.


"Maaf queen maaf.. aku.. aku.."


"Maaf untuk apa mas?"


"Jujur saja, sejak pertama aku liat kamu tadi jantung aku sudah bergetar. Tapi aku sangat bodoh untuk urusan seperti ini"


"Siapa yang bilang mas bodoh?"


"Aku tak tahu harus bagaimana?"


"Lakuin aja apa yang menurut mas seneng. Mas, mau coba lagi?"


"Aku malu, aku takut"


"Malu kenapa? takut kenapa?"

__ADS_1


"Malu kalau aku salah, aku takut kalau salah" aku tersenyum geli. Aku beranjak dari tempat tidurku, membawakan Coca-Cola di atas meja serta memutar film blue di kamarku. Mas gilang menelan habis minuman yang ku serahkan padanya.


"Kita nonton yuk mas" kataku. Mas gilang awalnya tampak ragu-ragu. tapi lama kelamaan dia mulai menikmati setiap adegan film yang ku suguhkan. "Mas lakuin apapun yang mas mau ke aku yaa. Malam ini aku milik mas" kataku. mas gilang tersenyum ke arahku. Kami mulai melakukannya lagi. kali ini mas gilang ku biarkan melakukan apapun padaku. mempraktekan setiap adegan yang di lihatnya di dalam film. Hingga malam menjemput pagi. Seperti sepasang pengantin baru. kami terus melakukannya.


__ADS_2