
Aku kembali bergelut dengan aktifitas ku. Berbagi keringat dengan orang yang baru ku jumpai untuk menambah jumlah digit isi rekeningku. Aku bekerja tanpa kenal lelah. Semua harus ku persiapkan sejak dini untuk biaya ke dua adikku. Janjiku pada bapak yang akan menjadikan Silvana seorang dokter membuatku semakin gila bekerja. Tak peduli tamu itu datang siang atau malam, semua ku layani dengan sabaik mungkin. Aku berusaha memanjakan para tamu yang datang. Dengan satu tujuan. Mengharapkan sejumlah uang tip yang dapat membuat rekeningku semakin gendut.
Semua tampak lancar pada awalnya, hingga suatu saat sebuah ketukan pintu mengagetkan aku. Pria yang berdiri di ambang pintu itu pria yang sama dengan yang dulu pernah berkunjung kemari tanpa menyentuhku sedikitpun. Tak salah lagi dia Oom robi. Aku tersenyum menyapanya. Dia balas senyumanku.
"Apa kabar Oom?" tanyaku setelah ia duduk di sofa.
"Saya baik. Gimana kabarnya Novelmu? Sudah sampai mana?" pertanyaan dari Oom robi sangat mengejutkan aku.
"Belum sampai mana-mana Oom" jawabku.
"Maksud kamu?" tanya Oom robi lagi.
"Di mulai aja belum" Jawabku.
"Lho kenapa?" Oom robi sepertinya kecewa dengan kalimat yang aku katakan barusan.
"Aku merasa gak bisa apa-apa Oom. Apalagi bikin Novel" Kataku.
__ADS_1
"Jangan pesimis gitu. Kan belum di coba. Masa mundur sebelum berjuang?" tanya Oom robi lagi. Oom robi tampak serius dengan ucapannya.
"Hehe gak ahh Oom gak berani" jawabku.
"Lho koq gak berani? Kenapa?"
"Takut gagal Oom. Waktuku akan sia-sia nanti. Aku punya tanggung jawab yang besar Oom. Gak hanya pada diriku sendiri. Tapi pada kedua adik-adikku. Aku gak ingin menghancurkan cita-cita mereka hanya karena ke egoisan aku" ku ungkap alasanku pada Oom robi. Ku lihat Oom robi menghela nafas panjang. Berfikir sejenak. Kemudian bertanya padaku.
"Apa kamu nyaman tinggal disini?" tanyanya. "Maksud Oom, apa kamu senang bekerja seperti ini?" dia meralat ucapannya.
"Bahagia dan kecewa kita yang ciptakan Oom. Semua orang punya pilihan untuk hidupnya, dan aku sudah memilih ini sebagai jalan hidupku"
"Lalu jika aku gagal gimana?"
"Coba lagi. Inget kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil" Kata Oom robi. Aku kembali terdiam. Tak ada yang salah dengan kata-kata Oom robi. Tapi aku khawatir jika ku lepaskan pekerjaan ini, dari mana lagi aku mencari uang untuk biaya sekolah kedua adikku.
"Tapi aku masih butuh uang dari sini. Tinggal 5 bulan lagi tahun ajaran baru, aku butuh uang lebih buat biaya masuk SMA adik bungsuku. Tahun depan adikku yang ke dua lulus SMA, dan aku janji akan mendaftarkannya kuliah jurusan kedokteran" Aku tertunduk. Terdiam sesaat. Lalu melanjutkan lagi kata-kataku. "Jalan yang Oom tawarkan memang manis dan menggiurkan, tapi aku belum siap untuk pergi kesana" Semakin dalam aku menundukan kepalaku.
__ADS_1
"Cobalah dulu. Jangan menyerah sebelum berjuang. Waktu ada waktu istirahat kerja disini?" tanyanya seolah ia akan memberiku solusi.
"Saya kerja mulai jam 7 malem sampe jam 4 pagi, kecuali ada tamu yang minta di luar jam itu" jawabku.
"Di sela-sela waktumu, cobalah mulai menulis. Insya Allah, Allah akan memudahkan semua jalannya. Jika kamu mau berusaha. Banyak koq cerita sukses dari seorang penulis. Siapa tau kamu menjadi salah satunya" kata oom robi lagi.
"Oom tapi saya tak tahu apa-apa" kataku lagi. Jujur saja aku masih sangat ragu.
"Yang penting niat, usaha dan keyakinan. Jika kamu tak keberatan Oom bisa bantu kamu. Ya untuk sekedar sharing mungkin" katanya lagi. "Tak ada salahnya di coba kan? Oom yakin kamu pasti bisa" Aku mengangguk meski aku masih ragu. Namun Oom robi benar, aku harus mencobanya. Umurku akan semakin bertambah, bibit baru akan semakin banyak. Lalu apa yang harus aku lakukan nanti? Saat tubuhku mulai tak dilirik lagi? Saat nanti aku mulai tak menarik lagi? Saat nanti aku mulai tak "laku" lagi? Tak ada jaminan kerja disini. Tak ada pesangon untuk hari tua.
Hari ini Oom robi memberiku paket. Laptop baru dengan notes kecil "Selamat berjuang" Aku tak menyangka jika Oom robi memang benar-benar serius dengan ucapannya. Semoga saja masih ada 1 kesempatan untukku.
Semenjak saat itu, kesibukanku mulai bertambah. Tak lagi hanya melayani para tamu yang mampir ke kamarku, tapi juga di sela-sela waktu senggangku ku sempatkan untuk menulis. Hal yang menurutku cukup mudah adalah menceritakan kisah hidupku sendiri. Ku mulai novel ku dari saat Fadly hadir ke dunia ini.
Oom robi sudah tak lagi mengunjungiku, tapi kami sering bertukar email untuk sekedar sharing mengenai tulisan yang ku buat. Aku banyak belajar dari Oom robi. Tentang bagaimana caraku untuk menulis, tentang alur dari novelku. Tentang penggunaan tanda baca. Awalnya aku tak mengerti kenapa Oom robi bersikukuh menyuruhku membuat novel. Namun hari ini aku tau alasannya. Dari Email yang dia kirim padaku pagi ini.
"Queenza, cerita mu bagus. Cuma masih banyak kamu salah ketik, dan salah menggunakan tanda baca. Ada beberapa bagian yang perlu kamu koreksi lagi. Menurut Oom itu kurang pas. Coba kamu baca ulang BAB 3 banyak kesalahan disana. Bereskan lebih cepat, nanti Oom kenalkan kamu pada editor agar karyamu dapat terbit.
__ADS_1
Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa Oom melakukan ini padamu. Jujur saja sejak pertama Oom lihat kamu, Oom merasa ada sesuatu yang menarik dari diri kamu. Kamu itu wanita yang hebat, cerdas, bahkan tutur bahasamu juga baik. Apalagi saat Oom mendengar cerita tentang kisah hidupmu. Oom salut sama kamu, penyampaian saat kamu bercerita juga baik. Apa salahnya jika kamu menjadi seorang penulis. Kamu itu punya bakat. Tapi kamu tak sadar akan hal itu. Teruslah berjuang, Oom akan selalu dukung kamu"
Memang tak akan ada yang bisa menggantikan bapak di dalam hatiku. Tapi kehadiran Oom robi mampu membuat rasa kehilangan sosok ayah menjadi terisi kembali. Perhatian dan kasih sayang yang di tunjukannya padaku, membuatku merasa masih memiliki bapak. Tuhan sedang berbaik hati padaku. Dia hadirkan Oom robi sebagai pengganti bapak. Ya meski hanya aku yang menganggapnya begitu. Entah dengan Oom robi. Aku tak tau pasti. Yang aku tau oom robi selalu membantuku dengan ikhlas. Tanpa mengharapkan apapun dariku.