
Masa istirahatku sudah selesai. Malam ini aku mulai bekerja. Rasa trauma memang masih ada, namun rasa trauma itu kalah telak dengan kebutuhan finansialku yang harus selalu ku penuhi. Tubuhku memang sudah tak lebem lagi, namun rasa ngilu masih ku rasakan saat ada benda masuk kedalam area intimku. Bahkan aku sempat mengeluarkan air mata saat rudal yang di masukan mempunyai ukuran lebih besar dari kebanyakan. Sudah 3 tamu yang ku layani saat ini. beruntung mereka semua memperlakukan aku dengan baik. sangat baik. Ketukan pintu kembali terdengar saat aku baru selesai membilas tubuhku dengan air hangat. Membasuh peluh yang keluar saat pergumulan tadi. Aku masih mengenakan handuk sebatas dada dengan panjang tak lebih dari seperempat pahaku.
"Malem oom.." sapaku ramah. Pria setengah baya itu terperanjak melihat tubuhku yang hanya berbalut handuk. Dia masih mematung di ambang pintu meski aku sudah membukanya dengan lebar. Matanya tertunduk menatap ujung sepatunya. "Masuk oom" kataku lagi.
"Pakai dulu aja baju nya saya tunggu di luar" katanya lagi. Aku mengikuti saja titahnya meski masih bingung. tak lama aku membuka kembali pintu kamarku dan mempersilahkan oom tadi masuk. Langkahnya tampak terasa berat saat melangkah ke dalam kamarku. "Suami takut istri pasti" kataku dalam hati.
"Oom mau minum apa?" tanyaku setelah mempersilahkan Oom itu duduk di sofa panjang yang terpajang di kamarku.
"Teh manis ada?" tanyanya. Aku menawarinya teh manis kemasan. dan dia mengangguk setuju. Aku duduk di sampingnya. minuman yang ku bawa tadi ku letakan di atas meja.
"Kamu sepertinya masih sangat muda" kata oom tadi membuka percakapan.
"21 tahun oom"
"Sudah lama kerja disini?" tanya nya lagi
"kurang lebih 2 tahunan oom" kataku. ku lihat oom itu hanya menganggukan kepalanya. "Oh ya oom Queenza harus panggil Oom apa nih?" tanyaku sedikit menggoda dengan kerlingan mata.
"Nama saya Robi" katanya seraya menjulurkan tangannya. ku balas juluran tangannya dan menyebutkan namaku.
"Saya baru pertama kali kesini, jadi saya belum faham aturan di tempat ini..." oom robi menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Gimana oom?"
"Setiap kali kunjungan seperti ini apa ada batas waktu yang di tentukan?" lanjutnya ragu. sengaja ia menggunakan kata kunjungan agar tak menyakiti hatiku.
"3 jam oom batas maksimalnya. Tapi jika sudah selesai, kebanyakan dari mereka buru-buru pergi. Gimana oom?" tanyaku lagi.
"Sekarang sudah jam 11 malam, berarti saya punya waktu hingga pukul 2 pagi" katanya lagi. "mam pus" gerutuku dalam hati. "Selama 3 jam gitu aku harus ngelayanin dia?" kataku dalam hati. wajahku gelisah.
"Barangkali oom mau mandi dulu?" tawarku pada oom robi.
"Gak terima kasih. Kita santai saja dulu. gak keberatan kan?" tanya oom robi lagi. "Ahh syukurlah" kataku dalam hati mendengar ucapan oom robi lega. ya seridaknya aku tak harus melayani nya selama 3 jam non stop.
"Silahkan bebas. santai saja. berbuatlah sesukamu. jadilah diri sendiri" jawab oom robi. aku hanya tersenyum bingung. Aku dan oom robi sama-sama terdiam. Bergelut dengan fikiran masing-masing. Tak ada niatan dari oom robi untuk memulai percakapan. Kami terlalu asyik dengan imajinasi kami sendiri. Aku sempat bingung pada oom robi. Apa yang dia ingini aku tak tau. hingga aku memutuskan memecah keheningan.
"Oom gak mau mulai aja?" tanyaku. aku menyentuh pahanya pelan. tampak oom robi kaget mendapat sentuhanku. "maaf oom, oom kaget ya. Oom ngelamunnya kekencengan kali, hehe" lanjutku sembari tak melepaskan sentuhan di pahanya. perlahan oom robi menggeserkan tububnya. memegang tanganku dengan lembut kemudian menaruhnya di atas permukaan sofa yang kini terdapat jarak antara tubuhku dan tubuh oom robi agak lebar. Aku kembali di buatnya semakin bingung.
"Hari ini saya begitu lelah" katanya mulai berbicara. "lelah dengan datang kesini. apa gak salah tempat?" kataku dalam hati.
"Lelah karena pekerjaan ya oom?" mau tak mau aku mengeluarkan kalimat itu, meski aku tau jawabannya akan tak penting buat aku. Aku tak dapat memikirkan kata yang pas untuk mengajukan kalimat lain.
"Ya semuanya. Pakerjaan juga, keluarga juga tambah anak-anak yang selalu berebut posisi di kantor" katanya. dia menghela nafas panjang. "Penat sekali rasanya" sambungnya lagi. Aku terdiam sejenak memikirkan kata yang pas untuk ku lontarkan pada oom robi.
__ADS_1
"Namanya juga hidup oom. slalu punya masalah. gak ini ya itu"
"Iya, kamu benar. semuanya sangat rumit"
"Rumit tapi masih pada porsinya masing-masing oom" aku lihat oom robi malirikku. menatap dalam wajahku, seolah dia menunggu aku mengatakan lanjutan kalimatku. "Kalau aku ada di posisi oom mungkin aku tak akan bisa menanggung semua masalah oom. begitupun sebaliknya. jika oom ada di posisiku, belum tentu oom kuat melewatinya" kataku hati-hati. aku takut salah berucap hingga menyinggung perasaannya.
"Hmm menarik menarik" katanya. Aku terdiam mendengar ucapan oom robi. "Kamu anak pertama?" tanyanya lagi.
"Iya oom. Tau dari mana?" tanyaku penasaran.
"Dari caramu menyikapi sesuatu" kata oom robi. Oom robi memutar posisi duduknya. di angkatnya sebelah kakinya ke atas sofa, dan melipat kakinya dengan posisi sila, sementara kaki satunya dia biarka tetap di menjulur ke bawah. "Ceritakan tentang hidupmu" katanya setelah duduknya menghadap ke arahku. akupun memutar tubuhku. Tak enak rasanya jika mengobrol dengan orang lain tanpa berhadapan.
"Tak ada yang spesial oom. Jika aku ceritakan baru 5 menit pasti oom akan bosan" kataku terkekeh.
"Ceritakan saja. mungkin ceritamu bisa menjadi pelajaran hidup yang baru buat saya"
"Aku 3 bersaudara, ayahku sekarang lumpuh karena terkena stroke dan ibu sudah pergi saat aku masih kecil. Aku terdampar disini karena faktor ekonomi garis besarnya begitu sih oom"
"Mungkin kamu bisa ceritakan lebih detail lagi? waktu saya masih tersisa 2 jam lagi" katanya. tak ada yang tergambar di wajahnya selain rasa penasaran. Mungkin kehidupan oom robi ini terlalu serius hingga dia tak sadar kalimat terakhinya barusan membuatku hatiku tergelitik.
"Ibuku pergi saat usiaku 8 tahun, adik permpuanku 3 tahun dan adik laki-laki ku baru 6 bulanan. Aku memang belum mengerti sepenuhnya kenapa ibu pergi. Yang aku tau, ibu pergi setelah bapak tak lagi bekerja di pabrik, setelah bapak menggadaikan rumah yang kami tempati untuk modal usaha. Tapi semua hasil penggadaian rumah pada rentenir di bawa ibu pergi. Kehidupan kami semakin sulit, aku terpaksa membantu bapak mencari rumput untuk ternak tetangga dengan upah singkong yang cukup untuk kami makan seharian. Makan nasi dengan lauk tahu menjadi makanan termewah yang hanya bisa aku nikmati seminggu sekali. Waktu itu bapak hanya seorang kuli panggul di pasar. Upah kerjanya tak lebih besar dsri harga susu. Bahkan adik bungsuku sering di beri rebusan air beras untuk mengganti susu yang terasa sangat mahal waktu itu" mataku mulai berkaca-kaca mengingat betapa perihnya hidup yang aku jalani. Ku lihat oom robi menggelengkan kepalanya. tak ada kata lain yang keluar dari bibirnya selain kata "teruskan. saya masih ingin mendengarnya"
__ADS_1