Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 18


__ADS_3

Aku harus segera sampai rumah, hanya itulah yang ku fikirkan saat ini. Melihat wajah bapak untuk yang terakhir kalinya. Sebelum semuanya terlambat.


"Mang, bisa lebih cepet?" kataku seraya menepuk bahu mamang ojek pangkalan.


"iya nenk. pegangan ya nenk. jalannya licin takut jatuh" kata mamang ojek itu menyetujui permintaanku. Aku mengencangkan peganganku ke jaket yang ia kenakan. Beberapa kali kami hampir terjatuh karena ban motor selip. namun mamang ojek yang memang sudah menguasai medan tempurnya sehingga dia bisa menyelamatkan kami agar tak terjatuh. Hujan yang mungkin tadi malam atau mungkin subuh sudah mulai reda menyisakan genangan air di beberapa bagian jalan yang tidak rata. Jalan menuju kampungku memang berbatu. sudah beberapa tahun lalu pemerintah desa setempat mengajukan perbaikan jalan, namun tak juga mendapat tanggapan.


Mamang ojek menghentikan motornya tepat di depan pekarangan rumahku. Aku turun perlahan dari motornya, rumahku ramai dengan pelayat. aku menjatuhkan tas dalam tanganku dan berlari menuju rumah. Tangisku kembali pecah saat melihat tubuh bapak yang terbungkus kaku di depanku. Silvana dan fadly mendekati aku memeluk tubuhku ya hendak merangkul bapak. Tangisku tak berhenti meski hanya sesaat. Sambil sesekali aku memanggil namanya. Membuat suasana semakin haru biru. Lantunan ayat suci al quran bergaung di telingaku saling bersahutan. Sesekali terdengar pula isak tangis.


"Pak aku ingin lihat bapak untuk yang terakhir kalinya" kataku pada seorang pemuka agama yang aku perkirakan sudah selesai membaca doa untuk bapak. Pak ustadz itu melirikku sebentar, lantas kemudian mengangguk tanda setuju.


"Jangan nangis ya, kasian nanti bapakmu berat disana. Ikhlaskan hati. semua orang hidup pasti akan mati" kata pak ustadz menasihatiku. aku mengangguk pelan. Setelah membaca doa di dekat ubun2 bapak yang sudah terbungkus kain, pak ustadz dengan sangat hati-hati membuka ikatan di kepala bapak. Air mata memaksa untuk keluar dari tempatnya. dengan cepat ku hapus air mata itu agar tak jatuh menetes. Aku melihat wajah bapak disana. Ada kedamaian dalam tidurnya kali ini. Seolah semua beban berat yang selama ini di pikulnya telah hilang. ada kelegaan yang tergambar di wajahnya. pak ustadz menutup kembali wajah bapak dengan kain kafan yang membungkusnya tadi.


"Liat betapa nyenyaknya tidur bapakmu hari ini. Bapakmu orang baik. Allah pasti memberikan tempat terbaik disana. Pasrahkan. Ikhlas" Kata pak ustadz lagi. Aku masih tak dapat menahan air mataku.

__ADS_1


Entahlah rasanya begitu sangat berat kehilangan Bapak. Meski aku pernah kehilangan sekali, dulu. Namun kali ini aku merasakan sakit yang teramat sangat. Luka perih yang ku rasa begitu dalam di dalam dada. Perih yang aku sendiri entah bagaimana menjelaskannya. Rasanya lebih sakit bila di bandingkan dengan saat aku mas gilang pergi saat hari pernikahan kami.


Beberapa orang mulai bersiap hendak mengantar bapak menuju tempat peristirahatan yang terakhir. Aku masih diam bersimpuh di sisi bapak, saat para tetanggaku sedang menyiapkan keranda untuk kendaraan bapak. Air mata terus mengalir, meski beberapa kali aku mencoba menghentikannya, namun sepertinya mereka menolak untuk berhenti.


"Eteh mau ikut ke kuburan" tanya silvana di sela isak tangisnya. aku menatapnya sesaat. Tatapanku kosong. Tak ku jawab pertanyaannya dengan kata-kata, hanya anggukan kepala yang ku perlihatkan padanya untuk mewakili jawabanku.


Tak berapa lama seseorang menempekan pashmina di kepalaku. Aku melirik sebentar. silvana nampak sedang merapikan pashmina agar menempel sempurna menutupi rambutku. Silvana menggandengku keluar rumah, memberikan jalan pada para tetangga yang hendak mengangkat tubuh kaku bapak. Aku hanya menuruti tanpa berkata. Rasanya sebagian dari jiwaku hilang.


"Bapaaaakkk" teriak ku dan silvana berbarengan saat sedikit demi sedikit tanah menutupi jasad bapak. Semua mata melirik ke arahku juga silvana. Tubuh kami ambruk ke tanah. Derai air mata terus membasahi pipi kami. Fadly meloncat dari dalam pusara makan. Di raihnya kami ke dalam pelukan.


"Eteh yang sabar, teh ena yang kuat. Masih ada Ade disini. Ade janji bakal menjaga eteh sama teh ena seperti bapak" kata Fadly. Suaranya terbata. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya, meski tak begitu banyak seperti kami.


"Eteh gak kuat de" kataku di sela tangis. Fadly semakin erat memeluk kami. Fadly meraih tangan aku dan silvana berbarengan. Membuat kami berdiri tegak, meski sejujurnya kaki kami sudah kehilangan kekuatannya. Bahkan hanya sekedar untuk menopang tubuh kami sendiri. Fadly kembali masuk ke dalam liang lahat. Mulai membantu para tetangga yang mencangkul tanah agar dapat menutup tubuh kaku bapak.

__ADS_1


Doa telah selesai. Satu persatu para pengantar bapak pulang. Tinggal kami anak-anak bapak yang masih tetap tinggal menatap kosong ke Nisan yang terbuat dari kayu. Selain foto hanya itu yang dapat kami lihat ketika suatu saat nanti rindu mengusai hati kami.


"Bapak udah gak ada..." kataku lirih. Ku usap nisan bapak penuh sayang. "Eteh gak ada di samping bapak di saat terakhir bapak" lanjutku lagi. "Eteh anak yang gak berguna" tangisku kembali mengeras. Langit hari ini mendung meski tak hujan, seolah dia turut berduka atas kepergian bapak.


"Andai ada ibu di samping kita" kata silvana.


"Ibu udah lama mati" jawabku dengan lantang. Rasa haru berubah amarah. Kedua adikku terdiam tak bersuara. Rasa sakit yang mereka rasakan membuat mereka lupa jika aku akan selalu marah saat membicarakan ibu. Suara kilat petir mulai terdengar.


"Sebentar lagi hujan turun. Pulang ya teh" kata fadly sembari memegang tangan aku dan silvana. Aku menatapnya sesaat. lantas menggeleng memberikan jawaban.


"Eteh mau disini nemenin bapak" kataku.


"Teh, bapak udah tenang di sana. Kita gak sendirian. Kita masih saling memiliki satu sama lain" kata fadly. aku terdiam tak bergeming. "Pulang teh" kata fadly lagi. Silvana hanya diam sambil menatap pusara bapak. Fadly lantas meraih tanganku dan juga tangan silvana. Di gandengnya tangan kami berdua. Kami meninggalkan bapak terbaring disana sendiri. Langkahku gontai. Seluruh tenaga seolah menghilang dari tubuhku. Iya Fadly benar, kami masih saling meliki satu sama lain. Hidup masih terus berjalan. Ini bukanlah akhir, tapi menjadi awal perjuanganku. Perjuangan yang akan lebih keras dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2