
Hari sudah mulai malam saat aku duduk di bawah jendela kamar tidurku dengan masih menggunakan kebaya putih. Kedua tanganku ku simpan di jendela untuk menopang kepalaku. Mataku sudah mulai bengkak meski air mata tak lagi mengalir. Aku masih terus menunggu mas gilang. Berharap dia datang dengan membawa kata maaf dan seribu alasan untuk menjelaskan kenapa dia tak datang di acara pernikahan kami. Sayup-sayup ku dengar suara bisikan kedua adikku yang mengkhawatirkan keadaanku dan mengutuk mas gilang yang sudah dengan sengaja memporak-porandakan hatiku. Namun aku masih tetap pada keyakinanku jika mas gilang akan datang padaku dengan seribu alasan tentunya. Seribu alasan yang tak akan pernah aku pertanyakan kebenarannya. Entahlah aku terlalu percaya akan cinta yang ada di hatinya atau terlalu bodoh untuk percaya pada orang seperti mas gilang. Ku akui memang mas gilang itu punya segalanya. Kekuasaan, jabatan, uang, paras yang tampan yang mungkin ratusan wanita yang jauh lebih terhormat dari diriku akan mudah di dapatkannya hanya dengan menjentikan jarinya wanita itu akan dengan sukarela bersimpuh di hadapannya. Sementara aku? Siapa aku ini? Hanya seorang Penjaja cinta yang dengan berani bermimpi menjadi seorang Ratu sebuah kerajaan.
Dering ponsel membawaku kembali ke dunia nyata. Jantungku berdegup kencang, hatiku mulai berbisik jika itu dari mas gilang. Cepat ku ambil ponsel tak ku letakan tak jauh dari tempat aku duduk. Sebuah pesan WhatsApp masuk ke nomorku. "Kirey" kataku dalam hati saat melihat notif pesan di ponselku. Cepat ku buka pesan gambar darinya. 5 gambar dan 3 pesan terkirim ke no ku. Ku baca kata demi kata yang ada di layar ponselku sambil menunggu gambar terdownload.
"Queenza sayang, hapus semua mimpi lo untuk jadi istri dari Tuan Gilang. Karena semua itu tak akan pernah terwujud"
"Gimana rasanya di tinggalin saat di pelaminan? Sakit aja atau sakit banget?"
"Queenza yang malang, calon suami kamu hot juga ya kalau di atas ranjang. Maaf ya malam pertama lo harus liat calon suami lo bobo sama gue. Dari kemaren calon suami lo gak mau pulang dari kostan gue. katanya gue lebih jago di ranjang" Darahku mendidih. Amarahku memuncak. Ku lihat gambar yang di kirim kirey. Mas gilang sedang tertidur lelap di samping kirey. Tak dapat aku bendung lagi.
"Oh rupanya elo mulai alih profesi? Jadi pelakor sekarang? Udah gak laku ya? Pantes aja lo di tendang keluar dari sana" Ku balas chat kirey dengan kalimat itu. Aku memang sangat marah padanya, tapi aku tak ingin membuat dia merasa menang dengan memperlihatkan kekecewaan ku.
"Heh, cewek sampah. Berani banget lu sama gue? Udah bosen idup ya lo?"
"Udah terima nasib aja, kalau emang udah basi ya basi aja. Harus terima donk. namanya juga hidup" Tubuhku bergetar saat aku mulai mengetik kalimat itu. Aku menjerit sekuat tenaga. Ku lempar ponsel yang tengah ku genggam ke lantai. Membiarkan benda itu remuk dan hancur agar aku tak dapat lagi melihat pesan masuk dari kirey. Aku menangis sejadinya. Tak ku hiraukan lagi suara ketukan pintu dari adik-adikku sambil memanggil namaku. Aku mulai menggila melempar semua benda yang ada di dekatku. menghacurkan seluruh isi kamarku. Aku merobek kebaya yang ku kenakan. Ku tarik bunga melati yang masih menempel di rambutku meski warnanya sudah tak sesegar tadi. Tangisan dan jeritan terus keluar dari mulutku. Meraung membuat suara ketukan pintu semakin terdengar kencang. Mungkin kedua adikku saat ini sedang khawatir akan ke adaanku. Aku meringkuk di sudut ruangan. Aku menangis sejadinya. Menarik dengan paksa semua ornamen yang menghias tubuhku dengan paksa, lantas melemparkannya entah kemana. Mataku mulai berkunang-kunang, rasa pusing mendera setiap inci kepalaku, tubuhku semakin lemah. Dan akhirnya semua menjadi gelap.
***
__ADS_1
Sayup ku dengar suara kedua adikku yang memanggil namaku sambil mengguncangkan tubuhku. Pandanganku masih gelap, aku mencoba untuk bangkit. Mataku masih silau saat menatap kedua adikku.
"teh.. Eteh.. Eteh bangun teh" Suara Fadly. Terdengar ada nada tegang dari suaranya. Aku paksakan melihat silvana sekilas. Wajahnya sembab, mungkin dia habis menangis. Kepalaku masih pusing. Ku kumpulkan energi yang tersisa untuk mencoba bangkit.
"eteh istirahat aja" kata fadly seraya menahanku dalam dekapannya. kembali aku rebahkan tubuhku.
"Nih teh minum" kata silvana seraya menyerahkan segelas air padaku. "eteh jangan gitu lagi. jangan bikin kita khawatir" lanjut silvana sesegukan. ku paksakan sebuah senyuman.
"Bapak mana?" tanyaku. nada suaraku masih bergetar.
"Bapak di kamar, di temenin mang juha" jawab silvana.
"gak sekarang teh. eteh masih lemes. nanti ena anter eteh ke kamar bapak"
"bapak tau tadi eteh..." tak ku lanjutkan kalimatku. air mata kembali mengalir dari sudut mataku.
"Iya tadi bapak tau eteh pingsan"
__ADS_1
"eteh harus ketemu bapak"
"iya teh, nanti"
"Gak. eteh mau sekarang" aku mencoba untuk bangkit. silvana kemudian membantuku. tak bisa dia menolak permintaanku. aku melangkah perlahan ke kamar bapak. silvana dan fadly membantuku di samping kiri dan kanan. memapahku yang berjalan dengan tertatih-tatih.
"Pak..." kataku saat berada di ambang pintu kamar bapak. Suaraku bergetar saat memanggilnya.
"am u i ah eeh ak apah ahh "(Alhamdulillah eteh gak apa-apa) kata bapak. air mata mengalir begitu saja dari matanya. mengalir menganak sungai di pipinya yang sudah mulai keriput termakan usia.
"Eteh gak apa-apa pak. Tadi eteh lupa makan jadi pingsan" kataku berbohong. Bapak mengangguk sambil mencoba tersenyum, meski aku tau sebetulnya bapak tau aku sedang berbohong.
"Bapak gak usah fikirin eteh. Eteh gak apa-apa cuma lagi kambuh aja lambung nya" sekali lagi ku tegaskan kalimatku. kembali bapak mengangguk. aku mencoba mendekati bapak. air matanya seolah enggan untuk berhenti mengalir "bapak kenapa nangis?" tanyaku. Ada rasa perih di dalam dadaku. rasa sakit yang membuat dadaku sesak. aku mencoba menahan air mataku di depan bapak. Aku ingin membuktikan bahwa aku memang baik-baik saja. "Bapak udah minum obat?" kataku. ku alihkan pandanganku ke arah silvana dan fadly secara bergantian, seolah aku menegaskan jika aku menanti jawaban dari mereka.
"sudah teh, tadi ade yang kasih" kata fadly. Aku mengangguk pada fadly. wajahku kembali ku palingkan pada bapak.
"Bapak eteh tidur disini ya sama bapak? eteh pengen di peluk bapak" kataku lagi. ku lihat bapak hanya mengangguk. "eteh ganti baju dulu ya pak" lanjutku. kemudian aku melangkah pergi keluar kamar.
__ADS_1
Di dalam kamar ku tumpahkan air mataku. meluapkan segala perih yang kurasakan sebekum akhirnya aku kembali menuju kamar bapak.