Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 15


__ADS_3

Aku menceritakan semua yang ku alami pada mami farida. Dari A sampai Z. Tak ada sedikitpun yang terlewatkan. Aku menangkap Mimik muka mami farida berubah-ubah setiap kali mendengar ceritaku. Terkadang terlihat sangat marah saat aku menceritakan saat pria muda itu menyiksaku. Kadang wajah datar saat dia memaki ku. Dengan sangat susah payah ku ceritakan semua. Mengorek kembali luka dalam hatiku. Air mataku mulai menetes saat aku bercerita bagaimana pria itu memaksakan senjatanya untuk masuk ke dalam organ vitalku yang belum siap menerima kehadiran tamu itu. Bahkan ku ceritakan pula bagaimana rasa sakitnya.


"Masih terasa sangat sakit mi" kataku mengakhiri ceritaku. Mami menghembuskan nafas panjang. Dia menatapku penuh iba.


"Hati mami sangat sakit mendengar ceritamu. Bahkan terasa lebih sangat sakit saat mami sadar dan tau bahwa mami tak bisa berbuat apapun untuk membelamu" nada suaranya rendah, menandakan seolah mami farida menyesal dengan keterbatasannya. "Ya seperti inilah hidup yang harus kita jalani. Cacian makian hinaan sudah menjadi makanan sehari-hari kita" mami berhenti sejenak. Menghisap dalam nikotin yang tengah berada di kedua jarinya. Menghembuskan kepulan asap di udara sebelum ia melanjutkan lagi kalimatnya. "Mereka hanya tau apa yang kita lakukan, tanpa mereka ingin tau kenapa kita melakukannya. Meski pekerjaan kita memang rendah dan hina, tapi tak selakyaknya juga mereka memperlakukan kita sekasar dan sebrutal itu" aku tertunduk lemah. derai air mata terus membasahi kedua pipiku. "Maaf, mami tak bisa membantu apapun untuk mu. Mami juga tak bisa menjagamu agar semua ini tidak pernah terulang" mami terdiam sejenak. "yang bisa mami lakukan hanya mencegah pria itu masuk ke tempat ini lagi. Tapi semua itu tak bisa menjamin apapun untukmu atau untuk teman-teman seprofesimu. masih banyak pria mbak jingan mbak jingan di luar sana yang seperti dia, atau bahkan lebih ganas dari dia" kata-kata mami penuh dengan penyesalan. Kami sama-sama terdiam. Cukup lama kami terdiam. Bergelut dengan fikiran masing-masing.


"Aku tau koq mi semua resiko itu. Tapi aku juga gak bisa berbuat apapun selain diam dan menerima semua perlakuannya. Aku hanya berharap kejadian yang menimpaku kemarin tak akan pernah terulang lagi. Bukan hanya padaku tapi pada semua orang" kataku akhirnya. Mami terisak. Untuk pertama kalinya mami menitikan air mata. Mami merangkulku dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tumpahkanlah semua air matamu, sayang" kata mami di sela tangisnya. Air mata terus menetes dari sudut mataku tanpa bisa aku tahan. "Puaskan di pelukan mami" lanjut mami lagi. Tangisku semakin menjadi. Pelukan hangat mami membuatku nyaman menangis di pelukannya. "Ingat setelah hari ini mami tak ingin mendengar kamu menangis lagi. Kita harus kuat untuk terus berjalan dalam hidup yang keras ini" mami melepaskan pelukannya. Dipegannya kedua pundakku. Aku hanya mengangguk kecil. "Istirahat lah dulu. 2-3 hari. jangan dulu menerima tamu. Mami dengar kamu pulang paksa dari Rumah Sakit. Sembuhkan dulu lukamu" kata mami lagi.


"Tapi mi, aku sudah sembuh koq mi" kataku mencoba berbohong. Aku harus secepatnya kembali bekerja. kebutuhanku semakin banyak. Biaya kuliah yang sudah 2 kali terpakai olehku harus segera di ganti. 2tahun kurang lagi silvana membutuhkan biaya itu. belum lagi tahun depan aku di hadapkan dengan biaya sekolah Fadly yang akan masuk SMA.


"Jangan membantah. ini perintah" mata mami melotot. Suaranya lantang penuh ketegasan. Aku tak berani melawan. Akhirnya aku menganggukan kepalaku pasrah. dan sedikit terpaksa. Mami pamit saat mendengar lalu lalang orang berjalan di depan kamarku. Rumah bordir ini sudah memasuki jam ramainya. Mami pamit, meninggalkan aku agar aku dapat beristirahat untuk memulihkan tenaga dan kondisiku.


Aku melangkah ke arah lemari. Membuka laci dalam lemari itu yang slalu ku biarkan terkunci. mengambil HP yang selalu ku simpan di dalam sana. Aku memang tak pernah menaruh benda itu selain di dalam laci, Hanya sesekali saja aku mengecek ponselku saat jam-jam rehatku dari tamu dan saat pagi hingga siang sebelum aku menerima tamu. Hanya sekedar untuk berjaga-jaga. benda ini sangat kecil, jadi mudah di sembunyikan tamu nakal yang ingin mengambil kesempatan dari keteledoranku. Ponselku mati. Wajar saja mengingat sudah 8 hari tak di charge. Aku mencharge ponselku. dan membiarkannya di atas meja. mengunci pintu kamarku sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi. Sudah lama aku menginginkan berendam di air panas. Sambil menenggak sebotol beer dan beberapa batang rokok untuk sekedar menemaniku dan meringankan bebanku sejenak. Kebiasaan baruku semenjak beberapa bulan terakhir. Handphone berbunyi berulang kali setelah batre nya kunisi dan ku hidupkan. Aku membiarkan ponsel itu terus meraung hingga berhenti, sembari aku berpakaian dan menyisir rambutku. Belum sempat aku membuka ponselku suara ketukan pintu terdengar nyaring. cepat aku buka pintu kamarku. Mba rina muncul di ambang pintu dengan Menenteng kantong plastik putih di tangannya. Aku membuka lebar pintu kamarku, menyuruhnya masuk tanpa berkata.

__ADS_1


"Bukan rebusan sayur. itu emang sayur beneran" protesku.


"Salah, yang bener sayur yang di siram air panas dari keran kamar mandi lo. besok lo coba deh, rasanya pasti mirip" katanya lagi. Lagi-lagi aku tertawa mendengar jawabannya. "Sorry ya, selama lo di Rumah Sakit gue gak pernah jenguk lo. Gue sibuk kerja, gak pagi, siang, sore, malem. ya lo tau sendiri lah gimana kerjaan gue" nada suaranya merendah menandakan ada gurat penyesalan yang tersimpan.


"Iya aku faham koq, Missis Rina emang orang paling sibuk di tempat ini" aku meledeknya. Mba rina terlihat sedikit kesal namun pada akhirnya dia tertawa.


"Nih makan semua. Abisin gue kerja lagi" katanya seraya pergi berlalu.

__ADS_1


"Makasih mba" kataku setengah teriak. Aku menikmati makanan itu dengan lahap. Saatnya bagiku manjakan lidah dengan makanan enak dengan bumbu yang pas. Tiba-tiba poslnselku berdering tanda telepon masuk. Cepat aku bergerak untuk mengambil benda itu. Tampak di layar nama Silvana.


"Halo teh" kata sebuah suara dari sebrang sana. "Eteh kemana aja? Ena telepon hp tth gak pernah aktif" lanjutnya lagi sebelum sempat aku menjawab sapanya.


__ADS_2