Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 5


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 5 pagi, aku bangkit dari tempat tidurku. ku lirik adikku masih bergelung di balik selimut. Cuaca belakangan ini memang sangat dingin. Perlahan aku berjalan ke arah dapur. Menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluargaku. Aku mulai menyalakan tungku perapian yang masih menggunakan kayu bakar. Di rumah kami memang sudah memiliki kompor gas, namun untuk memasak nasi dan air keluargaku masih menggunakan kayu bakar.


"Eteh udah bangun?" tanya adikku dari belakang. Aku melihatnya mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Iya eteh lagi mau masak nasi. Kamu hari ini liburkan?" tanyaku.


"iya teh. Tapi sore ini ena mau ke tempat temen teh. Mau ngerjain tugas"


"Oh ya? Tugas apa?"


"Tugas bahasa indonesia teh. Bikin karya tulis" Silvana diam sejenak. "Sebentar koq teh, tinggal ngetik aja, semua bahan nya udah siap" lanjutnya lagi.


"Iya udah, tapi sebelum itu anter eteh dulu ke kota ya"


"Iya teh" jawabnya seraya pergi dari dapur. Setiap hari kami memang membagi tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Aku menyiapkan sarapan di dapur dan mencuci pakaian, silvana membersihkan rumah sementara Fadly membersihkan pekarangan rumah dan menimba air sumur. Aku sudah 3 hari menginap di rumah. Mami memberiku cuti libur selama 3 hari. Dan aku tak menyia-nyiakan libur singkatku dengan tak mengunjungi keluargaku. Hari pertama aku menginap kedua adikku memang melarangku untuk bekerja, namun aku yang bersikeras ingin membantu mereka. Hari ini aku ingin membelikan Laptop dan smartphone untuk adikku. mengingat sekolah di jaman sekarang sangat membutuhkan benda itu.

__ADS_1


Setelah selesai memasak aku masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan pekerjaanku mencuci baju. Aku melihat keranjang cucian di kamar mandi telah kosong, bergegas aku ke ke dalam rumah.


"Ena, tolong ambilkan baju-baju kotornya" kataku.


"Memang di kamar mandi gak ada teh? Pakaian kotor ena sudah ena masukan ke keranjang" jawab silvana menimpali pertanyaanku.


"Udah ade cuci teh semalam" jawab fadly yang baru masuk ke dalam rumah. "Eteh kan sekarang pulang, jadi ade yang udah cuciin semua bajunya biar eteh gak kecapean" aku tersenyum kepada adik bungsuku. "Udah beres teh masaknya?" lanjutnya lagi.


"Udah"


Setelah menyelesaikan sarapan, aku pamit pada bapak untuk pergi bersama silvana. Bapak yang memang sudah lama terkena struk hanya mengangguk sambil tersenyum. Hari ini Fadly ku perintahkan untuk menjaga bapak rumah selama kami pergi. Aku memang bukan perempuan type yang neko-neko saat belanja. Saat semua kebutuhan sudah di beli, aku langsung pulang. Sepanjang perjalanan pulang silvana tak berhenti mengucapkan terimakasih padaku. Dan dia juga berjanji akan belajar lebih giat lagi. Cita-citanya memang sangat tinggi bagi kami yang hanya orang kampung dengan keterbatasan ekonomi, namun aku sangat ingin mewujudkan mimpinya. Biarkan aku yang mengorbankan diriku, agar mimpi ke dua adikku dapat tercapai.


***


Semua pakaianku sudah ku kemas ke dalam tas. Siang ini aku harus pulang. Kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada.

__ADS_1


"Eteh, baik-baik ya disana. Jangan telat makan, jangan mikirin kita terus" kata silvana yang menghampiriku di kamar. "ena sebenernya gak mau eteh pergi, tapi.. hiks..." air mata mengalir dari sudut matanya.


"Sini. Duduk disini" kataku pada adikku.


"Eteh bakalan kangen sama kalian. Udah gak boleh cengeng" kataku. air mata menyeruak hendak keluar. cepat ku kendalikan diriku. aku tak ingin air mataku jatuh di depan adikku.


"Teh, ojek nya udah nunggu di depan" kata fadly. aku kemudian memeluk fadly dan silvana bergantian setelah itu aku bergerak ke kamar bapak.


"Apak yang sehat ya. kalau apak sakit bilang. Eteh udah titipin uang ke ena buat berobat bapak senin depan. Jangan mikirin yaang aneh aneh ya pak"


"hehh.. aaa oainnn ang aikkk uaat eeh aaa..." (Apak doain yang baik buat eteh) kata bapak. tak dapat tertahan lagi. dua bulir air mata jatuh dari sudut mataku. Penyakit struk yang di derita Bapak sudah mengganggu saraf di otaknya sehingga beliau kesulitan untuk bicara.


"Eteh pamit ya pak" kataku. Bapak hanya mengangguk sambil berusaha menyunggingkan senyuman di tengah keterbatasannya. Aku lantas pergi tanpa berpaling pada bapak lagi. Cairan bening semakin deras mengucur dari kelopak mataku. Ada rasa bersalah yang menjalar dari dalam hatiku. Bagaimana tidak aku memberi makan keluargaku dengan jalan yang salah. Namun aku tak punya pilihan lain. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku tak dapat keluar dari sini, toh jika aku berhenti sekarang apa yang akan aku lakukan. Aku telah rusak, Bahkan untuk mendambakan seorang suami pun rasanya aku sudah tak sanggup lagi.


"Teh, ena janji. Ena bakal bahagiain eteh setelah ena punya kerja. Makasih ya teh" Aku hanya dapat mengangguk sebelum akhirnya aku pergi. Di saat seperti inilah aku mulai kembali mengutuk ibu yang telah melahirkan kami namun beliau juga meninggalkan kami. Aku jadi teringat masa-masa sulit itu. Saat bapak tak punya perkerjaan dan kami harus cukup puas dengan memakan singkong rebus setiap hari. Waktu itu usiaku belum genap 8 tahun, silvana 3 tahun dan Fadly belum genap 1 tahun. Kami juga harus mengalah pada fadly yang masih membutuhkan susu. Aku dan silvana membantu tetanggaku mencari rumput untuk makan ternaknya dengan imbalan singkong di kebunnya. sementara untuk lauk lainnya aku dan silvana mencari kangkung, di sawah. Bapak yang waktu itu masih sehat menjadi kuli panggul di pasar dengan penghasilan yang untuk membeli susu fadly pun tak cukup. Sementara bapak bekerja, aku mencari singkong Fadly di titipkan di tetangga untuk beberapa saat. Jika bapak dapat uang lebih, baru kami bisa makan nasi. Dulu 12 tahun yang lalu nasi dengan lauk tahu goreng adalah makanan termewah yang kami makan. Mungkin dalam 1 minggu hanya 1 kali kami dapat makan nasi. Hari selebihnya kami harus sudah merasa puas dengan makan singkong rebus saja. Tahun berganti, bapak sudah mulai bekerja lagi. Dan kehidupan kami sudah mulai ada sedikit peningkatan. Tak harus makan singkong tiap hari, tapi masih harus berhemat untuk biaya sekolah kami. Namun aku dan silvana sudah mulai bisa membantu bapak mencari uang. Aku berkeliling kampung sehabis pulang sekolah untuk mencari tetanggaku yang membutuhkah jasa cuci gosok ku. sementara silvana dan Fadly berkeliling kampung menjual makanan yang di ambilnya dari tetangga untuk di jual kembali. Ya seperti itulah kehidupan kami dulu. Dan semua ini, semua yang kami lalui bahkan sekarang saat aku terjerumus dunia hitam gara-gara wanita itu. Wanita yang bahkan aku sendiri tak sudi menyebutnya ibu.

__ADS_1


__ADS_2