
Aku sedang mengajari silvana mengenal hewan di dalam kamar, saat tiba-tiba ibu mengaduh kesakitan di kamar mandi. Cepat ku hampiri ibuku. Ibu meringis menahan sakit. Aku hanya dapat menggandeng tangan ibu untuk membantunya keluar dari kamar mandi. Tak tahu aku harus berbuat apa. Ibu memegang perutnya dan mulai melolong kembali. Aku panik, tapi akuntak bisa membaca suasana.
"Panggil bapak cepet..." teriak ibu sembari menahan sakit yang teramat sangat. Masih bingung, ku gerakan kaki keluar rumah. Mencari bapak di pasar. Waktu masih menunjukan pukul 9 pagi, seharusnya bapak masih ada di pasar. Jarak dari rumahku ke pasar cukup jauh. Membuat keringat mulai mengucur dari pori-pori kulitku. Aku menelusuri setiap lorong dalam pasar tradisional itu. Mencari sosok bapak di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang. Hingga ke pasar bagian dalam, namu bapak masih tak ku temukan. Hingga aku berjalan mengelilingi pasar. Pandanganku terhenti di tempat sambah besar di bagian belakang pasar. Aku melihat sosok bapak sedang mengeruk sampah, mengorek-ngorek tumpukan sampah. Beruntung sekarang musim kemarau, membuat pasar tak becek.
"Bapak..." Kataki berteriak sambil berlari mendekati bapak. Bapak membalikan tubuhnya ke arahku. Dan lekas turun dari gunung sampah yang menebarkan aroma busuk di hidungku. Tangan kanannya menggendong karung yang dia sampirkan di bahunya. Sementara di tangan kirinya ada pengait dari besi.
"Kenapa kamu kesini?" tanya bapak. Ada rasa marah, malu dan kaget di wajahnya.
"Ibu sakit perut" kataku. Membuat bapak semakin kaget. Dia mengelap tangan nya yang kotor ke baju yang tak kalah kotor yang ia kenakan saat ini. Setelah dirasa tangannya bersih dia menarik tanganku ke arah yang aku tau bukan jalan pulang menuju ke rumah. Bapak membawaku ke tempat sampah lebih besar lagi. Namun bedanya tempat ini aromanya tak sebau tadi. Dan tempatnya pun tak sekotor tempat sampah tadi. Meski tumpukan sampah ku lihat disana sini. Setidaknya tempat ini sedikit rapi. Sampah plastik dan kardus di taro terpisah. Ada meja kecil dan kursi di yang di duduki seorang pria. Di samping pria itu ada timbangan. Banyak orang mengantri di tempat itu dengan baju dan tubuh yang sama kotornya dengan bapak.
"Eteh tunggu disini. Ikut ngantri sama yang lain. Nanti kalau sudah sampai di bapak yang duduk di kursi itu eteh kasihin karung ini. Nanti orang itu bakal ngasih eteh uang" kata bapak.
"Bapak mau kemana?" tanyaku khawatir, kalau-kalau aku di tinggal disana.
"Bapak mau mandi dulu disana" tunjuk bapak ke suatu tempat. Seperti kamar mandi namun hanya setengah tertutup. Aku mengangguk. Aku mengikuti perintah bapak. Terus mengantri menunggu giliran tiba. Antrian nya cukup panjang.
__ADS_1
Saat bapak kembali, masih ada 2 orang lagi di depanku. Bapak terlihat lebih bersih sekarang. Meski mengenakan baju yang sudah kumal.
Tiba giliran kami, bapak menyerahkan karung berisi sampah pada pria itu.
"Cuma segini?" tanya pria itu.
"Iya bos, istri saya mau melahirkan sepertinya. Jadi saya pulang lebih cepat" jawab bapak. Pria itu melirik sebentar ke bapak, kemudian memberikan sejumlah uang.
"Kebanyakan boss uangnya" kata bapak seraya mengembalikan 5 lembar uang 10ribuan pada pria itu.
"Jangan bicara apapun mengenai hari ini. Nanti bapak akan jelaskan semuanya" kata bapak saat kami berjalan beriringan menuju rumah.
Sampai di rumah bapak segera menghampiri ibu di dalam kamar yang masih terus meraung seraya memegang perutnya. Lantas bapak keluar lagi tanpa berbicara padaku. Aku dan silvana menunggui ibu di kamar. Silvana tak mau lepas dari pangkuanku. Ada ketakutan dalam wajahnya. Hingga tak berapa lama bapak datang dengan mak oneh. Aku di usir keluar oleh mak oneh. Kini tinganhanya bapak, mak oneh dan ibu di dalam kamar yang pintunya tertutup rapat. Tak ada celah sedikitpun untukku mengintip.
Dulu aku pernah melihat adegan ini di dalam TV saat TV di rumahku belum di jual. Namun tak dapat kh bayangkan jika seperti ini. Tak sama seperti di TV. Hanya beberapa kali berteriak, kemudian suara tangis bayi terdengar. Realita sama sekaki berbeda.
__ADS_1
Aku dan Silvana duduk di depan kamar ibu yang tertutup rapat. Aku tak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Yang ku dengar hanya suara lolongan ibu yang kesakitan, suara Bapak dan mak Oneh sang dukun beranak yang menyemangati ibu. Tubuh aku dan silvana sama-sama bergetar. Aku meringkuk tepat di depan pintu, sementara silvana berada dalam pangkuanku.
"Ada antu agi teh?" tanya silvana ketakutan. Akupun sama takutnya, namun ketakutan alasan ketakutan kami berbeda.
"Ibu mau melahirkan" jawabku.
"apa dak nerti ena" kata silvana lagi.
"Dede bayi mau keluar dari perut ibu" silvana terdiam sejenak. Bergidik, lantang menengadahkan wajahnya.
"Ena dak maen dede bai. Celem, kasih antu dedenya" kata silvana lagi. Salahku memang, sehingga silvana berkata begitu. Aku yang sering menakut-nakutinya saat ibu dan bapak berantem aku yang bilang itu suara hantu. Wajar saja bila sekarangpun silvana menganggap begitu. Aku hanya terdiam. Bingung tak tahu harus berkata apa. Aku mengusap wajah polos silvana. Lebih merekatkan tubuhnya ke dalam pelukanku. Hingga terdengar suara pintu terbuka. Aku dan silvana tersentak kaget. Silvana memegang tanganku erat. Bapak berdiri di ambang pintu.
"Ambilkan baskom berisi air hangat, dan handuk kecil yang bersih. Ambilkan juga air minum untuk ibumu" kata bapak. Aku mengangguk. Aku melihat gurat khawatir dalam wajahnya. Aku setengah berlari menuju dapur. Mengambilkan benda yang tadi di perintahkan bapak padaku. Silvana menungguku di dekat dapur. Dia menangis sesegukan. Rasa takut merasuki hatinya. Aku kembali ke depan pintu kamar bapak. Mengetuk pintu agar seseorang dapat membuka pintu yang terkunci itu. Tak lama bapak keluar membawa apa yang ada di tanganku. Sekilah aku melihat ibu yang sedang terbaring di atas kasur. Peluh membasahi dahinya. Erangan dari mulut ibu menambah rasa pilu yang ku rasakan di dalam hati. Tanpa menunggu aku pergi dari hadapannya, bapak menutup pintu itu lagi. Aku meraih kembali tubuh silvana. Membawanya masuk ke dalam kamar kami.
"Ena berdoa buat dede bayi. buat ibu juga" kataku berusaha setenang mungkin, seolah tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Gak ahh gak dede bai gak ibu. apak aja dah ah" katanya. Aku masih terdiam di tempat aku duduk. Sudah hampir 5 jam ibu, bapak dan mak oneh ada di dalam kamar. Tak ada suara bayi dari sana. Hanya erangan kesakitan dan lolongan keras yang terdengar. Dalam hati aku berdoa.