
Hari ini langit tampak lebih mendung dari biasanya. Matahari seolah enggan untuk menampakan diri. Gemericik air hujan menambah rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsumku. Mataku sembab, sudah sejak tadi pagi aku menangis sesegukan. Telepon dari silvana membuat hatiku tercabik dengan sempurna. Sakit yang teramat sangat ku rasakan jauh di lubuk hatiku. Perjalanan ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Sesekali aku hapus air mataku saat pandanganku mulai kabur. "Pada siapa lagi aku akan bersandar, Tuhan? Kenapa kau ambil bapak secepat ini?" teriak batinku. Air mataku terus saja berurai. Aku tak pedulikan sepasang bola mata yang sesekali memperhatikanku di dalam bus. Yang aku ingin hanya satu, segera sampai di rumah. Melihat bapak untuk terakhir kalinya sebelum bapak di antar ke peristirahatan terakhirnya. Aku merasa bus melaju terlalu lambat kali ini. Aku mulai gusar, beberapa kali aku menghubungi silvana menanyakan apa bapak sudah di makamkan, silvana menjawab menungguku. Air mata terus saja mengalir. Aku melirik jam di pergelangan tanganku waktu menunjukan pukul 9pagi. Masih butuh waktu 2-3 jam untuk sampai di terminal kataku membatin. belum lagi setelah dari terminal aku harus menempuh 1 jam perjalanan untuk tiba di rumahku. Fikiranku sedang melambung tinggi. Menatap ke luar jendela mobil bus yang ku tumpangi.
"Maaf mba, bangku ini masih kosong?" tanya seorang pria yang usianya mungkin hanya berbeda beberapa tahun lebih tua dariku. Aku melirik ke arah sumber suara itu. Menatap wajahnya datar tanpa ekspresi. Sebegitu dalamnya lamunanku hingga aku tak sadar saat ada beberapa penumpang yang naik setelah bus itu melaju. Tadi saat pertama aku naik ke dalam bus, nampak hanya setengah dari kursi itu terisi. kini semuanya terisi penuh kecuali kursi sebelah aku duduk. "kebetulan seluruh kursi penumpang penuh terisi hanya kursi ini yang kosong" lanjutnya lagi.
"Kosong" kataku akhirnya. suaraku parau karena sedari tadi aku menangis. Ku palingkan kembali wajahku. menatap ke luar jendela. Fikiranku masih bergelut dengan memory ku tentang bapak, pria yang slalu setia membesarkan kami semua. pria yang tak pernah mengeluh lelah bekerja meski 20 jam waktunya dalam sehari dia habiskan untuk bekerja meski upah yang dia dapat hanya cukup untuk kami makan dan biaya sekolah saja. "Ahhh bapak, kenapa bapak memberiku beban yang sangat berat. Kenapa bapak memberiku tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab bapak. Pak kami masih butuh bapak, aku masih ingin berbakti sama bapak, kenapa tak wanita itu saja yang mati?" aku berteriak dalam hati menangis sejadinya. Tak ku pedulikan apapun saat ini. Aku hanya ingin menangis. Itu saja.
"Membiarkan dirimu jadi tontonan saat menangis, hanya akan menegaskan jika kamu manusia malang yang bodoh dan mudah menyerah" kata seorang pria dari samping kiriku. Aku melirik padanya, memperhatikan wajahnya sesaat hingga aku yakin pria yang sekarang duduk di sampingku bukan pria yang tadi minta ijin padaku.
"Aku tak peduli" kataku. Kata-katanya menohok jantungku.
__ADS_1
"Ternyata saya salah menilaimu, nona. Bukan hanya bodoh, malang dan mudah menyerah. Tapi juga anda egois"
"Kamu gak kenal aku jadi stop menilai tentang hidupku"
"Saya tak perlu mengenalmu lebih dalam, nona. Untuk bisa menilaimu. Hanya duduk di sampingmu beberapa saat saja, aku sudah tau bagaimana anda"
"Sok tau" aku melongos. mau tidak mau aku layani juga pertengkaranku dengan pria aneh ini.
"Tak punya perasaan" ucapku sedikit kencang. Air mata yang mengalir dari sudut mataku semakin deras.
__ADS_1
"Kalau begitu menangislah semaumu. Teriaklah sesukamu. Buatlah dirimu malu dengan kelakuanmu" katanya menjawab. Dia masih menatap lurus kedepan. Tak sedikitpun berpaling padaku. Aku terdiam. Tak berniat menjawab perkataannya bahkan hanya mengucap satu patah katapun tidak. "Kenapa sekarang anda diam, nona? apa itu artinya anda membenarkan ucapanku?" lanjutnya lagi. Aku masih terdiam. Ku tatap dalam-dalam wajah pria itu dengan penuh kebencian. Ingin rasanya aku memukul kepalanya dan berteriak tepat di telinganya alasan aku menangis kali ini. Rasanya aku sudah muak berada di samping pria ini. Aku berharap bus melaju lebih kencang lagi, agar aku tak semakin lama ada di dekat pria ini. Aku memejamkan mataku. Kepalaku sedikit pusing, mungkin akibat aku menangis tanpa henti semenjak beberapa jam ini. mataku terasa sedikit perih saat di pejamkan. Aku jadi teringat saat pertama aku mendapat kabar jika bapak masuk rumah sakit sekitar pukul 3 dini hari. Sesaat setelah itu aku segera membersihkan diri dan berkemas untuk pulang. Segera setelah aku mendapat izin cuti aku pergi dari tempatku mengumpulkan pundi rupiah. Rupanya keberuntungan sedang tak berpihak padaku. Tak ada satupun taxi yang melintasi jalan itu. Hujan turun begitu lebat pagi itu. Hingga membuatku berlari untuk berteduh di halte bus terdekat. Beberpa kali aku mencoba memesan taxi online, namun tak ada satupun yang dapat mengantarku ke terminal. Fikiranku tak menentu, resah dan gelisah mengisi setiap relung di hatiku. Satu jam sudah aku sia-siakan waktuku hanya untuk berdiri menunggu satu hal yang tak pasti.
"Teh, keadaan bapak semakin memburuk" begitu pesan yang fadly kirim padaku. Air mataku menetes begitu deras. Jalanan masih sepi saat itu, aku mencoba lagi dan lagi menghubungi pangkalan taxi hingga panggilan itu terjawab. Taxi yang ku pesan tiba tak lama setelah aku memesannya. bergegas aku menaiki taxi, menyebutkan terminal sebagai tujuanku. Dan mulai mencari bus menuju kota kelahiranku. berlari kecil di bawah rintik hujan yang mulai mereda. "Si al" gumanku dalam hati saat aku melihat jadwal keberangkatan bus yang masih 2 jam lagi. Hari ini begitu sulit bagiku. Di tambah lagi kabar duka kepergian bapak. Semakin sakit hatiku saat menerima kenyataan jika aku tak berada di samping bapak di saat terakhirnya.
...****************...
Seseorang mengguncang tubuhku. perlahan aku membuka mataku.
"Sudah sampai" katanya saat aku membuka mata meski belum terbuka secara sempurna. Dengan secepat kilat aku berdiri, dan bersiap untuk turun dari bus. Mataku menangkap kertas tiket bus yang melayang saat aku berdiri. kertas itu mendarat di lantai bus dengan posisi terbalik. Ada sesuatu yang tertulis di balik kertas itu. aku memungut kertas itu. membaca setiap kata dalam tulisannya.
__ADS_1
"Maaf nona, saya berkata kasar padamu. Saya lihat kau tak berhenti menangis sejak tadi. Saya melihat ada kelelahan yang terpancar di matamu. Saya hanya ingin membuatmu jengkel. Karena dengan begitu kau akan memejamkan mata karena marah padaku dan mulai tertidur" aku meremas kertas itu saat sudah membaca semua isinya. Aku sudah melupakan kejadian yang membuatku marah tadi, namun tulisan dari pria itu membuatku mengingatnya kembali.