
Aku melangkah riang menuju kontrakanku. Menyimpan tas dan laptop di dalam kamarku. Lantas aku pergi ke kamar Rangga yang berada tepat di sampingku. Aku mengetuk pintunya. Sudah lama aku menunggu, namun tak juga ada jawaban dari Rangga. Aku kembali ke kamarku. Mengambil Ponsel yang ada di dalam tasku. Lantas menekan lembut layar sentuh di ponselku untuk mencari no Rangga.
"Assalamualaikum" Sapa rangga di sebrang sana.
"Wassalamu'alaikum" jawabku. "Kamu belum pulang ya?" tanyaku pada rangga.
"Iya, boss menyuruhku untuk lembur. Ada apa cinta?" tanyanya meledekku.
"Aku tadinya mau ngajak kamu makan malem, tapi kamu nya gak ada" jawabku. Uang kontrak novelku sudah masuk ke dalam rekeningku. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan itu dengan Rangga. Meski hanya secuil.
"Daper lotre dimana nona?" tanyanya. Lagi-lagi dengan gaya khasnya meledek aku.
"Semalem dapet to gel aku" hahahah jawabku lagi. "Bisa gak? Kamu pulang jam berapa emang?" tanyaku.
"Nampaknya akan larut malam nona" jawabnya.
"Hiyaaa..." kataku. "Eh, besok aja deh kita lunch ya?" lanjutku lagi.
"Nona, apa kamu sedang mengajak duda tampan ini untuk kencan?" tanyanya meledek.
__ADS_1
"Sembarangan" jawabku. Dia tertawa di seberang sana di ikuti olehku. "Bisa gak besok lunch bareng?" tanyaku lagi.
"Iya iya bisa" katanya. Suaranya seperti bergema terdengar di telingaku. Seperti terdengar suara lain, selain dari speaker ponselku. Aku bergerak menuju pintu kamar kontrakanku. Memastikan jika dugaanku memang salah. Aku mengintip lewat balik jendela. Rangga tepat ada di depan pintu rumahku. Ku buka pintu rumahku. Mataku melotot seraya bertolak pinggang dengan sebelah tanganku. Karena sebelah tanganku yang lain ku gunakan untuk memegang ponselku untuk tetap di telinga.
"Rangga..." kataku seraya mencubit perutnya. Rangga terkekeh menerima perlakuanku. "Katanya lembur?" dogaku padanya.
"Mana mungkin aku rela menolak ajakan kencanmu, nona. hahah" katanya.
"Gombal. Udah ahh sana ganti dulu bajumu, tuan" kataku. Dia terhuyung pergi setelah mendengar kata-kataku. "Oh ya perlu anda ingat, Tuan. Belajar lagi berbohong. Anda rupanya belum begitu lihai untuk urusan yang satu itu. Karena saya sangat yakin saat tadi saya menelpon anda, anda sedang perjalan menuju kesini" lanjutku.
"Hahah" katanya seraya mengibaskan tangannya ke udara. Ku balas dengan juluran lidahku seraya menyeringai. Dalam hati aku tertawa melihatnya.
Ahh entahlah, aku tak mengerti dengan perasaan yang aku alami saat ini. Apa aku mulai membuka hati untuk seorang pria? Cepat ku tepis fikiran itu. Aku tak ingin memikirkan apapun tentang cinta. Tidak akan.
Aku mulai bersiap-siap hendak pergi dinner bersama Rangga. Niatku bukan ingin lebih dekat atau apapun itu. Aku hanya ingin berbagi sedikit rezeky halalku padanya. Rezeky yang ku dapat dari tetesan keringat. Bukan hasil dari rebahan di atas kasur, meski sama-sama mengeluarkan peluh.
Rangga memang baik. Dia sopan, perhatian, penuh kasih sayang dan masih banyak lagi kemuliaan hatinya. Membuat semua wanita berharap dapat menjadi bagian dari hidupnya. Sama sepertiku, yang berharap. Tapi aku cukup tau diri. Kesenjangan di antara kita terbentang luas. Ketukan pintu membuat lamunanku tentang Rangga memudar. Aku bergegas menuju pintu. Membuka pintu, dan menguncinya dari luar.
Jam masih menunjukan pukul 7 malam, sebelum makan Rangga mengajakku untuk pergi ke supermarket yang tak tak begitu jauh dari kontrakanku. Mengendarai sepeda motor yang di tunggangi Rangga. Sesampai di supermarket Rangga mulai memilih dan memasukan barang yang mungkin di butuhkan olehnya.
__ADS_1
Awalnya aku hanya mengekornya dari belakang, namun lama kelamaan terlintas dalam benakku untuk juga membagi kebahagiaanku dengan penghuni kontrakan itu. Meski tak seberapa, aku mulai memasukan beberapa dus mie instan minyak kelapa kemasan, gula pasir, minuman kemasan juga biskuit. Yang semuanya ku beli dengan jumlah banyak.
Aku terpisah dengan Rangga di supermarket itu. Aku berada di lorong makanan, sementara Rangga berada di lorong peralatan mandi. Setelah semua belanjaanku berpindah pada troley, aku menuju kasir. Sempat ku lihat Rangga yang sedang duduk di tempat tunggu tak jauh dari kasir.
"Kamu mau hajatan? banyak banget belanjaannya?" tanya Rangga sambil memperhatikan belanjaanku yang se abrek. Aku hanya tersenyum tak menjawab kalimatnya. Beruntung, supermarket itu melayani jasa antar sekaligus. Jadi aku tak perlu repot-repot untuk membawa serta belanjaanku. Begitupun belanjaan Rangga. Ku titip sekalian menjadi satu dengan belanjaanku.
Awalnya aku menyuruh petugas jasa antar supermarket itu untuk mengantarnya besok. Karena aku tak tahu aku akan pulang jam berapa malam ini. Namun tanpa di minta, rangga menelepon temannya yang juga penghuni kontrakan yang sama dengan aku dan Rangga. Memberitahu temannya untuk menerima barang belanjaan kami.
Setelah memberikan alamat pada petugas pengiriman, aku dan Rangga pergi dan mulai mencari cafe yang tidak terlalu jauh dari supermarket ini. Sebuah cafe di perempatan jalan, mengusik perhatianku. Design interiornya yang bergaya classik membuat mataku enggan berpaling dari cafe itu. Akhirnya ku putuskan untuk makan di cafe itu.
"Nampaknya ada yang lagi ulang tahun nih" seru Rangga sesaat setelah aku mengaknya makan di cafe itu. Aku hanya tersenyum sambil mengingat hari ulang tahunku. Ulang tahun yang setiap tahunnya tak pernah aku rayakan, atau bahkan aku nantikan kehadirannya.
"Ulang tahun? Hahah bahkan aku sendiri udah lupa kapan tanggal lahirku. Aku lagi seneng hari ini. Ternyata perjuangan dan kerja kerasku selama beberapa bulan terakhir membuahkan hasil" kataku. "Novelku sebentar lagi terbit" lanjutku lagi. Rangga tersenyum bangga kepadaku.
"Oh ternyata nona manis ini seorang novelis" jawabnya lagi. Mukaku memerah mendengar kalimatnya. Malu.
"Hehe, baru belajar" jawabku jujur.
"Penerbit nya mana?" tanya Rangga. Aku menyebutkan nama perusahaan penerbit yang lumayan terkenal. "Oh ya, berarti karyamu bagus. Soalnya setahuku, sangat susah nembus penerbit itu. Dan kamu beruntung" jawabnya. Aku hanya tersipu malu.
__ADS_1
Saat makanan mulai terhidang di atas meja, kami mulai menyantap makan malam kami. Menikmati setiap bumbu dan cita rasa yang di padukan dengan berbagai bahan lainnya. Menimbulkan aroma yang membuat perut semakin keroncongan.
Rangga sempat bertanya tentang judul dari novelku, tapi aku tak menjawab pertanyaannya. Aku lebih memilih bertanya hal lain padanya untuk menghindari pertanyaan darinya. Ya, aku memang tak ingin Rangga tau atau membaca novelku itu. Karena disitu tertulis jelas autobiografi. Jadi sudah di pastikan jika aku menulis sesuai dengan perjalanan hidupku. Aku memang tak ingin Rangga tau tentang masa laluku yang kelam. Malu rasanya jika orang-orang di kehidupan baruku sampai tahu sama kelamku.