Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 2


__ADS_3

Sudah 2 hari semenjak aku menandatangani kontrak dengan Pak Kuncoro. Selama 2 hari belakangan ini, mba rina mengajakku ke butiq memilihkan baju baru untukku. Memang baju-baju yang di pilihkan mba rina sangat bagus dan indah, sebelumnya aku tak pernah memiliki baju semahal ini. Namun semua bajunya terbuka di bagian dada, dan begitu pendek. Sangat pendek, hingga mungkin saat aku membungkuk, pakaian dalamku akan terlihat jelas. Aku tak berani menolak pilihan mba rina. Mungkin nanti baju-baju itu hanya akan memenuhi lemariku saja, tanpa akan ku kenakan. Mungkin hanya sesekali saat aku berada di kamarku, itupun hanya untuk menghargai pemberian mba rina saja.Tak lebih.


Beberapa fasilitas pelengkap kamarku pun tak luput dari pandangan mba rina saat di mall. Pengharum ruangan, hiasan dinding, vas bunga juga beberapa barang lain untuk mempercantik kamarku. Membuatku nyaman berada di dalamnya.


"Mba, buat apa semua ini. Gimana aku harus membalas perbuatan mba rina" tanyaku polos. Mba rina hanya tersenyum tak menjawab pertanyaanku. Aku kembali terdiam. Matahari telah lama tenggelam, saat aku dan mba rina keluar dari dalam mall. Wajah mba rina nampak sangat lelah saat ini. "Mba, kita pulang sekarang ya. Mba rina sepertinya sudah lelah"


"Hari ini lo harus ke salon dulu, buat beberapa jenis perawatan. Besok lo bisa istirahat seharian, besok malem lo kan mulai kerja" aku hanya mengangguk kepada mba rina. Sama sekali tak berani untuk membantah mba rina.


Sekitar 3 jam aku menghabiskan waktu di salon, sopir yang tadi mengantar kami ke mall sudah siap di balik kemudi. Siap mengantarkan kami pulang.


Belum sempat aku merebahkan badan, seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. "Ya sebentar" jawabku. Bergegas aku membuka pintu kamar. Wanita setengah baya yang pernah ku temui di ruang pak kuncoro tampak terlihat di ambang pintu. Mami farida, begitulah mereka memanggilnya. Wajah cantiknya tersenyum kepadaku. Ku balas senyumannya. Patut ku acungkan jempol kecantikan Mami Farida. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, kulit beliau masih kencang dan mulus. Rajin perawatan. Begitulah jawaban Mba rina saat kutanyai tentang Mami Farida.


"Boleh Mami masuk?" tanyanya saat aku mematung di depannya. Kali ini mami tampak lebih ramah dari sebelumnya.

__ADS_1


"Eh maaf mi. Silahkan" Jawabku.


"Gimana si rina? Sudah membelikanmu baju baru?" tanya mami setelah duduk di sofa. Tangannya mulai menyulut rokok.


"Sudah mi..." Jawabku sedikit gemetaran. Entahlah sosok seperti apa Mami Farida ini. Terkadang dia begitu teramat baik dan ramah. Tapi beberapa detik kemudian dia bisa berbicara tegas dengan tatapan sinis.


"Kenapa kamu? Takut sama mami?" tanyanya lagi. Matanya menatap tajam ke arahku. Tak berani aku mengangkat wajahku untuk memandangnya kembali. "Besok malam kamu sudah bisa mulai bekerja" dia menghembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya. "Mami disini tak perlu menjelaskan apa-apa lagi padamu, mami rasa kamu sudah memahami semuanya" dia berhenti sesaat sebelum dia melanjutkan kalimatnya lagi. "Semuanya sudah tertulis di kontrak kerja kita. Dan kamu sudah menandatangani kontrak kerja itu, yang artinya kamu sudah setuju dengan semuanya"


"Iya mi, saya siap kerja mulai besok" kataku ragu.


"Jangan ambil hati ucapan mami. Mami itu orangnya baik koq. Penyayang juga, asal jangan di bantah aja ucapannya" kata mba rina setelah menutup pintu.


"Aku gak ngerti mba apa yang tadi mami bicarain ke aku" kataku.

__ADS_1


"Gak ngerti gimana?"


"Semuanya mba"


"Jangan bilang lo gak baca surat kontrak kerja lo" kata mba rina penuh selidik. aku mengangguk sambil terus menatap wajahnya. Mba rina tampak terkejut "Ya ampun **** banget sih lo. Lo tau disini kerja apa?" Tanyanya lagi.


"Pelayan kan? Aku sempet baca sekilas judul kontrak kerja itu"


"Pelayan pria di atas ranjang" kata mba rina. Sontak aku terkejut. Untuk pertama kalinya aku mengutuk diriku sendiri yang begitu sangat ceroboh dengan tidak membaca isi dari kontrak kerja yang telah ku tandatangani di atas materai. "Ngerti kan maksud gue?" tak dapat ku jawab pertanyaan mba rina. Dua bulir air mata mulai menetes dari sudut mataku.


"Apa yang harus aku lakuin sekarang mba?"


"Cuma 1. Mulai mempersiapkan diri"

__ADS_1


"Tapi aku gak bisa mba"


"Gak ada pilihan lain Queenza. Kalau lo pergi dari sini, orang-orang mami bakal ngejar lo" air mata terus mengucur deras. Beberapa kali mba rina mencoba menenangkanku dengan kata-kata nya. Tapi aku tetap tak bisa menghapus air mataku. Ada rasa kecewa yang memenuhi rongga dadaku, namun di samping rasa itu aku sendiri tak tahu, apa aku mampu berkata tidak saat interview tempo hari jika seandainya aku telah mengetahui jenis pekerjaan ini? Ku rasa mungkin tidak. Aku akan tetap melangkah, meski memang harus menjadi wanita penghibur. satu-satunya alasanku adalah untuk keluargaku. Aku yang memang menjadi anak pertama yang harus menanggung semua kebutuhan keluarga kami. Apalagi sekarang kondisi bapak semakin menurun. Kalau saja dulu ibu tidak pergi meninggalkan kami... Ahhh sudahlah... Aku sudah tak perduli lagi pada wanita yang telah melahirkanku itu. Wanita yang sudah sukses membuat masa kecilku dan adik-adikku tak seindah masa kecil teman-teman kami. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ibu pergi saat itu. Mengambil semua uang hasil bapak menggadaikan rumah yang kami tempati saat itu. Uang yang seharusnya Bapak pakai untuk modal buka warung. Tapi dengan kejamnya wanita itu mengambil semua uangnya. membuat kami terusir dari rumah setahun kemudian saat bapak tak mampu menebus kembali rumah ini.


__ADS_2