
Aku masih menunggu tangisan bayi yang akan terdengar dari kamar ibu. Menunggu dengan penuh perasaan cemas. Sudah sangat lama sejak mak oneh datang ke kamar ibu. Aku sempat berfikir jika ibu akan melahirkan banyak anak saat ini. 5 atau bahkan 8 anak sekaligus. Karena prosesnya sangat lama. Tak seperti di TV yang hanya beberapa menit saja. Dengan masih menyimpan rasa cemas, silvana mulai merengek. Aku berusaha menenangkan Silvana. Silvana masih saja ketakutan. Sama seperti aku. Rengekan silvana berubah menjadi tangisan. Aku membekap mulutnya. Menyuruhnya berhenti. Jatah makan siang kali ini adalah tempe goreng. Aku berusaha membujuk silvana agar berhenti menangis dengan imbalan tempe goreng jatahku bisa dia makan tanpa nasi. Hal yang tak pernah bisa aku atau bahkan silvana lakukan. Keterbatasan ekonomi membuat kami tak bisa memakan apapun tanpa nasi. Nambul rencang sangu, begitulah istilahnya disini adalah yang mewah bagi kami. Silvana akhirnya diam sesegukan. Aku membawanya ke tempat tidur. Kedua tangannya memegang tempe goreng di tangan kiri dan kanannya. Tempe di tangan kanannya sudah dia makan seperempat, saat menjatuhkan tempe itu ke atas kasur dan mulai tertidur. Aku memungut tempe itu untuk ku simpan kembali di dapur.
"Teh" teriak bapak. Bergegas aku berlari ke arah bapak.
"Metik daun dodi sama daun singkong" kata bapak lagi. Aku mengangguk. Lantas beranjak pergi. Suasana hari ini memang terasa begitu tegang. Menanti calon adikku lahir ke dunia. Mencari daun yang bapak maksud tak sulit memang. Masih sangat banyak tumbuh di daerahku.
Setelah semua yang di butuhkan, sudah ku dapatkan aku segera pulang ke rumah. Merebus daun singkong dengan tambahan sedikit garam dan gula, sementara daun dodi aku tumbuh dan tambahkan air. untuk mendapat air kental seperti minyak. Ku masukan air perasan daun dodi ke dalam gelas tinggi dan menambahkan sedikit gula merah untuk menambahkan rasanya yang tawar. Ku berikan gelas itu pada bapak. Kembali aku menunggu suara tangisan bayi di kamarku dengan gusar.
Sekitar pukul 15:25 berbarengan dengan suara adzan aku mendengar tangisan bayi meleking di udara. Hati yang sedari tadi gusar hilang sudah. Berganti rasa bahagia yang tak terkira. Aku berlari menuju depan kamar bapak yang masih tertutup rapat. Tak berani mengetuk pintu kamar itu. Aku hanya menunggu di balik pintu.
Beberapa saat kemudian mak oneh keluar dari kamar. Sembari mengunyah daun sirih dan entah apa lagi yang membuat bibirnya berwarna merah menyala.
"Tak ada uang, beranak terus" gerutu mak oneh. Aku hanya terdiam di depan pintu yang sekarang sudah mulai terbuka. Bau amis darah menusuk hidungku. Ku lihat bapak sedang menggendong seorang bayi dalam pelukannya. Suara iqomah terdengar dari mulut bapak yang dia dekatkan di telinga kiri adik bayi itu. Aku masih mencari-cari bayi yang lain, yang mungkin ada.
__ADS_1
"Sini teh" kata bapak memanggilku. Saat mata bapak menatapku, aku bisa melihat ada bekas air mata disana.
"Dedek bayi nya cuma satu pak?" tanyaku polos selayaknya seorang bocah 8 tahun.
"Eteh pengennya berapa?" tanya bapak. Senyuman mengembang di wajahnya.
"Tambah satu anak lagi sudah susah apalagi banyak" kata ibu dengan nada bicara ketus.
"Tadi ibu lama di dalem, jadi eteh kira ade bayinya banyak"
Benih kebencianku pada ibu mulai tumbuh disini. Bapak menyuruhku untuk duduk di kursi dan memberikan adik bayi mungil yang sudah terbungkus kain lusuh ke dalam pelukanku.
"Pegang dulu sebentar ya. Jangan gerak. Eteh diem aja. Bapak mau urus ibu dulu" Kata bapak. Aku hanya mengangguk. Pertama kalinya aku melihat wajah adik yang sudah 9 bulan ada di perut ibu. Matanya bengkak seperti habis menangis. Kelopak matanya masih terpejam.
__ADS_1
Aku melirik ke arah bapak, tanpa sedikitpun menggerakan tubuhku. Bapak sedang sibuk membersihkan cairan merah di atas kasur yang sudah terlapisi kantung plastik sampah ang sudah di buka bagian sisinya hingga lebih lebar. "Darah" kataku dalam hati. Menjelang adzan magrib bapak mengambil adik bayi yang ada di pangkuanku. dan menyuruhku untuk menyiapkan makanan untuk ibu. Aku hanya mengangguk, meski sebenarnya aku sangat lelah.
Makanan sudah tersaji di atas nampan yang ku bawa ke dalam kamar. Nasi dengan lauk tempe goreng dan daun singkong rebus. Tanpa ku duga ibu menepiskan tangannya. Membuat tampan yang ada di tanganku jatuh ke lantai. Nasi beserta lauknya berceceran di lantai menyatu dengan pecahan piring dan gelas.
"Bapak..." teriak ibu. Aku memungut pecahan piring dan gelas serata nasi yang berserakan di lantai. "Apa kamu tak punya fikiran?" bentak ibu. Awalnya aku kira ibu berbicara padaku. Aku mendongakan kepalaku menatap wajah ibu. Matanya melihat ke arah pintu, cepat ku tolehkan pandanganku ke pintu. Bapak tengah berdiri di ambang pintu. Bapak hanya diam saja, tak berniat menjawab perkataan ibu yang aku tau sangat melukai hati bapak. "Lelaki tak berguna. Bahkan memberi makan daging pada istri yang baru melahirkan saja kamu tak bisa" lanjut ibu. Aku buru-buru menyelesaikan pekerjaanku. berharap akan segera keluar dari tempat itu.
"Sabar ya bu" jawab bapak. Suaranya rendah. Memang begitu bapak. Tak pernah aku dengar bapak membentak siapapun. Kecuali dulu pernah satu kali saat aku hampir tertabrak mobil, karena saat menyebrang jalan dengan bapak aku melepaskan tangan bapak dan berlari. Namun setelah itu, bapak beristigfar sambil memelukku dan meminta maaf.
"Sabar sabar terus sabar mau sampe kapan? Sampe aku mati?" bentak ibu lagi. Bapak hanya terdiam. Menghampiri ibu yang masih berbaring sembari membelai rambutnya. "Besok bapak belikan" janji bapak. Ibu hanya terdiam. Amarah masih terlihat di wajahnya.
...****************...
Usia adik bayi sekarang sudah 1 minggu. Tak ada nama yang dapat aku panggil ketika adik bayi menangis. Bahkan aku tak pernah melihat ibu menyusui adik bayi. Saat menangis, ibu hanya akan berteriak memanggilku dan menyuruhku untuk membuat adik bayi tak menangis lagi. Selama ini bapak yang menyuapi adik bayi dengan air tajin. Setiap kali memasak nasi, bapak menambahkan air yang lebih banyak dan menyisihkan air itu ke dalam botol plastik bekas air mineral untuk di berikan pada adik bayi.
__ADS_1
Aku tak tahu kenapa ibu tak mau menyusui adik bayiku. Aku hanya pernah mendengar ibu mengancam bapak tidak akan menyusui atau memberi nama adik bayi sebelum bapak menggadaikan rumah yang kami tempati ini pada tuan tanah untuk membuka usaha warung. Maka selama itu pula adik bayi tak pernah di beri asi juga tak punya nama. Semakin tertanam lah rasa benciku pada sosok yang harus ku panggil ibu.