Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 9


__ADS_3

Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku. Sebentar lagi mas Gilang akan mengucapkan ijab kabul di depan saksi. Ku lirik jam yang ada di layar ponselku, waktunya menunjukan pukul 7:39 tinggal beberapa menit lagi aku akan melepas gelar lajangku. Ku tatap bayangan diriku di depan cermin. Kebaya putih dengan sanggul dan bunga melati terpasang, menegaskan jika aku adalah ratu sehari. Aku jadi teringat saat pertama kali aku bertemu dengan mas gilang dulu. Saat pertama dia masuk ke dalam kamarku. Semua itu menjadi awal hidup baru ku. Kehidupan yang aku yakin akan jauh lebih baik dari pada dulu.


"Teh" suara silvana membuyarkan lamunanku. Aku melirik ke arah sumber suara itu. Silvana tampak terlihat sangat cantik dengan kebaya warna navy.


"Sini ena" kataku menyuruh silvana duduk di dekatku. "Ada apa?"


"Eteh cantik. Beruntung yaa mas gilang dapetin eteh" aku tersenyum mendengar kalimat yang di lontarkan adikku. Seandainya saja aku bisa berkata pada adikku, jika sebenarnya aku yang beruntung mendapatkan mas gilang.


"Kamu juga cantik" kataku seraya mencubit hidungnya. "Pacar kamu banyak ya?" kataku menggodanya.


"Ena gak mau pacaran dulu teh. Ena mau wujudin dulu mimpi ena. Enak pengen jadi dokter"


"hmmm yakin? Kan punya pacar itu bikin semangat belajarnya"


"Ahhh semangat apaan? Temen-temen ena yang udah pada punya pacar malah jadi gak bener sekolahnya. Awal-awal pacaran mereka sibuk chatting, terus pas putus mereka nangis-nangis" katanya. "Gak mau ah mikirin sekolah aja udah pusing, apalagi mikirin cinta-cintaan" lanjutnya. aku tertawa mendengar cerita polos adikku. "Eteh nanti setelah nikah bakal sering-sering kesini gak teh?


"Ya tergantung kakak ipar ena, kalau sibuk ya mungkin bakal jarang"

__ADS_1


"Teh" suara ade setengah berteriak dari depan pintu kamar yang sengaja tak kami tutup. Aku dan silvana menoleh bersamaan. "Bapak penghulunya udah dateng, tapi koq mas gilang belum dateng ya? Padahal sekarang udah jam setengah sembilan"


"Masih di jalan kali de" kata silvana.


"Iya. mungkin sebentar lagi dateng" aku menguatkan jawaban silvana. "Suruh aja pak penghulunya nunggu sebentar lagi" lanjutku. Fadly kemudian pergi.


"Macet kali ya teh?" kali ini silvana berkomentar. Aku mengangguk tanda setuju dengan komentarnya, meski dalam hati ada perasaan waswas yang ku rasakan.


"Na, bapak udah minum obat?" Aku sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku mencoba menepis semua ketakutan yang ku rasakan saat ini.


"Udah teh tadi ena yang suapin. Coba teh telepon mas gilang" adikku yang satu ini memang paling susah ku alihkan perhatiannya. Aku mengikuti saran silvana. aku mulai memijit nomor hp mas gilang di layar ponselku. Hanya terdengar nada sambung, namun sang pemilik no tak menjawab panggilanku.


"Ena keluar dulu ya. Mau liat keadaan di luar. Sambil nunggu mas gilang juga" Ku anggukan kepalaku berulang kali. Fikiranku mulai merangkai segala kemungkinan yang akan terjadi. Gimana kalau mas gilang gak dateng? gimana kalau mas gilang lupa? gimana kalau mas gilang ternyata berubah fikiran? gimana kalau mas gilang kecelakaan. ahhh semua kemungkinan itu terus berputar dalam kepalaku. Aku kembali mencoba menelepon mas gilang berkali-kali namun masih saja tak ada jawaban. Hatiku semakin resah. "Sudah telat 1 jam" kataku dalam hati saat aku sadar jika waktu telah menunjukan pukul 9:15. Aku membuka aplikasi WhatsApp di ponselku kemudian mulai mengetik huruf demi huruf.


"Mas masih dimana?"


"Mas semua sudah menunggu, mas masih jauh?"

__ADS_1


"Mas..."


"Mas baik-baik aja kan mas?"


"Mas, kasih kabar napa orang kan khawatir"


Semua pesan WhatsApp yang ku kirim kepada mas gilang tak ada tanda-tanda di baca. Aku semakin khawatir. Jantungku semakin berdetak tak beraturan. Mataku mulai berkaca-kaca. "Ya Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi? Jika sampai pernikahanku gagal, akan seperti apa malunya bapak? Tuhan, kenapa harus begini? Jika memang Engkau ingin menghukumku, hukumlah aku sendiri namun jangan hukum keluargaku" Air mata terus mengalir menuju pipiku.


"Teh" suara ena terdengar berat. Cepat ku toleh kan pandanganku ke arahnya. "Pak penghulunya ada janji lagi dengan orang lain. Beliau pamit" Aku menghela nafas panjang mendengar kata-kata dari silvana. "Gimana teh? Apa ena suruh aja si bapak nya nunggu 30 menit lagi? Sambil nungguin mas gilang" dia berhenti sejenak. "Mas gilang kemana sih? bikin orang bingung aja" silvana berkata pada dirinya sendiri.


"Ena, suruh aja bapak penghulunya pulang. Kasian kalau harus nunggu. Toh nanti kalau mas gilangnya dateng kan bisa di panggil lagi" suaraku serak menahan tangis.


"Yakin teh?" ku anggukan kepalaku.


"Tapi sebelum itu kamu ajak bapak dulu ke kamar, Eteh gak mau bapak sampe denger" kataku lagi. Air mata kembali mengalir dari sudut mataku. Rasa nyeri begitu dalam kurasakan.


"Gak akan suruh tunggu dulu sebentar lagi?" silvana kembali meyakinkan keputusanku.

__ADS_1


"Gak. Udah. Eteh minta tolong ya, kamu handle di depan. Eteh pengen sendiri dulu" Ku balik kan tubuhku sesaat setelah ku selesaikan kalimatku. Air mata terus saja mengalir dari sudut mataku. Aku sempat mendengar saat silvana melangkah pergi dari kamarku. Dia juga tak lupa untuk menutup pintu kamarku. Aku menjatuhkan tubuhku yang masih menggunakan kebaya putih lengkap dengan bunga melati ke atas kasur. Membenam kan wajahku ke atas bantal. Menangis sepuasnya hanya ini yang bisa kulakukan untuk mewakili perasaan kecewa yang mendera di dadaku. Sudah tak ku pedulikan lagi bagaimana sekarang riasan wajahku, inginku saat ini adalah pergi berlari dan berteriak sekuat tenaga.


Mungkin memang benar perkataan Mba rina padaku tempo hari, saat aku pamit untuk berenti kerja. "Jangan terlalu percaya sama laki-laki Queen, kita itu beda sama cewek di luaran sana. Kita itu cuma bonekanyang seharusnya tak punya perasaan. Gue sayang sama lo, gue ingin yang terbaik buat lo. jangan beranggapan gue gak seneng denger lo mau nikah. Gue seneng koq, gue cuma takut aja kalau gilang itu cuma mau maenin lo" waktu itu aku hanya menjawab perkataannya dengan senyuman. Karna aku merasa yakin jika mas gilang mencintai aku seperti aku mencintainya. Bahkan hingga saat ini, saat mas gilang tak hadir di pernikahan kami aku masih yakin mas gilang tak mungkin tak mencintaiku. Mungkin ada hal lain yang membuatnya tak bisa hadir di acara pernikahan kita. Mungkin ada urusan mendadak yang tidak bisa di tinggalkannya. Atau mungkin dia.... Ahhhhhh...


__ADS_2