Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 11


__ADS_3

Semilir angin terasa lembut di wajahku. Sore ini udara sangat cerah. Kicau burung saling bersahutan di udara. Aku duduk di teras depan rumah bapak. 2 bulan sudah berlalu semenjak hari itu. Hari yang ingin aku hapus dalam ingatanku. Kondisiku memang sudah mulai stabil, meski rasa sakit itu masih amat terasa di dalam dada. Namun aku selalu mencoba untuk bertahan. Bertahan demi bapak dan ke dua adikku. Hilir mudik para tetanggaku tak lagi ku hiraukan. Tak seperti saat awal kejadian itu, meski aku tau tak sedikit dari mereka yang membicarakan aku. Mungkin beberapa dari mereka ada yang iba, bahkan pula yang mengejek benci. Aku masih duduk menikmati senja, rutinitasku beberapa minggu terakhir. mungkin hanya inilah cara yang dapat aku lakukan untuk sekedar melupakan sejenak rasa kecewaku itu. Beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan putih masuk ke dalam pekaranganku. 2 orang wanita cantik turun dari kursi depan. Aku berdiri menyambut mereka dengan sebuah senyuman. Mami Farida dan mba rina membalas senyumanku. Seminggu ke belakang mami farida menelepon ku. Awalnya mami bertanya tentang kabarku. Dia juga turut sedih dengan apa yang terjadi padaku.


"Gimana kondisi mu sekarang?" Kata mami farida sesaat setelah dia duduk di kursi yang ada di teras rumah kami.


"Baik mi" ku paksakan sebuah senyuman tersungging di bibirku. "Mami gimana?" aku balik bertanya.


"Mami sehat. Jadi kapan kamu mau balik ke tempat mami?" tanya mami lembut namun tetap terlihat ada ketegasan dari suaranya. Aku terdiam. Jujur saja aku sama sekali belum memikirkan hal itu. Memang tabunganku yang awalnya akan ku gunakan untuk biaya kuliah silvana sudah mulai menipis, tapi untuk kembali aku masih ragu. "Sayang, saran mami kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Hidup ini masih terus bergerak maju, jika kamu terus jalan di tempat seperti ini kamu akan jauh lebih tertinggal" lanjutnya lagi. Ucapan mami memang benar. Aku harus terus melangkah, tapi hatiku masih terasa amat sakit. Berulang kali aku mencoba meredam segala sakitku, membuang segala rasa kecewaku pada jurang terdalam. Namun tanpa aku bisa memungkirinya rasa sakit itu slalu muncul kembali ke permukaan. "Mami tau rasa kecewamu, mami faham betul jika kamu masih merasa sakit. Tapi jika kamu terus seperti ini..." mami tak melanjutkan kata-katanya. Aku masih terdiam tanpa suara. Menundukan kepalaku semakin dalam. Rasa perih kembali hadir. "Fikirkan lah ucapan mami, mami menunggu jawabanmu" lanjut mami lagi segera dia pamit padaku saat melihat silvana datang menghampiri kami.


"Mi, aku bersedia" kataku akhirnya saat aku mengantarnya ke dalam mobil. Seketika saja mami berbalik ke arahku. di peluknya tubuhku hangat.


"Mami tunggu kedatangan kamu"

__ADS_1


"Besok mi aku beragkat" jawabku lagi. Mami mengangguk kearahku sebelum akhirnya mami masuk ke dalam mobilnya. Entah aku harus merasa beruntung atau justru harus mengasihani diriku sendiri saat mami datang menjengukku ke rumah bapak. beruntung karena merasa di perhatikan dan di sayang? atau justru kasihan pada diriku karena kebaikan mami tentu ada balasan yang harus aku lakukan. Tak dapat ku pungkiri, memang perhatian mami membuat dahagaku akan kasih sayang seorang ibu terpuaskan. Namun lagi-lagi semua itu aku tau tak tulus. Mami hanya mengharapkan sesuatu dariku yang bisa di jual untuk keuntungannya sendiri.


***


Malam itu, aku berbicara pada ke dua adikku dan juga pada bapak untuk kembali bekerja. Beruntung mereka tak pernah bertanya pekerjaanku di kota seperti apa? Namun aku tau cepat atau lambat mereka akan bertanya padaku. aku mengajak mereka berbicara, bukan karena aku ingin meminta izin dari mereka. Tapi lebih tepatnya aku hanya ingin berpamitan pada mereka. Aku tau Dari raut wajahnya tampak mereka merasa khawatir dengan keputusanku namun tak ada satupun dari mereka yang melarangku untuk pergi. Atau mungkin mereka sudah sangat faham sifatku. Faham jika aku sudah memutuskan, maka keputusan itu akan menjadi akhir dari keputusan. Setelah aku berbicara pada mereka aku mengemas pakaianku. memasukannya ke dala travel bag. Silvana saat itu membantuku. Aku menangkap gerakan tangannya saat memasukan baju-baju ku kedalam lemari, penuh dengan rasa kesal. Pandangannya tertunduk. seolah dia tak ingin memperlihatkan wajahnya padaku. Ku kihat air mata menetes dari tempatnya. begitu cepat membasahi baju yang dia masukan ke dalam travel bag.


"Na, kamu gak usah nangis. eteh kan kerja disana"


"Harusnya ena seneng donk eteh kerja lagi. itu berarti eteh udah baik-baik aja. iya kan?"


"Tapi ena khawatir teh. ena tau perasaan eteh. ena tau gimana sakitnya eteh"

__ADS_1


"Siapa bilang eteh sakit?" Ku pegang kedua pundak silvana. silvana menghentikan aktifitasnya segera. tampak terlihat bulir-bulir air mata terus mengalir dari sudut matanya. "Eteh baik-baik aja koq. eteh itu kakak paling beruntung di dunia ini. Eteh punya kamu punya ade punya bapak. semua itu membuat eteh bahagia"


"Eteh gak pernah jujur sama ena. Eteh slalu bilang kalau eteh baik-baik aja, padahal ena tau hati eteh masih terluka"


"Stttt.. Sok tau kamu" kataku. mataku ku paksakan membuka lebar. Membuat ekspresi raut wajah. "berasa jadi dukun" kataku. Aku sengaja menggodanya untuk mencairkan suasana yang terasa mula mengharu biru. bagaimanapun cara nya aku harus slalu membuat wajahku tersenyum ceria di depan mereka.


"Eteh sering-sering hubungi kita ya"


"Pasti. Eteh bakal slalu hubungi kalian semua" Ku peluk tubuh silvana. "Jaga bapak ya" lanjutku lagi. "Eteh sangat berterimakasih sama kamu. Maaf eteh belum bisa jadi kakak yang baik buat kalian" tak terasa air mata mengalir dari sudut mataku. silvana tampak menganggukan kepalanya dalam pelukanku.


Malam ini akan menjadi malam terakhir buatku. Malam yang akan terasa begitu cepat bergerak dari biasanya.

__ADS_1


"Aku memang bukan wanita baik. bahkan sebagian dari masyarakat menganggap ku tak lebih berharga dari sampah. Aku tau hampir semua orang sangat membenciku. Mereka hanya menilai pekerjaanku saja yang kotor, tanpa mereka berfikir kenapa aku melakukannya? Tak ada satupun wanita di dunia ini bercita-cita ingin menjadi sepertiku. Namun bagiku semua jalan telah tertutup rapat. Tak ada celah sedikitpun. Bahkan untuk sekedar mengintip pun aku tak bisa. Kalaupun memang aku harus menjadi seperti ini selama hidupku, aku rela berkorban demi keluargaku. Aku rela menjalani ini semua. Tolong jangan menghujatku, jangan mencaci maki diriku. Aku terpaksa melakukan ini semua. Demi untuk bertahan hidup. Demi untuk kehidupan yang lebih baik lagi."


__ADS_2