
Tak ada yang berubah dengan tempat ini. Masih sama saja seperti saat aku keluar dari tempat ini. Aku menyusuri koridor menuju kamarku. Sebelumnya mba rina memberitahuku jika kamarku pindah. Katanya, agar aku mendapat suasana baru. Tadi aku sudah mengobrol dengan mami dan pak kuncoro. Mereka sangat antusias menyambutku tampak terlihat mereka senang aku kembali. Pak kuncoro menyuruhku untuk menandatangi kontrak per 3 bulan, dan aku setuju. toh aku juga memang membutuhkan pekerjaan ini. Hari ini mami menyuruhku istirahat saja, sambil membenahi kamar baruku. Besok aku sudah mulai bekerja. Mami tak pernah lupa mengingatkanku untuk menggunakan alat kontrasepsi, aku hanya mengangguk kecil.
Waktu masih menunjukan pukul 2 siang, tempat ini masih sepi pengunjung. Membuatku lebih leluasa untuk berjalan. Mba Rina sudah ada di kamarku saat ku masuk. Mungkin tadi mba rina kesini saat aku sedang mengobrol dengan pak kuncoro.
"Wellcome back Queenza" katanya dengan candaannya yang khas. aku tersenyum kecil.
"Ya ampun mba, mba beresin kamarku? Makasih mbaku sayang"
"Halah lebay lo. Gue kangen banget sama lo, queen"
"Yakin mba?" kataku seraya mengerlingkan mata. "Aku gak percaya bisa balik lagi ke tempat ini" lanjutku. ku lihat mba rina hanya tersenyum sembari tangannya terus merapihkan semua yang ada di kamarku bersama 2 orang OB yang tak ku kenal. "OB baru ya ini mba?" tanyaku lagi.
"Iya. baru masuk sebulan yang lalu"
"ohh. emang yang lama kemana?"
"Di pindahin ke bawah. Yang di atas sini baru semua. Boss yang atur. katanya biar gak bosen"
"Ohh.." aku terdiam sejenak. Memikirkan kata yang pas untuk bertanya tentang mas gilang. Bagaimanapun juga aku ingin tau kabarnya sekarang. "Mba.."
"hmm"
"Mas gilang sering mampir kesini?" tanyaku ragu. Aku melihat reaksi mba rina berubah saat aku bertanya tentang mas gilang. Mba rina bergegas menghampiriku. Tanpa berkata dia duduk tepat di sampingku. di sofa panjang yang juga ku duduki.
__ADS_1
"Queenza ngapain lo masih nanya kabar cucurut itu?"
"Ya cuma pengen tau aja mba. gimanapun juga dia kan pernah jadi bagian dari hidupku" kataku. ku hempaskan tubuhku ke senderan sofa di barengi hembusan nafas panjang.
"Pernah beberapa kali dateng kesini" mba rina diam sejenak. "3 atau 4 kali lah"
"Ketemu siapa mba?" kataku seraya bangkit. membenahi posisi duduk ku.
"Gue sih lupa ya. yang gue inget dia gak pernah dateng cuma ke satu tempat"
"Ohh.." kataku lagi. "Mba tau kabar kirey?"
"Kalau kirey sih gue gak tau ya. Tapi..." mba rina menghentikan kalimatnya.
"Hmm yang gue denger dia katanya dia di ajak pergi ke brunei tinggal disana"
"Sama mas gilang?" tanyaku. Mba Rina menganggukan kepalanya pelan. Aku terdiam. Ada rasa perih di dalam dada, namun secepat kilat aku berusaha membuangnya.
"Udah, gak usah di fikirin. Setiap orang punya jalannya masing-masing"
"hehe iya mba. tapi kan harusnya aku yang ada disana" aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit dan kecewaku.
"Emang lo yakin hidup lonakan bahagia disana? Lo yakin jika disana akan jauh lebih bahagia daripada disini?"
__ADS_1
"Ya mungkin mba. Dimanapun pasti akan bahagia kalau sama orang yang kita sayang"
"Lo masih percaya Tuhan kan?" aku hanya mengangguk mendengar pertanyaannya. "Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah buat lo"
"Hahahah. Mba aku udah gak akan berharap lagi. Mana ada sih mba yang rela mungut sampah busuk seperti aku?"
"Gak ada yang gak mungkin"
"hmmm. mustahil mba"
"Tuhan bukan hanya untuk mereka yang rajin beribadah aja. Tuhan juga ada buat kita"
"Udah ahh mba" kataku. Sengaja aku memberhentikan percakapan kami. Aku tak mau membuat hatiku berharap dengan harapan baru. Harapan yang nyaris tak akan pernah aku miliki. Aku harus sudah cukup tau diri dengan hidup seperti ini. Aku tak ingin membiarkan harapan yang dulu pernah aku puja akan tumbuh kembali di dalam dadaku meski pada orang yang berbeda. Aku pernah merasa sakit. dan aku tak ingin merasakan rasa sakit itu kembali.
...****************...
Silih berganti pria hidung belang masuk ke kamarku. Tujuan mereka hanya 1 ingin menikmati tubuhku. Aku lakukan pekerjaanku. Kadang aku menikmatinya, namun kadang aku melayani mereka hanya karena tuntutan pekerjaanku saja. Pernah suatu ketika aku bertemu seorang pria yang membuatku tertarik. Wajahnya tergolong biasa saja. Namun kepribadiannya, caranya berbicara, caranya memperlakukan aku, aku suka. Bersama dengan pria itu membuatku nyaman. Tak jarang aku merindukan kedatangannya kembali. Berharap jika dia akan datang menemuiku. Namun dia memang tak pernah kembali untuk menemuiku. Ada rasa kecewa yang memenuhi dalam dada setiap kali aku membuka pintu dan bukan pria itu yang datang, tapi aku segera menepisnya. Aku tak boleh jatuh cinta lagi. Tugasku hanya bekerja. Tugasku hanya bercinta, bukan mencintai. Tak pernah ada yang bahagia menjalani pekerjaan seperti yang ku jalani. setiap kali aku tersenyum pada mereka yang datang, semua itu hanyalah senyum yang penuh kepalsuan. Senyum yang sarat dengan rekayasa. Tak dapat ku pungkiri, jika batinku teramat sakit saat mereka, orang yang baru aku kenal menerjangku di atas kasur. Mereka seolah menerkamku tanpa ampun. Mencabik seluruh harga diriku. Dan ketika mereka selesai membuang penatnya mereka berlalu pergi tanpa melirik ku kembali. Mereka pergi meninggalkan tubuh telanjangku seraya melempar lembaran uang tips padaku jika mereka puas dengan pelayananku. Atau kadang beberapa dari mereka ada yang pergi begitu saja. Tak jarang ada yang memukuliku tanpa ampun saat mereka tak merasa puas dengan pelayananku meninggalkan luka lebam di tubuhku, sebagian dari mereka ada pula yang mencaci maki diriku dengan kata-kata kasar yang membuat hatiku teriris, meninggalkan beberapa luka di hatiku.
...****************...
"G*b**k gitu gitu aja gak bisa" Bentak pria itu seraya melayangku sebuah tamparan yang mendarat di pipiku. Aku meringis kesakitan. Pria yang sedang ku layani kali ini usianya masih sangat muda. "Yang bener ****" lanjutnya lagi.
"Iya maaf sayang"
__ADS_1
"Sayang? enak banget lo bilang sayang sama gua" bentaknya lagi. "lo lakuin apa yang gua suruh *****" aku mengikuti perintahnya. Semua sentuhan yang dia lakukan padaku tak berarti apa-apa bagiku. aku sama sekali tak merasakan kenikmatan yang seharusnya aku rasakan. "Lo bisu heh? lo gak bisa mendesah?" bentak nya lagi. "Sia-sia gue bayar lo mahal. kalau begini aja lo gak bisa" Dia membentakku lagi. "Bugh" tonjokan keras mendarat di pipiku, darah mulai keluar dari bibirku. Bogem mentah yang dia layangkan kepadaku membuat bibirku tergigit.