Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 13


__ADS_3

..."Tuhan, dimana Kau sekarang? Bukankanlh kau berjanji untuk tak meninggalkan umat-Mu? Tapi kenapa kau tak ada di saat aku butuh pertolongan. Kau tak pernah menolongku saat aku sedang kesusahan. Ahhh, Tuhan Kenapa kau pilih aku untuk memerankan skenario-Mu yang satu ini? Yang aku tau, Kau maha adil. Tapi keadilan macam apa ini? Lupakah Engkau telah menciptakan aku? Tuhan, bukankah aku adalah ciptaanMu juga? Bukankah aku selalu berbuat baik pada keluargaku? Lantas kenapa Kau menghukumku dengan begitu kejam? Seolah kau ingin mengoyak kepercayaanku pada-Mu."...


Aku mengehentikan aktifitasku saat dokter dan beberapa perawat datang menemuiku. Ku taruh kertas dan bolpoint di atas meja di samping tempat tidurku.


"Selamat pagi. Gimana semalam tidurnya sudah mulai nyenyak?" tanya dokter itu padaku. Aku hanya mengangguk pelan. Lantas sang dokter mulai memeriksa tubuhku. Menyuntikan beberapa obat ke dalam tubuhku. Dia menjelaskan hasil labku. Ada beberapa bahasa medis yang dia sebutkan yang sama sekali tak aku mengerti. Namun dari seluruh penjelasannya aku dapat menyimpulkan, jika aku baik-baik saja. Perdarahan di dalam organ kewanitaan ku hanya di karenakan faktor gesekan kasar hingga menimbulkan luka goresan. Dokter menyarankan aku untuk tetap tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan sambil terus melakukan observasi padaku. aku hanya mengangguk kecil. Ku fikir tak apa aku tetap disini hingga aku benar-benar pulih, toh jika aku kembali ke tempat kerjaku aku hanya bisa diam tanpa bisa bekerja. Area intimku masih terasa nyeri saat aku bergerak.

__ADS_1


"Kira-kira butuh waktu berapa lama dok agar saya tak merasa nyeri. Terlebih saat saya sedang buang air kecil" tanyaku.


"Beberapa hari lagi" katanya. "Terakhir kamu menstruasi kapan?" pertanyaannya sangat mengejutkan aku. Aku mulai berfikir keras mengingat semua yang terjadi dalam hidupku.


"Saya lupa dok. Yang saya ingat, sudah setahun lebih saya tidak menstruasi?" kataku lirih. Ku lihat dokter mengernyitkan dahinya. "Saya mengikuti program KB dok" lanjutku lagi. Dokter itu kemudian menganggukan kepalanya. Dia tak lagi bertanya apapun padaku. Aku tau ada banyak tanya yang ia simpan cukup hanya dalam hatinya.

__ADS_1


"Kamu masih terlalu muda. Perjalananmu masih panjang" lanjut dokter itu lagi. Aku hanya mengangguk sambil sesekali aku membuka bibirku untuk mengajukan pertanyaan atau bahkan hanya sekedar berbicara, namun aku urungkan niatku. Pertanyaan dan kalimat itu kembali aku simpan hanya dalam hatiku. Dokter itu lantas pergi setelah memeriksa keadaanku dengan teliti. Aku kembali sendiri. Terkurung dalam ruangan ini, tanpa bisa melakukan apapun. Satu-satunya hal yang dapat ku lakukan hanyalah menulis kalimat demi kalimat di atas kertas putih. Masih terus terngiang kata-kata dokter itu. Wajahnya tampak bersih bercahaya. Ada kesan ramah penuh wibawa dari wajahnya, meski guratan-guratan penuaan tak dapat lagi di sembunyikan. Mungkin hanya baru beberapa menit saja berlalu setelah dokter dan beberapa perawat meninggalkan ruanganku. Rasa bosan kembali menyerangku. Aku kembali meraih kertas dan bolpoint. Mulai kembali menulis sesuatu di atas kertas itu.


......"Tuhan, tidakkah Engkau lihat keadaanku saat ini? Aku terkurung dalam ruangan ini sendiri. Menertawakan kemalangan nasibku. Sambil menunggu keajaiban yang slalu aku harapkan akan datang menghampiriku. Ya aku tau sudah sejak lama aku mengabaikanMu. Mengabaikan setiap panggilan yang di lantunkan para muadzin di mesjid. Mengabaikan semua kewajibanku sebagai umatMu. Aku bahkan tak lagi meminta padaMu. Tak lagi panjatkan doa padaMu. Aku selalu bersembunyi dalam diamku. Seandainya saja, Tuhan Kau dapat hentikan ibuku saat dia pergi meninggalkanku, seandainya saja Kau menghentikan aku untuk pergi ke kota ini. Mungkin semua cerita hidupku tak akan seperti ini. Sekaranng siapa yang harus aku salahkan? Ketidak pedulian ibuku? kebodohanku? Atau ke kejaman takdirMu?"......


Aku membuka lembaran lain dari kertas itu. Dan mulai menulis kalimat demi kalimat di atasnya. Menulis kata demi kata untuk mewakilkan perasaan yang selama ini tersimpan dalam hatiku. Tak ada seorangpun yang tau tentang masa laluku kecuali tetanggaku tentu saja.

__ADS_1


..."Ibu, ahh masih pantaskah aku memanggilnya demikian? Memanggil wanita yang yang telah pergi meninggalkanku, bapak dan ke dua adikku begitu saja? Aku menolak lupa dengan wajahnya. Aku juga menolak lupa kenangan terpahit terakhir bersama wanita yang ku benci sampai saat ini. Seandainya aku bisa memilih dari ibu mana aku ingin di lahirkan. Aku masih teringat jelas bagaimana raut wajahnya saat meninggalkan aku dan ke dua adikku menangis menahan dia untuk pergi. Aku masih ingat betul saat dia mendorongku dan silvana masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari luar. Bahkan suara rengekan Fadly yang kelaparan tak sedikitpun merubah niatnya untuk meninggalkan kami. Dalam ruang kamar itu aku dan kedua adikku menangis saling bersahutan. Menatap ibu dari jendela kamar yang terus melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku menggendong fadly yang menangis kelaparan. mencoba menenangkan adikku agar berhenti menangis. Mungkin yang bisa aku lakukan adalah menunggu bapak pulang untuk membebaskan kami dari kurunga wanita kejam itu. Wanita yang telah melahirkan kami, namun dia menyerah pada keadaan"...


Saat aku mengingat kembali semua itu jantungku selalu berdegup lebih kencang dari biasanya. Amarahku memuncak. Betapa wanita kejam ibu tak punya rasa iba sedikitpun pada kami yang adalah darah dagingnya sendiri. Aku jadi ingat bagaimana kesusahan kami setelah ibu pergi dari rumah. bagaimana cara kami bertahan hidup dalam keadaan ekonomi yang semakin menghimpit. Belum lagj di tambah hutang bapak pada seorang rentenir karena telah menggadaikan rumah yang kami tempati saat itu. Kami yang harus menanggung semuanya. Sementara wanita itu yang menikmati hasil gadai rumah ini. Betapa murkanya aku. Aku memang masih terlalu kecil untuk mengerti semua yang terjadi pada keluargaku. Namun aku tau kekecewaan yang tergambar jelas di wajah bapak saat aku ceritakan semua pada bapak.


__ADS_2