
Sekitar pukul 4 sore mami mengunjungi kamarku. Memastikan semuanya berjalan sesuai yang dia harapkan. Sudah sejak tadi pagi mba rina mewanti-wanti ku agar berhenti menangis. Mami tak suka melihat mata anak-anak nya bengkak, begitu kata mba rina. Aku memang tak rela menjual tubuhku pada pria manapun. Tapi aku tak punya pilihan lain, setumpuk faktur pembelian baju dan berbagai kebutuhan lain serta denda karena membatalkan kontrak harus ku bayar sebelum aku pergi dari sini. Jadi mau tak mau aku harus bertahan disini untuk 2 tahun. Setidaknya sampai semua hutangku lunas dan aku punya uang lebih untuk bertahan hidup nanti setelah aku keluar dari tempat ini. Saat mami berkunjung ke tempatku kali ini dia tak begitu banyak bicara. Mami hanya sesekali mengkoreksi para stylus yang tengah mendandaniku, lantas kembali pergi.
Sekitar pukul 7:45 malam, aku sudah selesai berdandan. Aku melihat pantulan diriku di depan cermin. Aku tampak begitu sempurna. Riasan wajah dan rambutku tampak begitu serasi. Hari ini mba rina menyuruhku memakai kemeja lengan panjang di padu dengan rok pendek.
"Mba aku malu pakai baju ini" kataku sembari menarik-narik rok ku ke bawah.
"Mulai biasakan diri Queenza, besok-besok lo tga akan malu lagi telanjang di depan kita. hahahah" mba rina tertawa.
"Tapi mba..."
"Queenza, apa gue harus bacain lagi isi surat kontrak itu?" kata mba rina. kali ini matanya melotot ke arahku. "Lo gak lupa kan Mami Farida udah bayarin smua utang keluarga lo di kampung 3 hari yang lalu? Bahkan sebelum lo mulai kerja"
"Iya mba" kataku tertunduk. Mungkin memang tak ada pilihan yang dapat ku ambil sekarang selain mengikuti setiap titah dari Mami Farida. Aku sangat tau, jika aku mencoba untuk kabur dari tempat ini keluargaku yang akan menanggung semua kesalahanku. Bahkan bisa saja adikku Silvana yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA yang harus menggantikan aku untuk berada disini.
"Sebentar lagi Pak Gunawan datang, lo udah siap kan? Layani dia dengan baik. Bikin dia puas di atas ranjang. Apapun caranya. Dengan begitu, lo gak akan semakin lama tinggal disini"
"Maksudnya?"
"Kalau lo bisa buat pak gunawan senang, lo bakal bisa dapet uang tambahan darinya" Mba rina diam sesaat. "Ouh ya, pak gunawan itu sangat suka dengan perempuan polos seperti lo. Yang belum tau apa-apa tentang cara bercinta. Jadi nanti lo tinggal ikuti aja alur nya ya" Mba rina mulai merapikan kembali baju yang ku kenakan. Memastikan semuanya tak ada yang salah atau bahkan kurang. "Gue cabut dulu ya" mba rina meninggalkanku.
Jantungku mulai berdebar. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti padaku. Tubuhku gemetaran. Berulang kali aku mencoba menguasai tubuhku namun aku tak bisa. Ketukan pintu membahana dari luar ruangan. Dengan perasaan tak menentu ku buka pintu kamar. Mami berdiri di ambang pintu dengan seorang pria paruh baya yang tidak aku kenal sebelumnya.
__ADS_1
"Queenza, kenalkan ini Pak gunawan. Perlakukan dia sebaik mungkin ya. Jangan kecewakan dia" Tanpa menunggu jawaban dariku mami kembali menutup pintu kamarku. tinggalan aku dan pak gunawan dalam ruangan itu.
"Luar biasa. Kamu sangat cantik sayang" kata pak gunawan. Dia mulai menjamah tubuhku. Darahku berdesir lebih kencang dari biasanya membuat tubuhku terasa panas.
"Ehem.., Oom mau minum dulu barangkali?" tanyaku ragu. Takut jika aku membuat kesalahan.
"Sudah tak usah repot-repot. Sini temani oom duduk saja" jawab pak gunawan. Tangannya menepuk sofa sebelahnya yang masih kosong. Perlahan aku mengikuti perintahnya. Ragu. Tubuhku mulai gemetaran. Pak gunawan menangkap ketidaknyamanan yang aku tunjukan. Dia tersenyum manis ke arahku. "Mami mu itu memang paling tau yang saya suka. hahahah" gelak tawanya membahana di dalam ruangan. Aku dan pak gunawan mulai bercakap-cakap untuk mencairkan suasana. Rak jarang Pak gunawan melontarkan candaan-candaan nakal membuat wajahku merah merona. Sebenarnya aku sangat risih berdua saja di dalam ruangan tertutup dengan seorang pria. Tapi aku harus bisa menguasai diriku sendiri, aku tak mau jika ancaman mami farida kemarin malam menjadi kenyataan.
Percakapanku dengan pak gunawan berakhir di atas ranjang. Air mata mulai jatuh dari pipiku saat ku sadari jika saat ini aku sudah tidak perawan lagi. Mahkota utamaku telah ku serahkan pada pria yang baru ku kenal. Atau mungkin lebih tepatnya telah di renggut dariku. Ada rasa perih yang menyelinap di antara pahaku, namun rasa perih itu tak seberapa di banding dengan rasa nyeri yang kurasakan tepat di dadaku.
Dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ada aku mencoba untuk bangkit, bercak darah dan campuran cairan kental berwarna putih mengotori seprai putih yang tadi membalut rapih tempat tidurku. kini Semuanya telah kusut, seperti tampilan diriku malam ini. Aku menenggelamkan tubuhku di dalam bathtub. Terdengar suara dering telepon dalam kamarku, namun aku abaikan. tak lama setelah suara dering itu berhenti, seseorang mengetuk pintu kamarku. Dengan langkah terseret aku membuka pintu.
"Ahhh syukurlah kamu gak apa-apa." kata mba rina seraya masuk kedalam kamarku. "Jangan lama-lama mandinya. nanti punyamu semakin terasa perih"
"paling semingguan lo ngerasain kayak gini"
"Terus selanjutnya gak akan sakit lagi?"
"Malah ketagihan nanti kamu. hahahah"
"Ihhh sakit gini mana mungkin ketagihan"
__ADS_1
"Makanya pasrahin diri lo. Kagak usah di tahan-tahan. Lepasin semuanya. Bebasin. Enak tau kerja gini. Apa lagi cantik kayak lo. Udah dapet yang enak-enak, kerjanya cuma bobo doank, duitnya gede lagi. hahah"
"Terus kenapa mba gak kerja kayak aku?"
"Hahahah. Kalau ada yang minta di temenin sama mba, mba sih mau aja. dari pada harus sama pacar mba begituannya gak dapet duit"
"Ya di coba lah mba"
"Ahhh udah expired kalau mba. Hahah. Udah udah sana pake baju. Lo mau nerima tamu lagi gak malem ini? atau mau istirahat aja?"
"Masib sakit sih mba, tapi aku pengen cepet-cepet lunasin utang ku ke mami"
"Jadi?"
"lanjut aja deh mba"
"oke, nanti setelah tamu nya keluar mba kesini lagi yaa. gak usah di kunci. biar lo kagak harus repot-repot bukain gue pintu." mba rina keluar dari kamarku setelah dia memilihkan pakaian untukku. memoles wajahku sedikit untuk merapihkan riasan ku sebelumnya.
Tamu kedua ku masuk. Kali ini kupastikan usianya lebih tua dari Pak gunawan tadi. Rambutnya sudah mulai berubah warna. Tubuhnya sintal, tanpa aba-aba dia langsung menerkamku. Mulai mengeksekusi diriku. Rasa perih yang belum sepenuhnya hilang, semakin terasa saat benda aneh itu memaksa masuk.
"Kamu masih perawan ya?" katanya di sela-sela desahan nafasnya. Tak ku jawab pertanyaannya. "Sangat beruntung saya malam ini. Nanti saya kasih uang lebih banyak buat kamu yaa sayang" lanjutnya lagi.
__ADS_1
Benar saja saat pria itu menyelesaikan misinya. Satu gepok uang 50ribuan berpindah tangan padaku. 5juta hanya untuk pekerjaan seperti ini? semudah ini?