
Seminggu yang lalu aku keluar resmi bekerja. Tekadku sudah bulat. Aku ingin memperbaiki hidupku. Meski aku yakin akan sangat sulit untukku. Aku sudah terbiasa menjadi wanita penghibur, dengan hanya tiduran saja rekeningku terus bertambah. Namun sekarang aku harus berjuang sangat keras. Mencari uang untuk biaya hiduoku dan juga kedua orang tuaku. Meski setahun ini aku akan terbebas dengan biaya sekolah adikku. Karena saat tahun ajaran baru sudah ku bayar semua biaya sekolah selama 1 tahun. Namun itu saja tak cukup bukan? Aku harus tetap mengirimi adik-adikku uang untuk biaya sehari-hari mereka.
Memang tak mudah mengemban beban sebagai anak pertama, ketika kedua orang tua sudah tiada. Aku nyaris tak pernah menikmati hidupku. Atau bahkan sekedar untuk menikmati secuil hasil kerja kerasku. Semua tanggung jawab kedua orang tuaku kini berada di pundakku. Terkadang rasanya sangat melelahkan. Namun apa boleh buat? Tak ada pilihan lain dalam hidupku selain menjalani ini semua.
Berbekal sisa uang di dalam rekeningku yang hanya tinggal 8 digit aku menyewa sebuah kontrakan kecil di pinggiran ibu kota. Mencari sewaan dengan harga yang murah tentunya. Fadly sudah masuk SMA, dan tahun depan silvana akan lulus SMA. Sebelum aku keluar kerja aku sudah terlebih dahulu meminta maaf pada silvana, karena mungkin selepas SMA ia tak langsung melanjutkan kuliah seperti yang di inginkannya. Aku masih harus mengumpulkan uang untuk biaya silvana masuk kuliah. Karena jurusan yang silvana ambil tak murah. Benar-benar tak murah. Meski tampak ada guratan kecewa di wajahnya, tapi dia menerima.
Kontrakan ku yang baru memang tak senyaman tempat tinggalku di rumah bordir itu. 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, dan dapur. Lebih kecil jika di bandingkan dengan kamarku di rumah bordir itu. Tak ada apapun di dalam kontrakanku. Selain laptop dan kasur lipat yang ku beli setelah aku pindah kesini. Baju-bajuku ku biarka di dalam dus bekas. Tertata rapi di sisi kasur lipatku. Aku harus berhemat, bahkan sekedar untuk makan sekalipun. Aku tak ingin menunda janjiku lagi untuk mendaftarkan silvana kuliah. Setidaknya 2 tahun adalah waktu yang cukup untukku mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Jadi silvana hanya akan menunda kuliahnya 1 tahun saja.
Langit sore ini cerah. Aku sedang duduk di halaman depan kontrakanku. Halamannya memang tak luas. Tapi cukup bagiku untuk sekedar melepas penat akibat seharian berkutat di depan laptop. Aku kira semuanya akan sangat mudah, tapi ternyata sulit. "Yaa Tuhan cari uang halal koq gini amat yaa" kataku dalam hati. Sebatang rokok terselip di kedua jemariku. Cuaca kota jakarta memang sangat panas. Membuat badanku terasa lengket, meski bebepa jam lalu aku sudah mandi. Kontrakan ini cukup besar, ada setidaknya 25 kamar disini. 23 kamar sudah terisi saat aku mencari kontrakan. Satu di lantai 2 dan satu lagi di lantai 1. Aku memilih di lantai 1. Rata-rata penghuni kontrakan ini sudah berkeluarga. Banyak anak-anak kecil yang berlarian di halaman di kejar para ibu mereka sambil menyuapi mereka makan. Aku jadi teringat saat Fadly masih seusia anak-anak kecil itu. Aku mengejar fadly yang tak mau makan. Membujuknya agar mau makan, meski aku harus berlari-lari ikut bermain kejar-kejaran dengan teman-teman sebaya Fadly. Aku tersenyum melihat pemandangan itu. Kadang ada rasa iri di dalam hatiku melihat para ibu muda dengan mangkok berisi nasi di tangan mereka. Mengobrol dengan sesama ibu lainnya sambil menyuapi anak-anak mereka. Satu hal yang tak akan pernah aku alami lagi. Mungkin tak akan ada yang akan mau menikahiku. Seorang wanita mantan P S K.
"Hai nona, benarkah anda mencari saya?" kata seorang pria tepat di sampingku duduk. Suara yang membawaku ke dunia nyata. Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Wajahnya tak asing bagiku. Ku kernyitkan kening, memutar otak untuk mengingat pria yang kini duduk di sampingku. Tanpa aku persilahkan. "Sudah cukup lamakah anda menunggu saya disini?" tanyanya lagi masih dengan nada suara yang sama.
"Rangga..." kataku. Wajahku sumringah, mataku berbinar.
"Iya cinta.." jawabnya menirukan gaya pemeran Rangga pada sebuah film yang pernah booming di tahun 2000an. Aku tersenyum mendengar kalimat terakhirnya.
"Ngapain kamu disini?" tanyaku.
"Gak akan nanya kabar saya dulu?" jawabnya dengan sebuah pertanyaan lain.
"Gak perlu nanya kabar kali. Keliatannya seger gini, berarti baik-baik aja" jawabku.
"Hehe, basa basi lah dikit" jawabnya lagi.
"Iya iya deh" kataku. "kamu apa kabar?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik. Kamu koq bisa nyasar ke tempat ini?"
"Yee, itu mah pertanyaan aku tadi." kataku.
"Hahah, saya seneng liat kamu udah berubah" katanya. Jujur saja aku sedikit kaget. menerka-nerka apa yang dia maksud dengan kata berubah disini? Apa dia tau masa laluku.
"Maksudnya?"kataku hati-hati.
"Kamu gak murung lagi kayak dulu" jawabnya.
"Hidup harus terus berjalan" kataku menirukan kata-katanya dulu. Ada rasa lega yang menyelinap di dalam dada. "Oh ya kamu belum jawab pertanyaanku" lanjutku.
"Aku memang tinggal disini. Udah 4 tahun" jawabnya.
"Lebih tepatnya setelah Tuhan memanggilnya. Aku tinggal disini. Mencari sesuatu yang baru" jawabnya. Aku tak melihat ada gurat kesedihan disana. "Kamu sendiri, nona?" tanyanya lagi.
"Aku juga tinggal disini. Udah seminggu. Ini kamarku" jawabku sembari menunjuk pintu kamar yang tepat berada di belakangku.
"Dan tepat di sebelahmu, itu kamarku" katanya lagi.
"Oh ya? koq bisa?" jawabku.
"Maksudnya?" Dia bakik bertanya.
"Iya kamar kita berdampingan kan, koq bisa baru ketemu?"
__ADS_1
"Hahah, iya juga ya?" jawabnya lagi.
"Aku seneng liat anak-anak itu bermain" kataku meski rangga tak bertanya sedang apa aku saat ini.
"Hmm, berlari riang tanpa memikirkan apapun" lanjut rangga.
"Iya. Jika saja aku bisa kembali ke masa-masa itu. Masa di mana aku di kejar-kejar bapak saat tak mau makan" kataku. Mataku mulai berkaca-kaca.
"Nona, dengan siapa kamu tinggal disini?" tanyanya. Aku yakin dia bertanya demikian untuk mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Sendirian" jawabku singkat.
"Sudah makan? Di depan sana ada mie bakso yang enak. Mungkin kamu ingin mencobanya nona. Bisa saya antar" katanya sopan.
"Apa seperti ini caramu merayu tuan muda?" kataku menggodanya.
"Nampaknya anda lebih pintar dari yang ku duga, nona" katanya lagi menyambut candaanku.
"Sepertinya saya harus berfikir keras, tuan muda" kataku. Dia tertawa mendengar jawabanku.
"Eh bentar ya aku ganti baju dulu. gerah" lanjutnya. Aku mengangguk.
"Aku juga masuk dulu" jawabku lagi. Dia hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Dunia memang benar-benar sempit ya nona?" katanya kemudian. Ku balas kalimat terakhirnya dengan sebuah senyuman.
__ADS_1