Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani

Dari Lembah Hitam Menjadi Maharani
Part 16a


__ADS_3

"Bapak tak pernah lelah. Dia bekerja siang dan malam. Mungkin dia tertidur hanya beberapa jam saja sehari. Pagi-pagi buta bapak pergi. Saat ayam jantan mulai berkokok, sebelum Adzan shubuh berkumandang, sebelum matahari menampakan dirinya. dan pulang saat petang menjemput malam. Pulang ke rumah sekedar untuk mandi dan makan lantas pergi lagi saat angin malam mulai berhembus. Pergi menggunakan seragam warna hijau dan siap berjaga untuk keamanan kampung, di saat semua tetanggaku tertidur lelap. Kehidupan kami memang sangat suliy saat itu, hingga suatu saat kami harus pergi dari rumah itu karena tak mampu membayar besaran pinjaman. Lantas kami tinggal di rumah nenek, rumah nya memang sangat kecil. diding rumahnya terbuat dari anyaman bambu. lantainya dari kayu yang di susun di atas permukaan tanah" Air mata mulai menetes dari sudut mataku. "Masa kanak-kanak ku yang di renggut oleh beban yang sesungguhnya aku belum siap untuk menanggungnya. Saat itu aku sendiri. Tak punya tempat untukku berbagi" lanjutku lagi. aku terdiam sejenak. menghela nafas panjang. Perlahan aku mengangkat gelasku, memasukan air dalam gelas itu melalui kerongkongan lantas mulai menyulut rokokku.


"Kenapa kamu tidak berbicara pada bapakmu?" tanya oom robi saat aku masih diam tanpa melanjutkan ucapanku.


"Aku tak mau bapak merasa bersalah hanya karena sikapku yang terkesan"


"Atau mungkin ke nenekmu?"


"Bahkan aku tak pernah ketemu nenek. Kata bapak nenek meninggal saat usiaku masih 6 bulan di dalam kandungan. Rumah yang kami tempati adalah warisan buat bapak, rumah itu kosong. Aku yang di tugaskan bapak untuk membersihkan rumah itu 2 hari sekali"


"Keluarga bapakmu, paman atau bibi?"


"Bapak anak tunggal dan ibu kata bapak seorang yatim piatu. besar di panti asuhan" Aku mendengar helaan nafas panjang oom robi. "oom sekarang sudah jam 1 lho" kataku.


"Oh oke berarti saya masih punya waktu satu jam untuk mendengarkan lanjutan kisah hidupmu" aku mengernyit kan dahi. "Apa dia datang kesini hanya ingin mendengar dongeng tentang perjalanan hidupku saja" tanyaku dalam hati. Oom robi tersenyum. nampaknya dia faham dengan kebingunganku.

__ADS_1


"Saya datang kesini hanya ingin berbagi cerita saja" katanya tersenyum. "Saya bercerita tentang hidup saya, atau saya yang mendengarkan tentang hidup mereka?"


"Hahahah,. Oom robi... kenapa tak bercerita aja ke rekan oom robi?"


"Mereka kenal saya, mereka kenal keluarga saya. Jika saya memaksa mereka bercerita, mungkin saja ada bagian-bagian yang menurut mereka memalukan untuk di umbar akan mereka skip begitu saja. Karena malu mungkin. atau jika saya pun bercerita pada mereka, tak mungkin juga saya bercerita pernah mengunjungi rumah bordir. hahahha. Saya memilih kamu, karena kita tak saling mengenal. maka saya akan bisa meluapkan seluruh masalah saya pada kamu tanpa harus takut jika kamu akan membocorkan rahasiaku" lanjutnya lagi. aku tersenyum. Ya, aku memang mengerti dan faham betul alasan oom robi, tapi yang akubtak mengerti bagaimana bisa di menghamburkan uang hanya untuk mengobrol seperti ini saja.


"Bisa di lanjut?" tanyanya lagi. aku yang masih tak percaya dengan ucapannya barusan, kembali menceritakan perjalanan hidupku.


"Hanya harinyang berganti, tapi tidak dengan nasib kami. Kebutuhan terus meningkat. Adik bungsuku memang sudah tak lagi minum susu formula yang mahal, tapi kebutuhan kami bertambah untuk biaya sekolah aku dan adik ke duaku. Aku sempat berbicara pada bapak, untuk berhenti saja sekolah. biar kedua adikku saja yang sekolah. Aku yang mengalah. Dengan begitu aku bisa membantu bapak mencari uang. Namun bapak menolak keinginanku. Aku terus di paksa untuk sekolah. bapak masih kuat untuk menyekolahkanmu begitu kata bapak saat aku berulang kali meminta untuk berhenti sekolah. Bapak selalu bilang aku haeus bersekolah setinggi mungkin agar hidup kami tak seperti ini" air mata semakin deras mengalir di pipiku. Ahh, jika bapak tau pekerjaanku sekarang aku yakin bapak pasti akan sangat kecewa padaku. perjuangannya dulu saat menyekolahkan aku, setiap tetesan keringatnya akan menjadi sia-sia. "Bapak lebih mementingkan kami daripada kepentingan pribadinya. Siang dan malam bapak bekerja untuk biaya sekolah kami bertiga. Rasanya teramat perih mengingat semua itu oom. Setiap aku ingat masa itu, aku semakin membenci ibuku" air mata terus menetes dari sudut mataku.


"Hmmm" kata seseorang sambil menyikut lenganku. Aku hanya menatapnya sekilas. senyum manis ter sungging dari bibirku.


"Ehh" kataku kaget.


"Pacar baru ya?" tanya perempuan itu lagi. Dia adalah teman kerjaku juga. Kamarnya ada tepat di sebelahku.

__ADS_1


"Bukan. Baru dateng" jawabku. Gelak tawa terdengar begitu nyaring di telingaku.


"Mana mungkin ratunya tempat ini sampe rela nganterin tamunya ke depan pintu, di liatin pula sampe ilang di balik kerumunan kalau gak spesial. Bisa muasin lo ya?"


"Ah gak. Aku gak maen sama dia. Dari pertama dateng sampe dia pulang, aku gak di sentuh sama dia"


"Hah, serius?"


"Iya"


"Mana mungkin?" katanya lagi. wajahnya tampak terlihat bingung.


"Kamu pernah sama dia?"


"Bahkan gue baru liat sekarang wajah dia. Punya dia gak bisa berdiri kali. Hahahah" katanya lagi. Aku terkejut mendengar kalimat terakhirnya, kemudian kami tertawa bersamaa.

__ADS_1


__ADS_2